NovelToon NovelToon
Bos Galak Jadi Papa

Bos Galak Jadi Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Pernikahan rahasia / Pernikahan Kilat / CEO / Romansa
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Lu ngapain tidur di samping gue?"

Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

Tetangga yang sejak tadi mengintip dari balik pagar kini jumlahnya semakin banyak.

Bu Romlah yang paling depan sampai menjinjit, berusaha melihat ke dalam ruang tamu.

"Itu siapa, sih?"

"Mobilnya dua lagi."

"Wah, banyak bingkisannya...."

Di belakangnya, Bu Widuri ikut menyela.

"Aku bilang juga apa? Jangan-jangan keluarga orang kota itu datang marah-marah."

"Pasti mau minta pertanggungjawaban."

"Kasihan Galuh."

Bu Ani justru menggeleng.

"Tapi kok dari tadi nggak kedengaran orang ribut?"

"Iya, ya."

Semua langsung diam.

Mereka kembali mengintip.

Dari jendela yang terbuka sedikit, terlihat Pak Deni sedang tertawa lepas bersama Pak Burhan.

Anggun bahkan sedang membantu menuangkan teh, sementara Ibu Sulastri berkali-kali tersenyum malu.

Tak ada wajah marah.

Tak ada suara tinggi.

Justru...

"Hahaha...."

Gelak tawa terdengar sampai ke halaman.

Para tetangga saling pandang.

"Lho?"

"Katanya mau ngamuk?"

"Itu malah ketawa."

"Eh, lihat... itu bawa kue banyak banget."

"Bukan cuma kue."

"Ada buah."

"Minuman juga."

"Ya ampun...."

Bu Romlah langsung menepuk lengan Bu Widuri.

"Jangan-jangan..."

"Apa?"

"Mereka datang ngelamar beneran."

Seketika suasana makin riuh.

"Lah?"

"Serius?"

"Berarti..."

"Galuh benar-benar diterima?"

Bu Widuri yang dulu paling sering menyindir Galuh mulai salah tingkah.

"Padahal aku kira...."

"Katanya Galuh sengaja menjebak orang kota."

"Iya...."

"Katanya cuma akal-akalan."

"Eh ternyata...."

Belum sempat obrolan mereka selesai, suara mobil kembali terdengar.

Sreeet...

Sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Semua kepala langsung menoleh bersamaan.

"Itu lagi!"

"Pasti siapa lagi?"

Pintu mobil terbuka.

Ranu turun lebih dulu.

Disusul Galuh yang wajahnya masih tampak tegang.

"Mas Ranu datang!"

"Galuh juga."

"Ya ampun...."

"Lengkap sudah."

Ranu bahkan tidak sempat memperhatikan para tetangga yang mengerubungi halaman.

Ia langsung berjalan cepat masuk ke dalam rumah.

"Papa!"

Suara itu membuat semua orang di ruang tamu menoleh.

Ranu mendadak berhenti.

Ia berkedip beberapa kali.

"Hah?"

Yang ia bayangkan tadi adalah suasana penuh ketegangan.

Nyatanya...

Pak Deni sedang menikmati singkong goreng.

Pak Burhan duduk santai di sebelahnya.

Anggun sedang mengobrol akrab dengan Ibu Sulastri.

Bahkan di atas meja sudah tersaji berbagai makanan kampung.

"Ayo dicicipi lagi, Pak."

"Waduh, nanti saya tambah terus."

"Hahaha..."

Ranu benar-benar bingung.

Pak Deni menoleh sambil tersenyum lebar.

"Nah."

"Ini dia."

"Anak sulung yang panikan."

Semua langsung tertawa.

Ranu masih mematung.

"Papa...."

"Katanya buru-buru."

"Papa pikir ada kebakaran."

"Ternyata kamu sendiri yang kebakaran."

Pak Deni kembali tertawa.

Ranu mengusap tengkuknya.

"Papa bikin Ranu panik."

"Lho."

"Memangnya salah?"

"Papa cuma bilang mau ke rumah mertua."

"Terus kamu langsung lari."

Pak Burhan ikut tersenyum.

"Tadi Pak Deni cerita."

"Katanya Ranu langsung telepon berkali-kali."

Ranu benar-benar malu.

Anggun menggeleng pelan.

"Kamu itu."

"Papa sama Mama memang kaget kalian menikah diam-diam."

"Tapi bukan berarti kami datang cari ribut."

Ranu mengembuskan napas lega.

Syukurlah.

