NovelToon NovelToon
Anti Fi Qolby Daiman

Anti Fi Qolby Daiman

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Spiritual / Tamat
Popularitas:424.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aidahlia

[Trailer sudah tersedia di you tube author]

Antara cinta dan keimanan. Mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika benteng tinggi yang berdiri kokoh tidak runtuh. Dan mereka tidak akan pernah bisa menyatu jika salah satu di antaranya tidak ada yang mengalah.

Pengorbanan, perjuangan dan cinta. Hal itu menyatu padu dalam sebuah untaian kata ‘cinta terlarang’ yang bagaimana pun tidak akan bisa disatukan jika syarat tidak dituntaskan.

Atas dasar ‘pengorbanan dan perjuangan’ mereka bisa menghapus kata ‘terlarang’ dalam kisah cintanya. Bersatu atau tidak, tergantung keputusan mereka.

“Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu, dan orang-orang kafir itu tiada halal bagi mereka.”
—QS. Al-Mumtahanah: 10.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aidahlia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter #11

Dikala petang aku menatap langit, begitu indah, namun hanya sesaat. Itu sama dengan perasaaku kepadamu, terasa indah, namun sesaat, setelah aku tahu kalau hanya aku yang memperindah perasaanku itu.

__________

Rasanya tidak aneh. Di tengah pelajaran Artha dipanggil ke ruang BK. Di ruangan itu ada Bu Asma, Andre, Anya, dan Papanya. Ia melihat tampang garang di wajah Papanya. Apa boleh buat, ia sudah terlanjur geram.

"Jelaskan! Apa maksudmu?" Suara bariton itu berasal dari mulut sang Papa.

"Aku enggak mau ngelawan sama orangtua, Papa enggak tau apa masalah aku, kan? Dan Bu Asma juga. Lagi juga aku mukulin dia di luar sekolah kok. Jadi enggak ada sangkut pautnya. Lagi pula dia yang salah, siapa suruh cari masalah sama aku. Dia kira aku ini kurcaci-kurcaci sekolah yang kalau diganggu dia cuma depresi. ENGGAK!" Artha mengatur napasnya dahulu sebelum berkata lagi. "Jadi lebih baik udah tanya aja tuh bocah ingusan yang berani kroyokan, dia kemarin gangguin Syahla sampe Syahla pingsan jatuh ke kolam ikan, dan sekarang, dia sama Anya mau berencana dapetin orang yang dia suka, mereka kira hidup ini ada di tangannya!" Artha sampai tidak sadar kalau dia sudah berkata panjang lebar tanpa basa-basi lagi.

"Bukannya kamu juga kaya gitu, Tha, kamu bakal lakuin apapun untuk mendapatkan apa yang kamu mau." Ucapan itu berasal dari mulut Anya. Semua yang ada di ruangan menatap Artha.

Artha tersenyum miring. "Tapi bukan soal percintaan! Dan hal itupun emang udah penting banget harus ada di diri gua, dan cara gua juga berkualitas, ENGGAK KAYAK LU BERDUA!"

"Apa nyium anak orang waktu dia pingsan itu berkualitas?" sambar Andre.

Seketika Artha terdiam. Papa Artha menatap tajam ke arahanya seolah minta penjelasan.

"Bodoh, lu berdua mau mojokin gua? Gua itu nyium Syahla murni untuk membantu dia bangun dari pingsannya. Itu bukan nyium namanya, gua cuma ngasih dia napas buatan, gua enggak bakal ngelakuin hal itu kalo si bocah itu enggak buat Syahla pingsan gara-gara kebanyakan minum aer di kolam ikan!"

"STOP!" Suara bariton sang Papa membelah ketegangan yang sempat berlangsung antara Artha, Anya, dan Andre.

"Kalian bertiga kena hukuman!"

***

Artha malah beruntung terkena hukuman hari ini. Mereka bertiga diharuskan membersihkan kamar mandi. Hal yang membuat Artha senang adalah, letak kamar mandi itu sangat dekat dengan kelas Syahla.

Seharusnya ia ingin waktu cepat berjalan, malah dia inginnya waktu itu melambat hari ini saja. Ia ingin menatap wajah Syahla lebih lama, walaupun hanya curi-curi pandang saja.

"Tha?"

Artha tersedak air liurnya sendiri, siapa yang berani mengegetkan Artha hah? Siapa?

Wajah Artha langsung angker saat tahu siapa orang yang mengangetkannya, Anya-anya seandainya dia bukan perempuan.

