Apakah tidak ada pilihan lain?
kenapa sakalinya bertransmigrasi malah ke tubuh Antagonis,lucu sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa di abaikan
Malika sudah ada di depan ruangan kelasnya saat ia ingin melangkah masuk, tiba tiba saja ada yang menyenggolnya lalu masuk tanpa memperdulikan Malika yang saat ini wajahnya sudah terlihat marah dengan alis yang menukik tajam.
What the hell nah,Apa salahnya padahal jalannya luas,kenapa malah memilih menubruk bahunya dasar orang sinting?.
Orang yang menubruk bahu Malika itu adalah Soren dengan Rara di sisinya yang tengah Bergelayut manja di tangan Soren, seolah mempringati seluruh orang di ruangan ini bahwa Soren adalah kepunyaannya.
Malika berjalan menuju Mejanya sembari matanya tidak sengaja melihat Soren dan Rara tengah duduk bersama sembari Soren mengobrol entah apa dengan Rara.
Acuh saja ia lansung melewati mereka menuju kursinya dan Aira.
Kehadiranya di sambut heboh oleh Aira.
Mereka melakukan tos ala persahabatan di sana dua saja sudah seheboh ini apalagi di satukan dengan Ruka apa gak jadi suara se Rw batin para murid di sana sembari menggelengkan kepal melihat tingkah absurd keduanya.
diam-diam ada yang curi-curi pandang menatap Malika.
________
Bel istirahat telah berbunyi dan pelajaran telah usai, Malika dan Aira keluar ruangan.
"Mali ku sayang. " Tak sempat Malika menoleh ke sumber suara Tubuhnya langsung saja di terjang pelukan oleh Ruka yang membuatnya sedikit oleng.
"Apa nih, kangen lo sama gue? ".Ujar Malika dengan alis yang di naik turunkan menggoda Ruka.
" Ya iya lah kangen, Airan udah cerita semuanya sama gue tentang perubahan drastis lo, gue mau ketemu tapi lo nya bolos. "Ruka langsung saja menyentil kepala Malika dengan lumayan keras.
" Sakit bego, sabar napa emang kalau mau ketemu artis tuh kuda sabar dikit".Timpal Malika sembari memegang keningnya yang di sentil dan terlihat sedikit memerah itu.
"Idih si najis,lo mah artis gadungan. " Timpal Ruka entahlah Aira lelah melihat keduanya jika bertemu selalu saja berdrama.
Keduanya sempat saling memberi tatapan sengit setelahnya bersedekap dada saling membuang Muka.
Aira Menepuk keningnya,melihat tingkah kedua manusia jadi-jadian di depanya ini.
Langsung saja Aira mengambil posisi di tengan mereka lalu mengapit tangannya ke tangan Malika dan Ruka
"Udah-udah mendingan kita Ke kantin,Gue udah lapar banget nih, cacing di perut gue ngereok minta asupan," keluh Aira sembari mengusap perutnya yang sejak tadi berbunyi pelan.
"Gas ken lah" Jawab Malika dan Ruka serempak keduanya saling menoleh dan tak lama langsung ngakak bersama.
Ketiganya berjalan berdampingan menyusuri koridor cukup lama setelahnya sampai di Kantin yang mulai ramai oleh siswa-siswi yang memanfaatkan jam istirahat.
Aroma makanan yang menggoda mulai tercium bahkan sebelum mereka tiba di kantin.
Ruangan itu dipenuhi meja-meja panjang yang hampir seluruhnya telah terisi. Beberapa siswa mengantre di depan stan makanan, sementara yang lain sibuk bercengkerama
dengan teman-temannya sembari menyantap makanan.
Malika mengedarkan pandangan, berniat mencari meja kosong.
Namun, matanya tiba-tiba berhenti pada seseorang.Yang tengah berdiri di stan minuman menunggu antrean.
'Dia.......my malaikat maut.'
Malika sempat kesusahan bernafas saking gugupnya.
"Aira, Ruka. Kalian duluan aja duduk di sana. " Menunjuk meja kosong di pojokan. "Gue pergi dulu."Ujar Malika yang sudah berjalan menuju stan minuman.
" Lah si Anj, mau kemana. "Ruka berteriak memanggil Malika yang membuat otomatis orang-orang di sana menatapnya.
Ruka menutup mulutnya setelahnya ia cengengesan sembari menggaruk tengkuknya.
" Mau mesan kalian duluan aja duduk ntar gue nyusul"Sahut Malika.
