"Aku sudah menutup semua pandanganku untuk dunia yang sementara ini, Ellana. Aku sudah buta, buta akan keindahan yang tersaji di luar sana. Jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Jangan paksa aku untuk menjadi seorang suami yang tidak pernah bisa mencium aroma surga karena tidak bisa berlaku adil."
***
Ketika Allah menunjukkan kasih sayangNya dengan menggubahkan segores ujian di dalam bahtera rumah tangga, mungkinkah cinta itu masih tetap terbingkai utuh? Sanggupkah sepasang suami istri menjalani ujian itu dengan penuh keikhlasan? Dengan selalu berpegang teguh pada janji Allah bahwa akan ada surga bagi orang-orang yang sabar dan ikhlas?
Dan ketika sebuah janji telah terikrar untuk sehidup sesurga bersama seorang wanita yang telah ia pilih untuk ia jadikan pendamping hidup, mungkinkah janji itu akan tetap terjaga, meskipun pendampingnya kini sudah tidak lagi sempurna? Masihkah surga itu tetap terbingkai indah di dalam kehidupan mereka?
Rama Gilang Pradana bersama Ellana Alessia Safaraz Ismail akan memulai kisah mereka di sini. Sosok dua manusia yang mendamba surga dalam perjalanan cinta mereka.
Slow Update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mabuk Darat
Jogjakarta, kediaman Arsyad Dzaki Mahendra
Sepasang suami istri berusia separuh abad dan seorang lelaki berusia 28 tahun, terlihat tengah duduk di sofa ruang keluarga, berbincang-bincang hangat, sambil menikmati bolu pelangi yang ada di hadapan mereka. Ya, mereka adalah Arsyad, Arumi dan Alan. Setelah menyelesaikan pekerjaan masing-masing, sore ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bercengkerama dengan seluruh anggota keluarga.
"Al, sejak tadi siang Papa berusaha menghubungi El, tapi kenapa tidak bisa ya?"
Sembari menggigit bolu pelangi, Arsyad mencoba bertanya kepada Alan yang merupakan saudara kembar Ellana. Barangkali anak lelakinya ini tahu tentang apa yang terjadi sampai-sampai ponsel Ellana tidak bisa dihubungi.
Al mengendikkan bahu. "Al juga tidak tahu Pa. Terakhir Al berbincang dengan El tadi pagi. Setelah itu Al tidak tahu lagi."
Arsyad menoleh ke arah sang istri yang terlihat sedang sibuk dengan ponsel di tangannya. Ia pun hanya mendengkus kasar. "Ini juga, Mama kenapa malah terlihat asyik sendiri dengan ponsel Mama sih? Apa Mama tidak khawatir karena sejak siang tadi Ellana tidak bisa dihubungi?"
Ucapan dari sang suami membuat Arumi menautkan pandangannya ke arah samping tubuhnya. Saat melihat wajah sang suami, ia pun hanya bisa tertawa renyah. "Mas, rasa cemas kamu itu terlalu berlebihan. Ponsel El tidak bisa dihubungi bisa saja karena dia sedang ada urusan dengan rekan kerjanya yang mengharuskan ponsel yang ia bawa mati, bukan?"
"Huh, tapi ini tidak seperti biasanya. Aku benar-benar khawatir dengan keadaan El, Ma!" Arsyad mencoba membunuh segala keresahan hati yang ia rasakan namun tetap saja tidak bisa. Entah apa yang melintas di dalam pikirannya, tiba-tiba saja ia membelalakkan matanya. "Ma... Jangan-jangan... Astaghfirullah hal'adziim..."
Arumi dan Alan yang mendengar Arsyad ber-istighfar, seketika membuat ibu dan anak itu terperanjat. "Papa! Papa bicara apa sih?"
Al sedikit terusik dengan kecemasan yang nampak jelas di raut wajah sang Papa. Ia begitu penasaran dengan apa yang ingin di sampaikan oleh papanya itu.
Arsyad bergantian menautkan pandangan matanya ke arah sang istri dan anaknya. "Ma, Al... Bukankah saat ini Ellana sedang putus cinta dengan Diko?"
Arumi dan Alan mengangguk bersamaan. "Iya Pa. Lalu apa hubungannya dengan ucapan istighfar Papa?"
Mendadak wajah Arsyad berubah pias. "Ma, Al... Jangan-jangan El melakukan sesuatu yang yang membahayakan keselamatannya. Jangan-jangan El melakukan upaya...."
"Astaghfirullah hal'adziim Mas... Stop! Kamu ini bicara apa sih Mas?"
Arumi menatap wajah suaminya dengan tatapan membidik. Ia sangat tidak menyukai tatkala mendengar sang suami mengatakan hal itu.