"Apaan sih?"

Anya menunduk, bukannya menjawab dia malah menangis. Tanpa basa-basi, aba-aba, dan hitungan, tiba-tiba Anya memeluk Artha. Berpapasan sekali pada saat bel istirahat berbunyi dan di saat itu juga bola mata bidadari yang sedaritadi ia tunggu melihat aksi bodoh Anya ini.

Artha langsung menepis kasar Anya dari pelukannya. Ia langsung mengejar Syahla yang berjalan dengan cepat menjauh dari tempat dimana ia melihat Artha dan Anya berpelukan.

"Sya? Syasya?"

Tadinya Syahla tidak ingin berhenti, karena menurutnya sudah cukup semua aksi konyol yang Artha lakukan. Artha berhasil membuat kehidupan Syahla yang sebelumnya nyaman menjadi tidak tentram.

Namun saat Artha menyebutnya dengan panggilan Syasya, panggilan khusus tanda sayang dari keluarganya seketika Syahla menghentikan langkahnya. Ada rasa tidak suka dan rasa ... ah malu rasanya untuk mengatakan itu.

"Aku enggak suka kamu manggil aku Syasya," ucap Syahla seraya menghentikan langkahnya tiba-tiba.

Artha mengerem mendadak, untung saja dia tidak menabrak Syahla. Anak ini benar-benar bikin gemas saja.

"Kenapa?"

"Panggilan itu khusus panggilan sayang dari keluarga aku."

Artha diam sesaat. Lama tidak mendengar suara Artha lagi karena posisi Syahla membelakangi Artha akhirnya Syahla memilih untuk melanjutkan perjalananya lagi.

"Karena gua merasa ada kewajiban buat sayang sama lu, jadi gua panggil lu dengan nama khusus itu, dengan harapan semoga suatu saat gua bisa jadi bagian keluarga lu."

Syahla menghentikan langkahnya, pipinya memanas, perutnya terasa mulas, kakinya melemas, tangannya mengeluarkan keringat dingin, sensasi bentuk apa ini?

Secepat mungkin Syahla langsung melanjutkan langkahnya sebelum Artha mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya ia katakan dan berefek sampingkan yang tidak wajar.

Artha tersenyum lebar, setidaknya ia bisa melihat wajah Syahla secara dekat, walaupun hanya bagian sampingnya saja. Dia langsung melangkah mundur, ia ingin segera ke kantin, perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi.

Ternyata teman-temannya sudah menunggu di kantin, Artha merasa beruntung memiliki teman yang solidaritasnya tinggi. Mereka tahu betul apa yang Artha butuhkan. Hal itulah yang membuat Artha tidak segan-segan memukuli orang yang berani mencari masalah dengan teman-temannya ini.

"Dengar-dengar lu dipeluk Anya?" Suara itu berasal dari mulut John yang sedang asyik mengunyah kentang goreng.

Dari auranya, John terlihat tidak suka dengan insiden tadi.

"Ya, dia yang meluk gua, gua enggak sama sekali balas pelukannya."

John hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

"Enak ya punya muka ganteng, cewek macem apa aja nempel."

Artha memicingkan matanya. "Tampang enggak jadi jaminan, Jo, tapi hati."

John tersenyum miring. "Lo aja yang hatinya bergajulan bisa ditempelin banyak perempuan, Anya contohnya, yang dulu itu dikenal cewek anti suka sama cowok, biasanya cowok tuh yang ngejar-ngejar dia."

"Jo ... jo ... gara-gara cewek lu nyari masalah. Lu ngeracik bumbu permusuhan kalo kayak gini. Gua enggak pernah ada niatan buat nyaingin lu."

Lagi-lagi John hanya tersenyum miring. "No Problem, enggak usah dipermasalahin lagi. Gua duluan ya mau ...." John menunjukkan sebatang rokok dari kantong kemejanya.

Artha tahu betul saat ini John sedang menjauh dari emosinya. John ini tipe laki-laki yang pandai menjaga emosi, tapi sekalinya dia benci, sulit menyangkal emosinya itu. Mungkin ini cara terbaik untuk menghindar dari rasa benci.

***

Syahla terdiam terpaku di atas sajadah yang sudah tersedia dari musalah sekolah.

"Ya Allah, aku enggak bisa terus terjebak dalam perasaan aneh ini. Aku enggak boleh sampai jatuh hati sama laki-laki itu."

