NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam Bulan Menuju Perpisahan, Seumur Hidup Menyimpan Cinta

Kinasih hanya memandang punggung mobil yang makin menjauh, lalu menunduk dalam, berusaha menyembunyikan rasa perih yang meluap.

Ia tak ingin Amara curiga, jadi sepanjang hari itu ia memutuskan untuk menenggelamkan dirinya sepenuhnya ke dalam pekerjaannya. Ia bergerak lebih cepat, lebih teliti, dan lebih sibuk dari biasanya, menangani pasien, mencatat laporan, membantu dokter senior, melakukan semua hal yang ada agar pikirannya tak sempat melayang kembali pada kenyataan pahit yang ia dengar semalam. Setiap kali rasa sakit itu ingin muncul, ia hanya memaksakan dirinya untuk terus bekerja, berharap kelelahan fisik bisa sedikit meredakan luka di hatinya.

Hari pun berganti, matahari mulai condong ke barat, dan tugas mereka akhirnya selesai juga. Berbeda dari hari-hari sebelumnya, Kinasih tak menunggu Kenan menjemput, bahkan tak mengangkat telepon ketika ponselnya bergetar berkali-kali. Ia hanya berpamitan pada Amara dengan alasan ingin istirahat lebih awal, lalu segera naik kendaraan umum dan langsung menuju ke kostannya, tempat yang ia rasa paling aman untuk meluapkan segala sesaknya.

Begitu pintu kamar kost tertutup rapat dan ia tahu tak ada seorang pun yang bisa mengganggunya, pertahanan yang ia bangun seharian itu langsung runtuh seketika. Kakinya terasa lemas, ia terjatuh berlutut di lantai, lalu menangis sejadi-jadinya. Air matanya mengalir deras tanpa henti, tangisannya meledak memecah keheningan kamar, membawa keluar semua rasa sakit, kecewa, kebingungan, dan rasa dikhianati yang selama ini ia pendam rapat.

Ia memukul pelan dadanya sendiri, terisak-isak memanggil nama Kenan dalam hati, merasa betapa bodohnya ia yang mulai menaruh harapan dan mencintai pria itu dengan sepenuh hati, padahal dari awal semuanya hanyalah perjanjian sementara. Enam bulan lagi... hanya enam bulan lagi ia harus kehilangan segalanya, harus kembali sendirian, dan melihat orang yang dicintainya pergi bersama wanita lain. Tangisnya tak berhenti sampai ia merasa kehabisan tenaga, terbaring di lantai sambil terus memeluk lututnya, hancur lebur dalam kesendirian yang menyakitkan itu.

Di kantor pusat perusahaan, suasana hari itu terasa sangat menyesakkan dan berbeda dari biasanya. Kenan bekerja seolah sedang melampiaskan segala amarah dan rasa sakit yang membebani hatinya. Ia tak lagi terlihat ceria, tenang, dan ramah seperti hari-hari sebelumnya. Sebaliknya, wajahnya selalu ditekuk, matanya menyala tajam, dan suaranya terdengar dingin serta menusuk siapa saja yang berhadapan dengannya.

Semua pegawai pun menjadi sasaran kemarahannya. Kesalahan sekecil apa pun, mulai dari laporan yang sedikit tidak rapi, data yang tertukar, hingga penjelasan yang tidak sejelas yang diharapkan, langsung membuat Kenan meledak. Ia menyemprot siapa saja yang dianggap lalai dengan kata-kata yang tegas dan keras, membuat semua orang di ruangan itu gemetar ketakutan dan berusaha bekerja secepat dan sebaik mungkin agar tidak menarik perhatiannya.

Rizky, asisten pribadinya yang sudah mengenal Kenan bertahun-tahun, hanya bisa berdiri diam di sudut ruangan dengan hati berdebar. Ia melihat perubahan drastis pada bosnya itu, tahu pasti ada sesuatu yang sangat berat dan menyakitkan yang sedang menimpa Kenan sampai membuatnya kehilangan kendali seperti ini.

