Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkas yang Hilang
Cahaya matahari menembus jendela besar ruang kerja Niel, memantulkan kilau redup di atas meja kayu berwarna gelap. Ruangan itu luas, tetapi hampir tidak memiliki hiasan. Sebuah rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara di sudut ruangan berdiri tanaman hijau yang menjadi satu-satunya sentuhan kehidupan di antara suasana yang begitu tenang.
Niel masih berdiri di depan jendela.
Tatapannya tertuju pada berkas tipis yang tergeletak di atas meja.
Aluna Pradipta.
Nama itu tertulis jelas pada halaman pertama.
Namun yang menarik perhatiannya bukanlah nama tersebut, melainkan catatan singkat yang berada di bagian bawah.
Data masa kecil tidak ditemukan.
Ia mengambil berkas itu kembali, membalik setiap lembar dengan teliti.
Riwayat pendidikan Aluna lengkap.
Alamat tempat tinggal tercatat dengan jelas.
Data kedua orang tuanya juga tidak menunjukkan kejanggalan.
Tetapi seluruh catatan sebelum usianya delapan tahun benar-benar kosong.
Seolah-olah seseorang telah menghapusnya dengan sengaja.
Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.
"Masuk."
Seorang pria memasuki ruangan dengan membawa map lain di tangannya. Usianya tidak jauh berbeda dengan Niel, tetapi sorot matanya menunjukkan ketelitian seorang profesional.
"Maaf mengganggu, Tuan."
"Ada perkembangan?"
Pria itu mengangguk.
"Kami sudah memeriksa data rumah sakit, sekolah, bahkan arsip kependudukan."
"Hasilnya?"
"Tidak ada."
Niel mengangkat pandangan.
"Tidak ada?"
"Seolah-olah Aluna baru muncul dalam data administrasi saat berusia delapan tahun."
Keheningan memenuhi ruangan.
Pria itu melanjutkan dengan hati-hati.
"Awalnya kami mengira ini hanya kesalahan pencatatan. Namun setelah memeriksa beberapa instansi, hasilnya tetap sama."
Niel menutup berkas di tangannya.
"Ada seseorang yang membersihkan jejaknya."
"Itulah kesimpulan kami."
"Tidak mungkin pekerjaan orang biasa."
"Benar."
Niel kembali menatap ke luar jendela.
Sudah bertahun-tahun ia hidup di dunia yang dipenuhi kebohongan dan identitas palsu.
Menghapus seluruh riwayat seseorang bukanlah pekerjaan mudah.
Dibutuhkan pengaruh yang besar.
Atau...
alasan yang jauh lebih besar.
"Lanjutkan penyelidikan."
"Baik, Tuan."
"Tanpa diketahui siapa pun."
Pria itu mengangguk sebelum meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Niel menghela napas perlahan.
Entah mengapa, ia mulai merasa bahwa pertemuannya dengan Aluna bukanlah kebetulan.
__________________________________________
Sementara itu, Aluna baru saja meninggalkan sekolah tempat Celine mengajar.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Mereka sempat makan siang bersama dan menghabiskan waktu dengan berbincang mengenai banyak hal.
Namun pikirannya tetap kembali pada satu hal.
Telepon dari Niel.
Ia masih tidak memahami bagaimana pria itu memperoleh nomor teleponnya.
"Sedang melamun?"
Suara Celine membuat Aluna menoleh.
"Kau sudah memanggilku tiga kali."
Aluna tersenyum canggung.
"Maaf."
"Ada masalah?"
Aluna ragu sejenak.
"Aku bertemu seseorang kemarin."
"Laki-laki?"
Pertanyaan itu disertai senyum tipis yang langsung membuat Aluna menggeleng.
"Bukan seperti yang kau pikirkan."
"Lalu?"
Aluna menceritakan pertemuannya dengan Niel, mulai dari kecelakaan hingga telepon yang diterimanya pagi tadi.
Celine mendengarkan tanpa menyela.
Saat cerita itu berakhir, ekspresinya berubah lebih serius.
"Menurutku kau harus berhati-hati."
"Mengapa?"
"Karena orang itu bisa menemukan nomor teleponmu hanya dalam satu malam."
Aluna terdiam.
"Itu bukan sesuatu yang biasa."
"Aku tahu."
"Kalau dia berniat buruk, dia mungkin juga tahu alamat rumahmu."
Kalimat itu membuat Aluna tanpa sadar menggenggam tali tasnya lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memikirkan kemungkinan tersebut.
___________________________________________
Sore harinya.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah keluarga Aluna.
