NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Satu-satunya Orang Normal

Sebenarnya, siapa yang bodoh di dunia ini?

Pertanyaan itu ikut pulang bersama Arya Pratama.

Ia memberi obat kepada Ayah, menyiapkan air hangat, lalu duduk di lantai ruang tamu setelah Budi Pratama tertidur. Kipas kecil masih berputar dengan bunyi seret. Di atas meja, surat pemberhentian dari SMA Budi Utama tergeletak berdampingan dengan nota apotek.

Dua benda itu seharusnya tidak punya hubungan.

Yang satu menyatakan dirinya gagal sebagai siswa.

Yang satu membuktikan seorang apoteker dewasa gemetar karena penjumlahan sederhana.

Arya menatap keduanya sampai lewat tengah malam. Ia tidak langsung senang. Orang normal tidak akan langsung menyimpulkan dunia rusak hanya karena satu apoteker salah hitung. Mungkin Rina kelelahan. Mungkin kalkulatornya rusak. Mungkin hari itu memang hari buruk bagi semua orang.

Tetapi di kepala Arya, ada bagian kecil yang mulai menyusun pola.

Besok pagi, ia memutuskan untuk menguji semuanya.

Subuh baru lewat ketika Arya keluar dari rumah. Budi masih tidur, napasnya lebih lega setelah minum obat. Surat pemberhentian Arya tinggal di meja, tetapi nota apotek ia lipat dan masukkan ke saku celana.

Langit Kota Buana berwarna abu-abu muda. Motor mulai memenuhi jalan. Para pedagang mendorong gerobak, ibu-ibu membawa tas belanja, dan dari mushola dekat gang terdengar orang-orang pulang dengan langkah pelan. Semua tampak biasa.

Terlalu biasa.

Pasar Cempaka sudah ramai ketika Arya tiba. Bau ikan, cabai, minyak goreng, dan tanah basah bercampur jadi satu. Suara tawar-menawar naik turun seperti gelombang.

Arya berhenti di depan lapak buah.

Seorang pedagang berkumis tipis sedang menimbang jeruk untuk seorang ibu muda. Di atas timbangan, jarum bergerak ke angka satu kilogram. Tetapi Arya melihat posisi pemberat kecil di bawah piring timbangan. Dipasang miring. Kesalahannya kasar. Siapa pun yang pernah melihat timbangan waras akan sadar beratnya dikurangi.

Namun ibu muda itu tersenyum biasa saja.

"Berapa, Pak?"

"Tiga puluh ribu, Bu. Satu kilo."

Arya memperhatikan kantong jeruk itu. Beratnya paling banyak tujuh ratus gram.

Ia mendekat. "Pak, timbangannya miring."

Pedagang itu menoleh. "Miring bagaimana, Mas?"

Arya menunjuk pemberat di bawah piring. "Bagian ini mengganjal. Kalau posisinya begitu, jarum naik sebelum beratnya satu kilo."

Pedagang itu membungkuk, melihat alatnya, lalu menggaruk kepala.

"Oh. Begitu, ya?"

Pedagang itu tidak tampak bersalah atau panik. Wajahnya justru seperti orang yang baru diberi tahu bahwa pintu harus dibuka sebelum masuk rumah.

Ibu muda itu ikut melihat. "Jadi jeruk saya kurang?"

"Kurang sekitar tiga ons," kata Arya.

Pedagang berkumis itu terkejut. "Mas bisa tahu dari lihat saja?"

"Kantongnya tidak penuh. Posisi timbangannya juga salah."

Beberapa pembeli di dekat lapak mulai menoleh. Bukan marah kepada pedagang. Mereka memandang Arya.

Tatapan yang sama seperti Rina di apotek.

Arya merasakan tengkuknya dingin.

Pedagang itu buru-buru membetulkan pemberat, menambah jeruk, lalu tertawa kaku. "Wah, Mas hebat sekali. Saya dari tadi tidak kepikiran."

Tidak kepikiran.

Arya melanjutkan jalan. Di lorong sayur, ia melihat penjual cabai menghitung tiga kantong belanja dengan cara memindahkan batu kecil di meja. Di lapak ayam, seorang pembeli membayar Rp 100.000 untuk harga Rp 72.000, lalu menerima kembalian Rp 15.000 dan pergi tanpa protes. Penjualnya pun tidak tampak menipu. Ia terlihat yakin, bahkan bangga karena merasa telah menghitung benar.

Arya ingin menghentikan mereka semua.

Tetapi jika ia berhenti di setiap kesalahan, ia mungkin tidak akan keluar dari pasar sampai malam.

Di ujung pasar, perutnya berbunyi. Ia masuk ke warung bubur ayam kecil yang kursinya menghadap jalan. Seorang bapak tua menyendok bubur ke mangkuk sambil menyapa pelanggan dengan ramah.

"Satu, Pak. Tidak pakai kacang."

"Siap, Mas."

Harga bubur tertulis jelas di papan: Rp 12.000.

Arya makan cepat. Setelah selesai, ia menyerahkan uang Rp 20.000.

Bapak warung membuka laci, mengambil selembar lima ribuan, lalu dua koin lima ratus.

"Kembaliannya enam ribu, Mas."

Arya menatap uang di telapak tangannya. "Ini enam ribu?"

"Iya."

"Ini lima ribu tambah seribu. Total enam ribu. Tapi kembalian saya seharusnya delapan ribu."

Bapak itu membeku. "Delapan?"

"Dua puluh dikurangi dua belas."

Pelanggan di sebelah, seorang pria berjaket ojek online, ikut menoleh. "Bukannya enam, ya? Kalau dua belas ke dua puluh kan... banyak."

