Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Karunia yang Berlipat Ganda
Sore itu, ruang tunggu klinik tampak cukup ramai. Beberapa ibu hamil duduk sambil mengusap perut mereka. Di salah satu kursi, Hanifah duduk berdampingan dengan Arkana.
Tangannya saling menggenggam sejak tadi. Sesekali ia menarik napas panjang. Arkana yang melihat istrinya terus menunduk akhirnya menyenggol pelan bahu Hanifah.
"Deg-degan?" tanya Arkana lembut, mencoba memecah keheningan.
Hanifah menoleh pelan, lalu menganggukkan kepalanya dengan jujur. "Iya, Mas. Aku tiba-tiba merasa takut."
"Takut kenapa, hm?" tanya Arkana lagi, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.
"Aku takut kalau ada apa-apa sama bayinya di dalam sini. Takut kalau kondisiku yang sering mual dan lemas belakangan ini malah memengaruhi kesehatannya," keluh Hanifah lirih, menyuarakan kecemasan khas Seorang ibu baru.
Arkana tersenyum hangat, lalu mengeratkan jalinan jemari tangan mereka menjadi jauh lebih erat dari sebelumnya. "Tenang saja, semuanya pasti akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu takut, karena Mas akan selalu ada di bersamamu. Kita hadapi ini sama-sama."
Hanifah menatap lekat sepasang mata suaminya, mencari ketenangan di sana. "Benar, Mas?"
Arkana mengangguk mantap, menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh keyakinan. "Selalu, Dek."
Senyum kecil akhirnya muncul di wajah Hanifah.
Tak lama kemudian, pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perawat muda keluar sambil membawa map pasien.
"Atas nama Hanifah Shafiqa?" panggil perawat itu dengan ramah.
Hanifah refleks langsung berdiri dari tempat duduknya. "Saya, Suster."
"Silakan masuk ke dalam, Ibu, Bapak," ucap perawat itu mempersilakan sambil membukakan pintu lebih lebar.
Arkana ikut bangkit berdiri di samping istrinya, lalu menepuk punggung Hanifah pelan. "Ayo."
Mereka memasuki ruang pemeriksaan. Di meja kerja, seorang dokter kandungan telah duduk di balik meja sambil membaca catatan pemeriksaan.
"Silakan duduk, Bapak, Ibu," sapa sang Dokter dengan senyum ramah yang menenangkan.
"Terima kasih banyak, Dok," jawab Arkana dan Hanifah hampir bersamaan sambil mendudukkan diri di kursi yang telah disediakan.
Dokter menutup map tersebut lalu tersenyum ramah sambil menatap pasangan muda itu bergantian. "Kehamilan pertama, ya?"
"Iya, Dok," jawab Arkana mewakili istrinya.
"Wah... pasti sangat dinantikan." ujar dokter itu ikut merasakan kebahagiaan mereka.
Hanifah hanya tersenyum malu-malu mendengar ucapan sang dokter. "Iya, Dok. Sangat kami nantikan."
"Baik kalau begitu," kata dokter sambil bangkit dari kursi kerjanya. "Sekarang kita lihat dan periksa Dulu bagaimana kondisi janin di dalam rahim. Ibu Hanifah silakan langsung berbaring di ranjang pemeriksaan sebelah sana, ya."
Hanifah mengangguk. Dibantu oleh Arkana, ia berbaring perlahan.
Kemudian Dokter mengoleskan gel pada perut Hanifah, kemudian mulai menggerakkan alat USG.
Hanifah memperhatikan layar monitor dengan wajah penasaran. Sementara Arkana masih berdiri di belakang.
"Bapaknya tidak mau ikut melihat calon anaknya? Ayo, silakan mendekat ke sini," ajak dokter itu ramah.
Arkana sempat menunjuk dirinya sendiri dengan ragu. "Saya boleh ikut lihat langsung, Dok?"
"Iya, tentu saja boleh. Silakan mendekat ke sebelah sini agar kelihatan jelas."
Arkana langsung berdiri di samping, sambil mengenggam kembali tangan Hanifah. Matanya menatap layar monitor tanpa berkedip.
Dokter menggerakkan alat USG perlahan. Beliau mengernyit kecil.
"Wah..." gumam dokter itu spontan.
Mendengar gumaman yang tidak biasa tersebut, Hanifah langsung dirundung rasa panik. Jantungnya kembali berdegup kencang. "Dok... ada apa? Apa ada yang salah dengan kandungan saya? Apa bayi saya tidak apa-apa, Dok?"
