NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:426
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Transformasi Kentut Mawar

"Lepasin tangan kamu!! Jangan sembarangan pegang-pegang ya! Cepetan kamu bangun, dasar cowok mesum terselubung!!" teriak Hanin panik dengan wajah yang sudah memerah padam seperti kepiting rebus.

Karena usaha menarik tangannya gagal total akibat kalah tenaga, Hanin akhirnya menggunakan senjata pamungkas warisan ibunya: Cubitan Maut berputar 360 derajat tepat di otot perut Rakha yang six-pack.

"Awws!! Sshh.. Sakit bajingan!" Rakha terlonjak kaget. Rasa sakit yang luar biasa panas di perutnya langsung memaksa sepasang matanya terbuka lebar sempurna.

Deg!

Waktu di dalam kamar kos berukuran empat kali empat itu seolah-olah berhenti berputar seketika. Rakha yang baru saja tersadar sepenuhnya dari alam mimpi, mendadak membeku di tempat saat melihat wajah "Hanin" yang kusam hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari ujung hidungnya.

Napas hangat gadis itu bahkan menerpa permukaan kulit wajahnya.

Anehnya, sadar posisinya sedang sangat tidak elit dan memalukan, Rakha bukannya langsung mendorong tubuh Hanin menjauh. Ia malah sempat terdiam selama tiga detik penuh, matanya terkunci pada manik mata bulat milik Hanin, sementara kedua tangannya masih setia memeluk erat pinggang gadis itu.

Deg... Deg... Deg...

Suara detak jantung mereka yang berdegup kencang saling bertalu-talu, terdengar sangat nyaring memecah keheningan kamar yang sunyi. Ada sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang dada mereka—sesuatu yang hangat, menggelitik, sekaligus sangat memalukan.

Rakha mengerutkan keningnya dalam-dalam, batinnya berteriak kebingungan setengah mati. Kok... kok aroma tubuh sama debaran dada gue rasanya sama persis kayak pas gue meluk pinggang si Alin di depan minimarket semalam? Padahal yang didepan gue ini kan sepupunya yang udik dan jelek? Kenapa jantung gue malah diskoan nggak karuan begini?!

"LO NGAPAIN DI ATAS KASUR GUE, HAH?!" teriak Rakha menggelegar sedetik kemudian setelah kesadarannya kembali seratus persen.

Dengan panik dan kasar, ia langsung mendorong tubuh Hanin hingga gadis itu terjungkal dari ranjang dan mendarat dengan bokong menyentuh lantai terlebih dahulu.

Brakkk!!!

Rakha sukses mendorong tubuh Hanin hingga gadis itu terjungkal dari ranjang dan mendarat darurat dengan bokong menyentuh lantai semen terlebih dahulu.

"Akhh... sakit, woy!" rintih Hanin/Alin. Ia jatuh terduduk, tangannya sibuk mengelus-elus lengan kiri dan bokongnya yang mendadak mati rasa setelah menahan beban tubuhnya saat mendarat tanpa parasut.

Di atas kasur, Rakha memegangi dadanya sendiri dengan napas memburu. Perasaan macam apa ini? Kenapa jantung gue tiba-tiba kayak habis minum kopi instan lima saset begini? Rasanya persis saat gue deket sama Alin semalam! batin Rakha berkecamuk.

Ia menatap telapak tangannya sendiri yang masih terasa hangat setelah memeluk pinggang Hanin, si sepupu yang menurutnya berwajah "ajaib" bin kusam.

Demi menyelamatkan harga dirinya yang setinggi langit Jakarta, Rakha langsung memasang wajah garang ala bos mafia. Ia bangkit berdiri dan menunjuk Hanin dengan telunjuk yang masih sedikit bergetar halus.

"Ekhmm... Sorry, gue refleks dorong lo! Lagian lo cari kesempatan ya? Lo ngapain ada di atas tempat tidur gue, hah?! Jangan-jangan lo mau melecehkan ketampanan gue saat gue tidur?! Berani banget lo, ya!" cerocos Rakha, memutarbalikkan fakta demi menutupi gengsinya yang hampir runtuh berkeping-keping.

Hanin melotot tak terima. Ia bangkit berdiri sambil mengibaskan debu di celana training longgarnya. "Heh, kamu jangan memfitnah ya! Aku nggak melecehkan kamu! Tipeku bukan beruang kutub tukang mabar kayak kamu! Aku tadi mau bangunin kamu buat nanya di mana simpan sabun cuci baju. Pas aku nepuk-nepuk pipi kamu supaya bangun, tangan kamu sendiri yang narik aku terus meluk perutku sekencang talipusat! Buktinya tangan kamu kan tadi yang melilit aku?! Bukan aku yang nyosor kamu!"