Bibi Mira yang sedang menyiram tanaman memandang ke arah gerbang dengan heran.
Seorang pria turun dari kursi pengemudi.
Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang rapi.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam.
"Selamat sore."
"Sore."
"Saya ingin bertemu dengan Nona Aluna."
"Boleh saya tahu ada keperluan apa?"
Pria itu menyerahkan kartu namanya.
"Saya datang mewakili Tuan Niel."
Nama itu langsung menarik perhatian Aluna yang baru saja keluar dari dalam rumah.
"Biarkan dia masuk, Bibi."
Pria itu membungkukkan badan dengan sopan.
"Nona Aluna."
"Ada apa?"
Ia membuka kotak kecil yang dibawanya.
Di dalamnya terlipat rapi sapu tangan putih dengan sulaman bunga lavender.
"Saya diperintahkan mengembalikan ini."
Aluna menatap sapu tangan itu beberapa detik.
Ia tidak menyangka Niel benar-benar mengingat ucapannya.
"Bukankah saya sudah mengatakan bahwa itu hadiah?"
"Tuan kami tidak pernah menyimpan barang yang bukan miliknya."
Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu kecil.
"Beliau juga meminta saya menyampaikan pesan."
Aluna menerima kartu tersebut.
Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
Terima kasih karena telah berhenti di tengah hujan.
Tidak ada nama.
Tidak ada tanda tangan.
Namun Aluna tahu siapa pengirimnya.
Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.
Pria itu kembali membungkukkan badan sebelum masuk ke mobil dan pergi.
Bibi Mira memperhatikan semua itu dari teras.
"Siapa dia?"
"Teman."
"Benarkah?"
Aluna tersenyum tipis.
"Aku juga belum yakin."
___________________________________________
Malam mulai turun.
Di sebuah gedung tua yang telah lama ditinggalkan, seorang pria bertopi hitam berdiri di depan jendela yang pecah.
Di tangannya terdapat beberapa lembar foto.
Foto-foto itu memperlihatkan Aluna dan Niel yang bertemu sehari sebelumnya.
Seorang pria lain menghampirinya.
"Jadi... mereka sudah bertemu."
Pria bertopi mengangguk pelan.
"Sesuai rencana."
"Apakah pria itu mulai mencurigai identitas gadis tersebut?"
"Mungkin."
"Bagaimana kalau dia menemukan kebenaran terlalu cepat?"
Pria bertopi tersenyum tipis.
"Tidak akan."
"Kenapa kau begitu yakin?"
Ia meletakkan seluruh foto di atas meja kayu yang telah lapuk.
Tatapannya berubah tajam.
"Karena bahkan Aluna sendiri belum mengetahui siapa dirinya."
Ruangan itu kembali sunyi.
Di luar, angin malam berembus pelan melewati jendela yang retak.
Permainan baru saja dimulai.
Dan semua orang masih mengira mereka adalah pemain.
Mereka hanyalah bidak yang sedang digerakkan oleh seseorang dari balik bayang-bayang.
___________________________________________
Malam itu, Aluna tidak langsung kembali ke kamarnya.
Ia masih berdiri di teras rumah, memandangi jalan yang mulai lengang setelah mobil yang membawa utusan Niel menghilang di tikungan. Sapu tangan yang telah kembali ke tangannya masih terlipat rapi, sementara kartu kecil bertuliskan kalimat singkat itu belum juga ia lepaskan.
Terima kasih karena telah berhenti di tengah hujan.
Kalimat itu sederhana.
Namun justru kesederhanaannya membuat Aluna berpikir lebih lama daripada yang seharusnya.
"Bukankah hanya mengembalikan sapu tangan?" gumamnya pelan.
Mengapa pria itu bersusah payah mengirim seseorang hanya untuk mengembalikan barang yang nilainya tidak seberapa?
Bibi Mira keluar membawa secangkir teh hangat.
"Udara mulai dingin."
Aluna menerimanya dengan senyum kecil.
"Terima kasih."
"Kau masih memikirkan tamumu tadi?"
Aluna mengangguk pelan.
"Aku merasa aneh."
"Dalam hal apa?"
"Dia tampak seperti orang yang sangat menjaga jarak, tetapi masih mengingat hal sekecil ini."
Bibi Mira tersenyum bijak.
"Kadang-kadang, orang yang terlihat paling dingin justru paling menghargai kebaikan."
Aluna menatap permukaan teh yang mengepulkan uap tipis.
"Mungkin."
"Tetapi tetap berhati-hatilah."
"Aku tahu."
