NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayi Kembar

"Lo serius, Rein? Lo gak lagi becanda kan?" Riyan menatap Reinhart dengan penuh selidik.

Reinhart menyugar rambutnya. Raut wajahnya menyiratkan sebuah kegundahan yang mendalam.

"Kalau dia hamil itu artinya dia ... udah punya suami?" Riyan menerka-nerka sendiri. "Atau bisa jadi dia ...."

"Gak! Itu gak mungkin. Gue yakin Anisa bukan cewek kayak gitu."

Riyan terkekeh kecil. "Lo kenal dia udah berapa lama, Bro? Gue rasa ada yang gak beres sama ni cewek. Sebaiknya lo mulai jauhin dia deh."

Reinhart tak suka dengan ucapan Riyan.

"Jangan-jangan dia sengaja narik perhatian lo karena ada maunya."

"Anisa bukan gadis seperti itu!" tekan Reinhart.

"Lo tahu dari mana? Apa karena dia berhijab? Cewek model kayak gitu banyak sekarang, Bro. Lo jangan sampai ketipu. Pokoknya mulai sekarang gue gak akan bantuin lo masalah si Anisa ini lagi. Lo juga mendingan menghindar dari dia." Riyan keluar dari ruangan Reinhart dengan wajah yang masih kesal.

Baru beberapa langkah menjauh dari klinik kampus, Riyan melihat sekumpulan mahasiswi pemuja Reinhart. Mereka berencana akan mendatangi klinik untuk bertemu Reinhart.

Mata Riyan tertuju pada salah satu mahasiswi yang ada di sana juga.

"Nis, yuk ikutan ke klinik. Mau minta vitamin sama dokter Reinhart." Seperti biasa Rhea mengajak Anisa pergi ke klinik kampus.

Namun, yang diajak tidak pernah mengiyakan. "Maaf ya, Rhe. Aku mau ke perpus. Ada buku yang harus aku pinjam."

Rhea tampak kecewa. Ia heran dengan Anisa yang tidak menyukai Reinhart. Mungkin diantara para mahasiswi baru, hanya Anisa yang enggan bertemu dengan Reinhart.

Rhea pergi lebih dulu menuju ke klinik lalu disusul Anisa yang juga berjalan ke arah yang berbeda.

"Cih, dasar munafik. Lagaknya ogah-ogahan ketemu si Rein. Tapi nyatanya ini adalah cara licik dia buat narik ulur Reinhart. Bener-bener cewek ular. Gue rasa gue harus jauhin cewek itu dari Reinhart. Kemungkinan besar dia itu hamil diluar nikah dan gak tahu siapa bapaknya. Makanya dia deketin Reinhart buat jadi tumbal. Dasar cewek sialan!" Riyan mengepalkan tangan sambil menatap kepergian Anisa.

*

*

*

Keesokan harinya, Anisa sedang bersiap berangkat ke kampus saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Anisa membuka pesan yang dikirim oleh Raisa itu.

Jangan lupa hari ini adalah jadwal kamu periksa ke dokter. Kita ketemu di rumah sakit pukul empat sore nanti. Jangan lupa kenakan cadarmu. Mengerti?

Anisa mendesah pelan. Ia tatap perutnya yang masih belum menonjolkan apapun.

"Semoga kamu tumbuh sehat di dalam sana, Nak." Anisa berbicara sendiri. Tak pernah ia bayangkan jika dirinya harus mengalami hal seperti ini. Di tambah lagi ia harus menyimpan rahasia ini rapat-rapat dari pihak manapun.

"Anisa, ayo sarapan dulu, Nak." Suara Rahayu dari balik pintu membuat Anisa segera memasukkan ponselnya ke dalam tas.

"Iya, Bu. Aku segera ke sana."

Di kampus, Anisa menjalani hari-hari kuliahnya seperti biasa. Untungnya hari ini Anisa tidak merasa mual seperti hari-hari sebelumnya. Anisa merasa jika ini karena ia minum jus tiap pagi yang entah diberikan oleh siapa.