Dokter tidak langsung menjawab. Beliau kembali memperhatikan layar beberapa detik.
"Lho... Sebentar, sebentar..." tambah dokter itu lagi, membuat suasana di dalam ruangan mendadak terasa menegangkan.
Arkana ikut mulai gugup. "Kenapa, Dok?"
Melihat kepanikan pasangan muda di hadapannya, sang dokter akhirnya mengulas senyum lebar yAng sangat cerah. "Tenang, Ibu, Bapak. Jangan panik dulu. Kalau saya tidak salah melihat dan membaca pergerakan di layar monitor ini... janin di dalam rahim Ibu sepertinya bukan cuma ada satu."
Mereka berdua saling lempar pandangan dengan ekspresi terkejut.
"Kembar, Dok?" tanya Arkana penuh harap.
Dokter menganggukkan kepalanya pelan sambil terus mengulas senyum. "Iya, benar sekali. Tapi tunggu sebentar, mari kita pastikan posisinya sekali lagi." Beliau kembali menggeser transduser USG di atas kulit perut Hanifah yang bergel. "Nah... lihat ke layar, ya. Yang berada di sebelah kiri ini satu janin. Lalu yang di sebelah kanan ini janin yang kedua."
Beliau menggeser alatnya sedikit lebih condong ke bagian atas rahim. "Lho... astaga, ternyata masih ada satu kantung janin lagi tersembunyi di bagian belakang!"
Arkana spontan membelalakkan mata. "Hah? Gimana, Dok?"
Dokter kandungan itu tertawa kecil, merasa sangat senang bisa menyampaIkan kabar gembira tersebut. "Selamat ya, Bapak, Ibu. Ibu Hanifah saat ini sedang mengandung bayi kembar tiga."
Ruangan langsung hening. Hanifah sampai berkedip beberapa kali.
"Dok... kembar tiga?" tanya HanifaH memastikan, suaranya hampir menyerupai bisikan.
"Iya, Ibu. Tiga janin aktif," tegas dokter tersebut.
Hanifah menoleh kepada Arkana.
"Mas..."
Arkana masih menatap layar monitor. Mulutnya sedikit terbuka.
"Tiga..."
Hanifah menyenggol pelan lengan suaminya.
"Mas."
Arkana akhirnya menoleh.
"Kita...Kita Mau punya tiga bayi sekaligus?"
Hanifah mengangguk pelan. Sepersekian detik kemudian, keduanya tertawa bersamaan.
"Alhamdulillah..." ucap Arkana berulang kali, mencium tangan istrinya dengan perasaan haru.
Dokter ikut tersenyum hangat melihat reaksi kebahagiaan yang meluap-luap dari pasangan muda tersebut. "Kasus kehamilan spontan kembar tiga seperti ini memang tergolong sangat jarang terjadi. Tapi di layar ini sudah sangat jelas terlihat ada tiga kantung kehamilan yang semuanya normal."
Beliau lalu mengubah nada bicaranya menjadi lebih serius.
"Namun saya juga perlu menjelaskan. Kehamilan kembar tiga termasuk kehamilan berisiko tinggi."
Senyum Arkana dan Hanifah perlahan berubah menjadi serius.
"Artinya, Ibu harus benar-benar menjaga kondisi. Jangan terlalu lelah. Kurangi aktivitas berat. Kontrol harus lebih rutin. Kalau ada keluhan sedikit saja, segera datang ke klinik atau rumah sakit."
Arkana langsung mengangguk. "Baik, Dok. Saya akan menjaga istri saya."
Dokter tersenyum.
"Itu yang saya harapkan dari seorang suami. Dan jadi seorang bapak dengan calon anak tiga, harus lebih semangat ya berkerjanya."
Setelah pemeriksaan selesai, Hanifah kembali duduk di depan meja dokter.
Dokter mulai menuliskan resep vitamin. "Ini ada beberapa resep vitamin penguat kandungan, zat besi, dan asam folat dosis tinggi. Vitamin ini harus diminum rutin setiap hari tanpa boleh terlewat satu kali pun, ya, Ibu."
"Iya, Dok."
Dokter kemudian mengalihkan pandangannya, menatap lurus ke arah Arkana Dengan senyum penuh arti. "Nah, kalau untuk Bapak sendiri, ada satu catatan tambahan dari saya."
