Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simbiosis mutualisme
"Loe." Ucap keduanya spontan saat menyadari jika wajah mereka sama.
Waktu terasa berhenti berputar saat itu juga, Sheerin dan Nindi tidak percaya kalau didunia ini ada orang mirip dengan mereka. Masih berkutat dengan pemikiran masing-masing, Sheerin merasa dirinya sedang bercermin, melihat dirinya sendiri berada di hadapan matanya.
Nindi menatap Sheerin tanpa berkedip, bagaimana mungkin dirinya ada dua di muka bumi ini, tapi dalam versi yang berbeda. Nindi yang ada di hadapannya saat ini terlihat sangat glowing dan bercahaya, tidak seperti dirinya yang kusam dan tidak terawat.
"Gue nggak lagi mimpi, kan?" Gumam-gumam pelan terdengar dari mulut Sheerin, sedangkan Nindi masih diam tak berkutik masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi dengan otaknya yang hanya kurang dari seperempat itu.
Sheerin sambil memegangi tangannya yang terasa sakit akibat bersentuhan dengan aspal, perlahan berjalan mendekat kearah Nindi, ketidak percayaan dengan apa yang ada dihadapan matanya masih memenuhi hatinya.
"Loe mirip banget sama gue." Ucap Sheerin, menatap lekat wajah Nindi tanpa berkedip.
Nindi menelan saliva nya dengan susah payah, apa yang di katakan perempuan di hadapannya itu sangat benar, tapi kenapa ini bisa sampai terjadi? Apa sekarang Nindi harus percaya dengan apa kata pepatah, jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan kita? Entahlah, karena kali ini Nindi sudah membuktikannya sendiri.
"Harusnya gue yang tanya. Kenapa wajah loe mirip banget sama gue? Loe plagiatin gue yaa?" Ucap Nindi masih dengan ketidak percayaannya.
"Wajah gue memang seperti ini dari lahir." Jawab Sheerin.
Mereka kembali terdiam, bingung harus bersikap seperti apa kepada lawan bicara yang ada di hadapannya.
Tunggu-tunggu!
Apa ini? Apa mungkin perempuan yang ada di hadapannya ini dikirim Tuhan untuk mengeluarkan Sheerin dari masalah yang sedang dia hadapi? Apa jahat kalau Sheerin sedikit memanfaatkan keadaan untuk bisa terbebas dari jeratan ibu tirinya dan bisa hidup dengan bebas tanpa cemas ibunya itu akan mencari tau keberadaannya.
Sheerin berlagak memasang wajah galak, meskipun terlihat sekali ekspresi itu tidak cocok dengan wajahnya yang kalem.
Dahi Nindi mengerut saat melihat perubahan wajah Sheerin.
"Loe harus bertanggung jawab karena udah menyerempet gue." Ucap Sheerin dengan nada dibuat seketus mungkin. Untuk membuat lawan bicaranya takut dan mau menuruti keinginannya, Sheerin harus terlihat tegas, bukan?
"Tapi luka loe nggak terlalu parah kan, lagian gue juga nggak punya uang buat ganti rugi, gue orang miskin." Ucap Nindi jujur, jujur saja, mungkin orang di hadapannya ini akan merasa kasihan. Begitu pikir Nindi.
"Loe nggak perlu ganti rugi pake uang." Jawab Sheerin.
"Terus pake apa?" Tanya Nindi bingung.
***
Sheerin mengajak Nindi menuju sebuah tempat yang lebih sepi, tidak jauh dari area kampusnya, untuk membicarakan hal penting dan rahasia memerlukan tempat yang tidak terlalu ramai.
Kini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan disebuah bangku, Sheerin menatap Nindi, benar-benar mirip, Sheerin masih saja tidak percaya, memuji maha besar Tuhan, dengan kebesaran-Nya dia bisa menciptakan makhluk yang sangat mirip dengan dirinya.