"Aku moho, Ya Allah, hilangkan saja rasa ini, aku tidak ingin menduakanmu. Biarlah kelak pada waktunya aku dijemput oleh lamaran, dan mencintai seseorang yang sudah halal bagiku."

"Aku tidak ingin mengecewakan Bunda, Abba, Kakak, dan tentunya yang paling utama adalah dirimu."

"Cinta itu membutakan, aku tidak ingin sampai buta karenanya."

Syahla menunduk rapuh, ia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

Setelah sudah merasa tenang Syahla bergegas untuk kembali ke kelas. Ia memakai kaos kaki di dalam Musholah, karena kaki itu termasuk aurat, di musalah ini tidak hanya diperuntukkan untuk perempuan, ada laki-laki juga di sini. Hanya saja ada pembatas antara tempat salat laki-laki dan perempuan.

"Assalamu'alaikum?"

Syahla terkejut, lagi ngelamun sambil memakai sepatu, wajar atau tidak sih kalau terkejut?

"Wa'alaikumussalam warrahmatullah. Eh kamu, War, ada apa?"

Syahla masih malu-malu kalau bertemu dengan Wardani, ia jadi teringat momen saat Wardani melihat apa yang membuat Syahla masih benar-benar malu sampai sekarang. Biasanya Syahla sering ngobrol bersama Wardani dan Husna, mereka berdua asyik kalo sudah diajak diskusi mengenai agama, Syahla lebih suka menghabiskan waktu istirahat seperti itu. Karena rasa malu yang berlebih Syahla jadi sering menghindar dari Wardani.

"Kamu kok kayak ngejauh sih dari aku, apa aku punya salah sama kamu?"

Skakmat kau, Syah, mau jawab apa lagi ini. Masa iya harus jawab Aku masih malu sama kamu karena masih mengingat moment saat kamu lihat kotoran di rok aku. Itu malah lebih memalukan.

Syahla tertawa renyah. "Ah kamunya aja kali yang ngerasa kayak gitu, aku mah enggak, sih."

Wardani tersenyum. Senyuman yang bisa mematikan siapa saja yang melihatnya, tetapi tidak dengan Syahla, dia merasa biasa saja.

"Yaudah kalo gitu, maaf ya kalo aku ada salah, aku duluan, Syah, Assalamu'alaikum."

Syahla menghembuskan napas lega. "Wa'alaikumussalam warrahmatullah."

Wardani ini benar-benar membuat jantungnya berdegup tidak karuan, benar-benar efek samping diajak bicara dengan laki-laki tampan ya, perempuan lemah bisa apa, hanya berdoa dan berusaha agar bisa menjaga diri dari segala bentuk zina.

Syahla memang tidak tertarik dengan Wardani, lagi-lagi aku mengatakan, Syahla juga wanita lemah.

Sambil melangkah pelan menuju kelas Syahla tidak henti beristighfar, wajah Artha selalu memenuhi pemikirannya, ia tidak mengerti apa yang saat ini sedang melanda kehidupannya. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal ini. Ia cukup tersiksa dengan semua ini, ia ingin tentram seperti dulu tanpa harus memikirkan perasaan cinta kepada makhluk yang belum jelas, belum halal, hanya menambah dosa saja.

Langkah Syahla terhenti saat orang yang sedang memenuhi pikirannya kini ada di hadapannya.

"Sya? Boleh bicara sebentar?"

Syahla menunduk. "Enggak boleh." Ia langsung berjalan cepat melewati Artha.

Artha mengejar Syahla. "Ini perihal agama, gua mau bicara ini jauh sebelum gua kenal lu, gua rasa lu orang yang tepat, lu mau kan denger?"

Syahla menghentikan langkahnya. "Apa ini penting untuk aku dengar?"

"Ya, sangat penting."

"Yaudah bicara aja sekarang."

"Di kantin."

"Aku enggak mau jadi bahan pergibahan."

"Gimana kalo pulang sekolah gua kerumah lu."

Syahla memutar bandannya cepat. "Jangan! Aku sendirian di rumah."

"Oh iya namanya bersholawat ya, Syah?"

Syahla diam sesaat menelaah ucapan Artha, saat paham tiba-tiba Syahla tertawa.

"Berkhalwat, Ar." masih dengan tawanya.

Artha tersenyum, kayaknya baru kali ini ia melihat Syahla tertawa.

"Oh ya, Syah, jaket gua masih ada di lu, ya?"

Syahla terdiam kembali.

Ah sampai lupa, sudah dua hari jaket Artha ada di lemari bajunya.

