NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:545
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Michelle menundukkan kepala sepanjang perjalanan menyusuri koridor bersama dengan seorang guru perempuan, beberapa siswa-siswi tampak menatapnya dari dalam kelas, penasaran karena belum pernah melihat Michelle sebelumnya.

Sampai akhirnya guru perempuan itu berhenti di depan sebuah pintu kelas, lalu berbalik menatap Michelle.

"Ini kelas kamu, X-IPA3," ujar guru itu. "Hari ini waktunya jam pelajaran saya, nanti kamu langsung perkenalan sama teman-teman baru kamu, ya?"

Michelle mengangguk, membuat guru muda itu tersenyum. Guru yang Michelle ketahui bernama Bu Rina dan merupakan wali kelasnya itu membuka pintu, menginterupsi para manusia di dalam ruangan untuk menoleh.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Bu Rina ramah.

"Pagi, Buuuu" jawab siswa-siswi itu serentak, namun nada akhir langsung turun begitu Michelle masuk ruangan.

"Hari ini Bu Rina bawa teman baru untuk kalian, silahkan perkenalkan diri."

Michelle tersenyum canggung, membuat beberapa siswa langsung bersiul dan melontarkan kalimat-kalimat godaan.

"Manis banget, tadi pagi sarapan gula berapa karung, dek?" tanya cowok bernama Jaka dari bangku sudut ruangan, yang langsung mengundang tawa teman-temannya.

"Mamanya ngidam apa dulu sampe punya anak semanis ini, diabetes gue pagi-pagi!" sahut cowok lain bernama Beno.

Salah satu siswi mencibir. "Kalau gitu gue suruh dia senyum tiap hari biar diabetes lo makin parah terus cepet mampus!" ujar cewek itu, mengundang tawa seisi kelas.

Beno yang tidak terima langsung melotot. "Heh, Meyra! Lo jangan sirik ya sekarang ada yang lebih manis, udah nggak bakal lagi gue gangguin lo!" ujar Beno yang membuat Meyra membulatkan mata.

"Yang bener?! Alhamdulillah, Ya Allah! Akhirnya monyet itu menjauh juga!" ujar Meyra dilebih-lebihkan, membuat kelas semakin riuh.

"Sekate-kate lo ye! Awas aja kangen!"

"Dih, amit-amit!"

Bu Rina hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak muridnya, sementara Michelle menyimak dengan perasaan bingung. Ia harus terjebak di kelas seperti ini?

"Woi diem! Itu anak baru nggak jadi kenalan kalau lo pada rame terus!" ujar Galuh si ketua kelas, membuat suara-suara riuh di kelas perlahan melirih lalu menghilang.

"Terima kasih, Galuh," ucap Bu Rina. "Silahkan memperkenalkan diri."

Michelle mengangguk. "Pagi, teman-teman. Nama gue Michelle Eveline , kalian bisa panggil gue Michelle."

"Epeline? Evel? Gimana sih ngucapinnya?" tanya Jaka sambil mengerutkan kening.

"Makanya kalau pelajaran bahasa Inggris jangan ngebo!" sahut Beno.

"Yeee, emang gimana pengucapannya?" tanya Jaka menantang.

"Eveliane," jawab Beno dengan percaya diri, mengundang tawa teman-temannya.

"Sama-sama bego ngatain pula!"

"Sudah-sudah, Michelle kamu bisa duduk sama Meyra di sana."

"Loh kenapa sama si mak lampir? Kenapa nggak sama saya aja, Bu?" tanya Beno, langsung menerima lemparan tipe x dari cewek bernama Meyra.

"Ngajak berantem lo?!"

Beno meringis sambil mengangkat kedua tangannya. "Nggak berani gue, nanti lo sihir jadi pangeran kodok kan berabe. Siapa yang bakal cium? Lo?"

"Dih, amit-amit!" ujar Meyra nge gas.

Candaan dan kejadian-kejadian lucu di kelas ini seolah tidak ada habisnya hingga membuat tawa sekelas tidak terputus. Michelle menarik ujung bibirnya, lama-kelamaan ia mulai tertarik dengan kelas ini.

"Kamu kan udah duduk sama Jaka, Beno," ujar Bu Rina sabar.

"Tau nih! Nggak bersukur banget sebangku sama pangeran kelas!"

"Huuuuuu!" sorak seisi kelas.

"Sudah-sudah, pelajarannya akan segera kita mulai. Michelle, silahkan duduk."

Akhirnya Michelle mendapat kesempatan untuk duduk setelah dibuat berdiri lama di depan karena kelakuan teman-teman barunya yang ada-ada saja.

"Meyra."