Nindi yang ditatap seperti itu menjadi risih sendiri, dia tau kalau wajah mereka mirip, tapi tidak perlu menatapnya tanpa berkedip juga kali.
"Jadi, loe mau apa dari gue? Gue udah bilang gue nggak punya uang." Ucap Nindi membuka suara, karena sedari tadi Sheerin hanya diam menatapnya.
Sheerin tersadar ketika Nindi bicara, bahkan suara Nindipun terdengan sama dengan suaranya. Sheerin membetulkan posisi duduknya, mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya tapi tidak dengan kesan memaksa. Dia harus membuat Nindi mau menurutinya karena kesalahan yang sudah Nindi lakukan, yaitu menyerempetnya.
"Oke, perkenalkan dulu, nama gue Sheerin." Sheerin mengulurkan tangannya didepan Nindi. Nindi dengan cepat meraih uluran tangan Sheerin dan menjabatnya.
"Gue Nindi." Ucap Nindi.
"Oke Nindi, gue nggak akan menuntut loe yang macam-macam kalau loe mau menuruti apa yang gue katakan." Ucap Sheerin serius, Nindi jadi ikut serius melihat mimik wajah Sheerin.
"Gue akan nurutin apa kata loe, selama itu masih masuk akal." Jawab Nindi. Meskipun Nindi sudah memperingatkannya, Sheerin masih percaya diri dengan pemikirannya yang tidak masuk akal.
"Begini, gue mau loe menggantikan gue untuk menikahi laki-laki yang akan dijodohkan oleh ibu tiri gue." Sheerin mulai masuk ke inti permasalahan.
Nindi tersedak udara mendengar permintaan orang yang baru di temuinya itu, bagaimana mungkin orang asing seperti Sheerin berani meminta hal yang tak lazim kepada dirinya.
"What? Loe udah gila, ya?" Ucap Nindi kaget, tapi Sheerin masih bisa bersikap santai, menyenderkan punggungnya ke sandaran kursi kayu dengan penuh kepercayaan diri, kalau Nindi akhirnya akan mewujudkan keinginannya.
"Iya, dengan itu loe pisa terbebas dari jeratan hukum, kalau loe nolak, gue akan membawa masalah ini karena hukum." Ucap Sheerin penuh ancaman.
"Tapi gue masih sekolah, loe nggak liat apa seragam gue ini? Gue nggak mungkin nikah dalam waktu dekat ini." Mencoba protes, Nindi menganggap kalau lawan bicaranya ini gila.
"Begini deh, loe nggak perlu sampai nikah sama laki-laki itu, gue kasih loe diskon, loe cuma perlu menggagalkan rencana perjodohan ini, setelah fix perjodohannya batal, kita bisa kembali bertukar peran, gimana?" Memikirkan cara lain, Sheerin sebenarnya juga tidak ingin menjadikan orang lain sebagai tumbal keegoisannya.
Nindi menggigit bibir bawahnya, penawaran macam apa ini?
"Gue nggak mau, rencana loe itu konyol tau." Ucap Nindi.
"Coba gue liat SIM sama STNK motor loe itu." Sheerin menunjuk motor Levin yang terparkir tidak jauh dengan ekor matanya.
'Mampus gue! Itukan motor si Levin, mana ada gue STNKnya, SIM apalagi.' Batin Nindi.
Sheerin meraih kunci motor yang tergeletak diatas meja, Nindi menatap Sheerin tidak terima, mencoba protes tapi tanpa suara.
"Kalau loe nggak mau nurutin apa kata gue, motor loe bakalan gue tahan, gue juga bakal laporin loe ke polisi karena bawa motor ugal-ugalan sampai nyerempet gue, nggak pake helm, juga ngelawan arus. Loe bisa terkena pasal berlapis, dan gue nggak yakin loe akan bebas dari penjara dalam waktu yang singkat. Dan biaya denda yang harus loe bayar itu nggak sedikit." Sheerin menakut-nakuti agar Nindi mau setuju.
