NovelToon NovelToon
KUTUKAN JARAN GOYANG

KUTUKAN JARAN GOYANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Bad Boy / Akademi Sihir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 : Diam yang Berwibawa

Jarum jam dinding di ruang tengah rumah Dedi sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika gagang pintu depan perlahan berputar. Dedi melangkah masuk menembus keheningan rumah, meletakkan tas kerjanya di atas meja sudut dengan gerakan yang sangat pelan. Suara rintik hujan di luar masih menyisakan hawa dingin yang menusuk, namun malam ini, dada Dedi terasa luar biasa lapang. Getaran hawa sejuk yang ditanamkan melalui bimbingan spiritual di kontrakan Bagus sore tadi masih mengunci ketenangan sistem sarafnya dengan sangat rapat.

Belum sempat Dedi melepas sepatu kainnya, sesosok wanita paruh baya berwajah ketus dengan daster batik panjang melangkah keluar dari arah dapur dengan berkacak pinggang. Wanita itu adalah Maya, istri Dedi yang selama setahun belakangan ini selalu memandangnya sebelah mata akibat krisis ekonomi dan tekanan karisma Dedi yang meredup.

"Bagus ya! Pulang jam segini terus setiap hari!" ketus Maya, suaranya langsung melengking tinggi memecah kesunyian malam, dipenuhi oleh nada sinis yang mengintimidasi. "Di kantor cuma jadi bahan tertawaan orang, tapi gayanya sok sibuk pulang malam! Kamu itu sadar diri dong, Mas! Suami orang lain itu jam segini sudah bawa pulang bonus besar, bisa belikan istrinya perhiasan. Lah kamu? Jangankan perhiasan, posisi kepala divisi saja sebentar lagi mau ditendang karena fitnah orang kantor!"

Jika di malam-malam sebelumnya caci maki yang menyakitkan itu akan langsung memicu hawa nafsu amarah di dada Dedi—membuatnya berteriak membalas atau justru mengurung diri di kamar dengan kepala pening dan frustrasi ingin mati—maka malam ini semuanya berubah total.

Dedi hanya diam. Sepasang matanya menatap lurus ke arah wajah Maya dengan sorot mata yang sangat tenang, bersih, dan meneduhkan. Tidak ada kilatan dendam, tidak ada urat leher yang menegang kaku, dan tidak ada sedikit pun bantahan kasar yang keluar dari bibirnya. Berbekal esensi penyelarasan rasa yang diajarkan Bagus, Dedi membuang seluruh ego pertahanan manusianya. Ia membiarkan makian istrinya berlalu begitu saja di udara, laksana debu kotor yang terhempas angin batinnya yang kokoh.

Maya yang awalnya bersiap untuk menerima balasan bentakan dari suaminya, mendadak tertegun di tempat. Langkah kakinya tertahan. Wanita itu mengernyitkan dahi dengan rasa heran yang mendalam, menangkap adanya sebuah perubahan atmosfer yang luar biasa aneh pada pembawaan suaminya malam ini. Pancaran wajah Dedi yang biasanya tampak sangat kusam, kusut, dan layu menyerupai mayat hidup, kini terlihat sangat jernih, tegap, dan memancarkan aura wibawa alami seorang laki-laki sejati yang sangat menenangkan namun sekaligus mengunci nyali siapa pun yang melihatnya.

"Kenapa diam saja?!" suara Maya sedikit merendah, ada nada keraguan yang mendadak menyelip di tenggorokannya akibat tertekan oleh aura ketenangan Dedi. "Biasanya kamu langsung bentak-bentak atau pasang muka stres! Sekarang malah sok tenang begitu!"

Dedi menarik napas pendek dengan sangat plong, lalu menyunggingkan seulas senyuman tulus yang sangat bersahaja di depan istrinya. "Maya," ucap Dedi lembut, nada suaranya terdengar sangat dalam, berat, dan berwibawa tegap tanpa ada getaran emosi sedikit pun. "Maaf kalau Mas baru pulang jam segini. Mas tahu kamu lelah dan cemas memikirkan masa depan kita. Tapi percayalah, semua urusan fitnah di kantor dan rezeki rumah tangga kita sudah Mas pasrahkan seutuhnya ke dalam perlindungan Allah. Mulai malam ini, kamu tidak perlu khawatir lagi."

