NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9 Patah Hati Wati, Kelucuan Kepala Kampung

Kita lanjut lagi ya guys. Baca info dan jingle, video mini dan foto pemeran di sosmed facebook Sina.

Keadaan Wati Dirumahnya.

Wati setelah tiba di rumahnya, langsung masuk ke kamarnya setelah mengunci pintu rumahnya. Dia langsung merebahkan dirinya di tempat tidur sambil menangis. dirinya sangat sedih sekali saat ini. Hatinya seolah remuk, pikirannya kacau sekali. yang bisa Wati lakukan hanyalah menangis saja. Dia menumpahkan seluruh kekesalan hatinya dengan menangis... sampai akhirnya dia tertidur.***

Di rumah Harjo

Harjo kembali ke rumahnya, setelah mengalami pertarungan tiga melawan satu. Harjo kelihatan sehat, tanpa terluka sedikit pun. Badannya hanya terasa lengket sekali, Dia segera pergi mandi dan untuk membersihkan dirinya.

Selesai mandi Harjo pun duduk di atas kursi yang memiliki meja kecil sebagai pasangannya, tempatnya biasanya Harjo makan dan meminum kopi. Dia pun meminum kopi yang telah dibuatnya sebelumnya, sambil memikirkan kembali hal-hal yang telah terjadi hari ini.

"Apa yang terjadi ya dengan Slamet, Udin dan Arif? Mengapa mereka menyerang ku? Aku rasa Aku tidak pernah menyinggung mereka. Mengapa mereka menyerang ku?"

Harjo memikirkannya dalam relung hatinya. sambil sesekali ia menyeruput kopi, yang telah dibuatnya.

Harjo masih tidak habis pikir dengan tindakan yang dilakukan oleh Slamet, Arif dan Udin. pikirannya belum bisa mencerna apa sebenarnya yang telah terjadi hari ini.

Harjo berkali-kali menyibakkan rambutnya, ke belakang. Pikirannya masih dipenuhi kegusaran yang amat sangat. Dia ingin tahu jawabannya.

Lama berpikir akhirnya lamunan Harjo dihentikan oleh bunyi cacing dalam perutnya yang sudah meronta-ronta. Bunyinya sudah seperti arena peperangan. Harjo pun teringat dengan makanan yang sudah diberikan oleh Widuri.

"Oh ya, Aku ingat tadi Widuri memberikanku bungkusan berisi makanan lengkap dengan lauknya. Sebaiknya aku makan dahulu, perutku sudah lapar sekali." Katanya di dalam hati.

Harjo membuka bungkusan, Dia sudah sangat lapar. Ketika bungkus terbuka, Dia sangat bersyukur sekali, atas pemberian Widuri. Tak lupa dia mengucap syukur.

"Terima kasih Tuhan buat makanan yang telah diberikan oleh Widuri ini."

Setelah itu Harjo pun memakan nasi bungkus itu dengan lahapnya, sampai tak tersisa sedikit pun.

Merasa kekenyangan, Harjo pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat, badannya sudah terasa nyaman karena kenyang tetapi juga letih karena kejadian hari ini.***

Keadaan Slamet, Arif dan Udin.

Setelah Harjo pergi, dimana Dia telah meminta izin kepada Widuri dan Ayahnya serta para tetangga yang berdatangan karena teriakan Widuri.

Widuri juga sudah terlebih dahulu memberi tahu bahwa, Slamet, Arif dan Udin lah yang bersalah sehingga Harjo bisa segera berlalu dari tempat itu.

Slamet, Arif dan Udin sudah dalam keadaan pingsan. Widuri menceritakan kejadian yang menimpanya, walaupun Dia tidak terluka sama sekali kepada para tetangga, sebab kepala Kampung belum kelihatan datang ke tempat ini.

Selang waktu satu jam lebih, Pak kepala kampung dan centengnya atau linmas tiba di tempat itu. Namun saat tiba, beliau belum bisa melihat ke tiga orang yang sok jagoan dan pingsan itu.

"Maaf, para warga ini ada apa? Mengapa hal ini bisa terjadi, Saya mendengar terjadi perkelahian disini? Coba tolong beri Saya jalan, supaya Saya bisa melihatnya." Pak Kepala Kampung meminta warga sedikit menyingkir, supaya dirinya dapat mendekat dan melihat juga.