Namun, melihat raut wajah Kenan yang sangat suram dan penuh amarah yang tak tersalurkan, Rizky pun tak berani membuka mulut sedikit pun untuk bertanya atau sekadar berbicara. Ia hanya melayani segala perintahnya dengan hati-hati, berharap suasana hati bosnya itu bisa membaik seiring berjalannya waktu.

Di balik kemarahannya itu, Kenan sebenarnya hanya berusaha menyembunyikan rasa hancur di hatinya. Ia membenci dirinya sendiri, membenci keadaan yang memaksanya harus kehilangan wanita yang paling ia cintai, membenci kenyataan bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti keinginan Papa demi keselamatan Kinasih.

Semua rasa sakit itu ia limpahkan pada pekerjaan, padahal semakin ia bekerja keras, semakin terbayang wajah Kinasih yang dingin dan diam pagi tadi, yang membuat hatinya terasa tercabik-cabik tanpa henti.

Di kantor pusat perusahaan, suasana hari itu terasa sangat menyesakkan dan berbeda dari biasanya. Kenan bekerja seolah sedang melampiaskan segala amarah dan rasa sakit yang membebani hatinya. Wajahnya ditekuk dalam, matanya tajam menyala, dan senyum hangat yang biasa menghiasi wajahnya seketika lenyap tak berbekas. Kesalahan sekecil apa pun langsung menjadi sasaran kemarahannya.

Seorang staf keuangan baru saja menyerahkan laporan bulanan, dan belum sempat ia mundur, Kenan langsung membentaknya dengan suara menggelegar, “Ini yang kau kerjakan? Masih ada kesalahan hitungan sekecil ini saja kau tak bisa selesaikan dengan benar? Apa kau bayar di sini hanya untuk membuang-buang waktuku saja? Kerjakan ulang dalam waktu setengah jam, kalau tidak kau bisa kemasi barang-barangmu dan pergi!” bentak Kenan sambil melempar berkas itu ke meja dengan keras.

Staf itu langsung menunduk ketakutan, wajahnya pucat pasi. “Maaf, Pak! Saya perbaiki segera, Pak!” jawabnya terbata-bata lalu berlari keluar ruangan.

Tak lama kemudian, Rizky masuk membawa secangkir kopi dan beberapa dokumen penting. Ia melangkah sangat hati-hati, tahu betapa berbahayanya suasana hati bosnya saat ini. Kenan melirik sebentar, lalu langsung membentak lagi, “Kenapa lama sekali? Apa kau ingin aku menunggu sampai berjam-jam hanya untuk satu cangkir kopi? Apa tugasmu hanya berdiri saja atau memang otakmu sudah tak bisa bekerja dengan baik hari ini?” hardiknya tajam.

Rizky langsung menunduk dalam, suaranya terdengar bergetar menahan rasa takut. “Maaf, Pak! Saya akan lebih cepat lagi selanjutnya, Pak.”

Ia meletakkan barang-barang itu dengan sangat hati-hati, lalu mundur ke sudut ruangan tanpa berani mengangkat wajah sedikit pun. Meskipun sudah bertahun-tahun bekerja bersama Kenan, baru kali ini ia melihat bosnya sedingin dan semarah ini.

Ia tahu pasti ada sesuatu yang sangat berat yang menimpa hati Kenan sampai membuatnya tak bisa mengendalikan emosi seperti ini. Namun melihat raut wajah Kenan yang terlihat seperti sedang menahan luka yang dalam sekaligus amarah yang meluap, Rizky pun tak berani membuka mulut untuk bertanya sedikit pun.

“Apa yang sebenarnya terjadi padanya sampai berubah sepenuhnya begini?”batin Rizky dalam hati, hanya bisa berdiri diam dan siap melayani apa saja tanpa berani mengucapkan sepatah kata pun.