Galuh yang sejak tadi berdiri di dekat pintu segera menghampiri kedua orang tuanya.

Ia menyalami Pak Burhan.

Lalu mencium tangan ibunya.

"Bu...."

Ibu Sulastri mengusap kepala putrinya penuh kasih.

"Ayo ke belakang."

"Iya."

Galuh mengikuti ibunya menuju dapur.

Begitu hanya tinggal berdua, ia langsung bertanya pelan.

"Bu..."

"Iya?"

"Tadi gimana?"

Ibu Sulastri malah tersenyum lebar.

"Gimana apanya?"

"Ibu nggak dimarahin?"

"Lho, dimarahin kenapa?"

Galuh masih terlihat cemas.

"Aku takut...."

"Mereka marah."

Ibu Sulastri menggeleng.

"Justru mereka baik sekali."

"Baik?"

"Iya."

"Lihat saja sendiri."

"Mereka datang bawa oleh-oleh banyak."

"Ngobrol sopan."

"Papa Ranu juga ramah sekali."

"Mamanya juga."

Galuh sampai berkedip.

"Serius?"

"Serius."

"Terus... Arkan mana?"

"Tadi sempat jajan."

"Habis itu ngantuk."

"Sekarang tidur di kamar."

Galuh langsung mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Ibu Sulastri tersenyum.

"Kamu dapat keluarga yang baik."

Kalimat itu membuat mata Galuh sedikit berkaca-kaca.

"Iya, Bu...."

Malam semakin larut.

Meja makan sederhana di rumah Pak Burhan kini penuh hidangan.

Sayur lodeh.

Ayam goreng.

Tempe mendoan.

Sambal.

Ikan asin.

Pak Deni bahkan beberapa kali menambah nasi.

"Wah."

"Masakan besan enak sekali."

Pak Burhan tertawa.

"Masakan kampung, Pak."

"Justru yang begini saya suka."

Anggun ikut mengangguk.

"Sudah lama saya tidak makan seperti ini."

Suasana makan malam berlangsung hangat.

Obrolan mengalir tanpa terasa.

Sesekali terdengar tawa.

Sesekali Pak Deni menggoda Ranu yang hanya bisa pasrah.

Menjelang pukul sepuluh malam, Pak Deni akhirnya berdiri.

"Besan."

"Kami pamit dulu."

Pak Burhan ikut berdiri.

"Terima kasih sudah mau datang."

"Harusnya kami yang berterima kasih."

Mereka berjabat tangan erat.

Anggun memeluk Ibu Sulastri sebentar.

"Insyaallah nanti gantian main ke rumah."

"Iya."

"Semoga sehat selalu."

Supir sudah menunggu di luar.

Pak Deni dan Anggun masuk ke mobil.

Sementara itu Ranu juga berpamitan.

"Pak."

"Bu."

"Kami juga pulang."

"Iya."

"Besok kerja."

Galuh mengangguk.

"Arkan juga sekolah."

Pak Burhan tersenyum.

"Hati-hati."

Tak lama kemudian mereka pun berangkat.

Perjalanan pulang terasa tenang.

Arkan yang masih tertidur pulas bersandar di bahu Galuh.

Begitu mobil berhenti di depan rumah, Galuh hendak menggendong bocah kecil itu.

"Mas, biar aku...."

Belum selesai bicara, Ranu sudah lebih dulu membuka pintu belakang.

"Sudah."

"Aku saja."

"Tapi...."

"Nggak apa-apa."

Dengan hati-hati, Ranu mengangkat tubuh Arkan.

Bocah itu hanya menggeliat sebentar, lalu kembali tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ranu.

Galuh memperhatikan dalam diam.

Entah kenapa...

Pemandangan itu terasa begitu hangat.

Ranu membawanya masuk ke rumah.

Naik tangga perlahan.

Lalu membuka pintu kamar Arkan.

Ia membaringkan bocah itu pelan-pelan.

Menyelimuti tubuh kecilnya.

Mengusap rambutnya sebentar.

"Bobok yang nyenyak."

Galuh yang berdiri di ambang pintu tanpa sadar tersenyum.

Setelah memastikan Arkan benar-benar nyaman, Ranu berbalik.

"Ayo."

Mereka keluar.

Ranu hendak melangkah menuju pintu kamar.

Namun suara Galuh menghentikannya.

"Mas...."

Ranu menoleh.

"Iya?"

Galuh menggenggam kedua tangannya sendiri.