Baru saja duduk, Michelle disambut uluran tangan cewek yang memperkenalkan dirinya sebagai Meyra itu dengan senyuman bersahabat.

Michelle menerima jabatan tangan itu. "Michelle," ujarnya, lalu duduk di sebelah Meyra.

...☆☆☆...

"Michelle."

"Hm?"

Meyra agak memiringkan posisi duduknya lebih dekat pada Michelle seperti akan membisikkan sesuatu.

"Jangan deket-deket sama mereka," ujar Meyra sambil melirik bangku Jaka dan Beno. "Playboy kelas ikan teri," lanjut cewek itu yang membuat Michelle menahan tawa.

"Ikan teri murah dong?" tanya Michelle tertawa lirih.

Meyra mengangguk. "Murah receh banget, jangan terbuai gombalan mereka. Gue udah setengah semester jadi korban mereka, hampir aja depresi."

"Segitunya?" tanya Michelle dengan raut berubah serius.

Meyra meringis. "Perumpamaan sih biar lo percaya, hehehe."

Michelle menghela napas. "Kirain."

"Mau school tour sama gue nggak nanti?" tanya Meyra lagi.

Michelle berpikir sejenak, lalu mengangguk.

"Boleh."

"Oke, nanti jam istirahat pertama kita keliling. Gue kenalin sama tempat-tempat di sekolah ini."

Michelle mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar, ia sangat suka dengan penawaran Meyra yang akan mengajaknya berkeliling sekolah. Selain bisa mengetahui tempat-tempat di sekolah yang luas ini, Michelle juga bisa mencari tahu di mana kelas Alvin.

...☆☆☆...

"Yang itu taman kecil, di sana ditanam tanaman obat keluarga sama anak adiwiyata," jelas Meyra saat mereka melewati jalan setapak menuju sebuah tempat yang sangat ramai.

"Dan ini adalah tempat yang selalu diserbu setiap jam istirahat, kantin." Meyra tersenyum lebar dengan mata berbinar, sejak tadi cewek itu memang sudah mengeluh lapar.

"Ayo pesen makan dulu." Meyra menarik tangan Michelle memasuki area kantin yang ramai dan harus berdesak-desakan untuk memesan.

Michelle memerhatikan sekitar. "Kenapa nggak cari meja dulu?" tanyanya.

"Kalau cari meja dulu nanti nggak dapat siomai top markotopnya Bu Tri," jawab Meyra sambil berjinjit-jinjit.

"BU TRI! MEYRA SIOMAI SATU KAYAK BIASA!" teriak Meyra membuat orang-orang di dekatnya langsung menutup telinga sambil menatap cewek itu kesal, tidak terkecuali Michelle.

Mereka sempat menjadi pusat perhatian, membuat Michelle harus menutup wajah. Hari pertama sudah jadi perhatian gara-gara kegaduhan di kantin.

"Harus banget teriak, ya?" tanya Michelle.

Meyra hanya cengengesan. "Udah biasa gue, lagian Bu Tri tetangga gue, jadi udah biasa," jawab cewek itu. "Mending lo cari kursi aja biar gue yang pesenin, sono-sono," usir Meyra sedikit mendorong Michelle agar keluar dari kerumunan.

Michelle menghela napas, lalu keluar dari kerumunan seperti yang Meyra bilang. Saat sedang celingukan mencari tempat duduk, mata biru Michelle menangkap sosok cowok di sisi kantin yang sedang duduk bersama teman-temannya.

Kedua ujung bibir Michelle tertarik membentuk seulas senyum, kaki jenjangnya melangkah mendekati meja itu dengan penuh harap bisa bergabung sekedar untuk makan siomai top markotop tadi.

"Pagi, Kak Alvin," sapa Michelle setelah sampai di meja itu.

Cowok yang merasa terpanggil lantas menoleh, keningnya berkerut melihat siapa yang kini berdiri di dekatnya dengan senyuman lebar. Teman-teman Alvin tampak bingung dengan kehadiran adik kelas yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu.

Devan menyenggol lengan Alvin. "Siapa, bro?" tanya cowok itu, melirik Michelle yang masih mempertahankan senyumnya.

"Hai, dek, lo penggemarnya Alvin?" tanya Raskal, membuat Sean yang duduk di samping cowok itu langsung tertawa.

"Masih ada aja yang ngejar ini es batu berjalan, padahal udah punya pawang!" komentar Sean sambil geleng-geleng.

"Iri bilang boss!" sahut Devan.

Michelle tersenyum canggung. "Michel boleh duduk di sini nggak?" tanyanya.

"Nama lo Michel?" tanya Devan terkejut, dijawab anggukkan oleh Michelle. "Woah! Michel kalau masuk minimarket suka bingung, dikira produk skincare."