________________________________________
Di sisi lain kota, mobil yang ditumpangi pria berjas abu-abu akhirnya memasuki halaman sebuah bangunan yang berdiri jauh dari pusat keramaian.
Bangunan itu tidak memiliki papan nama.
Dari luar, tempat tersebut tampak seperti perusahaan biasa.
Namun siapa pun yang memperhatikan lebih saksama akan menyadari bahwa setiap sudut dijaga oleh petugas keamanan dengan disiplin yang tidak biasa.
Pria itu memasuki ruang kerja Niel.
"Tuan."
Niel menutup berkas yang sedang dibacanya.
"Sudah?"
"Ya."
"Bagaimana reaksinya?"
"Ia tampak terkejut."
"Itu wajar."
"Tetapi..." pria itu berhenti sejenak. "Saya rasa dia bukan tipe orang yang mudah curiga."
Niel terdiam.
"Dia terlalu mudah mempercayai orang."
"Itu bisa menjadi kelemahannya."
"Atau kekuatannya."
Jawaban Niel membuat pria itu mengangkat pandangan.
Selama bertahun-tahun bekerja bersamanya, ia tahu satu hal.
Niel hampir tidak pernah memberikan penilaian terhadap seseorang hanya dari satu pertemuan.
Namun kali ini berbeda.
"Ada satu hal lagi."
"Katakan."
"Selama saya berada di depan rumahnya, saya melihat seseorang memperhatikan dari kejauhan."
Tatapan Niel berubah tajam.
"Siapa?"
"Tidak diketahui. Ketika saya mencoba mendekat, orang itu menghilang."
Ruangan mendadak sunyi.
"Mulai malam ini."
Niel berdiri dari kursinya.
"Tempatkan beberapa orang untuk mengawasi rumah Aluna."
Pria itu tampak ragu.
"Secara terbuka?"
"Tidak."
Niel merapikan lengan kemejanya.
"Jangan sampai dia mengetahui keberadaan mereka."
"Baik, Tuan."
___________________________________________
Sementara itu, beberapa kilometer dari kediaman Aluna, seorang pria bertopi hitam memasuki sebuah gudang tua yang telah lama tidak digunakan.
Lampu di dalam ruangan redup.
Hanya sebuah meja kayu panjang yang diterangi cahaya.
Di ujung meja duduk seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Rambutnya telah dipenuhi uban, tetapi sorot matanya masih tajam.
"Bagaimana?"
Pria bertopi meletakkan beberapa foto di atas meja.
"Mereka sudah bertemu."
Pria tua itu mengambil salah satu foto.
Foto yang memperlihatkan Aluna sedang memberikan sapu tangan kepada Niel.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Lebih cepat daripada perkiraanku."
"Apakah kita akan melanjutkan tahap berikutnya?"
Pria tua itu tidak segera menjawab.
Ia justru memandangi wajah Aluna dalam foto itu cukup lama.
"Wajahnya semakin mirip."
"Dengan siapa?"
Pria tua itu meletakkan foto tersebut kembali.
"Orang yang seharusnya sudah dilupakan dunia."
Pria bertopi memilih diam.
Ia tahu lebih baik tidak mengajukan pertanyaan yang belum waktunya dijawab.
"Terus awasi mereka."
"Baik."
"Jangan biarkan Niel mengetahui siapa gadis itu."
"Kalau dia mulai menyelidiki lebih jauh?"
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Biarkan saja."
"Anda tidak khawatir?"
"Tidak."
Ia bangkit perlahan dari kursinya, lalu berjalan menuju jendela yang dipenuhi debu.
"Karena ketika kebenaran itu terungkap..."
"...semuanya sudah terlambat."
__________________________________________
Malam semakin larut.
Aluna akhirnya kembali ke kamarnya.
Ia meletakkan sapu tangan itu di atas meja belajar, tepat di samping sebuah bingkai foto keluarganya.
Tatapannya berhenti pada foto tersebut.
Ayah.
Ibu.
Dan dirinya.
Sebuah keluarga yang selama ini selalu ia yakini sempurna.
Tanpa ia sadari...
di dalam lemari kerja ayahnya, tersembunyi sebuah kotak kayu tua yang tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah foto usang.
Foto seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun.
Di bagian belakang foto, tertulis sebuah kalimat dengan tinta yang mulai memudar.
"Jangan pernah biarkan dia mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya."
Kalimat itu telah tersimpan dalam gelap selama lima belas tahun.
Dan sebentar lagi...
rahasia itu akan mulai mencari jalannya sendiri.
Bersambung..