Warga pun bergeser untuk memberikan ruang untuk Pak kepala Kampung melintas. Sesampainya di dekat ke tiga pemuda yang pingsan, Pak kepala kampung terkejut.

"Aw, ada apa ini? Mengapa mereka pingsan begini?"

Siapa yang bisa memberi tahu saya, tolong maju kedepan!"

Widuri yang berada di sekitar tempat itu pun datang, karena tadinya Dia berada di dalam rumahnya. Dia sudah mandi dan makan malam bersama Ayahnya. Berhubung kepala Kampung lama sekali datangnya, Widuri memutuskan untuk beristirahat di dalam rumahnya.

Mendengar suara kepala Kampung, Dia pun bergegas keluar rumahnya.

"Saya, Pak."

Widuri mengangkat tangan dan berjalan ke arah kepala kampung.

"Kamu Widuri, pemilik warung di dekat persimpangan jalan sana kan?"

Pak Kepala Kampung bertanya kepada Widuri.

"Apakah mereka memperebutkan mu? Sehingga harus berkelahi begini?"

Pak Kepala Kampung langsung memberikan dugaan awal mengenai kejadian itu.

"Beginilah cinta, perjuangan tiada akhir!" red Ti PATKAY, Pak kepala Kampung menirukan.

Widuri yang merasa tersanjung tetapi sangat merasa malu dan memerah wajahnya. Akhirnya Widuri pun berani berkata "Bu..bukan Pak, Saya juga merasa binggung. Saat Saya dan Harjo pulang dari Warung Saya, mereka bertiga tiba-tiba menyerang Harjo dari belakang,.**Baca di bab yang lalu***... Harjo akhirnya membalas dan mereka pingsan Pak." Widuri menjelaskan panjang lebar.

"Aw, Hebat kamu Widuri, diperebutkan 4 orang pria." Kepala kampung, memberi semangat dan kesimpulannya kepada Widuri.

Widuri yang malu-malu pun berusaha membantah, tetapi tidak berani

"Ta... Ta .pi... Pak"

"Sudahlah, Widuri. Kau cantik, tentu saja wajar mereka memperebutkan mu. Tak perlu kamu ngeless." Sambung Pak kepala kampung lagi

"(red Ustad)Jemaah, oh jemaah."

"Warga, Oh Warga, Betul tidak?" Kepala Kampung menanyakannya warga.

"Iya Pak!"

Warga serentak menjawab, sebab mereka juga menduga hal yang sama. Apa alasan yang bisa di anggap tepat untuk kejadian ini.

Slamet seorang guru lajang, Arif seorang peternak lajang, Udin kerja serabutan pun masih berstatus lajang, dan Harjo pria pujaan sejuta umat Kampung Surya Kencana ini pun Lajang.

"Iya, Pak benar. Sebab mbak Widuri itu masakannya enak, cantik pula, sudah pasti mereka memperebutkan mbak Widuri."

Moko yang mendengar kejadian perkelahian di dekat rumah Widuri pun juga datang dan langsung memberikan pendapatnya.

"Sewaktu di warung, Arif dan Udin mau mengeroyok Bang Harjo Pak, namun gagal karena kehebatan Bang Harjo, Saya lihat sendiri, sumpah!" Moko memberi pendapatnya.

"Oh, begitu. Trus kenapa katanya cuma 4 pemuda? Kamu kemana? Kabur ya?" Kepala Kampung mempertajam penyelidikannya.

"Ti...Ti.dak Pak. Kami berpisah di persimpangan jalan, rumah Saya kan arah yang berbeda dengan arah rumah Widuri, Pak!"

Moko coba menjelaskan dan membela dirinya.

"Iya Pak, Moko permisi kepada Saya dan Harjo di persimpangan jalan."

Widuri membenarkan penjelasan Moko, namun dia bingung

"Kapan Arif dan Udin menyerang Harjo?" Widuri berpikir, tetapi disimpannya di dalam hatinya.

"Sudah, masalah ini, sampai disini saja dahulu malam ini. Saya bawa mereka ke kantor kepala Kampung. Besok kita bahas kembali." Pak kepala Kampung memberikan keputusannya.