Mendengar untaian kalimat yang sangat dewasa dan penuh ketenangan itu, Maya seketika membisu seribu bahasa. Lidahnya mendadak terasa kaku untuk kembali memuntahkan caci maki. Ada sebuah rasa aman yang sangat asing namun menyejukkan hati tiba-tiba merayap di ulu hatinya—sebuah getaran yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari suaminya. Maya hanya bisa berdiri terpaku, memandangi punggung tegap Dedi yang berjalan dengan langkah tenang menuju ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum menunaikan sholat Isya yang sempat tertunda.

Keesokan paginya, ujian yang sesungguhnya di kerasnya dunia luar kembali menghadang langkah Dedi. Tepat pukul delapan pagi, Dedi melangkah masuk menembus pintu kaca lobi gedung perkantoran elite Sudirman. Begitu ia berjalan melewati area kubikel divisi administrasi, suasana ruangan yang tadinya bising seketika berubah menjadi agak sunyi. Beberapa staf bawahan dan rekan kerja yang biasanya langsung berbisik-bisik merundung dan menertawakan Dedi dari belakang, mendadak menghentikan tawa mereka.

Mereka semua tertegun menyaksikan sosok kepala divisi mereka berjalan masuk dengan langkah kaki yang sangat mantap, tegap, dan pandangan mata lurus ke depan. Pakaian kemeja kerjanya yang sederhana tampak memancarkan aura karisma yang luar biasa bersih. Tidak ada lagi sisa-sisa wajah linglung atau ekspresi ketakutan yang biasanya melekat pada diri Dedi.

"Selamat pagi semuanya. Silakan lanjutkan kembali pekerjaan kalian," sapa Dedi dengan nada suara yang sangat tenang dan ramah saat melewati meja para stafnya.

"Se... selamat pagi, Pak Dedi," jawab salah seorang staf bawahannya dengan terbata-bata, reflek menundukkan kepala dengan rasa sungkan dan hormat yang sangat mendalam, sebuah reaksi alami yang murni lahir dari batin mereka karena pancaran energi negatif pelet pembenci milik Ki Demang di wajah Dedi bener-bener telah luntur terkikis habis.

Dari balik sekat kubikel ujung ruangan, seorang pria muda berpenampilan necis bernama taufik tampak mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras kaku. Taufik adalah rekan kerja licik saingan Dedi yang selama ini bekerja sama di balik layar bersama dukun pemilik Jaran Goyang untuk menghancurkan karisma Dedi. Taufik bener-bener tidak menyangka; umpan hawa negatif yang dikirimkan malam tadi seharusnya membuat Dedi datang ke kantor dalam keadaan gila atau mengamuk frustrasi, namun pria paruh baya itu justru datang membawa takhta wibawa yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya.

Dedi duduk di kursi kerjanya, menatap tumpukan dokumen di atas meja dengan hati yang sangat damai. Diamnya yang berwibawa telah berhasil memenangkan pertempuran mental tahap pertama di kota besar. Skenario takdir jalur langit mulai bekerja menata kembali derajat hidupnya, memicu badai kepanikan baru bagi kubu kegelapan yang sedang mengintip dari kejauhan.

“Ketika kau mampu menghadapi kasarnya caci maki dunia dengan diam yang dipenuhi ketenangan iman, kau sedang mengunci kemenangan mental yang sejati. Karisma seorang lelaki tidak akan pernah runtuh oleh hinaan makhluk, selama jiwanya kokoh berserah diri di bawah perlindungan Sang Pemilik takdir.”

— Sang Alifas Yang Merumput

1
❤️⃟Wᵃf✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🤎❥␠⃝ ͭ🍁𝓷𝓲ѕ⍣⃝✰
wah mau apa tuh bagus
Wijaya Mandiri Media Studio: mau ke dukun bagus nya hehehe Semar mesem 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!