(Taka season 1)
Cerita yang memiliki selera humor tinggi yang mungkin akan mengocok perut kalian.
Menggunakan bahasa Jawa tetapi akan tetap ada terjemahan arti.
Arselio Reytaka Milard, seorang pemuda masih berstatus pelajar SMA disalah satu sekolah elite yang ada dikota Jakarta. Ia memiliki saudara kembar bernama Arselio ReyNata Milard. Nama mereka begitu mirip, meski saudara kembar namun keduanya memiliki wajah yang berbeda begitupun dengan karakter sikap mereka yang juga berbeda. Namun, saudara kembar itu begitu menyayangi satu sama lain, dimana ada sang kakak maka disitu juga ada sang adik.
Dia anak horang kaya keempat, tetapi tingkah laku disekolah seperti orang biasa. Bahkan disekolah selalu bersikap konyol, apa yang dia ucapkan selalu sukses membuat orang lain tertawa.
Apakah perjalanan mencari jati diri seorang Taka akan penuh tawa seperti julukannya?
Mari kita ikuti kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum masuk kelas
Hari ini bukan waktunya menunggangi kuda besi kurus, yaitu sepeda onthel. Pagi ini Taka dan Nata diantar supir pribadi mereka.
"Kak, enak naik mobil apa naik onthel?" tanya Nata.
"Eum, nggak tau. Enak semua." jawab Taka asal, kedua mata sedang fokus melihat layar ponsel dengan bermain game kesukaannya.
"Kakak ini ditanyain beneran malah cuek gitu sih." Nata yang sedikit kesal beralih menatap jalanan yang padat dengan kendaraan lain.
"Woy Rek... bantuin aku, ayo serang musuh dibalik selimut." Taka berbicara dengan teman yang lain yang juga sedang bermain permainan yang sama namun berbeda tempat.
"Kak, Kak itu ada Sarinem." Nata mengeraskan suaranya.
"Bene, ra nggumun. (Biarkan, nggak perduli.)" jawab Taka yang tidak perduli bahkan tidak menoleh sedikitpun.
Nata menggelengkan kepala. Benar-benar menyebalkan. Satu wujud manusia tapi banyak ekspresi.
Sampai didepan gerbang, mobil yang ditumpangi tadi berhenti. Supir pribadi segera membukakan pintu untuk keduanya.
Tak lupa Taka dan Nata mengucapkan terima kasih, keduanya tidak sombong dengan status mereka.
"Dek, kamu masuk kekelas duluan." pinta Taka.
"La memang kakak mau kemana?" tanya Nata.
"Mau pergi ke toilet sebentar." jawabnya sudah melangkah dengan berbalik arah.
Nata melanjutkan langkah menuju ke kelas. Langkah kaki terdengar mendekat, Nata yang penasaran langsung menoleh.
Senyum manis langsung terbit untuk pagi yang indah karna sang pujaan hati mengikuti langkahnya.
"Pagi, manisku." sapa Martin dengan senyum manis juga.
"Pagi juga, tampanku." jawab Nata.
"Aku kangen manisku."
"Uh... pagi-pagi udah gombal ajah." Jawab Nata malu-malu.
"Lama kita nggak jalan, kamu selalu dikawal bodyguard gadungan." keluh Martin.
"Maaf ya, akhir ini geng kami sibuk mengadakan acara jadi aku jarang punya waktu."
"Iya nggak pa-pa. Aku masih bisa memandang wajah cantikmu walau itu dari jarak jauh."
"Cuit-cuit... kalian ini, pagi-pagi udah mesra aja. Bikin iri tau." tiba-tiba Sarinem muncul dari belakang dan ikut menyapa.
"Kita mah jarang bisa mesra-mesraan." jawab Nata singkat.
"Eh, pangeran ku kemana?" tanya Sarinem.
"Kakak lagi ketoilet." Nata sedikit kesal, kehadiran Sarinem menggangu momen kebersamaannya bersama Martin.
"Oh... Memang makan apa kok pagi-pagi udah ngacir ketoilet?" tanyanya lagi sok akrab, meski mereka memang dekat tapi waktunya tidak tepat untuk menerima kehadiran Sarinem yang bagaikan orang ketiga.
Nata kesal, ingin mengusir tapi tidak enak hati. Jika tidak diusir, kehadirannya benar-benar menganggu.
Satu pengganggu membuatnya kesal, kini harus dibuat lebih kesal karna teman-temannya yang lain mulai terlihat berjalan mendekat.
Bisa gawat jika dua kubu bertemu.
'Huh, ini semua gara-gara Sarinem, ganggu aja.' batin Nata kesal.
"We... isuk-isuk pendelenganku wes tercemar gori-gori ndeleng nek kue'. (Weh... pagi-pagi penglihatan ku sudah tercemar gara-gara melihat kamu.)" Ali Baba mengejek. Api cemburu telah menyerangnya. Ia yang dari dulu suka dengan temannya sendiri tapi tidak mendapat balasan. Nata hanya menganggap sebagai teman, tidak lebih. Maka itu, ia hanya memendam perasaannya.
