Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana
"Jadi apa rencana Nyonya selanjutnya?" tanya Elsa.
Chloe mengetuk tabletnya. Tok. Tok. Tok.
"Ada tiga langkah, Elsa," ucap Chloe, suaranya datar tapi mematikan.
"Pertama," Chloe mengangkat satu jari. "Kita biarkan mereka berpikir kalau kita tidak tahu apa-apa. Biarkan Levin dan Tuan Victor merasa menang."
"Kedua," jari kedua terangkat. "Kita kumpulkan semua bukti. Transfer, CCTV, dan rekaman suara. Tapi jangan lapor polisi dulu."
Elsa menoleh. "Lalu?"
"Ketiga," Chloe tersenyum. Senyuman khas Queen Daisy. "Kita pakai bukti itu... untuk membuat mereka saling membunuh."
DUG
Elsa mengerem pelan. "Maksud Nyonya?"
Chloe menyalakan tablet. Menunjukkan sebuah email. "Kirim email anonim ini ke Tuan Victor. Isinya. Levin bertemu Nyonya Livia di hotel."
Chloe mengklik lagi. "Dan kirim email ini ke Levin. Isinya. bukti Tuan Victor berencana menjebak Levin setelah Weiss Group bangkrut."
Elsa tercengang. "Nyonya mau membuat mereka saling curiga?"
Chloe mengangguk. "Orang serakah paling takut dikhianati. Kalau mereka sibuk saling curiga... maka mereka tidak akan punya waktu untuk mengerangiku."
Elsa tersenyum. "Anda memang sangat cerdik, Nyonya."
Chloe tersenyum miring. "Dan aku mau di malam gala dinner amal keluarga Reinhard nanti, kau mengirim email itu ke mereka. Aku ingin melihat secara langsung seperti apa ekspresi Tuan Victor Reinhard ketika sedang marah."
"Baik, Nyonya," ucap Elsa.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan parkiran Restoran Marlow.
Chloe dan Elsa segera keluar dari mobil.
"Tetua menunggu di ruangan VVIP lantai dua, Nyonya," ucap Elsa.
"Ayo," Chloe melangkah lebih dulu masuk ke dalam restoran besar itu.
---
Jam 13.30 - Ruangan VVIP Lantai Dua, Restoran Marlow.
Chloe membuka pintu dengan pelan. Di dalam ada Tuan Maximilian yang duduk dengan tenang. Di samping pria itu ada asisten pribadinya yang sedang menuangkan wiski ke gelas kristal tuannya.
Saat melihat kedatangan putrinya, Maximilian berdiri sambil tersenyum lembut.
"Kemarilah, putriku," ucap pria paruh baya itu.
Chloe menghampirinya dan langsung memeluk ayahnya itu. Ayah di kehidupan sebelumnya sebagai Queen Daisy.
Elsa berdiri di belakangnya, juga tersenyum melihat mereka berdua.
DUG
Pelukan itu hangat, tapi singkat.
Chloe melepaskan pelukan. "Daddy."
Maximilian mengusap kepala Chloe. "Kau masih terlihat kurus. Apa keluarga Reinhard tidak memberimu makan?"
Chloe menggeleng. Ia duduk di kursi kosong yang ada di sana. "Tidak, Daddy... mereka baik ke aku. Aku hanya sedikit lelah bermain dengan orang-orang bodoh itu."
Maximilian tertawa pelan. Ia kembali duduk di kursinya. Lalu menyodorkan sepiring medium rare ke arah putrinya. Makanan kesukaan Chloe, atau Queen Daisy.
"Elsa... kemarilah... dan duduk di samping Daisy," ucap Maximilian kepada Elsa yang masih berdiri di belakang Chloe.
Chloe menoleh. Ia meraih lengan Elsa dengan lembut. "Ayo duduk dan makan. Kita sedang di luar kantor, jadi anggap aku kakakmu. Jangan anggap aku bosmu," ucap Chloe sambil tersenyum lembut.
Elsa mengangguk pelan dan segera duduk di samping Chloe.
Dengan cepat Chloe mengambil sepiring spaghetti kesukaan Elsa dan memberikannya kepada wanita itu.
"Makan yang banyak. Selama kita di Geneva kau bekerja terlalu keras untukku," ucap Chloe.
"Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku, Kak," ucap Elsa.
"Makanlah," ucap Maximilian kepada mereka.
Mereka makan dengan tenang. Maximilian mengangkat kepalanya dan menatap putrinya.
"Ceritakan kepada Daddy apa yang terjadi selama empat hari ini kau berada di kota Geneva?" tanya Maximilian, penuh rasa ingin tahu.
Chloe meraih segelas air putih yang ada di hadapannya lalu meneguknya hingga setengah.
TAK
Chloe meletakkan gelas itu kembali ke atas meja. Tatapannya tenang, tapi matanya dingin.
"Itu lebih dari cukup untukku bermain-main dengan mereka," ucap Chloe pelan.
Maximilian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. "Mulai dari mana?"
"Mulai dari Vivian," jawab Chloe. "Aku berhasil membuat dia gagal menikah dengan Erivo. Dan menggantikan posisinya."
DUG
Asisten Maximilian yang hendak menuangkan wiski untuk tuannya langsung menghentikan tangannya.
"Sepupuku yang malang..." lanjut Chloe, lalu tersenyum miring. "Eh, salah. Sepupu pemilik tubuh ini. Aku mengurungnya di penjara bawah tanah yang ada di markas Black Kobra. Aku sengaja melakukan itu sebagai bentuk balas dendam pemilik tubuh ini. Yang lima tahun lamanya disiksa dan dikurung di dalam rumah sakit jiwa."