Tak jauh berbeda dengan sang Mama, Al pun juga ikut berdecak kesal mendengar ucapan sang papa yang rasa-rasanya sudah semakin ngelantur tidak jelas. "Pa, meski mungkin saat ini Ellana menjadi wanita yang paling menderita karena tidak jadi melepas masa lajangnya, namun Al yakin jika pikiran El tidak sependek itu Pa. Membuatnya melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri."
Arumi menggenggam tangan Arsyad dengan erat. "Tuh dengarkan apa yang dikatakan oleh putramu, Pa. Meskipun putri kita itu tidak terlalu paham dengan ilmu agama, namun mama yakin jika ia bisa memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk."
Arsyad menghembuskan nafas kasar. "T-tapi Ma..."
Ucapan Arsyad terpangkas saat Arumi menyikut lengan tangannya. Arsyad menatap wajah sang istri dengan ekspresi keheranan. Arumi mengangkat sedikit alisnya dan mengarahkan pandangannya ke arah Al. Sebagai sebuah isyarat agar Arsyad juga ikut melihat ke arah saudara kembar El itu.
Arsyad menoleh ke arah sang putra. Ia menautkan kedua alisnya saat melihat Al senyum-senyum sendiri sembari fokus ke layar ponselnya. "Al... Alan!"
Al terhenyak. Ia lupakan sejenak isi di dalam ponselnya dan menoleh ke arah Arsyad. "Ya Pa?"
"Kamu kenapa Al? Kok sepertinya sedang happy?"
Al tersenyum kikuk. "Apaan sih Pa? Al hanya sedang melihat-lihat sesuatu di ponsel Al!"
Arumi terkekeh. "Memang apa yang kamu lihat Al? Yang membuatmu dipenuhi oleh kebahagiaan seperti itu?"
Arsyad menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan Al dan...
"Wooaaaahhh... Lihat Ma! Ternyata anak kita sedang fokus dengan foto seorang wanita!"
Arumi yang penasaran ikut mendekat ke arah sang suami dan anaknya. Dahinya mengernyit saat melihat seorang wanita berhijab ada di layar ponsel putranya. "Al... Mama seperti tidak asing dengan wajah perempuan ini." Arumi terlihat sejenak berpikir untuk mengingat-ingatnya. "Eh... Bukankah ini sahabat El? Emmmm... Siapa itu namanya? Ya Allah, Mama lupa!"
Sedangkan Al hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia begitu kikuk karena pada akhirnya apa yang sudah ia sembunyikan selama ini ketahuan juga. "Iya Ma, dia Nana... Sahabat El!"
Arumi terperangah, rasa ingin tahunya memuncak begitu saja. "Mashaallah... Sejak kapan kamu memiliki hubungan dengan sahabat El ini, Al?"
Al menghela nafas panjang kemudian ia hembuskan perlahan. "Nana bahkan tidak tahu kalau Al memiliki perasaan kepadanya Ma. Dua tahun terakhir ini, Al dan Nana sering terlibat dalam sebuah pekerjaan yang sama. Hal itulah yang membuat Al merasakan sesuatu yang berbeda kepada sahabat semasa SMA El itu."
Arsyad yang mendengarkan dengan seksama penjelasan sang putra hanya bisa manggut-manggut. "Apakah mau jika langsung Papa lamar gadis itu untukmu Al? Papa rasa dia gadis shalihah."
Mendadak raut wajah Al berubah pias dan sendu "Tapi sepertinya dia tidak menaruh perasaan apapun kepada Al, Pa. Selain hanya sebatas partner kerja."
Arsyad menyeringai. "Addudduduhhhh sungguh malang nasib putra Papa ini. Hanya bisa menyimpan rasa cintanya dalam hati, bertepuk sebelah tangan pula. Kasihan, kasihan, kasihan!"
Arumi yang mendengar sang suami mengucapkan kata-kata itu langsung melirik ke arah Arsyad. Ia cubit pinggang Arsyad dengan gemas.
"Aaduuduuhduuh... Sakit Ma! Cubitan Mama ini dari dulu tidak pernah berubah. Sama seperti rasa cinta Papa ke Mama!"
Bibir Arumi mencebik. "Makanya kalau berbicara jangan asal Mas! Lihatlah wajah Al yang sendu ini! Masa kamu tidak ada rasa empatinya sama sekali?" Arumi merengkuh tubuh sang putra yang usianya hampir berkepala tiga itu. "Al, jika hanya kamu pendam sendiri, bagaimana mungkin dia akan tahu semua yang kamu rasakan?"
Al kembali membuang nafas kasar. "Al tidak percaya diri Ma!"