"Iya, ada apa, Dok?" tanya Arkana polos, sedikit memajukan duduknya.
"Sementara jangan dipakai dulu ya istrinya."
Arkana tampak bingung. "Apa itu?"
"Maksudnya... Jangan berhubungan intim dulu, ya."
Arkana mendadak tampak bingung dan salah tingkah, pipinya sedikit merona merah. "Oh... begitu, ya. Lalu, sementara itu... sampai kapan, Dok?"
Dokter tertawa kecil melihat kepolosan Arkana. "Sampai kondisi kandungannya lebih kuat. Kalau nanti hasil kontrol berikutnya bagus, baru kita evaluasi lagi."
Arkana mengangguk pelan.
"Baik, Dok."
...✧─────────── ✦ ───────────✧...
Dalam perjalanan pulang, Arkana masih terlihat diam. Hanifah melirik suaminya dari boncengan.
"Mas," panggil Hanifah.
"Hm? Iya, Dek?" sahut Arkana tanpa menoleh.
"Kok dari tadi setelah keluar dari klinik Mas malah melamun dan diam saja? Mas tidak senang, ya, kita mau punya bayi kembar tiga?" tanya Hanifah dengan nada sedikit cemas.
Arkana terkekeh pelan. "Bukan begitu, Dek. Mas justru sangat senang dan bersyukur. Hanya saja, dari tadi di sepanjang jalan Mas diam karena otak Mas sedang sibuk menghitung."
"Menghitung apa, Mas?" tanya Hanifah bingung.
"Menghitung... kalau nanti anak kita lahir dan jadwal beli susu formula atau susu tambahan," Arkana menarik napas, "langsung beli tiga. Terus kalau jadwal beli popok sekali pakai... langsung beli tiga. Belum lagi nanti kalau mau beli baju-baju bayi yang lucu... semuanya harus beli tiga pasang sekaligus," jelas Arkana jujur mengenai isi pikirannya.
Hanifah langsung tertawa lepas di balik punggung suaminya, rasa cemasnya seketika sirna berganti geli. "Ya ampun, Mas! Anak-anaknya belum juga lahir ke dunia, tapi bapaknya di sini sudah pusing duluan memikirkan anggaran belanja."
Arkana menghela napas panjang dengan raut wajah yang sengaja dibuat pura-pura pasrah, meskipun ada binar bahagia di matanya. "Mas baru sadar sepenuhnya sekarang, Dek. Ternyata pepatah orang tua dulu itu memang benar adanya. Rezeki itu memang datang bersamaan dengan hadirnya anak, tetapi dalam kasus kita sekarang, pengeluaran bulanannya juga langsung datang bertiga sekaligus."
Hanifah tertawa semakin keras mendengar keluh kesah jenaka dari suaminya, mengeratkan pelukannya di pinggang Arkana seolah beban finansial masa depan tidak lagi menakutkan selama mereka menghadapinya bersama.
Sesampainya di rumah sederhana mereka, setelah membersihkan diri, keduanya langsung berbaring berdampingan di atas kasur lipat yang Digelar di dalam kamar tidur. Suasana malam terasa begitu tenang dan damai. Arkana perlahan menggeser posisi tubuhnya menjadi lebih dekat ke arah istrinya.
"Dek..." panggil Arkana dengan suara rendah.
"Hm? Ada apa, Mas?" sahut Hanifah, memalingkan wajah menatap suaminya.
"Mas sebenarnya... malam ini mau manja-manja sedikit sama kamu," bisik Arkana dengan pandangan mata yang penuh arti.
Hanifah langsung menepuk pelan lengan suaminya. "Ih. Dokter tadi bilang apa?"
Arkana mengembuskan napas panjang, lalu langsung membalikkan posisi tubuhnya menjadi terlentang menatap langit-langit kamar dengan ekspresi pasrah yang dibuat-buat. "Iya, iya, Mas ingat kok. Berarti mulai malam ini Mas terpaksa harus puasa dulu, ya."
Hanifah tersenyum jahil.
"Bukan cuma satu bayi yang dijaga sekarang. Ada tiga."
Arkana menatap langit-langit rumah.
"Baiklah. Demi istriku dan tiga calon jagoan atau putri kecilku. Aku rela puasa."
Hanifah terkekeh sambil menggenggam tangan suaminya, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan nyaman.