Arya menatap pria itu.

Pria itu sungguh-sungguh. Tidak sedang mengejek.

Arya mengambil tisu, menulis angka 20.000 - 12.000, lalu membuat susunan pengurangan sederhana. Ia tidak menjelaskan panjang. Hanya menunjuk satuan ribuan, puluhan ribuan, dan hasil akhir.

"Delapan ribu."

Bapak warung menghitung ulang dengan jari. Satu per satu. Lambat. Setelah hampir satu menit, wajahnya berubah pucat.

"Astaghfirullah... benar."

Pria berjaket ojek online menatap Arya seakan baru melihat pesulap. "Mas, itu belajar di mana?"

Arya memasukkan kembalian yang sudah dibetulkan ke saku. "Di sekolah dasar."

Mereka tertawa kecil, mengira itu lelucon.

Arya tidak ikut tertawa.

Di toko kelontong dekat pasar, ia melakukan uji ketiga. Ia membeli sabun cuci Rp 7.500 dan baterai kecil Rp 6.500. Pemilik toko salah menjumlahkan menjadi Rp 19.000, lalu setelah dikoreksi malah berkata Rp 11.000. Arya menyebut Rp 14.000. Pemilik toko mengambil kalkulator, salah menekan tombol, lalu menatap hasil benar dengan ekspresi kosong.

"Mas cepat sekali."

"Itu cuma tujuh setengah tambah enam setengah."

"Tapi ada setengahnya."

Arya berhenti.

Ada setengahnya.

Bagi orang itu, angka .500 bukan sesuatu yang otomatis menyatu menjadi seribu. Hal yang bagi Arya terjadi dalam sepersekian detik, bagi pemilik toko terlihat seperti teka-teki besar.

Ia keluar dari toko dengan tangan kosong. Barang yang ia beli ia kembalikan. Tujuannya bukan belanja.

Tujuannya memastikan bahwa semalam bukan kebetulan.

Matahari mulai naik. Arya duduk di bangku depan agen koran tua. Satu koran lokal tergantung dengan penjepit kayu. Judul utamanya besar:

PEMERINTAH KOTA MENAMBAH TIGA JEMBATAN, TOTAL JEMBATAN BERKURANG MENJADI DUA BELAS.

Arya membaca ulang judul itu.

Di bawahnya, berita menjelaskan bahwa sebelumnya Kota Buana memiliki sebelas jembatan kecil. Pemerintah membangun tiga jembatan baru. Wartawan menulis dengan yakin bahwa totalnya kini dua belas. Berita itu terbit tanpa koreksi atau catatan redaksi. Bahkan ada kutipan pejabat yang memuji "peningkatan besar dari sebelas menjadi dua belas setelah penambahan tiga unit".

Arya membuka halaman lain.

Sebuah artikel olahraga menyebut sebuah tim kalah tiga kali berturut-turut, tetapi "masih belum pernah kalah bulan ini" karena dua kekalahan pertama dianggap terjadi sebelum pertandingan ketiga. Artikel kriminal menulis bahwa pencuri masuk lewat pintu belakang yang terkunci dari luar, lalu menyimpulkan pencuri pasti keluar lewat jendela meskipun jejak lumpur justru masuk dari jendela.

Kesalahan kecil.

Kesalahan besar.

Kesalahan yang tidak disadari siapa pun.

Arya menurunkan koran itu perlahan.

Dunia di sekelilingnya masih bergerak. Orang membeli sayur. Motor lewat. Pedagang tertawa. Anak-anak sekolah berlari mengejar angkot. Tak seorang pun tampak panik melihat matematika kacau, logika berita berlubang, dan hidup yang berjalan seperti mesin rusak.

Karena bagi mereka, inilah normal.

Arya memejamkan mata.

Ingatan tentang kelas di SMA Budi Utama muncul satu per satu. Guru matematika yang salah memindahkan ruas tetapi seluruh kelas mencatat. Guru fisika yang menyebut benda lebih berat pasti jatuh lebih cepat dan dipuji karena "penjelasan sederhana". Teman-temannya yang bingung ketika Arya bertanya mengapa kesimpulan di buku tidak mengikuti premisnya.

Selama ini, ia pikir ia yang tidak cocok.

Ternyata ia bukan terlalu lambat.

Ia terlalu sadar.

Arya membuka mata. Dadanya terasa kosong dan penuh pada saat yang sama. Surat pemberhentian dari sekolah tidak hilang. Ayahnya masih sakit. Uang di rumah masih tipis. Ia tetap tidak punya seragam baru, tidak punya koneksi, tidak punya tempat belajar.

Tetapi ia punya sesuatu yang tidak dimiliki orang-orang ini.

Sesuatu yang begitu dasar sampai ia hampir tidak pernah menghargainya.

Otak yang normal.

Arya berdiri dari bangku. Di kaca kios koran, bayangannya tampak kurus, kusut, dan masih seperti siswa gagal yang baru dikeluarkan sekolah.

Namun kali ini, ia memandang bayangan itu lebih lama.

"Kalau dunia memang seperti ini," gumamnya pelan, "berarti aku bukan siswa buangan."

Angin dari jalan membawa debu tipis ke wajahnya. Arya menyeka pipi, lalu memasukkan nota apotek ke saku belakang.

Di depan sana, papan penunjuk jalan menuju pusat Kota Buana berdiri miring. Di salah satu sisinya tertulis arah ke Perpustakaan Daerah Kota Buana.

Arya tersenyum tipis.

Kalau pasar, warung, toko, dan koran saja sudah seperti ini, ia harus melihat sumbernya.

Ia harus membaca buku pelajaran dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!