"Terima kasih."

Ranu tersenyum kecil.

"Untuk?"

"Semuanya."

"Papa... Mama...."

"Aku benar-benar nggak nyangka."

"Aku kira mereka bakal marah."

"Aku kira mereka bakal kecewa sama keluargaku."

"Ternyata...."

"Mereka baik sekali."

Ranu tertawa pelan.

"Tahu nggak?"

Galuh menggeleng.

"Papa sebenarnya memang kesal."

Galuh langsung membelalak.

"Hah?"

"Iya."

"Kesalnya bukan karena kamu."

"Terus?"

"Karena anak sulungnya nikah diam-diam."

Galuh spontan menutup mulut.

"Lho...."

"Pantas."

"Pantas apa?"

"Tadi Papa beberapa kali lihat ke arah kita sambil senyum aneh."

Ranu ikut tertawa.

"Itu senyum orang yang lagi nahan omelan."

Galuh tak kuasa menahan tawa kecil.

"Kasihan juga ya."

"Iya."

"Kita bikin mereka kaget."

Suasana kembali hening.

Namun kali ini bukan hening yang canggung.

Mereka saling memandang.

Senyum di wajah Galuh masih tersisa.

"Mas...."

"Hm?"

"Makasih."

"Sungguh."

Ranu menatap wajah istrinya beberapa saat.

Sorot matanya perlahan berubah lembut.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah mendekat.

Galuh masih berdiri diam.

Jantungnya mulai berdegup lebih cepat.

"Mas...?"

Ranu mengangkat satu tangan, menyelipkan helaian rambut yang jatuh di samping wajah Galuh ke belakang telinganya.

Tatapan mereka bertemu.

Begitu dekat.

Galuh sampai lupa bernapas.

Lalu, tanpa peringatan, Ranu menundukkan wajahnya sedikit.

Kecupan itu mendarat di bibir Galuh.

Lembut.

Hangat.

Namun cukup membuat Galuh membeku di tempat.

Matanya membulat sempurna.

Pipinya memerah dalam sekejap.

1
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
karyawan julid bukannya kerja malah ghibahin istri bosnya pula minta dihempaskan ke planet Mars kyaknya klo tau faktanya bakal nyesel tuhh mereka🤣
𝐈𝐬𝐭𝐲
Ranu omes...🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
gaassss juga kak up nya😍
Cinta_manis: siap kak. tunggu ya🙏😍
total 1 replies
Sri Wahyuni
wah sudah dapat lampu Hijau....gasss Ranu 🤣
Cinta_manis: iya, tuh 🤭
total 1 replies
delis armelia
kirain udh mau gol gawang
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 nanti ya kak
total 1 replies
Sastri Dalila
😅😅
Cinta_manis: makasih komennya kak🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
pasangan yg bikin gemes🤣🤣
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
Cinta_manis: 🤭🤭🤭 iya tuh
total 1 replies
imel
pelan pelan Buu🤣🤣🤭
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
delis armelia
ayo ranu gol gawang
ᴍɪᴍɪ💋🅢🅐🅛🅢🅐🅑🅘🅛🅐👻ᴸᴷ
Wkwkwk mama Anggun langsung gercep to the point suruh bikin Galuh hamil setelah dijulidin mamanya Cindy emang bener sih harus buktikan ya Ma kalo anak Mama bibitnya premium sekali semburrr langsung jadi kembar nnti🥳
Kiki Sugiarti
bagus ceritanya saya suka
Cinta_manis: makasih kaka bintang 5nya😍
total 1 replies
sutiasih kasih
up banyak" thor
Cinta_manis: 😭😭😭tunggu ya kak. next time dicoba🙏
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjuut thor ceritanya bagus bgt aku suka..😍
Cinta_manis: makasih kak😍🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
lanjutkan thor....
double up
Cinta_manis: heheh, tunggu ya, kak. doblenya🙏
total 1 replies
sutiasih kasih
ap g makin klepek" nntinya si Ranu.... dpt istri hatinya baiknya g ktulungan...
Cinta_manis: makasih komennya kak😍
total 1 replies
Sastri Dalila
👍👍
Cinta_manis: makasih kk🙏
total 1 replies
Rahma Lia
lanjut kesini setelah Yuda,,
Sastri Dalila
👍👍👍
Cinta_manis: cihuy! makasih bintang 5nya kak😍🫰
total 1 replies
Sastri Dalila
🤣🤣
Cinta_manis: kena juga si Ranu 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!