Di balik kemarahannya yang meledak-ledak itu, Kenan sebenarnya hanya berusaha menyembunyikan rasa hancur yang menyiksa hatinya sendiri. Ia memukul dadanya pelan dalam hati, memaki dirinya sendiri yang tak berdaya melawan keadaan, membenci kenyataan pahit yang memisahkannya dari wanita yang paling dicintainya.

Semakin ia melampiaskan kemarahan pada pekerjaan, semakin terbayang wajah Kinasih yang dingin dan diam pagi tadi, membuat rasa sakit di dadanya terasa semakin tajam dan tak tertahankan.

Malam sudah semakin larut, langit gelap hanya diterangi cahaya remang lampu jalan. Kenan akhirnya menyelesaikan seluruh pekerjaannya, meski hatinya masih kacau balau, tak tenang semenjak tadi pagi. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melajukan mobilnya menuju ke tempat yang satu-satunya bisa menenangkan hatinya: kostan Kinasih.

Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan tiga kali. Belum sempat ia mengetuk lagi, pintu itu langsung terbuka dari dalam. Kinasih berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat pucat, matanya sembab bekas menangis, tapi rautnya sudah berusaha dibuat setenang mungkin.

Kenan masuk dan duduk di sofa seperti kebiasaannya. Suasana terasa hening, hanya suara televisi yang menyala menayangkan acara komedi, tapi tak satu pun dari mereka tertawa atau memperhatikannya sungguh-sungguh.

Kinasih berjalan ke dapur kecil, menyiapkan secangkir kopi hangat dan sepiring kue kesukaan Kenan, lalu meletakkannya di meja depan suaminya itu. Ia duduk di ujung sofa yang agak menjauh, matanya tetap menatap layar televisi, sebelum akhirnya membuka suara dengan nada datar, lirih, dan tak ada emosi yang tersisa.

“Aku dengar semalam… percakapanmu dengan Kamila. Aku dengar semuanya soal perjodohan itu.”

Kenan langsung menegang, tubuhnya membeku seketika. Ia menoleh menatap Kinasih, napasnya terasa tercekat. Tak ada gunanya lagi menyembunyikan, ia hanya bisa mengangguk pelan, suaranya terdengar parau dan berat.

“Ya… itu benar. Sesuai perjanjian kita saat menikah dulu, satu tahun saja. Enam bulan lagi genap waktunya, dan saat itu… aku akan menceraikanmu, Kinasih.”

Kata-kata itu terasa lebih menyakitkan untuk diucapkan daripada didengar. Namun Kinasih hanya mengangguk pelan, tak menolak, tak membantah, bahkan tak mengeluarkan air mata lagi. Ia menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan senyum tipis yang terasa sangat getir.

“Baiklah. Aku mengerti. Selama enam bulan yang tersisa ini… aku akan berusaha memberikan pelayanan terbaikku, menjadi istri yang sempurna untukmu sampai saatnya tiba. Kau takkan mendapati kekurangan apa pun dariku sampai kita berpisah nanti.”

Kalimat itu menusuk hati Kenan seperti pisau tajam yang berputar di dalam dadanya. Rasanya seluruh jiwanya terasa diiris-iris, sakitnya tak terkira mendengar wanita yang sangat dicintainya itu berbicara begitu tenang, seolah tak ada sedikit pun perasaan sakit atau kecewa.

Ia menatap wajah Kinasih lekat-lekat, matanya berkaca-kaca, sorot matanya memancarkan cinta yang mendalam sekaligus kesedihan yang teramat menyiksa. Rasa sayang dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, membuat dadanya terasa sesak tak tertahankan. Ia ingin berteriak, ingin memeluknya erat dan berkata ia takkan pernah rela melepaskannya, tapi ia tahu, keadaan dan ancaman yang mengancam keselamatan Kinasih sendiri memaksanya harus berpura-pura tegar seperti ini.

“Kinasih…” panggilnya lirih, suaranya bergetar menahan segala gejolak di hatinya. Namun ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya, hanya bisa terus menatap wanita itu dengan pandangan yang penuh rasa tak terucapkan.

