'Salah kamar bukan salah jodoh'
Kisah 2 insan yang memiliki kisah tersendiri. Di mana Kinan yang sangat menjunjung tinggi kriteria untuk pasangannya dan Bram yang bergelut dengan lukanya di masa lalu. Siapa sangka? Keduanya dipertemukan dalam keadaan tak terduga yang justru membuat mereka harus terpaksa menikah.
Up : Jum'at & Minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salwaa RJ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11 Bimbang
Pernikahannya yang dibatalkan, tentu membuat Lia merasa tak terima. Ia sudah hampir sampai pada tujuan yang ia inginkan di mana ia akan menjelma sebagai nyonya Bram Ari Pratama. Namun, semuanya harus sirna karena tiba-tiba saja Bram membatalkan pernikahan mereka secara sepihak.
Lia segera menghampiri Bram saat pria itu baru saja tiba di kantor. "Mas, kenapa kamu batalin pernikahan kita?"
"Menurut kamu, kamu bisa bohongin saya dengan berpura-pura menjadi--"
"Aku gak bohong, Mas," sela Lia. Ia meraih tangan Bram dan terkejut saat cincin pertunangan mereka sudah tak lagi menghiasi jari manis pria itu.
Bram segera menarik Lia ke dalam ruangannya. Bertengkar di depan karyawan hanya akan membuat harga dirinya turun.
"Pak Sulton yang kamu maksud itu, bukan Ayah kamu 'kan? Saya udah ketemu sama dia," ujar Bram sambil fokus menatap monitor komputernya.
"Kamu salah orang kali, Mas. Kamu bahkan gak inget orang yang dulu pernah kerja di istana Cempaka. Masa kamu gak inget kita pernah main di taman bunga dulu. Terus kamu tiba-tiba sakit karena alergi sama bunga," jelas Lia, berusaha meyakinkan Bram jika ia adalah gadis kecil yang Bram maksud. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk menjadi nyonya besar di istana Cempaka itu.
Lia menarik kursi lalu duduk di samping Bram. Ia meletakan sebuah surat di atas meja, membuat pria itu mengerutkan dahi. "Ini amanat Ayah kamu."
Bram membuka surat itu, membacanya perlahan agar ia tak salah mengambil jalan nantinya. Ia sudah cukup kecewa karena Lia membohonginya dan ia yakin Kinanlah gadis kecil itu.
"Ini ditulis waktu Ayah kamu mau meninggal. Nama Ayahku juga Sulton. Cuman, aku belum bisa nemuin dia dan kayaknya kamu salah nemuin orang," ujar Lia, membuat Bram berpikir sejenak. Meski begitu, tak ada niat sedikit pun dalam hatinya jika ia akan membatalkan pernikahannya dengan Kinan. Ia perlu menyelamatkan harga diri gadis itu. Apalagi Tante Kinan sudah melihat mereka tidur di dalam kamar yang sama. Meski ia hanya memiliki sedikit rasa empati, ia tetap tak mau Kinan direndahkan. Ia selalu membayangkan jika Kinan adalah mantan kekasihnya dulu. Ia takkan mungkin membiarkan orang lain merendahkannya.
"Tetep aja saya ngerasa dibohongin."
"Kamu yakin bakal batalin pernikahan kita? Terus gimana bayi kita?"
Bram membulatkan mata saat mendengar pernyataan dari Lia. Masalahnya, ia tak merasa melakukan 'sesuatu' dengan Lia. Meski mereka sering bertemu, Bram yakin ia tak pernah melakukan sesuatu dengan Lia. "Kamu ngelantur."
"Mas lupa?" tanya Lia, membuat Bram segera mengangkat kedua bahunya.
Saatnya beraksi, batin Lia. Ia yakin hanya ini satu-satunya cara agar Bram tak membatalkan pernikahan mereka. Mana mungkin pria itu menolak saat tahu jika ia akan punya keturunan 'kan?
Lia menambah dramanya. Setelah selama hampir 4 bulan ia berusaha mendekati pria itu, ia takkan melepasnya dengan mudah. Terlebih ia sudah sangat dekat dengan tujuannya.
Bram memang sering melupakan beberapa kejadian yang ia alami. Namun, ia bersumpah jika ia tak pernah melakukan 'apa pun' dengan Lia. Ia tak seberengsek itu dengan melakukan sesuatu yang melebihi batas. Lagi pula mereka juga belum menikah.
Gimana kalo Lia jujur? batin Bram. Ia sungguh pusing dengan hal yang sedang terjadi. Namun, ia masih belum bisa percaya perkataan Lia. Ia perlu bukti yang memperkuat jika Lia memang tengah hamil.
...***...
Kafe menjadi tempat yang Bram pilih untuk menemui Kinan. Ia memilih sebuah meja dekat jendela agar bisa membuat gadis itu nyaman. Bukan tanpa alasan, ia hanya ingin kesepakatan ini bisa cepat terlaksana. Ia tak mungkin menunda pernikahannya dengan Kinan. Namun, saat ini ia dihadapkan pada dua pilihan. Melanjutkan pernikahannya atau kembali pada Lia.