"Jangan dong, itu motor orang." Nindi meminta kembali kuncinya kepada Sheerin, tapi Sheerin terlanjur memasukannya kedalam tas.
"Oh jadi ternyata loe juga tukang curi motor orang ya, gue yakin hukuman loe bakalan berat didalam penjara nanti." Ucap Sheerin dengan seringai di bibirnya.
Wajah Nindi seketika berubah menjadi pias, bagaimana kalau Sheerin benar-benar akan menuntut dirinya, lalu bagaimana reaksi ibu dan kak Yuvi nanti kalau Nindi sampai masuk kedalam sel tahanan? Mereka pasti akan sangat kecewa, Nindi tidak ingin menjadi beban lagi, sudah cukup kenakalannya selama ini membuat hidup mereka sulit.
Sheerin tersenyum penuh kemenangan melihat wajah pucat Nindi, pasti perempuan itu sudah termakan oleh kata-kata Sheerin.
Nindi menghembuskan nafasnya berat, lalu kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Mencoba berpikir jernih sebelum bertindak, ini seperti bukan Nindi, bisanya dia adalah orang yang paling malas untuk diajak berpikir.
"Loe pikir loe siapa? Baru ketemu juga udah main maksa terus ancam-ancam orang sembarangan. Gue nggak takut ya sama gertakan loe itu." Ucap Nindi kemudian.
Sheerin mengerutkan keningnya, kenapa Nindi sama sekali tidak terpengaruh? Harusnya dia takut, bukan? Tapi kenapa sekarang situasinya berbalik, Sheerin yang malah jadi takut kalau Nindi tidak mau menuruti keinginannya.
Perasaannya mulai cemas, kepercayaan dirinya mulai berlarian meninggalkan dirinya.
"Gue nggak mau menuruti permintaan konyol loe itu. Kalau loe mau, bawa aja motor itu, lagian motor itu bukan punya gue kok." Ucap Nindi.
"Loe yakin nggak mau? Hidup loe akan berubah setelah kita berhasil dengan rencana gue ini, gue akan kasih loe uang berapapun yang loe mau. Bokap gue orang kaya, loe bebas mau ngapain aja sama uang jatah jajan gue. Gue jamin hidup loe disana nggak akan serba kekurangan. Bahkan bisa dikatakan mewah." Sheerin mengiming-imingi Nindi dengan harta kekayaannya.
Nindi sedikit tergiur dengan penawaran Sheerin, jika Nindi punya banyak uang, itu akan dia gunakan untuk biaya pengobatan ibunya. Dan itu bisa mengurangi sedikit beban kak Yuvi tentunya.
"Memang berapa jatah uang jajan loe?" Tanya Nindi mulai penasaran.
"4 juta perbulan. Jadi gimana, sekarang loe setuju, kan?" Jawab dan tanya Sheerin.
Apa? 4 juta? Itu sama saja dengan gaji kakaknya selama satu bulan bekerja di pabriknya, dan Nindi akan mendapatkan uang sebanyak itu dengan hanya menggagalkan pernikahan Sheerin dengan laki-laki yang akan dijodohkan dengannya.
Nindi pikir pekerjaan itu cukup mudah, Nindi tinggal cari gara-gara saja nanti, bukankah mencari gara-gara adalah bakat yang sudah melekat dalam dirinya sedari lahir?
"Tapi sebentar lagi gue akan menghadapi ujian nasional, gue juga nggak tega ninggalin ibu gue yang lagi sakit." Ehh si Nindi malah jadi curhat.
"Ibu loe sakit apa?" Tanya Sheerin, pertanyaan itu membuat perubahan pada mimik wajah Nindi, menjadi sedih karena teringat ibunya, apa lagi semalam penyakitnya kambuh lagi.
"Asma, ibu gue harus berobat jalan selama enam bulan." Jawab Nindi lesu.