"Maaf, Ar, aku lupa."

Artha tersenyum. "Yaudah nanti gua ke rumah lu sama si Mel, kalo enggak ajak Husna aja. Sekalian mau bicarain yang tadi sama mau ambil jaket."

"Husna lagi pulang kampung."

"Yaudah sama Mel."

"Melia?"

Artha mengangguk.

"Sejak kapan kamu deket sama Melia?"

Lagi-lagi Artha tersenyum, secara tidak langsung saat ini itu Syahla sedang menampakkan kecemburuannya.

"Maksud aku jam berapa?" lanjut Syahla.

"Jam dua siang, hari ini kan kita pulang jam satu. Atau nanti gua langsung ke rumah lu aja."

"Kalo kamu dateng sendiri aku enggak bakal bukain pintu." Setelahnya Syahla langsung pergi begitu saja.

"Gua sama Mel deket karena ternyata dia saudari gua," ucap Artha setengah berteriak karena jarak Syahla sudah lumayan jauh.

***

Syahla masih memikirkan bagaimana nanti. Apa yang akan Artha bicarakan. Dan mengenai Melia, sepertinya Melia terlihat tidak tahu apa-apa. Dan hal yang membuat Syahla bingung, Melia itu beragama Islam sedangkan Artha tidak beragama Islam. Apa iya dia benar bersaudara?

Atau jangan-jangan ada hubungan lain yang Artha umpat?

Apaan sih kamu, Syah, kalau pun dia pacaran juga emang apa masalahnya sama kamu!

Syahla mengelap keringat yang sebelumnya membasahi area wajah. Terik matahari hari ini panasnya lumayan terasa daripada hari-hari sebelumnya.

Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib orang-orang yang bergelimang dosa, termasuk dirinya, kelak di akhirat. Akan ada masanya orang yang berat timbangan keburukannya seakan ada di bawah matahari. Kita saja yang masih dikatakan jauh dari matahari panasnya bukan main. Apalagi nanti yang jaraknya hanya sejengkal. Naudzubillah, semoga kita terhindar dari itu semua.

Suara klakson mobil membuyarkan lamunan Syahla. Syahla langsung melambaikan tangannya.

Hal yang membuatnya terkejut bukan main. Di dalam ada Wardani, dan mereka hanya berdua disini. Ia jadi nyesal tidak bawa motor, seharusnya ia tidak diharuskan menahan malu dan tegang secara bersamaan seperti ini.

"Eh kamu, Syah."

"I ... iya, War."

Syahla terdiam kaku, entah sejak kapan tiba-tiba jika bertemu dengan Wardani terasa canggung. Aneh. Sebelumnya ia tidak seperti ini.

"Kamu tumben naik angkutan umum, Syah?"

"Ah?"

"I ... iya, War, lagi kepengen aja naik angkot, kamu juga, biasanya kamu pulang sama Ikhsan?"

Wardani tersenyum kecil. "Ikhsan lagi dirawat, Syah, kamu emang enggak tau?"

"Innalillahi, sejak kapan? Kok aku enggak tau sih?"

"Baru aja kemarin, nih niatnya habis izin sama ganti baju aku mau kesana, kamu mau ikut? Nanti aku jemput."

"Yaahh ... aku mau deh jenguk, tapi aku udah ada janji lebih dulu sama orang lain."

Lagi-lagi Wardani tersenyum, laki-laki ini memang murah senyum, orangnya juga asik, tidak baperan, enak diajak bersahabat walaupun dengan lawan jenis, dia pandai menjaga batasan tanpa membuat orang yang ia batasi merasa risih.

"Kalo kamu emang mau nanti aku jenguknya ba'da Ashar aja, supaya kamu bisa ikut, gimana?"

Syahla tersenyum lebar. "Seriusan, kamu enggak apa-apa?"

Wardani tersenyum sambil mengangguk. "Aku tau kamu itu hobby banget jenguk orang sakit, kamu pasti bakal galau kalo sampe enggak jenguk."

"Lho kok kamu tau War?"

"Kamu kira aku kenal kamu baru kemarin, kita teman kecil, Syah."

Syahla hanya terkekeh sambil menggaruk telungkuknya yang tidak gatal.

Benar, kan? Wardani itu bisa mencairkan suasana yang sebelumnya tegang menjadi cair. Tipe laki-laki asik bukan?

Wardani terus mengajak Syahla bicara menghilangkan rasa malu yang sebelumnya mendera Syahla, yang membuat Syahla canggung berkomunikasi dengannya. Dalam sekejap perasaan canggung itu hilang.

