Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 14
Pagi hari berikutnya, Satria terbangun dengan sisa-sisa dentuman bas The Eclipse Lounge yang masih berdengung tipis di telinganya.
Sambil menyeruput kopi saset baru yang dibelikan Nisa sebagai ganti rugi insiden kurator Prancis kemarin, Satria membuka-buka berkas digital di laptop tuanya.
Matanya tertuju pada sebuah draf novel yang pernah ia tanda tangani kontrak lisensinya awal Juni ini, sebuah karya berjudul Sistem Pembalasan Dendam: Bangkit dari Kegelapan.
"Nis," panggil Satria, menatap Nisa yang sedang sibuk menyikat noda jengkol di sandal jepit cadangannya.
"Lu pernah baca novel gua yang ini gak?"
Nisa melirik layar laptop Satria.
"Oh, yang judulnya mirip nama sekte sesat itu ya, Bos?"
"Yang ceritanya tentang tokoh utama diselingkuhi, bangkrut, terus tiba-tiba dapat kekuatan supranatural buat balasan dendam?"
"Klasik banget, Bos. Tipikal bacaan fiksi legalitas modern."
Sebelum Satria sempat membela harga diri kepenulisannya, ponsel di atas meja kayu kosannya bergetar dengan frekuensi tinggi.
Layarnya menyala, memancarkan animasi mahkota emas yang berputar dengan kecepatan penuh.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Baru: 'Promosi yang Menyiksa Massa'.
Deskripsi: Karya literasi Anda membutuhkan eksposur, namun algoritma digital biasa terlalu efisien dan berpotensi menghasilkan royalti komersial.
Tugas: Lakukan promosi fisik untuk novel 'Sistem Pembalasan Dendam: Bangkit dari Kegelapan' dalam waktu 45 menit.
Anggaran Disediakan: Rp 900.000.000,00 (Sembilan Ratus Juta Rupiah) untuk sewa media luar ruang.
Aturan Khusus: Anda wajib menyewa seluruh Videotron (papan reklame digital) raksasa di sepanjang jalur protokol Sudirman-Thamrin untuk siang ini.
Namun, dilarang menampilkan poster keren atau video cuplikan (trailer). Anda harus menampilkan teks bab pertama novel tersebut secara penuh dengan ukuran font kecil, memaksa para pengendara yang terjebak macet untuk membaca teks panjang tanpa gambar.
Sisa Waktu: 00:44:20
Penalti Gagal: Saldo Anda akan dikurangi tanpa ampun menjadi Rp 27 perak.
Satria langsung tersedak kopinya.
"Sembilan ratus juta buat nampilin teks bab satu di videotron?!"
"Gila, ini sih bukan promosi, ini namanya penyiksaan literasi massal di tengah kemacetan Jakarta!"
"Bos, itu namanya polusi visual berbasis teks,"
sahut Nisa, matanya langsung berbinar-binar melihat peluang kekacauan baru.
"Buruan jalan, Bos! Kebetulan jam satu siang nanti adalah puncak macetnya jam istirahat kantor!"
Dengan menggunakan mobil sport kuning operasional mereka, Satria dan Nisa melesat menuju kantor agensi periklanan terbesar yang memegang hak kelola videotron di sepanjang jalur Sudirman.
Berbekal uang sembilan ratus juta rupiah yang langsung ditransfer tunai melalui sistem, pihak agensi periklanan yang awalnya bingung langsung tunduk patuh.
Kontrak sewa darurat slot tayang selama dua jam penuh ditandatangani tanpa hambatan.
Pihak agensi bahkan tidak peduli ketika Nisa menyodorkan draf teks mentah bab satu novel Satria yang penuh dengan salah ketik (typo) dan tanda baca yang berantakan.
Tepat pukul satu siang, keajaiban absurd itu terjadi.
Di sepanjang jalan Sudirman yang sedang mengalami kemacetan parah akibat proyek galian jalan, perhatian ribuan pengendara mobil, motor, dan penumpang bus TransJakarta mendadak teralih.
Papan reklame digital raksasa setinggi gedung tiga lantai yang biasanya menampilkan iklan ponsel pintar terbaru atau model jam tangan mewah, tiba-tiba berubah latar menjadi putih polos dengan tulisan teks hitam pekat berukuran kecil.
