Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kakek Tua Yang Aneh.
Setelah jam Kampus mulai berbunyi dan menandakan bahwa para mahasiswa boleh pulang, Harya bersiap-siap untuk pulang karna ia ada jam kerja habis ini.
"Har, kayaknya kau nggak bisa makan pagi sama aku ya nanti pulang" tanya Rama yang sudah disamping Harya sambil memegang konsol game
"Nggak bisa, aku ada kerja dan juga ini udah sore mas. bukan pagi lagi" balas Harya dan ia mulai keluar dari ruangan bersama Rama
Dihalaman Universitas sudah ada mobil Porsche biru navy yang tadi pagi mengantar seorang Tuan muda.
"Liat, mobil itu datang lagi!"
"Aku mau lihat wajah Tuan muda itu sekali lagi kyaaa"
"Tetap kalem walau hati dugun dugun"
Harya dan Rama keluar dan melihat mobil mewah tersebut sontak Rama langsung pamer pada Harya dengan begitu bangganya.
"Lihat Har, itu mobil akuh yang keren ini. gimana? keren kan?!" pamer Rama tetapi malah kelihatan bodoh menurut Harya
"Ya ya bagus, dah aku mau pulang. hati-hati" jawab Harya
Harya pergi meninggalkan Rama yang mulai memasuki mobilnya dan lewat di samping Harya.
"Duluan My Bro!" ucap Rama dari jendela mobil tersebut dan dibalas dengan anggukan Harya
Harya menatap mobil mewah itu melaju dijalanan yang tidak padat dan mulai melanjutkan perjalanannya.
Harya berhenti dan menatap sebuah Minimarket, ia memutuskan untuk masuk dan membeli barang-barang yang sudah habis seperti Mie instan.
"Cuman 7 Mie instan ini saja mas?" tanya sang kasir
"Iya mbak, cuman ini saja"
"Baik totalnya, 35 ribu ya mas." ucap mbak kasir itu memberi kantungan belanja Harya
Harya menyerahkan uang sesuai yang diminta dan berjalan keluar Minimarket dengan mendengus sedih.
"Mahal amat, satu bungkus Mie instan 5 ribu" keluh Harya dan terus berjalan hingga ia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang digebuk pemilik warung.
"MAKANYA KALAU NGGAK PUNYA DUIT, NGGAK USAH MAKAN!"
"INI KITA YANG RUGI, SEKARANG MAU GIMANA?!"
"KITA BAWA AJA KALI YA KE KANTOR POLISI KOBAN!"
"Maaf bapak-bapak, kebetulan tadi dompet saya ketinggalan" lirih si Kakek yang tengah bersender di sebuah tiang dengan luka lebam di wajahnya
"Ah alesan! bayar sekarang atau kami lapor ke Polisi Koban!" ancam salah satu pemukul tersebut
Harya geram dan berjalan menuju tempat kakek itu, ia menjadikan dirinya tameng bagi si kakek.
"Kalau ngomong sama yang lebih tua tolong baik-baik" ucap Harya menatap tajam bapak-bapak itu
"Siapa lu? cucu ini kakek?" tanya Bapak A
"Kakek lu makan banyak tapi kagak bayar! sekarang kita rugi parah nih" ucap Bapak B
"Bayar pokoknya, nggak urus dan lu punya uang atau nggak" ucap Bapak C
Harya semakin geram dan ingin sekali menghajar mereka tetapi ia sedang berdiri di depan seorang Kakek tua yang terduduk lemah.
"Berapa tagihannya, biar saya yang bayar" ucap Harya maco bagaikan lelaki sejati
"Cih, 84 ribu. kita maunya Cash dan nggak ngutang" jawab si bapak A
Harya kaget akan total yang dimakan Kakek yang ia lindungi sekarang, mau tak mau ia harus membayar.
'Ya Allah, banyak banget dah. ini perut si kakek karet atau daging sih' batin Harya sembari menyerahkan uang sesuai yang diucapkan.
"Cih nggak ada lebih nya nih uang" decih Bapak B
"Sudah, yang penting ni bocah udah nge-bayar" tukas Bapak C
"Lain kali Kakeknya jangan dibiarkan keluyuran" ucap si Bapak A sebelum pergi dengan rombongannya.