Bram meletakan kontrak itu di atas meja. "Kamu tulis aja peraturan yang kamu mau."
Kinan membaca perlahan kontrak itu. Meski sebelumnya ia sudah membaca beberapa poin yang ada di dalamnya, ia tetap harus membacanya kembali. Ia takut jika Bram menambah poin yang aneh lagi.
Kinan menyesap kopi itu sebelum menanda tangani kontrak itu. Namun, dahinya mengerut saat melihat Bram terus melamun.
"Pak?" Teguran Kinan nampaknya tak berpengaruh sama sekali pada Bram. Hingga akhirnya Kinan memutuskan untuk mencubit tangan pria itu untuk membuyarkan lamunannya. "Kenapa? Nyesel?"
"Terus kamu mau batalin ini?"
"Gila aja. Gini ya, Pak, kalo ini sampe gak jadi, Bapak harus ganti rugi," ujar Kinan. Ia tak mau mendengar omongan Ibu-Ibu gosip di desanya lagi. Setidaknya ia akan terbebas dari semua itu jika menikah. Kalaupun pernikahan itu tak jadi dilaksanakan, ia ingin Bram membelikan rumah agar ia bisa keluar dari desa itu.
Tanpa pikir panjang, Bram menanda tangani kontrak itu. Ia akan pikirkan soal Lia nanti. Ia juga belum tahu pasti kebenaran soal kehamilannya. Bisa saja hal itu hanya sebuah khayalan belaka.
Bram memilih melanjutkannya karena ia bisa melihat bagaimana sang Nenek menyukai Kinan. Bahkan Neneknya memberikan sebuah gelang pada Kinan. Itu artinya sang Nenek sangat menyukai Kinan. Baginya, kebahagiaan sang Nenek jauh lebih penting dibanding apa pun. Untuk masalah Lia, ia akan pikirkan lagi nanti. Lagi pula belum tentu Lia benar-benar hamil. Bisa saja gadis itu berbohong untuk mempertahankan hubungan mereka.
Kinan kembali menyesap minumannya sambil terus menatap pria yang duduk di hadapannya. "Yakin gak bakal dibaca dulu?"
"Gak usah."
"Entar nyesel," ujar Kinan, membuat Bram memutar malas kedua bola matanya. Ia lantas membaca poin-poin tambahan dari Kinan dan terkejut dengan apa yang ia baca.
"Kamu--"
"Udah telanjur. Bapak udah tanda tangan berarti Bapak udah setuju dong," ujar Kinan diakhiri senyum menangnya. Ia tak mau jika harus menjadi pihak yang dirugikan. Lagi pula untuk apa punya anak saat mereka berdua akan berpisah 'kan?
Bram mencoret poin tambahan dari Kinan, membuat gadis itu berusaha merebut kontraknya. Namun, ia justru tak berhasil.
"Untuk apa punya anak kalo kita bakal pisah? Ini bener-bener gak masuk akal banget. Jadi ...." Kinan merebut kontrak itu lalu mencoret poin yang Bram tulis kemarin. "Gak usah ada anak karena poin pertama bilang gak bakal ada kontak fisik."
"Kali aja kamu berubah pikiran."
"Enggak bakal. Cuman satu taun. Inget! tiga ratus enam puluh lima hari doang. Gak bisa dilebihin."
"Kalo Nenek minta cicit?" tanya Bram, membuat Kinan mengangkat kedua bahunya.
"Bukan urusan saya."
Bram mengangguk kemudian menyimpan kontrak itu di sampingnya. "Oke, nol persen kontak fisik dan gak ada anak. Kecuali--"
"Gak ada kecuali," sela Kinan. Ia masih ingin menjalankan bisnisnya tanpa hambatan apa pun. Ia yakin jika ia hamil, ia akan sangat kesulitan melanjutkan bisnisnya dan terpaka mengalihkannya pada sang Ibu.
"Kalo kamu jadi istri kedua?"
Kinan memukul meja hingga membuat pelanggan kafe itu mulai memperhatikannya. Namun, segera Bram menenangkan gadis itu dengan menyuruhnya untuk kembali duduk.
"Saya bakal racun Bapak. Selama kontrak berlaku, cuma saya yang jadi istri Bapak. Selebihnya Bapak mau punya pacar kek, mau jajan di luar kek, atau selingkuh juga gapapa. Awas aja kalo jadiin saya istri kedua," ancam Kinan, membuat Bram mengangkat sebelah alisnya. Bukankah konsep yang Kinan bicarakan sama saja?
"Bukannya sama aja?"
Bener juga. Ya ampun, Kinanti Lestari, kenapa begonya malah kumat? batin Kinan.
*****
Bandung, 8 April 2021
Salwaa RJR