DUG
Gelas di tangan asisten Maximilian hampir jatuh.
"Lalu?" tanya Maximilian. Suaranya terdengar tenang.
"Lalu aku membongkar kebusukan Alexander dan Serena," ucap Chloe datar. "Di depan semua para direksi Weiss Group. Dan menjebloskan mereka berdua ke penjara."
Maximilian menghela napas cukup panjang. Ia sudah tahu semua itu dari anak buahnya dan juga dari media televisi yang disiarkan secara langsung. Tapi ia ingin mendengarnya langsung dari mulut putrinya.
Elsa ikut menimpali. "Bukti penggelapan, penyiksaan, dan percobaan pembunuhan, Tetua."
Hening.
Maximilian meraih tangan Chloe dan menggenggamnya erat. "Lalu kenapa kau membiarkan Levin pergi?"
Chloe mengelus punggung tangan Daddy itu sambil tersenyum tipis. Lalu ia menatap mata Maximilian dengan lekat. "Itu karena aku menemukan kejanggalan. Selain Alexander dan Serena, ada orang lain yang mengincar perusahaan milik Almarhum Ibu."
DUG
Alis Maximilian bertaut. "Siapa?"
Chloe melepaskan tangannya dari genggaman Daddy, lalu ia mengambil tablet dari Elsa dan membuka satu foto.
Ia memperlihatkan foto itu kepada Maximilian. Di foto itu, Dimas Sanjaya menyerahkan map warna coklat kepada Levin.
"Dia, Levin," ucap Chloe. "Saat ini dia bekerja sama dengan Tuan Victor Reinhard."
Maximilian mengepalkan tangannya di atas meja. "Victor... adik kandung Nicholas."
"Benar, Daddy," Chloe mengangguk. "Mereka membuat proyek fiktif. Lima puluh miliar. Mengatasnamakan Reinhard Group. Uangnya masuk ke rekening Dimas Sanjaya, kepala divisi keuangan Weiss Group."
Elsa menambahkan. "Dan Dimas sudah kabur tiga hari yang lalu. Tapi anak buah sudah melacaknya. Saat ini dia berada di gudang milik Tuan Victor yang ada di pinggir kota."
Maximilian bersandar. Napasnya berat. "Jadi ini bukan hanya soal balas dendam dan mengambil alih perusahaan milik ibumu. Tapi juga membasmi para tikus-tikus yang bersembunyi."
Chloe tersenyum dingin. "Tepat sekali. Mereka pikir kalau Weiss Group bangkrut, semua orang akan menyalahkan Erivo. Bilang Erivo cemburu pada istrinya."
"Licik," desis Maximilian.
"Tidak, Daddy," potong Chloe. "Ini cerdas. Tapi sayangnya... saat ini mereka bermain dengan orang yang salah."
Maximilian menatap putrinya. "Rencanamu?"
Chloe menegakkan punggung. "Tiga langkah, Daddy."
Ia mengangkat satu jari. "Pertama. Aku membuat mereka merasa menang terlebih dahulu."
Jari kedua. "Kedua. Aku meminta anak buahku untuk mengumpulkan bukti. Dengan syarat. jangan lapor polisi."
Jari ketiga. "Dan ketiga. Aku akan menggunakan bukti itu... untuk membuat mereka saling membunuh."
Maximilian tertawa pelan. Tapi tawanya tidak hangat. "Kau memang anakku... kemampuanmu tidak bisa diragukan."
Ia menatap Chloe. "Apa kau perlu bantuan?"
Chloe menggeleng pelan. "Tidak. Aku kan sudah bilang, Daddy cukup diam dan lihat apa yang akan aku lakukan."
Prok. Prok. Prok.
Maximilian bertepuk tangan. "Bagus. Itu baru anakku."
Elsa menunduk. "Email sudah dijadwalkan, Tetua. Di malam gala dinner nanti, semuanya akan dikirim ke ponsel Tuan Victor dan Levin."
Maximilian mengangguk. "Sempurna."
Hening beberapa detik.
"Hmm," Maximilian berdehem. "Lalu soal balas dendammu kepada Klan Mafia Kalajengking Merah bagaimana, Putriku?" tanya Maximilian.
Mendengar nama klan mafia itu, Chloe langsung menegakkan badan. Tatapannya berubah. Dari dingin... menjadi mematikan.
"Setelah urusanku di Geneva selesai," ucap Chloe pelan. "Aku akan kembali ke Zurich untuk menyusun rencana dan menyerang markas mereka."
---
jangan lupa dukungannya guyss 🤗 🥰 🥰 🥰 🤗
dtggu kelanjutan ny kak ,,
😊😊😊🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
dtggu kelanjutan ny yx kak
pensiun dr petinjuu jdi mafia dy skraaang ,,
🤭🤭🤭🤭😆😆
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣 gembul amat kak ,, kasihan kak jgn di kasih nasi nnti ngantuk mereka ,, 😆😆😆😆
gpp kak ,,
dtggu kelanjutan ny ,,
penasaran sypa sebenarny MR. T ini ,,
Mr Tukiman?
Mr Tukul???
atau
Mr Tuyul???
krn dy kn gx pernah muncul Dan di sebut bayangan ,,
fix ni bukan org ,,
tp tuyul ,,
makany di panggil Mr.T ,,
🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
Kali ni km bakal mati kalajengking tuaa ,,
semangat queen ,, mlm ini km pasti menang ,,
🤭🤭😂😂