Anisa ingin berasumsi jika itu adalah pemberian Reinhart, tapi ia tak sepercaya diri itu menganggap dirinya spesial.

"Belum ketemu juga ya siapa yang ngirim jus ke kamu tiap hari?" Rhea duduk di samping Anisa yang sedang memegang botol jus.

Anisa menggeleng.

"Misterius banget sih. Aku yakin pasti dia itu cowok."

Anisa mengerutkan dahi menatap Rhea. "Belum tentu juga, Rhe."

Rhea malah tertawa. "Trus kamu pikir yang ngirim jus itu cewek? Mana ada cewek perhatian sampai segitunya. Aku aja gak seperhatian itu ke kamu." Rhea menaikturunkan alisnya.

Anisa terdiam dan tak lagi membahas soal si pemberi misterius itu. Jika benar Reinhart yang memberinya jus tiap hari, maka ia harus menyembunyikan hal ini dari Rhea. Anisa tak ingin Rhea kecewa padanya.

***

Seperti yang sudah disepakati bersama Raisa, saat ini Anisa sudah duduk di ruang tunggu dokter Ridha. Ternyata Raisa belum tiba di sana saat Anisa tiba. Anisa menunggu sambil mengusap perutnya.

"Semoga kamu sehat di dalam sana."

Tak berselang lama Raisa datang bersama dengan Raya.

"Kamu sudah menunggu lama?" Tanya Raisa.

Anisa menggeleng. "Tidak, Nyonya."

"Ayo cepat masuk, Ridha sudah menunggu di dalam."

Khusus untuk sore ini Ridha tidak menerima pasien umum karena kedatangan Raisa dan Anisa. Tentu saja Raisa sudah memikirkan ini lebih jauh. Ia tak ingin diketahui hamil sebelum pemeriksaan Anisa dinyatakan benar-benar berhasil.

"Tolong berbaring disini," ujar Ridha pada Anisa.

Jantung Anisa berdegup kencang menantikan hasil USG yang akan dilakukan padanya. Dokter Ridha mulai mengoleskan gel ke perut. Seiring dengan transducer yang menyentuh perut Anisa, dering ponsel juga ikut menggema di ruangan itu.

Rupanya itu adalah ponsel Raya yang menunggu dibalik tirai.

"Sa, bos besar telpon eike," ujar Raya.

"Bos bilang apa?" Raisa keluar dari bilik periksa dan menemui Raya.

Anisa dan Ridha hanya saling pandang. Mereka tak paham apa yang sedang dibicarakan oleh Raisa dan Raya. Yang jelas ini berhubungan dengan pekerjaan Raisa yang seorang publik figur.

"Rid, aku harus pergi sekarang. Kamu lanjutkan saja pemeriksaanmu terhadap Anisa. Dan tolong kirimkan hasilnya padaku. Oke?"

Ridha mengangguk. "Baiklah. Hati-hati di jalan, Sa."

Kini tinggalah Anisa dan Ridha saja di ruangan itu. Ridha kembali menggerakkan transducer mengelilingi perut rata Anisa.

Mata Ridha membulat dengan tatapan heran.

"Ada apa, Dokter? Apa ada hal buruk dengan bayi saya?" tanya Anisa dengan mata yang juga memperhatikan ke arah layar monitor.

"Tidak, tidak ada yang aneh. Hanya saja ... kamu mengandung bayi kembar, Anisa," papar Ridha.

"A-apa? Masha Allah, yang benar, Dok?" Anisa yang tadinya panik kini malah berseru gembira.

"Iya, ada dua kantong disini. Itu artinya bayi kamu kembar. Raisa pasti sangat senang mendengar kabar ini."

Penuturan Ridha membuat hati Anisa terasa sakit. Ia yang mengandung dan melahirkan, tapi kenapa harus Raisa yang bahagia?

"Dokter..." Anisa memegangi lengan Ridha.

"Apa saya bisa minta tolong?"

"Minta tolong apa?"

"Jangan katakan pada Nyonya Raisa kalau bayinya kembar. Saya ... ingin memiliki salah satu dari bayi kembar ini, Dok. Saya mohon izinkan saya memiliki salah satu bayi ini."