Di bagian paling atas, tertulis judul dengan huruf tebal:
SISTEM PEMBALASAN DENDAM: BANGKIT DARI KEGELAPAN – BAB 1: PENGKHIANATAN DI ATAS AVANZA SEKEN
Di bawah judul tersebut, mengalir ribuan kata narasi novel:
“Malam itu hujan turun dengan sangat lebat seolah ikut merasakan kepedihan hati murni Satria... (halaman 1 dari 15). Ketika dia melihat Gita, wanita yang dipujanya selama tiga semester, keluar dari pintu mobil Avanza seken milik Rendra sambil tertawa cekikikan... Satria tahu, cinta tulusnya telah dihancurkan oleh angsuran mobil yang belum lunas...”
Seorang sopir taksi yang sedang terjebak macet di lajur tengah menurunkan kaca jendelanya, mengeluarkan kacamata bacanya, lalu menyipitkan mata menatap videotron raksasa di atas gedung.
"Ini iklan apa toh? Kok tulisannya kecil-kecil banget?"
'Satria bersumpah akan membalas dendam dengan sistem...'
"Lah, kelanjutannya mana? Kok kepotong lampu merah?!" gerutu sang sopir penasaran.
Di dalam bus TransJakarta, puluhan penumpang yang bosan bermain ponsel beralih menatap kaca jendela.
Mereka terpaksa membaca kelanjutan draf bab satu novel Satria yang berpindah halaman setiap tiga puluh detik sekali di videotron berikutnya.
"Eh, Jeng, lihat deh videotron yang di depan Plaza Indonesia! Si Satria di ceritanya ternyata dapat warisan dari kakek angkatnya yang ternyata ketua mafia!"
seru seorang ibu-ibu kepada temannya sambil menunjuk ke arah luar jendela.
"Iya jeng! Seru juga ya, tapi kok bacanya bikin pusing, tulisannya kecil banget kayak syarat dan ketentuan pinjaman online!"
sahut temannya gemas.
Jalur Sudirman mendadak berubah menjadi perpustakaan terbuka raksasa yang sangat bising.
Beberapa pengendara motor bahkan sengaja memelankan laju kendaraannya hanya demi menyelesaikan satu paragraf konfrontasi antara tokoh Satria dan tokoh antagonis di layar digital, memicu klakson bersahut-sahutan dari kendaraan di belakang mereka.
Satria dan Nisa memandangi fenomena itu dari dalam mobil sport kuning mereka yang terparkir di pinggir jalan tol dalam kota.
"Bos,"
Nisa menunjuk ke arah papan videotron di dekat jembatan penyeberangan orang.
"Lihat deh, bab satu Anda berhasil membuat produktivitas kerja para eksekutif Jakarta menurun drastis siang ini."
"Mereka lebih memilih membaca drama Avanza seken daripada memikirkan laporan keuangan triliunan."
Satria tertawa geli, menatap ponselnya.
Waktu sistemnya tinggal dua menit, dan indikator kepuasan misi sudah menyentuh angka 100%. Metode promosi ini benar-benar tidak menghasilkan uang sama sekali bagi Satria, karena tidak ada tautan (link) pembelian atau nomor rekening yang dicantumkan di papan reklame tersebut.
Itu murni pembuangan uang sembilan ratus juta untuk meneror mata masyarakat Jakarta dengan karya sastra amatir.
Ting!
Suara dentingan emas yang sangat renyah bergema di dalam kepala Satria, disusul oleh teks hijau terang di layarnya.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Promosi yang Menyiksa Massa: BERHASIL MUTLAK.
Evaluasi: Membakar sembilan ratus juta rupiah hanya untuk memajang teks bab satu novel tanpa gambar di pusat bisnis ibu kota berhasil menciptakan polusi literasi massal dan mengganggu konsentrasi berkendara tanpa menghasilkan profit satu rupiah pun (Sangat Brilian).
Dana Promosi Resmi Diputihkan Menjadi Kerugian Murni.
Saldo Efektif Anda Saat Ini: Rp 2.514.550.270,00.
Catatan: Bab satu Anda telah dibaca oleh jutaan orang secara paksa. Bersiaplah, karena popularitas absurd ini akan memancing perhatian dari pihak platform fiktif tempat Anda bernaung.
Satria mengembuskan napas panjang, bersandar di jok mobil sport-nya dengan perasaan puas yang tak terkira.
"Nisa, jalankan mobilnya."
"Tugas kita meneror Sudirman sudah selesai,"
ucap Satria sambil tersenyum misterius.
"Mari kita kembali ke kosan, gua mau siap-siap nulis Bab 2, siapa tahu sistem besok suruh gua sewa helikopter buat nyebarin kertas naskahnya dari langit."
Nisa hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menginjak pedal gas, membawa mobil sport kuning mereka membelah jalanan Jakarta yang siang itu mendadak menjadi lebih gemar membaca draf novel daripada biasanya.