"Huft, selesi juga nih masalah" keluh Harya
"Ma-makasih ya dek, kalau nggak ada adek mungkin Kakek ini bakal di gebuk sampai sekarat" lirih si Kakek tetapi masih mencoba untuk bangun "Kaki kakek agak kesemutan hehe"
"Iya kek, sama-sama lain kali kalau mau keluar cek dompetnya dulu ya" saran Harya membuat sang kakek terkekeh
"Lucu ya kamu, sudah lama kakek ini tidak tertawa seperti tadi" ucap kakek itu
"Ya harus sering-sering ketawa lah kek, kalau nggak nanti jadi tua kayak sekarang" ucap Harya tersenyum remeh
"Heh! kakek ini emang udah tua dan lagi apa-apaan dengan senyum mu itu!" kesal si Kakek saat melihat wajah Harya
"Jangan cepat marah kek, nanti cepat tua hahaha" tawa Harya pecah di depan wajah si kakek
"Betuah punya anak...MASIH SEMPAT-SEMPATNYA NGATAIN ORANG TUA!"
Si Kakek memukul-mukul punggung Harya yang tak berhenti tertawa dengan kuat supaya bocah didepannya berhenti menertawainya.
"Ya kek ampun haha udah-udah jangan mukul lagi haha nanti tangannya pegel" ucap Harya di selingi tawa yang tak berhenti
"Malas saya sama kamu, dah saya pergi dulu semoga tidak bertemu lagi" kesal si kakek dan berjalan meninggalkan Harya "Nama kamu siapa?"
"Eh, Harya kek...kebanggaan Desa Bulan" ucap Harya percaya diri
"Pengen saya jitak kamu lama-lama"
Kakek itu pergi tanpa memberitahu namanya dan tempat tinggalnya, Harya menatapi punggung tua itu hingga hilang dari pandangannya.
"Kenapa kakek tadi jalannya nggak bungkuk ya...biasanya kan kakek-kakek kalau jalan bungkuk kayak di Sinetron" gumam Harya pelan
'Kakek yang aneh, bahkan lebih aneh dari ku' batin Harya dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampainya di Kost, Harya segera naik ke kamar nya dan membersihkan diri. setelah membersihkan diri ia mendengar bahwa Hp nya berbunyi.
"Siapa yang nelpon?" tanya Harya dan mengambil Hp nya itu.
Saat ia melihat nama yang tertera Mbah Setu, ia segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, kenapa Mbah nelpon?" tanya Harya
Dari telfon terdengar kasak kusuk yang sangat ramai hingga suara mbah Setu terdengar.
"Ini ayak kah?"
"Iya mbah, kenapa? ada masalah kah?"
"Desa kita...digusur-"
Harya terkejut setengah mati hingga hampir menjatuhkan telfon genggamnya.
"Kenapa bisa mbah? Desa kita ada buat salah?!"
Hening dari ujung suara, tak terdengar suara mbah Setu untuk waktu yang cukup lama.
"Ada Direktur Perusahaan dari kota, yang waktu itu mbah sama bapak-bapak lain usir"
"Terus...dia mau nge-dusur Desa kita begitu aja mbah?!"
"Mau tidak mau Har, mbah dan warga Desa lainnya tidak punya kekuatan untuk melawan...kami hanya bisa melihat rumah kami digusur dengan mobil besar itu"
Harya tau bahwa mbah Setu sedang sedih dan juga dalam keadaan terpuruk bersama bapak-bapak lainnya, Harya ingin membantu tetapi ia sama seperti mbah Setu...tidak ada kekuatan untuk melawan.
"Jadi mbah dan yang lainnya akan pergi kemana?"
"Desa Bintang, desa yang sering ngajak kelahi itu mau membantu warga Desa kita...jadi kami akan tinggal disana sampai entah kapan"
"Harya tenang kalau mbah ada tempat buat berteduh"
"Iya, mbah matiin Assalamualaikum"
"Walaikumsalam-"
Belum sempat Harya menyelsaikan salamnya, panggilan itu sudah diakhiri oleh mbah Setu.
"Masalah terus datang satu persatu...semoga tidak ada yang lebih parah dari ini"
...----------------...
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing