Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Gu Qingli berdiri terpaku di ujung halaman. Matanya menatap lekat punggung Shen Yunche yang kian menjauh. Pemuda itu terus melangkah tanpa berbalik, tanpa berhenti, dan tanpa menyapanya—sungguh berbeda dari kebiasaan yang biasanya.
Gu Qingli perlahan menundukkan pandangannya. Jemarinya meremas kain gaunnya erat-erat. Entah mengapa, ada perasaan hampa dan sedikit rasa kecewa yang menyelusup pelan ke dadanya.
"Qingli," panggil Xiao Hanzhou dari tengah lapangan.
Gu Qingli mendongak pelan. "Kakak Xiao."
"Bisa kita mulai?"
Gadis itu sempat melirik sekali lagi ke arah jalan yang dilalui Yunche, sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baik."
Mereka berdua berjalan menuju area latihan utama. Namun, entah kenapa, langkah kaki Gu Qingli terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Sesi latihan pun dimulai. Xiao Hanzhou berdiri anggun di hadapan Gu Qingli. "Gunakan pedangmu."
SRING!
Gu Qingli menarik pedangnya. Kilatan cahaya dingin berkilat menusuk mata. Xiao Hanzhou mengulas senyum tipis. "Bagus, mari mulai seperti biasa."
Gu Qingli langsung melesat maju. Pedangnya menebas lurus—cepat, presisi, dan indah. Namun, Xiao Hanzhou memiringkan tubuhnya dengan sangat mudah untuk menghindar.
"Gerakanmu rapi," puji Xiao Hanzhou, "tetapi terlalu mudah ditebak."
Kening Gu Qingli berkerut. Dia memutar pijakan kakinya dan kembali melayangkan serangan berikutnya dengan tempo yang jauh lebih cepat.
TAK!
Xiao Hanzhou menangkis mata pedangnya tepat di tengah. Gu Qingli terdorong mundur beberapa langkah.
"Fokus, Qingli," tegur Xiao Hanzhou lembut.
"Aku fokus," sahutnya defensif.
"Benarkah?" Xiao Hanzhou menatapnya lekat. "Pikiranmu tidak ada di sini."
Gu Qingli enggan menjawab dan kembali memegang erat gagang pedangnya. "Serang lagi."
Namun, sekeras apa pun dia mencoba memfokuskan pikiran, bayangan lain terus mengganggunya. Dia teringat pada seorang pemuda yang biasa datang terlambat, pemuda yang selalu bertingkah konyol dan memicu kegaduhan, tetapi terus menantangnya tanpa kenal lelah... dan pemuda yang hari ini memilih untuk tidak menunggunya.
TRANG!
Pedang Xiao Hanzhou mengunci gerakan pedang Gu Qingli, membuatnya tersentak kaget.
"Kau melamun lagi, Qingli," ujar Xiao Hanzhou pelan.
Gu Qingli bergegas melompat mundur dan menyarungkan pedangnya. "Aku tidak melamun."
"Kau kalah," balas Xiao Hanzhou singkat.
Gu Qingli bungkam. Xiao Hanzhou benar, dia kalah dalam duel latihan ini—sebuah kesalahan mendasar yang sangat jarang dia lakukan.
Xiao Hanzhou menurunkan senjatanya. "Jika kau sedang tidak ingin berlatih, kita bisa berhenti—"
"Aku ingin berlatih!" potong Gu Qingli cepat.
Xiao Hanzhou sedikit terkejut, namun akhirnya mengangguk mengerti. "Baiklah, kita lanjutkan."
Satu jam berlalu. Gu Qingli menyapu keringat dingin di dahinya sembari menghela napas panjang. Mereka memutuskan untuk beristirahat di bawah rindangnya pohon di tepi lapangan.
"Qingli," panggil Xiao Hanzhou membuka percakapan.
"Ya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
Gu Qingli mengangguk pelan. "Tanyakan saja."
"Apakah kau dekat dengan Shen Yunche?"
Pertanyaan itu membuat Gu Qingli mendongak seketika. "Tidak," sahutnya terlalu cepat.
Xiao Hanzhou tersenyum tipis, menangkap respons refleks itu. "Benarkah?"
"Iya. Kami hanya berlatih bersama karena dia yang terus meminta."
"Tapi kau selalu menyanggupi dan datang tepat waktu."
Gu Qingli terdiam.
Xiao Hanzhou melanjutkan dengan nada tenang, "Jika hanya karena dia yang meminta, kau selalu memiliki pilihan untuk menolaknya, bukan?"
Gu Qingli menatap Xiao Hanzhou dengan kening berkerut. "Kakak Xiao, apa maksudmu sebenarnya?"
Xiao Hanzhou menatapnya lurus. "Apakah kau menyukainya?"
Gu Qingli mendadak berdiri spontan. "Apa?!"
Xiao Hanzhou terkekeh kecil seraya mengangkat kedua tangannya. "Tenanglah, aku hanya bercanda."
"Jangan bercanda seperti itu," tegur Gu Qingli tajam dengan wajah memanas.
"Baik, maafkan aku," sahut Xiao Hanzhou santai. Namun, tak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi lebih serius. "Tapi Qingli... sebaiknya kau jangan terlalu dekat dengannya."
"Kenapa?"
"Sebab dia bukan orang yang sepadan untukmu," tutur Xiao Hanzhou datar. "Di dunia kultivasi, perasaan saja tidak akan pernah cukup. Jika suatu hari nanti kau benar-benar menaruh hati padanya... kau hanya akan berakhir terluka dan menyesal."
Kalimat itu menancap ganjil di benak Gu Qingli. Rasa tidak nyaman yang kuat mendadak menyelimuti dadanya.
"Dia bukan urusanmu, Kakak Xiao," potong Gu Qingli dingin seraya berbalik hendak pergi. "Bagaimana dia berkultivasi adalah pilihannya. Dan dengan siapa aku ingin berteman... itu adalah pilihanku sendiri."
Langkah Gu Qingli terhenti tatkala suara Xiao Hanzhou kembali terdengar dari belakangnya, kali ini dengan nada yang sedikit berbeda.
"Qingli... jika suatu hari nanti kau harus memilih antara dia atau aku... siapa yang akan kau pilih?"
Gu Qingli menoleh perlahan. Xiao Hanzhou menatapnya dengan senyum yang sulit diartikan.
Lama gadis itu terdiam, sebelum akhirnya menjawab pelan, "Aku tidak tahu."
Dia pun berlalu pergi, meninggalkan Xiao Hanzhou yang duduk sendirian di bawah pohon. Perlahan, senyum ramah di wajah pemuda itu pudar sepenuhnya.
Sementara itu, di dapur kediaman keluarga Shen...
"Tambah satu mangkuk lagi," bujuk Yunche dengan wajah memelas.
Juru masak dapur menatapnya galak. "Tidak bisa! Itu sudah melewati jatah harianmu!"
"Tapi aku masih lapar."
"Kau sudah menghabiskan tiga mangkuk penuh, Shen Yunche!"
"Perutku kan besar. Ini diskriminasi namanya!"
"Keluar dari dapor sekarang sebelum kuhantam pakai centong!"
Yunche memeluk mangkuk kosongnya seraya menggerutu. "Iya, iya, tidak usah galak-galak."
Saat melangkah keluar dari area dapur, dia berpapasan dengan Shen Ruowei yang sedang berdiri bersandar di balik pintu.
"Makan lagi?" sindir Ruowei melihat mangkuk di tangan sepupunya.
"Ini makan siang," sahut Yunche santai.
Ruowei mendongak menatap matahari. "Ini masih jam sembilan pagi, Yunche."
Yunche tertegun sejenak. "Oh... kalau begitu ini sarapan kedua."
Ruowei mendesah pasrah lalu ikut duduk di samping Yunche. "Kau tahu? Tadi Gu Qingli mencarimu."
Gerakan Yunche yang hendak mengunyah terhenti. "Mencariku?"
"Ya. Dia datang ke halaman latihan pagi tadi, tapi kau tidak ada."
"Oh." Yunche kembali melahap makanannya seolah tak terjadi apa-apa.
Ruowei mengamati raut wajahnya lekat-lekat. "Kau tidak kecewa?"
"Kecewa untuk apa?"
"Dia tidak latihan bersamamu hari ini. Dia berlatih dengan Kakak Xiao Hanzhou."
Yunche mengunyah santai. "Baguslah kalau begitu. Xiao Hanzhou itu kuat sekali. Jika berlatih dengannya, kemampuan Qingli pasti akan makin cepat meningkat."
Ruowei menatapnya gemas. "Dasar bodoh."
"Kenapa semua orang suka sekali memanggilku bodoh?" protes Yunche tak terima.
Ruowei menghela napas pelan. "Yunche, kau tidak biasanya seperti ini. Biasanya, kalau Gu Qingli terlambat atau tidak muncul, kau pasti akan panik dan mencarinya."
Yunche terkejut. "Memangnya iya?"
"Iya! Kau selalu menunggunya setiap pagi." Ruowei menatap sepupunya penuh selidik. "Kau... menyukainya, ya?"
apa gk syok tuh thor