Ridha bergeming mendengar permintaan Anisa. Bahkan Anisa berlutut di depan Ridha agar wanita itu bersedia mengabulkan permintaannya.

"Jangan seperti ini, Anisa. Kamu dan Raisa sudah terikat kontrak tentang bayi ini. Jadi, jangan melakukan hal diluar kontrak. Kamu bisa kena masalah nanti."

Air mata Anisa sudah mengalir deras. Ia masih belum rela jika harus menyerahkan kedua bayi kembarnya.

Anisa bangkit dan menatap Ridha.

"Baiklah. Saya akan menyerahkan bayi saya jika kedua bayi saya adalah laki-laki. Tapi, jika salah satunya perempuan ... tolong saya untuk memiliki bayi perempuan ini, Dokter. Mereka hanya butuh bayi laki-laki untuk penerus keluarga. Mereka tidak butuh bayi perempuan. Tolong saya, Dokter."

Ridha memalingkan wajah. "Pemeriksaan sudah selesai. Kita ketemu lagi bulan depan. Bayi kamu sehat, jadi tetap jaga kesehatanmu dan jangan lupa jaga asupan gizimu. Ini vitamin, kamu tidak perlu mengantri di bagian farmasi. Raisa memberikan vitamin yang terbaik untuk bayinya." Ridha menyerahkan bungkusan vitamin untuk Anisa.

Dengan berat hati Anisa keluar dari ruang pemeriksaan. Air matanya masih tak berhenti mengalir. Ia sungguh sedih menghadapi kenyataan hidupnya.

Sepeninggal Anisa, Ridha terdiam sendiri di ruangannya.

"Ya Tuhan, apa aku terlalu kejam padanya? Dia hanya melakukan bakti pada ibunya, tapi dia harus berkorban banyak untuk itu. Apa yang harus kulakukan?"

Ridha keluar ruangan dan menatap kepergian Anisa dengan tatapan sendu. Ia tak tega melakukan hal sekejam itu pada gadis baik seperti Anisa. Ia mengalami dilema. "Bagaimana ini?"

"Jangan ikut campur urusan mereka."

Ridha menoleh dan mendapati seseorang yang dikenalnya.

"Dokter Reno?"

"Kamu harus ingat siapa prioritas kita disini. Karir kita dipertaruhkan untuk hal ini. Jadi, jangan pernah mengingkari kontrak yang sudah disepakati."

"Tapi gadis itu...."

"Dia yang memilih jalan ini. Sebaiknya jangan melakukan hal diluar kesepakatan." Reno berlalu pergi setelahnya.

Sementara Ridha masih terus memandangi Anisa yang sudah berjalan jauh.

"Tidak bisa. Aku tidak bisa tinggal diam." Ridha berjalan cepat menghampiri Anisa.

"Anisa!" panggil Ridha saat Anisa tiba di lorong yang sepi.

"Dokter Ridha?"

Ridha celingukan melihat situasi. "Mari bicara di tempat yang sepi."

*

*

*

"Jadi, Dokter bersedia membantu saya?" Binar kebahagiaan terpancar di mata bening Anisa.

"Iya. Saya akan bantu kamu. Saya juga tidak setega itu memisahkan bayi dan ibunya."

"Terima kasih banyak, Dokter." Tangis haru Anisa kembali pecah.

"Tapi, kita harus tunggu hingga jenis kelamin bayi bisa diketahui. Dan soal Raisa ... kamu tidak perlu khawatir. Saya akan mengurusnya."

Anisa mengangguk cepat. "Iya, Dokter. Saya mengerti."

Ridha menggenggam tangan Anisa. "Saya tahu kamu adalah gadis yang baik. Kamu hanya terjebak situasi yang tidak menguntungkan. Saya harap kamu bisa menemukan kebahagiaan suatu saat nanti. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

Anisa menatap kepergian Ridha dengan penuh kelegaan.

"Akhirnya ada hal baik yang terjadi padaku. Terima kasih, Ya Rabb." Anisa mengusap air mata yang menetes dibalik cadarnya.

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!