" Yuk Ra kita duduk."Ruka dan Aira menuju meja paling pojok yang di tunjuk oleh malika tadi.
____________
"Eh!"
Laki-laki tersebut menoleh.
Sorot matanya sempat menunjukkan kebingungan, sebelum akhirnya mengenali wajah Malika.
"Kamu..."
Malika tersenyum canggung.
"Iya... kita bertemu lagi."
Malika menganggukkan kepala .
"Sekali lagi Makasih ya yang kemarin. gue benar-benar malu waktu itu."
"Tidak perlu dipikirkan."
"Justru harus. gue gak suka punya utang."
Malika membuka dompet kecil yang tersimpan di saku roknya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang sesuai nominal yang telah ia utang.
"Ini uangnya."
Laki-laki itu sempat menatap uang tersebut, lalu mengembuskan napas pelan seolah tak menyangka Malika benar-benar mengingatnya padahal baginya itu uang kecil yang jika tidak di gantipun tidak masalah.
Sudut bibir laki-laki itu akhirnya terangkat membentuk senyum tipis.
Senyum yang nyaris tak terlihat, tetapi cukup mengubah kesan dingin di wajahnya.
"Tidak usah di bayar, tapi pakai saja uangnya untuk keperluanmu yang lain soal kemaren anggap saja aku meneraktirmu. "
"Gak bisa gitu gue gak bisa tidur kalo utang gue belum di bayar. "
"Namamu siapa?" tanyanya.
"Malika."
"Malika..."
Laki-laki itu mengangguk pelan, seakan berusaha mengingat nama tersebut.
"Tidak usah mengembalikan uangnya aku serius!. "
"Gak bisa gitu, lo ambil uangnya ya, ya, ya.
"Malika menatap pria itu dengan puppy eyes dan tangan yang memohon di depan dada.
pria itu mengalihkan pandanganya ke sembarang arah saat melihat Malika seperti itu.
pria itu menghembuskan nafasnya, sebelum mengambil uang yang di sodorkan malika kepadanya.
Setelah itu Percakapan keduanya berlanjut.
Mereka membahas betapa memalukannya kejadian di supermarket hingga tanpa sadar sama-sama tertawa kecil mengingat ekspresi panik Malika saat itu.
Malika bahkan lupa kalau yang di depanya ini adalah salah satu orang yang membuat malika asli kehilangan nyawanya.
Suasana yang semula canggung perlahan berubah menjadi hangat, seolah mereka telah saling mengenal lebih lama dari kelihatanya.
Tanpa mereka berdua sadari Kedekatan keduanya berhasil menarik perhatian dari orang-orang yang ada di kantin itu, yang menatap mereka berdua dengan berbagai ekspresi.
Dari kejauhan, Aira dan Ruka saling bertukar pandang.
"Gue baru pertama kali lihat Malika seakrab itu sama cowok," bisik Aira.
Ruka mengangguk pelan.
"Padahal biasanya kan dia nempel dan cuman dekat sama si Soren aja."
Di sisi lain kantin, seseorang menghentikan langkahnya.
Sorot mata Kelabu itu tertuju lurus ke arah Malika.
Soren.
Tangannya masih menggenggam botol minuman yang baru saja dibelinya.
Namun, perhatian laki-laki itu sama sekali tidak lagi tertuju pada benda tersebut.
Tatapannya terpaku pada pemandangan di depan matanya.
Malika...
Sedang tersenyum.
Bukan kepadanya.
Melainkan kepada laki-laki lain.
Ia menyaksikan bagaimana Malika mengulurkan uang,Hingga tingkah malika yang terbilang sangat Centil baginya,lalu keduanya berbincang santai, bahkan sesekali tertawa pelan.
Entah mengapa, pemandangan itu terasa begitu mengganggu.
'Ada apa dengan gadis itu, sudah beberapa hari dia mengabaikanku' Soren membatin tapi tak beberapa lama ia menggelengkan kepalanya.
'Ada apa denganku bukannya bagus kalau dia tak lagi merecoki hidupku? .
Rahang Soren mengeras.
Tatapannya berubah dingin.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang asing menyusup ke dalam dadanya.
Perasaan yang bahkan tak mampu ia beri nama.
Namun, satu hal yang ia yakini...
Ia tidak menyukai apa yang sedang dilihatnya.
For you🌷
Hai guys semoga suka ya.
see u next Chapter.