Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.
Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.
Namun, kematian itu hanyalah awal.
Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.
Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.
Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?
Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Sekutu Lama
#
Rendra dapet pesan itu jam tiga lewat dikit pagi, dan begitu dia baca kalimatnya, "aku tahu siapa kau, kita perlu bicara," dia langsung bangun dari tidurnya, jantungnya berdebar kenceng banget, keringat dingin langsung ngucur.
Dia buru buru manggil Bara lewat telfon, "lacak nomor ini, sekarang."
Butuh waktu beberapa jam buat Bara ngelacak, dan hasilnya bikin Rendra makin was was, nomor itu baru dibikin, nggak ada riwayat apa apa, tapi lokasi pengiriman terakhir kepantau di daerah deket kantor firma hukum yang, kalo dicocokin, satu blok sama tempat firma hukum milik seseorang yang Rendra kenal banget.
Made Surya.
Rendra duduk diem lama banget, mikirin kemungkinan kemungkinan. Kalo emang bener Om Made yang ngirim pesan itu, berarti penyamarannya udah ketauan, dan itu bisa jadi bencana gede, tapi di sisi lain, ada bagian dari dirinya, bagian Damar yang masih idup jauh di dalem, yang ngerasa rindu banget sama sosok pengacara tua yang dulu, di masa masa paling gelap hidupnya, selalu ada buat dia.
Malem berikutnya, Rendra mutusin buat ambil resiko. Dia balas pesan itu, ngajak ketemu di sebuah gudang kosong di pinggir kota, tempat yang biasa dipake sama jaringan lama Om Timur, tempat yang aman, jauh dari kamera CCTV, jauh dari mata mata yang nggak diinginkan.
Dia dateng lebih dulu, berdiri di tengah gudang yang gelap, cuma diterangin satu lampu gantung tua, dan Kirana sama Bara berjaga jaga di luar, siap kalo ada yang nggak beres.
Nggak lama, dia denger suara mobil berenti, terus langkah kaki, dan Om Made muncul dari pintu gudang, wajahnya tegang, matanya nyapu ke sekeliling ruangan yang remang remang itu.
"Kamu yang ngirim pesan itu?" Rendra nanya, suaranya coba dibikin datar, meski dalem hatinya udah berantakan.
Om Made jalan mendekat, matanya nggak lepas dari wajah Rendra, semakin deket, semakin jelas, dan begitu jaraknya udah cukup deket buat liat wajah itu di bawah cahaya lampu gantung, Om Made berenti jalan, badannya gemeteran, dan air matanya langsung netes tanpa bisa dia tahan.
"Damar," dia bisikin, suaranya pecah, "ya Tuhan, itu beneran kamu."
Rendra diem, nggak bisa bohong lagi, nggak sanggup lagi nutupin, dan dia ngerasa matanya juga mulai panas, "Om..."
"KAMU MASIH IDUP!" Om Made teriak, suaranya penuh isak tangis, dan dia lari, meluk Rendra erat erat, badannya gemeteran hebat, "tujuh tahun, Damar, tujuh tahun saya nyalain lilin doa tiap malem, berharap, meski saya tau itu konyol, berharap kamu entah gimana masih idup di suatu tempat!"
Rendra berdiri diem sebentar, kaget sama pelukan itu, tapi lama lama, dia juga meluk balik, erat, dan buat pertama kalinya sejak dia jadi Rendra Alief, dia nangis di depan orang lain tanpa rasa malu, tanpa rasa perlu jaga image, soalnya orang yang meluk dia sekarang, adalah satu satunya orang dari dunia lamanya yang beneran, tulus, nggak pernah berenti percaya sama dia.
"Saya kira Om bakal bencinya saya," Rendra bisikin, di antara isakannya, "saya kira semua orang udah lupa sama saya."
"Nggak pernah, Nak," Om Made jawab, masih meluk erat, "saya nggak pernah berenti percaya kamu nggak bersalah. Saya nggak pernah berenti nyari kebenaran, meski saya udah nyaris nyerah berkali kali."
Mereka duduk di kursi kursi kayu tua yang ada di gudang itu, dan Rendra cerita, pelan pelan, sepotong sepotong, soal malem di jembatan itu, soal Om Timur yang nyelametin dia, soal proses jadi Rendra Alief, soal tujuh tahun yang dia habisin buat bangun kekuatan yang sekarang dia punya.
Om Made dengerin semuanya, sesekali nangis lagi, sesekali ngangguk pelan, dan begitu Rendra selesai cerita, pengacara tua itu narik napas panjang, dan mulai cerita balik.