"Oh, ya. Widuri, besok kalau bisa ajak Harjo ya ke kantor kepala Kampung, kalau mau memberikan keterangan, okey," sambung kepala Kampung.

Waktu saat ini, memang sudah kira kira pukul 10.00 malam. Pak Kepala Kampung pun membubarkan warga dan memerintahkan para centengnya untuk mengangkat, Slamet, Arif dan Udin bersama warga.***

Jhon dan Sari Dijalan.

Setelah Sari pergi mengejar Wati yang sudah tampak marah besar, akan kejadian hari ini di Rumah makan pinggir sungai itu.

John segera ikut mengejar Sari. Sari tidak mampu mengejar Wati, yang ternyata memiliki kecepatan yang lebih cepat dibandingkan dirinya.

Sari kelelahan tidak sanggup menyusul Wati, sedangkan Jhon sudah hampir berhasil mengejar Sari.

"Sari, tunggu Abang, Dik. Capek tahu kejar-kejaran begini"

Jhon meminta Sari berhenti sejenak, karena Dia tahu juga kalau Sari saat ini kelelahan juga seperti dirinya.

Mendengar permintaan Abangnya berulang-ulang kali,sehingga Sari pun akhirnya mau berhenti, sebab Dia pun sudah cukup merasa kelelahan.

"Sudah, Kita berhenti dahulu. Jangan bilang Aku yang tidak sanggup melanjutkan, ya!" Sari berbicara dengan perkataannya yang sudah mulai ngelantur karena kelelahan.

Kita tahu sendiri, jalanan di kampung ini, tidak rata, bergelombang bahkan mendaki, tentu saja kalau berjalan terlalu cepat dan lama akan banyak menguras energi.

"Okey, Aku yang kalah."

Jhon mengalah, Dia teringat masa kecil mereka, siasat mereka sering dibawah Ayah mereka ke kebun maupun ke rumah-rumah warga Kampung untuk menunaikan tugas dan kewajiban Ayah mereka waktu itu yang adalah kepala Kampung. Mereka sering berkejaran, saling bersaing. Jhon tersenyum sendiri, mengingat masa kecil mereka.

"Okey, janji?"

Sari mengacungkan jari kelingkingnya untuk saling berkaitan. Hal yang saat kecil sering mereka lakukan.

"Janji!"

Sahut Jhon dengan cepat mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Sari.

"Haha..Masih aja kamu." Jhon tersenyum dan tertawa lepas.

"Iya, dong. Siapa yang tahu Abang akan ingkar janji. Kalau begini kan pasti tidak akan ingkar!"

Sari berbicara dengan percaya diri.

"Iya, kita duduk dulu. Capek Aku mengejar kamu."

Sambil melihat didekat situ ada bangku terbuat dari bambu yang biasa dipakai warga Kampung atau petani untuk beristirahat ketika kelelahan berjalan dari kebunnya maupun ketika berangkat ke kebunnya.

"Di situ aja, kita duduknya. Ada bangku." Jhon mengarahkan Sari untuk berjalan ke bangku itu berada.

"Okey, ayok!" Kata Sari kekanak-kanakan.

Sesampainya di bangku, Sari dan Jhon duduk dan mengobrol,

"Ngomong-ngomong Abang, naksir ya sama Wati?"

Sari membuka pembicaraan, karena dia binggung, sebab dugaan Sari akan bertemu Jo bukan Slamet. Dalam hatinya dipenuhi tanda tanya saat ini.

"Mengapa Slamet sejahat itu, menggantikan Jo dengan kakaknya, Jhon? Pasti ada sesuatu yang terjadi, tetapi apa Dia belum tahu."

"Em, tapi jangan ketawa ya." Jhon ingin memastikan kalau Sari tak akan, mengejeknya.

"Tuh, kan suka. Aku dari semalam dan tadi sudah merasakan! " Sari nyrocos dengan cepat. Merasa tahu sekali apa yang dirasakan oleh Jhon.

"Eit, Aku masih bilang jangan tertawa, Kamu sudah bilang begitu. Emangnya Aku ada bilang suka sama Dia? Tapi... Apakah kamu tidak suka kalau Aku menjadikan Wati kakak ipar mu?" Jhon meminta masukan dan pendapat Sari.

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!