"Huh, lambe kakehan mangan gori! goro-goro iso dadi gori-gori. (Huh, mulut kebanyakan makan sayur nangka muda! gara-gara bisa menjadi nangka muda.)" sahut Dudung.
"Menengo sikek lambemu, Dung. (Diam dulu mulutmu, Dung.)" Ali Baba memperingati.
"Helo, hola, gues... kalian udah kumpul aja." Taka muncul dari arah belakang, ia masih belum tau tentang keberadaan Martin dan Sarinem.
"Bos, enek belahan remepelo mu kui loh.( Bos, ada belahan ampela mu itu loh.)" kata Mujiren.
"Rempelo, pait no.( Ampela, pahit dong?)" jawab Taka.
Matanya baru menangkap sosok yang tidak disukai, dan juga sosok yang sangat dihapal.
"Bubu, kau dari mana?" tanya Sarinem.
"Bubu dari toilet. Tumben Bibi lewat sini?" Taka berganti bertanya.
"Iya, sengaja mau liat wajah Bubu yang tampan." Jawab Sarinem tanpa malu.
"Wei Rek... goceli aku cah, aku arep mabur. (Wei, Rek... pegangin aku, aku mau terbang.)" kata Taka bercanda pada teman-temannya.
Yang lain tertawa lebar, Bos mereka memang bertingkah konyol. Bahkan Martin ikut tersenyum, senyuman yang menawan bagi Nata.
Sarinem memukul lengan Taka pelan, rasa malu itu baru menyerangnya. "Hus, Bubu nih," ucapnya.
"Bos, koyone ora mung koe seng mabur. Tapi manukmu yo arep mabur. (Bos, kayaknya bukan cuma kamu aja yang terbang. Tapi burungmu juga mau terbang.)" Dudung berbisik agak pelan agar yang lain tidak mendengar.
"Maksutmu apa, Dung?" tanya Taka tidak mengerti.
"Itu Bos, harga resliting menurun." jawab Dudung sambil melirik kebawah.
Seketika Taka menepuk dahi dengan telapak tangan. "Biyung, isin aku.( ibu, malu aku.)" ucap Taka. Ia segera berbalik dan membenarkan resliting yang lupa untuk dinaikkan.
"Untung aja kamu bilangin Dung, kalau ketahuan yang lain bisa malu banget aku."
Dudung hanya mengacungkan ibu jari.
"Manisku, aku pergi ke kelasku dulu ya, lain kali kita sambung lagi." Martin meminta izin untuk pergi.
Nata mengangguk. "Nanti aku kirim massage."
Berganti Lelaki jangkung itu yang mengangguk, tapi kedua kaki sudah melangkah.
"Kabur dia, pasti takut karna dia sendiri sedangkan kita rame-rame." kata Mujiren. Mereka masih memperhatikan punggung Martin yang bergetar karna langkah kakinya yang lebar.
"Apa sih, awas aja kalian men-judge tampanku. Kalian akan berhadapan dengan kakakku." sungut Nata.
"Enak aja, ogah amat. Soni hadapi sendiri." tolak Taka.
"Soni siapa kak?" tanya Nata.
"Sono Soni," jawab Taka.
Nata mendengus sebal, pagi yang cerah tadi berubah suram gara-gara kehadiran semuanya yang membuat kacau. Ia menghentakkan kedua kaki diatas lantai keramik yang sedikit kotor dan meninggalkan mereka untuk masuk lebih dulu.
"Bubu, kapan kita jalan? kamu jarang ada waktu buat aku." rengek Sarinem pada Taka.
"Bos, kita masuk kedalam dulu ya." pamit Dudung. Ia dan yang lain tidak ingin mengganggu kedua sejoli yang lagi berdekatan.
"Iya," jawab Taka.
"Kapan ya, aku juga jarang ada waktu. Karna jadwal yang padat makanya aku sibuk." jawab Taka. Ia menyandarkan tubuh disamping dinding kelas.
"Itulah yang membuatku kesal, kamu selalu beralasan sibuk!" kesal Sarinem, ia menatap wajah Taka.
Gadis bertubuh lebih pendek darinya itu sedang protes dengan jadwal hariannya yang padat.
Gadis manis dengan hidung mancung dan juga rambut alis yang tebal. Sebenarnya Sarinem cantik, ia bukan gadis bergigi turah seperti yang disebutkan Nata tempo lalu. Hanya saja ia menggunakan behel gigi/kawat gigi untuk mengikuti trend.
"Nanti kalau ada waktu pasti kita bisa jalan bareng." jawab Taka.
"Aku tunggu ya. Aku masuk kelas ya, bentar lagi bel berbunyi."
"Hati-hati Bibi." Taka melambaikan tangan.
Sarinem mengangguk dan mulai berjalan menjauh.
Mampir thor,kayaknya seru ceritanya..🙋🙋😄