"Aku duluan ya, War?"

"Iya, hati-hati di gang banyak terong-terongan, Syah."

Syahla terkekeh pelan. "Iya hati-hati juga ya," ucap Syahla seraya melambaikan tangan saat mobil yang Wardani tumpangi sudah berjalan kembali.

Wardani ini kalau dibandingkan dengan Artha tidak beda jauh. Artha putih, Wardani juga putih. Wardani itu memiliki alis yang tebal, bersambung, bulu mata lurus, lebat, lalu ditambah hidungnya yang mancung. Dia itu seperti laki-laki negara Turki, mungkin karena dia anak dari seorang ayah asal Turki.

Dia itu mudah sekali berbaur dengan siapapun, maka dari itu dia dipilih menjadi Ketua OSIS, selain itu karena dia itu bisa menguasai microfon saat maju di atas mimbar.

Kalau ditanya siapa laki-laki yang memiliki pengagum terbanyak, jawabannya adalah Wardani. Tahu kenapa yang lebih terkenal laki-laki pengagum terbanyak adalah Artha? Karena rata-rata yang menyukai Wardani itu mau berusaha menjadi kriteria Wardani, perempuan solehah, jadi mereka hanya bisa menyukai diam-diam.

Karena yang mengagumi Artha itu kebanyakan perempuan-perempuan yang berani menyatakan cintanya jadilah semua yang menyukainya terus mengejar-ngejar cintanya. Karena sekarang-sekarang saja Artha berubah menjadi garang, jadi perempuan-perempuan yang menyukainya jadi ciut untuk mengungkapkan rasa cintanya lagi.

***

Tepat sekali pada saat Syahla menginjakkan kakinya di halaman rumah suara klakson mobil sudah menyambutnya.

"Cepet banget sih mereka."

Pertama keluar Artha dari bangku kemudi, setelahnya Melia keluar dari bagian kedua.

"Assalamu'alaikum, Syah?" ucap Melia.

"Wa'alaikumussalam warrahamatullah, ayo masuk saja."

Melia melirik ke arah Artha setelahnya ia mengikuti langkah Syahla.

"Aku juga baru sadar sih kalo ternyata aku sama Artha satu omah, soalnya orangtua Artha itu lahir di luar negri, menikah di luar negri, karena sekarang omah sudah meninggal jadi berpecah, kita bisa tau pas om Natha lihat KK aku. Ternyata ibu aku sama om Natha saudaraan," ucap Melia saat mereka sudah duduk diruang tamu.

Syahla mengagguk paham. "Kok bisa sih sampe berpecah?"

Melia terdiam, begitu juga Artha, mereka malah saling menatap satu sama lain.

"Oh maaf kalo pertanyaan aku salah."

"Enggak salah, ibu Melia sama papa gua bertengkar saat ibu Melia memilih untuk mengucap syahadat dan menikah dengan laki-laki muslim. Omah jadi enggak anggap dia anaknya lagi."

Melia menunduk, ia jadi teringat reaksi om Natha meliriknya tajam saat mengetahui kalau dia anak dari adik perempuannya yang sudah mengecewakan ibunya.

"Apa kamu juga benci sama Melia, Ar?"

Artha terdiam.

"Yaudah langsung aja ke topik pembicaraan, kamu mau ngomong apa, Ar?"

"Gua enggak benci sama Melia, menurut gua itu hal yang wajar. Agamakan pilihan setiap insan. Kalo dia maunya beragama Islam ya apa salahnya gitu?"

Syahla terdiam. Sedangkan Melia langsung mendongak.

"Yang mau gua omongin itu, apa gua salah kalo di hati kecil gua mau bisa belajar ilmu yang ada di agama Islam? Gua udah pernah bilang ini sama Angga teman gua yang beragama Islam, dia malah ngalihin pembicaraan seolah apa yang gua ucapin ini unfaedah."

Syahla dan Melia saling menatap.

"Angga enggak mau ikut campur karena dia enggak mau jadi sumber kamu durhaka sama agama kamu sendiri mungkin, atau dia itu enggak mau mama atau papa kamu marah sama dia karena udah mencuci otak kamu."

"Aku bikin minuman dulu, ya."

Sambil mengaduk teh yang baru saja ia berikan gula Syahla mencoba mempersiapkan diri apabila nanti Artha akan menanyakan sesuatu mengenai Islam, ia tidak mau sampai dicap sebagai si Islam KTP. Ia harus bisa menjawab semua pertanyaan Artha tanpa menyinggung agama mana pun.