"Terus apa loe punya uang buat biaya pengobatan ibu loe itu?" Tanya Sheerin lagi. Kemudian di ikuti gelengan kepala dari Nindi.
Ini kesempatan lagi untuk Sheerin.
"Oke, kalau gitu mari kita buat kesepakatan, gue janji bakal menanggung semua biaya pengobatan ibu loe, dan gue juga jamin kalau tahun ini loe akan jadi lulusan terbaik dikelas loe. Dan loe cuma tinggal pura-pura jadi gue dan membuat perjodohan gue ini batal, itu pasti mudah kan buat loe? Anggap aja ini simbiosis mutualisme, kita saling diuntungkan dengan rencana gue ini. Gimana?" Tanya Sheerin bersemangat menjelaskan, Nindi hanya manggut-manggut saja mendengarkan perkataan Sheerin.
Cukup lama Nindi berpikir, tidak ada salahnya juga, kan ini hanya untuk sementara. Begitu Nindi meyakinkan dirinya sendiri. Sheerin masih menunggu dengan cemas jawaban apa yang di berikan Nindi, walau dia yakin dari wajahnya, Nindi mulai tergiur dengan tawaran dari diriya.
"Kapan hari pernikahannya?" Tanya Nindi ragu.
"Pernikahannya besok, loe harus bisa membatalkannya malam ini juga. Kalau loe berhasil, gue akan kasih uang jajan gue selama setahun buat loe." Jawab Sheerin.
"Apa? Besok? Mendadak banget sih, gue nggak punya banyak waktu dong kalau gitu." Ucap Nindi terkejut, keterkejutannya terbagi menjadi dua, mengetahui hari pernikahannya adalah besok, dan jumlah uang yang akan dia terima jika dia berhasil. 4 dikali 12 berarti, Nindi yang bodoh soal pelajaran matematika tentunya akan mendadak menjadi pintar saat disuruh mengitung uang.
"Iya, tapi gue yakin kok, loe pasti bisa ngelakuin itu." Ucap Sheerin. Kesan pertama saat melihat Nindi dari penampilannya, tomboi, urakan. Sheerin menganggap kalau Nindi ini seperti laki-laki, pasti dia bisa melawan ibu tirinya yang kejam itu, apalagi si Nindi ini pandai juga berbicaranya. Tuhan benar-benar mengirimkan orang yang tepat. Begitu pikir Sheerin.
"Tapi kenapa loe nggak tolak aja secara langsung perjodohan ini? Kenapa harus gue segala, gue nggak tau apa-apa disini." Tanya Nindi.
"Gue nggak sanggup, gue mohon sama loe, ini demi masa depan gue, gue nggak mau hidup gue hancur karena menikah muda, gue masih mau mengejar impian gue." Wajah Sheerin dia buat semelas mungkin, membuat Nindi jadi tidak tega ketika melihatnya, apalagi alasannya tidak ingin menikah sangatlah tepat.
Berbeda dengan Nindi yang pemalas, berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan uang tanpa harus lelah bekerja, dia bahkan sempat berpikir ingin menikah diusia muda agar suaminya yang menanggung semua biaya kebutuhan hidupnya, Nindi hanya tinggal diam saja dirumah, sekali-kali nongkrong bersama geng amburadulnya. Hihi.
"Oke, gue setuju." Nindi mengulurkan tangannya mengajak Sheerin salaman.
Sheerin tersenyum lebar, dengan senang hati dia menjabat uluran tangan Nindi.
"Deal." Ucap Sheerin.
'Akhirnya gue nggak perlu kabur, terimakasih Tuhan, Engkau memang maha baik, memberi solusi diwaktu yang tepat, ya walaupun tangan sama gue sedikit lecet. Tapi nggak apa-apa, gue akan segera terbebas dari masalah ini.'
'Ibu, sebentar lagi ibu akan sembuh, Nindi akan kasih semua uang itu buat ibu. Nindi sayang ibuu.'
____________
Tinggalkan jejaknya ya guys...