"Saya nggak pernah berenti nyari bukti, Damar," Om Made bilang, suaranya sekarang lebih stabil, tapi tetep penuh emosi, "sejak kamu 'meninggal', saya jadi lebih hati hati, lebih diem diem, tapi saya terus ngumpulin apapun yang bisa saya temuin soal ledakan pabrik itu, soal siapa yang sebenernya bertanggung jawab."
"Om nemuin apa aja?" Rendra nanya, matanya penuh harap.
Om Made ngambil tas kerjanya yang dari tadi dia bawa, ngeluarin sebuah map coklat tebal, udah agak lecek karena dibawa ke mana mana, dan dia nyodorin itu ke Rendra.
"Ini," Om Made bilang, "catetan transaksi keuangan Wisnu, yang berhasil saya kumpulin diem diem selama bertahun tahun, dari beberapa kenalan saya yang masih kerja di bagian keuangan Hartono Group, orang orang yang juga curiga sama pola pola aneh yang mereka liat sendiri."
Rendra buka map itu, tangannya gemeteran, dan dia mulai baca, lembar demi lembar, dan matanya makin lama makin melotot ngeliat angka angka dan tanggal tanggal yang tercantum di situ.
Ada catetan transfer transfer besar, jauh sebelum ledakan pabrik terjadi, ke rekening rekening yang nggak jelas identitasnya, ada juga catetan pinjeman pinjeman yang, kalo dicocokin sama data rentenir yang dulu Rendra temuin lewat misi di gudang Koh Bun San, jumlahnya nyambung banget, dan yang paling bikin Rendra ngerasa dadanya kayak dihantem lagi, ada catetan pembayaran rutin, tiap bulan, ke sebuah yayasan yang namanya asing banget, "Yayasan Bhakti Cendekia", dengan jumlah yang lumayan konsisten, dimulai jauh sebelum Rendra bahkan lahir, dan terus berlanjut sampe sekarang.
"Yayasan ini apa, Om?" Rendra nanya, nunjuk ke bagian itu.
Om Made ngeliatin bagian yang ditunjuk, dan wajahnya berubah serius banget, "saya juga belum tau persis, Damar. Tapi pembayaran ke yayasan ini konsisten banget, udah puluhan tahun, dan besarannya kadang naik drastis di waktu waktu tertentu, terutama..." Om Made berenti sebentar, ngecek tanggal tanggal di kertas itu lagi, "terutama beberapa bulan sebelum kejadian kejadian besar, kayak kematian Ariel Wijaya, dan ledakan pabrik yang nimpa kamu."
Rendra ngeliatin nama yayasan itu lama banget, "Bhakti Cendekia," dia ngulang, dan entah kenapa, nama itu berasa kayak potongan puzzle yang penting banget, meski dia belum bisa liat gambar lengkapnya.
"Ini baru permulaan," Om Made bilang, "tapi ini bukti kuat, Damar, kalo Wisnu emang punya keterlibatan yang jauh lebih dalem dari yang keliatan di permukaan. Dan kalo kita bisa lacak lebih jauh soal yayasan ini, kita mungkin bisa nemuin siapa dalang sebenernya di balik semua ini."
Rendra megang map itu erat erat, dan dia ngeliatin Om Made, mata pengacara tua itu penuh tekad yang sama kuatnya kayak tekad Rendra sendiri, dan buat pertama kalinya sejak dia mulai perjalanan panjang ini, dia ngerasa, dia nggak sendirian lagi ngadepin dunia lamanya, ada satu orang dari masa lalu yang bener bener bisa dia percaya sepenuhnya, tanpa keraguan sedikitpun.
"Terima kasih, Om," Rendra bisikin, suaranya masih bergetar emosi, "terima kasih udah nggak pernah berenti percaya sama saya."
Om Made megang bahu Rendra, erat, mata tuanya penuh kasih sayang yang nggak pernah pudar meski tujuh tahun berlalu, "kamu anak saya juga, Damar, sama kayak kamu anak Ariel. Saya akan bantu kamu sampe akhir, apapun yang terjadi."
Mereka berdua duduk di situ, di gudang tua yang remang remang itu, sampe subuh mulai keliatan dari celah celah dinding gudang, ngobrol, nyusun rencana, dan buat Rendra, malem itu jadi salah satu malem paling berat sekaligus paling melegakan yang pernah dia rasain sepanjang tujuh tahun terakhir, malem di mana dia akhirnya nemuin kembali, sepotong kecil dari dunia lamanya, yang ternyata, sepanjang waktu, nggak pernah bener bener ninggalin dia.