Rakha terbungkam. Skakmat. Ia tahu Hanin benar seratus persen, tapi gengsinya yang sekebon melarangnya untuk meminta maaf. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia melangkah turun dari ranjang dengan gerakan kaku mirip robot rusak, lalu berjalan menuju dapur kecilnya. Ia menyambar sebungkus deterjen bubuk kiloan dan menyodorkannya tepat di depan wajah Hanin dengan ekspresi masam.

"Nih! Buruan beresin semuanya. Gue mau lanjut tidur. Awas kalau ada debu!" ketus Rakha, lalu kembali merangkak ke kasur dan menenggelamkan diri di balik selimut.

Satu jam setengah bergelut dengan daki dan cucian jorok milik Rakha, Alin akhirnya bisa bernapas lega di dalam kamar kosnya sendiri. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:30 pagi. Ia duduk termenung di atas kursi kayu reyot depan meja belajarnya, menopang dagu dengan wajah gelisah sambil menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang gelap.

"Gimana caranya aku kerja dengan muka kusam kayak pantat panci begini?" batinnya miris, meratapi lingkaran hitam di bawah matanya.

Tidak mungkin ia menemui Oma Karin untuk menjadi model butik dengan wajah versi orisinalnya yang kusam dan dipenuhi komedo perjuangan ini. Oma Karin pasti akan mengusirnya menggunakan sapu lidi sebelum ia sempat mengucap salam. Satu-satunya harapan adalah sisa ubi misterius pemberian nenek tua tempo hari

.

Alin segera beranjak ke dapur kecilnya. Ia menyalakan kompor, merebus air, dan memasukkan sisa ubi tersebut dengan rapalan doa sapujagat. Setelah ubinya matang dan mengepulkan aroma manis yang khas, ia membaginya menjadi dua bagian yang sangat presisi dengan pisau dapur.

Sambil menunggu ubi itu agak dingin, Alin bersiap-siap. Ia mengenakan kaos oversize hitam dan celana jeans biru denim yang nyaman. Alamat butik Oma Karin sudah ia kunci di aplikasi peta.

"Mudah-mudahan ini berhasil," bisik Alin penuh harap. Ia memakan setengah bagian ubi itu dengan perlahan. Ia sengaja menyisakan setengahnya lagi di atas meja, karena ia tahu keajaiban ubi ini bisa kembali seperti semula jika tidak dihabiskan seluruhnya.

Detik-detik yang dinantikan tiba. Alin merasakan gejolak hebat di perutnya, tekanan gas yang mendesak keluar dengan kekuatan penuh setara roket NASA.

"Berubaahhh!!!" seru Alin spontan sambil bergaya heroik dengan tangan menyilang di depan dada, persis seperti aksi Power Rangers saat berubah wujud.

Brottt... Brottt... Brottt... Pssshhh...

Suara itu bergema nyaring di sudut ruangan, bahkan membuat cicak di dinding kosnya berjatuhan karena syok. Namun konyolnya, bukannya bau tak sedap, aroma semerbak bunga mawar segar langsung menyerbak memenuhi seluruh kamar kos yang sempit itu.

Dalam sekejap mata, keajaiban terjadi. Kulit kusamnya luruh seperti daki, jerawatnya menghilang tanpa bekas, dan sosok gadis cantik jelita, putih bersih, serta glowing merona paripurna kembali berdiri tegak di sana. Alin tersenyum puas menatap cermin ponselnya. Sang bidadari ubi rebus telah kembali dan siap menghadapi dunia.

****

Sementara itu, di belahan kota yang lain, sinar matahari pagi menembus jendela kaca setinggi langit-langit di sebuah apartemen mewah bergaya industrial modern di kawasan pusat Jakarta. Di ruang tengah yang luas, tiga orang pemuda tampan tampak mengisi waktu luang mereka di atas sofa kulit berwarna abu-abu gelap.

Pemuda pertama, Raditama Abraham—atau yang akrab disapa Adit—sedang duduk dengan kaki bersila, jemarinya bergerak lincah di atas controller gim. Di sampingnya, Rahsya Adipta tampak serius menatap layar televisi berukuran 85 inci, berusaha mengimbangi permainan Adit.

Sementara itu, Reno Alvarez, pemuda ketiga yang dikenal sebagai playboy kelas kakap, sibuk dengan ponselnya, mengetik balasan chat untuk kekasihnya yang entah keberapa minggu ini.

"Gue bentar lagi mau pergi nengokin sepupu gue. Kalian mau ikut gue nggak?" ujar Adit tanpa mengalihkan pandangan dari layar yang menampilkan aksi balapan mobil.

Rahsya mengerutkan kening, jempolnya sempat terhenti sejenak di atas tombol controller. "Sepupu lo yang mana? Yang ada di Paris itu maksud lo?" tanya Rahsya penasaran.

"Bukan yang itu. Mana mungkin sepupu gue yang satu itu pulang ke sini, dia sibuk bantuin perusahaan bokap gue yang ada di sana,"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!