Tidak boleh takut, katakan saja. Nabi Muhammad SAW dahulu menyebar agama Islam dengan susah payah masa menyanggupi pertanyaan non muslim mengenai Islam takut, malah baik dong, kalau misalnya non muslim itu menjadi mualaf melalui prantara kita, maka selagi orang itu dalam keadaan muslim kita akan mendapatkan pahalanya.

"Apa benar agama Islam itu agama yang kejam? Apa ya waktu itu yang ada di buku, Hmm ... iya, Qishash. Apadah tuh artinya?" tanya Artha pada saat Syahla duduk kembali di tempatnya.

Seriusan Artha nanya tentang Qishash? Sejauh itukah dia tau tentang agama Islam?

Syahla tersenyum. "Agama Islam itu engga kejam, Ar, agama Islam itu adil."

"Di dalam agama Islam ada yang namanya Qishash yang diartikan bentuk pembalasan dari apa yang sudah orang yang melakukan kesalahan contohnya pembuhuhan harus di balaskan dengan apa yang ia lakukan."

"Dari sisi pelaku kejahatan, bisa jadi syariat Islam sangat menakutkan mereka. Namun, sejatinya syariat Islam sangat mengayomi dan memberi rasa adil kepada manusia yang lain. Bahkan, syariat Islam dengan ketegasannya terhadap pelaku kejahatan-mencegah terjadinya kejahatan-kejahatan lain karena hukum Islam mampu memberi efek jera bagi pelaku dan calon-calon pelaku."

"Itu gunanya Qishash. Sayangnya di negara kita sudah tidak diterapkan, cuma di Aceh kayaknya."

Artha menganggukan kepalanya. "Menurut lu gua ini salah enggak sih mau belajar agama Islam padahal gua cules banget cari tahu tentang agama gua."

Seketika Syahla merinding. Di dalam jiwa Artha sudah timbul jiwa keislaman. Sayang sekali kalau sampai ia melawatkan ini. Ia harus bisa mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad, ia juga harus bisa menyebarkan agama Islam.

"Aku enggak bisa jawab kalo itu, Ar, jawabannya ada di diri kamu sendiri."

"Gua mau tanya lagi."

"Kenapa perempuan-perempuan penganut agama Islam ada yang enggak pake kerudung? Padahal wajib, kan?"

Syahla tersenyum getir, sebagai sesama muslimah ia jadi malu. Ukh, tolong jaga dirimu, jangan sampai ada non muslim yang menilai agama kita buruk hanya karena kamu tidak bisa menjaga diri.

1
Mukmini Salasiyanti
😂😁
Mukmini Salasiyanti
Assalamu'alaikum
mampir and salken

Anty aidhon fii qolby daaiman, thor😍☺
Hi_Kiraa
Semangat Thor aku menunggu update yah.

Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen

Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.

Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Subhanallah... Masya Allah... Tabarakallahu...
Msyururriah
Thor jangan jahat ke syahla dong , masa menderita terus , kapan bahagianya?
Msyururriah
kok aku serasa malam pengantin
Msyururriah
Alhamdulillah sah
Msyururriah
satukan mereka dong thor
Msyururriah
syahla terima lamaran Artha ya thor
Msyururriah
terimakasih Thor syahlabtak berjodoh dengan Hasyim
Msyururriah
Thor jangan jodohkan syahla dengan Hasyim
Msyururriah
Thor jadikan Artha dan syahla berjodoh
Msyururriah
Thor kok aku nyesek ya mengamati kehidupan Artha , kasihan Thor beri hidayah dan bersatu dengan syahla , Ending bahagia Thor
Msyururriah
Thor saya minta endingnya pemeran utama bahagia , kalo bisa hidup bersama
Ummi Na Ssya
sayang ya novel sebagus ini gak masuk rangking novel pavorit
Ummi Na Ssya
aku nangis....😭😭😭😭😭
Ummi Na Ssya
saking khusyuk nya baca jadi suka lupa ngelike😁🙏
Ummi Na Ssya
kak ai....baru hijrah kah???
Ummi Na Ssya
kak ai cntik yah.....
smoga sukses selalu
panjang umur
dan sehat
nyesel aku baru baca novel ini...
yang aku pingin baca tuh novel kaya gini
Ummi Na Ssya
setuju banget....
aku lebih hobi baca2 daripada ngumpul2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!