Arsyad yang semula menjahili sang putra dengan ucapannya, kini ia ikut menepuk-nepuk bahu Al. "Apa yang membuatmu tidak percaya diri Al? Wajahmu tampan seperti Papa. Hatimu juga baik sama seperti Papa juga. Kamu juga taat beribadah. Lalu apa lagi yang membuatmu tidak percaya diri?"
Arumi terperangah. "Mas, mengapa penyakit narsismu ini dari dulu tidak hilang-hilang juga sih? Ingat umur Mas, ingat umur!"
Arsyad terbahak. "Ketampanan dan kebaikan hati Papa, tidak akan lekang oleh waktu Ma. Mama harus akui itu!"
Arumi mendengkus. "Huh kamu ini ada saja alasannya Mas!"
***
Masih di kota yang sama namun di tempat yang berbeda, terlihat dua wanita paruh baya dan seorang wanita muda cantik berusia 28 tahun sedang asyik berbincang-bincang di ruang tamu. Dengan satu piring cheesecake dan juga teh hangat yang menjadi teman mereka menikmati sore hari ini.
"Mashaallah... Ternyata anak kamu sudah sebesar ini ya Mbak. Aku benar-benar pangling. Rasa-rasanya sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Dan sepertinya terakhir kali aku lihat Nana, ketika dia berumur 23 tahun kalau tidak keliru."
Widya seolah dibuat takjub dengan pertemuannya kembali dengan Lintang, yang merupakan teman satu kajiannya yang selalu rutin ia datangi setiap minggu kedua dan minggu keempat di salah satu pondok pesantren di kota Jogja.
Lintang dan Widya saling mengenal sejak beberapa tahun yang lalu. Tepatnya saat mereka berada di dalam satu kajian. Hubungan mereka semakin akrab apalagi setelah mengetahui masa lalu masing-masing. Ya, Lintang dan Widya sama-sama seorang wanita yang mengalami kegagalan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka.
Lintang tersenyum simpul. "Iya betul itu Mbak. Selama lima tahun terakhir itu pula lah aku jadi jarang ikut kajian. Karena di dekat rumah juga ada kajian sama seperti yang aku ikuti, mas Hanan meminta aku untuk ikut yang di dekat rumah saja. Jadi semenjak itu, aku sudah tidak pernah ikut kajian di pondok pesantren yang dulu rutin kita ikuti."
"Ohhh... Pantas saja aku sudah tidak pernah melihat mbak Lintang ikut kajian. Oh iya mari silakan dinikmati hidangannya Mbak, Na. Maaf ya hanya ala kadarnya."
Lintang dan Nana mengangguk bersamaan kemudian mulai menikmati kudapan yang ada di atas meja.
"Oh iya, sekarang kamu sibuk apa Na?"
Widya mulai membuka obrolan dengan tamunya ini. Tentunya sambil menyesap teh hangat yang ada di tangannya.
Nana tersenyum simpul. "Hanya sibuk menggambar kok Tan!"
Widya terperangah. "Menggambar? Kamu pelukis?"
Lintang terkekeh. "Maksudnya menggambar bangunan, Mbak!"
"Kamu arsitek, Na?"
Nana hanya menunduk malu sambil melukiskan sedikit senyumnya. "Bisa dikatakan seperti itu Tan."
Widya berdecak kagum. "Mashaallah... Tante benar-benar kagum sama kamu, Na."
"Terimakasih banyak Tante."
"Oh iya Mbak, kok rumah seperti sepi sekali?," timpal Lintang yang sedikit heran ketika melihat rumah Widya yang begitu senyap di sore hari seperti ini.
"Mas Juna sama anak-anak ke kafe Mbak. Kegiatan rutin setiap akhir pekan seperti ini mereka mengecek langsung kondisi kafe. Ya sekaligus memperkenalkan kepada anak-anak perempuanku agar paham dengan bidang yang digeluti oleh ayah mereka. Sedangkan Rama, saat ini ada di Bandung, Mbak."
Lintang mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa dapat istri orang Bandung, Mbak?"
Widya terkekeh. "Tidak Mbak, Rama sampai sekarang masih betah sendiri padahal sudah seumuran Nana. Dia ke Bandung hanya sekedar urusan pekerjaan. Dan sepertinya sebentar lagi juga akan kembali."
Lintang ikut terkekeh. "Ternyata anak-anak kita sama ya Mbak. Masih betah melajang di usia mereka yang sudah matang untuk berumah tangga?"