"Kok Ale-Ale sih, anjir!" Sean tak bisa menahan tawanya.

"Iya, Michellar water," jawab Devan, lalu tertawa puas sampai tos dengan Sean.

"Anjir! Humor gue!"

Tawa ketiganya pecah seolah itu adalah lelucon paling lucu untuk hari ini, bahkan Devan terpingkal-pingkal sampai memukuli pahanya sendiri. Michelle tersenyum malu, sementara Alvin hanya datar-datar saja tampak tidak berminat.

"Emang nggak ada kursi lain?" tanya Alvin dingin, membuat tawa teman-temannya terhenti.

Tatapan Michelle meredup, sedikit kecewa dengan cara Alvin berbicara padanya. "Aku belum kenal sama anak-anak sini, canggung kalau harus gabung," jawabnya.

"Emang lo nggak canggung sama temen-temen gue? Mereka kan juga nggak kenal sama lo," balas Alvin, membuat Michelle menunduk.

Devan menyenggol lengan Alvin karena merasa cowok itu sudah keterlaluan, Michelle tampak sedih mendengar perkataan Alvin tadi. Sean yang mengerti situasi mulai tidak bersahabat lantas berdehem.

"Sini, duduk di samping Kak Sean aja Lea. Jangan di samping Alvin, dia lagi sensi," ujar Sean, cowok itu mengisyaratkan agar Raskal bergeser memberi tempat duduk untuk Michelle.

Michelle melirik bangku di samping Sean, lalu menggeleng. Kedua sudut bibir Michelle kembali tertarik dengan berat.

"Makasih, Kak, aku cari tempat lain aja," ujarnya, lalu menatap Alvin. "Kak Alvin makan yang banyak ya, jangan sampai sakit, aku pergi dulu."

Michelle meninggalkan bangku Alvin dan teman-temannya, meninggalkan pertanyaan-pertanyaan di benak teman-teman cowok itu.

Devan mengerutkan keningnya curiga. "Lo kenal deket sama dia? Sampe diingetin makan segala."

Alvin melirik Devan sekilas, tidak berminat untuk menjawab cowok itu, malah memilih untuk melanjutkan acara makannya.

Sampai dua cewek datang bergabung dengan mereka, Alvin menoleh saat merasa ada yang duduk di sampingnya, ekspresi cowok itu langsung berubah begitu melihat Nara sedang tersenyum padanya.

"Maaf ya telat ke kantin, tadi aku nemenin Dewi dulu," ujar Nara, Alvin hanya mengangguk, lalu menggeser cilok yang sudah ia pesankan untuk Nara tadi.

"Terima kasih."

"Habis dari mana?" tanya Raskal pada Dewi yang duduk di sampingnya.

"Biasa, urusan basket," jawab cewek itu, menusuk siomai di piring Raskal dengan garpu, lalu memakannya.

"Mau dipesenin?" tanya Raskal.

"Nggak usah, udah bawa bekal."

Melihat dua pasang remaja yang kini mulai menunjukkan kedekatannya, membuat Sean dan Devan menghela napas. Dua cowok itu lantas beranjak.

"Mau ke mana kalian?" tanya Raskal.

"Ke mana aja asal nggak di bangkunya orang pacaran!" jawab Devan judes, lalu pergi bersama Sean.

Sementara di sisi lain kantin, Michelle menghela napas. Cewek itu tidak mendapatkan tempat duduk karena penuh, dan tadi Alvin secara tidak langsung melarangnya duduk di sana dan mengusirnya.

Tapi lihat, dengan mudah dua cewek itu bisa bergabung di sana. Bahkan dua teman Alvin rela berpindah agar mereka bisa duduk berempat saja.

Mata Michelle memicing memerhatikan cewek yang kini duduk di samping Alvin, itu adalah Nara, Michelle tahu tentang cewek itu saat Tante Lita mengajaknya masuk ke dalam kamar Alvin.

"Michelle?"

Michelle tersentak saat seseorang menepuk pundaknya, Meyra berdiri dengan dua plastik siomai di kedua tangannya.

"Gue bungkus aja ya, kantin rame banget," ujar cewek itu, menyerahkan satu bungkus siomai pada Michelle.

"Makan di taman depan aja yuk, deketan sama kelas," ajak Michelle.

Meyra mengangguk. "Lagian udah mau bel," ujar cewek itu menggandeng tangan Michelle.

Michelle hanya mengikutinya, ia sempat menoleh ke arah meja Alvin tadi, tapi setelah itu merutuki diri. Karena yang ia lihat, Nara sedang menyuapkan ciloknya pada Alvin.

1
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!