Kenan perlahan berdiri dari sofa, lalu melangkah menuju tempat tidur di sudut kamar. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu, memandang langit-langit kamar dengan pandangan kosong yang sarat kesedihan.

Tak lama kemudian, Kinasih pun menyusul. Ia duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah suaminya yang terlihat begitu lelah dan hancur.

“Tidurlah di sampingku…” pinta Kenan dengan suara lirih, nyaris berbisik.

Tanpa ragu dan tanpa perlu disuruh lagi, Kinasih langsung berbaring mendekat, menyandarkan tubuhnya tepat di sisi Kenan. Begitu tubuhnya menyentuh tubuh pria itu, ia pun secara alami melingkarkan kedua lengannya erat memeluk pinggang Kenan, membenamkan wajahnya di dada bidang tempat selama ini ia merasa paling aman.

Kenan langsung membalas pelukan itu dengan kekuatan sepenuhnya. Ia merangkul tubuh Kinasih erat sekali, seolah ingin menyatukan kedua tubuh itu menjadi satu, tak ingin ada celah sedikit pun di antara mereka. Wajahnya menempel di atas ubun-ubun Kinasih, menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh istrinya itu, aroma yang ingin ia kenang selamanya.

Malam itu, mereka hanya berbaring berpelukan erat. Tak ada kata-kata lagi yang terucap, tak ada sentuhan yang mengarah ke mana-mana, tak ada keinginan untuk melakukan hal lain selain hanya memeluk satu sama lain seerat mungkin. Hanya ada detak jantung mereka yang saling berpacu, saling merasakan kesedihan yang sama, menyimpan segala cinta yang tak sempat diungkapkan.

Mereka ingin menikmati setiap detik yang tersisa, merasakan kehangatan satu sama lain selagi masih bisa. Perlahan-lahan, di tengah keheningan yang terasa begitu menyayat hati, kelelahan dan beban pikiran yang membebani akhirnya membuat kelopak mata mereka terasa berat. Berpelukan erat tanpa ingin berpisah, keduanya pun akhirnya terlelap dalam tidur yang penuh kesedihan, dengan hati yang sama-sama hancur namun masih saling mencintai sepenuh jiwa.

Keesokan harinya, saat sinar matahari baru saja menyelinap masuk ke celah jendela kamar, Kinasih sudah bangun lebih awal. Ia mandi dengan air hangat, merapikan rambutnya, dan berdandan dengan sangat rapi, seolah ingin menampilkan dirinya seindah mungkin untuk suaminya sebelum waktu yang tersisa habis. Setelah itu, ia berjalan ke dapur kecil untuk menyiapkan sarapan kesukaan Kenan, membuat segalanya dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Tak lama kemudian, Kenan terbangun dari tidurnya. Ia bersandar di kepala ranjang, matanya masih setengah terpejam, tapi pandangannya langsung tertuju pada sosok Kinasih yang sedang sibuk merapikan diri di depan cermin. Ia memperhatikan setiap gerakan istrinya itu dengan tatapan yang penuh cinta dan kesedihan, menyimpan setiap detail wajah dan penampilan Kinasih di dalam ingatannya selamanya.

Menyadari bahwa suaminya sedang menatapnya, Kinasih pun menoleh dan tersenyum lebar, senyum yang dipaksakan terlihat ceria, meski di baliknya ada rasa sakit yang tak terkira. Ia mendekat ke ranjang dengan langkah ringan, lalu berbicara dengan nada yang manja dan sangat mesra, seolah tak ada sesuatu yang buruk akan terjadi dan semuanya baik-baik saja.

“Mas… sudah bangun? Sarapannya sudah siap lho, nanti dingin kalau tidak dimakan segera. Ayo cepat mandi dan bersiap, biar kita sarapan bersama dulu sebelum berangkat kerja dan kuliah,” ucapnya dengan suara yang terdengar lembut dan penuh kasih, seolah mereka adalah pasangan biasa yang bahagia tanpa beban apa pun.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!