Pada akhirnya dua wanita paruh baya itu larut dalam obrolan-obrolan ringan dan hangat. Sedangkan Nana terlihat lebih banyak diam. Namun hatinya terasa bergejolak, karena saat ini ia berada di rumah seorang laki-laki yang sudah lama mengusik hatinya. Tepatnya sejak lima tahun yang lalu, saat tanpa sengaja bertemu dengan lelaki itu di kajian yang diikuti oleh Lintang dan Widya.
***
Hoeekk... Hooeekkk... Hooeekkk...
Suasana dalam bus di malam hari ini sedikit terusik dengan suara Ellana yang berkali-kali muntah. Mabuk darat yang dialami oleh Ellana ternyata berimbas kepada Rama yang duduk di sampingnya. Pada saat pertama kali Ellana mulai merasa mual dan kemudian muntah, baju yang Rama kenakan juga sempat terkena muntahan dari El, sehingga membuatnya buru-buru mengganti pakaian yang ia kenakan.
Setelah muntahan pertama itu, El kembali muntah-muntah hingga malam hari ini. Kantong plastik warna hitam yang diberikan oleh crew bus seperti menjadi teman setia El kali ini. Entah sudah berapa kali El muntah-muntah seperti ini sejak bus mulai berangkat, yang pasti karena mabuk darat itu membuat Ellana terlihat begitu lemas.
"Ram... Kepalaku pusing sekali..."
Wajah pucat Ellana membuat Rama diliputi oleh rasa cemas yang berlebihan. Baru kali ini ia bertemu dengan seseorang yang mabuk darat sampai seperti ini. Rama membuka tas selempang kecil yang ia bawa. Satu botol minyak kayu putih pun ia keluarkan dari dalam sana.
Rama mengusapkan minyak kayu putih di pelipis Ellana agar sedikit menghilangkan rasa pusing yang dirasakan oleh wanita itu. "Tidurlah El! Dengan begitu pasti kamu tidak akan merasa mual dan pastinya tidak akan muntah lagi!"
Ellana menyandarkan tubuhnya di sandaran bangku yang ia duduki. Rama sudah mengatur sedemikian rupa posisi bangku yang di duduki Ellana sehingga bisa membuat wanita di sampingnya ini merasa nyaman. "Badanku juga lemas sekali Ram!"
Rama menghela nafas panjang kemudian ia hembuskan perlahan. "Iya aku tahu itu El. Makannya, sekarang kamu tidur ya. Dengan tertidur pasti kamu akan berhenti muntah-muntah."
Ellana hanya bisa mengangguk pelan. Rama membetulkan posisi bantal milik El, dan kemudian wanita itu mulai berupaya untuk memejamkan matanya.
"Ram..."
"Ya?"
"Maaf, aku sudah menyusahkanmu. Aku tidak tahu kalau akan mengalami mabuk darat seperti ini."
Rama tersenyum simpul. "Tidak El, kamu tidak menyusahkan dan aku pun tidak merasa disusahkan olehmu."
"T-tapi bajumu tadi...."
Rama terkekeh. "Sudahlah El, soal baju, nanti ketika sampai rumah bisa aku cuci. Jadi bukan sebuah perkara yang rumit kan?" Rama menoleh ke arah El yang sedang memejamkan matanya namun masih saja bisa bersuara. "Sudahlah, sekarang kamu tidur ya. Perjalanan kita masih jauh loh. Istirahatkan tubuhmu, El!"
Tidak menunggu waktu lama, sepertinya wanita itu sudah larut dalam alam bawah sadarnya. Rama sedikit mengulas senyum tatkala melihat wajah polos Ellana yang tengah terlelap itu. Rama membentangkan selimut yang telah disediakan kemudian menyelimuti tubuh El dengan selimut itu.
Sepertinya mulai saat ini namamu lah yang menjadi untaian doa yang akan aku panjatkan kepada Rabb ku El. Semenjak pertemuan kita beberapa hari yang lalu, aku telah jatuh hati kepadamu. Semoga Allah ridho dan mengizinkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu.
.
.
. bersambung...
Hai-hai para pembaca tersayang... Terimakasih banyak sudah berkenan singgah ke cerita Bingkai Surga ini ya kak.. jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episodenya ya. dan bagi yang punya kelebihan poin bolehlah kalau mau disumbangin ke author dengan klik bunga atau yang lainnya. jika punya tiket vote boleh juga jika ingin disumbangin ke author, hihiihii. dan jika menurut kakak-kakak cerita ini menginspirasi, boleh juga jika di share kepada teman-teman kakak semua..🤗🤗
Happy reading kakak..
Salam love, love, love❤️❤️❤️
🌹Tetaplah yakin setiap cerita yang ditulis sepenuh hati, akan mendapatkan tempat di hati masing-masing para pembaca🌹
lanjut thor...