Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.
Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?
Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
H-1
Laila melangkah berjinjit dengan tingkat kewaspadaan yang berlipat ganda setelah berhasil mengunci pintu kaca geser di ruang keluarga. Rumah mewah dua lantai itu masih diselimuti kegelapan yang pekat. Targetnya hanya satu, menaiki tangga melingkar di sudut ruangan dan segera menenggelamkan diri di balik selimut kamarnya di lantai atas.
Namun, baru saja kakinya hendak berpijak pada anak tangga pertama, sebuah suara berat dan langkah kaki memecah keheningan malam dari arah lantai dua.
"Laila? Kamu belum tidur, Nak?"
Jantung Laila seketika terasa berhenti berdetak. Seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas, itu suara Ayahnya. Pria tua itu berjalan turun dengan langkah pelan namun pasti, mengenakan sarung dan kaus oblong putih.
Panik mode langsung aktif di otak Laila. Dengan pakaian serba hitam, hoodie longgar dengan kupluk yang masih terpasang, dan napas yang memburu habis berlari dari taman komplek, dia akan langsung dicurigai melakukan hal aneh jika berdiri di depan tangga. jika berdalih habis "cari angin" pada jam satu malam kepada Ayahnya yang berpenyakit jantung adalah tindakan bunuh diri.
Otaknya berputar super cepat dalam waktu kurang dari beberapa detik. Pikir, Laila, pikir!
Melihat lampu dapur yang berada di dekat ruang keluarga, Laila langsung membalikkan badannya dengan gerakan secepat kilat. Ia menyelinap ke balik meja dapur, menyambar sebuah panci kecil, dan menyalakan kompor gas. Pretek! Api biru menyala, menerangi wajahnya yang pucat pasi.
"Laila?" Langkah kaki Ayahnya kini sudah menapak di lantai marmer lantai satu, berjalan mendekati area dapur.
Laila buru-buru menarik lepas kupluk hoodie-nya, melepas kuncirnya dan membiarkan rambut panjangnya yang sedikit berantakan tergerai bebas. Ia merogoh laci dengan panik, mengambil satu bungkus mi instan kuah rasa soto ayam dari dalam lemari penyimpanan, lalu merobek bungkusnya dengan gigi karena tangannya terlalu gemetar.
"Eh, Papi..." Laila berbalik dengan memaksakan sebuah senyuman selebar mungkin, meski dadanya bergemuruh hebat akibat adrenalin yang terpompa maksimal. Ia memosisikan tubuhnya di depan kompor, berusaha menyembunyikan celana jins gelapnya yang agak kotor terkena embun malam di balik meja.
Ayahnya berdiri di ambang batas dapur, memicingkan mata tuanya yang tampak lelah namun tetap menyiratkan ketegasan. "Kamu ngapain jam segini di dapur pakai jaket tebal begitu? Papi dengar ada suara pintu digeser tadi."
Laila tertawa kecil, suara tawa yang sengaja dibuat semanja mungkin untuk menutupi getaran gugup di tenggorokannya. "Ini, Pi... Laila lapar banget, tiba-tiba kebangun tengah malam perutnya keroncongan. Gak tahan lagi. Terus di kamar AC-nya dingin banget, makanya Laila pakai jaket. Soal pintu geser... oh, tadi Laila buka dikit, mau lihat kucing liar yang biasa di dekat kolam, siapa tahu masuk rumah," jelas Laila terbata-bata.
Ayahnya berjalan mendekat, menatap air di dalam panci yang mulai memanas, lalu beralih menatap wajah anak semata wayangnya. Laila menahan napas, berdoa dalam hati agar Ayahnya tidak menyadari aroma luar ruangan yang samar-samar masih menempel di pakaiannya.
"Malam-malam masak mi instan. Kamu ini mau nikah bukannya jaga pola makan biar baju nikahan nanti gak kesempitan, malah begadang," omel Ayahnya, namun nada suaranya melunak. Tangan pria tua itu terangkat, mengusap rambut Laila dengan lembut.
"Abisnya laper banget Pi," jawab Laila sambil mengaduk air di panci, berpura-pura sangat sibuk dengan masakannya.
"Papi sendiri kenapa bangun? Dadanya sakit lagi?" tanya Laila, tiba-tiba rasa khawatir yang tulus merayap di hati Laila, mengingat kondisi jantung Ayahnya yang ringkih.
"Enggak, Papi cuma mau ke toilet tadi, terus dengar suara-suara di bawah." Ayah menghela napas panjang, menepuk bahu Laila pelan.
"Ya sudah, habis makan langsung tidur. Jangan begadang terus. Ingat, Arjuna besok datang mau ajak kamu gladi bersih acara pernikahan. Jangan sampai kamu bangun kesiangan dan kelihatan kuyu di depan calon suamimu," ujar Ayah Laila memperingatkan.
Mendengar nama Arjuna disebut, selera makan Laila yang sebenarnya memang tidak ada, langsung menguap sepenuhnya. Namun, ia tetap mengangguk patuh demi ketenangan pikiran Ayahnya. "Iya, Pi. Habis ini Laila langsung naik ke atas."
"Papi naik duluan kalau begitu. Matikan kompornya kalau sudah selesai," kata Ayahnya sambil membalikkan badan dan berjalan kembali menuju tangga dengan langkah perlahan.
Laila menatap punggung Ayahnya hingga sosok pria tua itu menghilang. Begitu terdengar suara pintu kamar Ayahnya tertutup di atas, Laila langsung mematikan kompor gas dengan tangan lemas. Ia menyandarkan kedua telapak tangannya di atas meja konter marmer, menundukkan kepala, dan mengembuskan napas panjang yang sedari tadi tertahan di dadanya.
"Hampir aja..." bisik Laila lirih, meraba dadanya yang masih berdebar hebat.
Ia melirik mi instan yang setengah matang di dalam panci. Aksi nekatnya malam ini berhasil diselamatkan oleh sebungkus mi instan. Namun, peringatan Ayahnya tentang kedatangan Arjuna besok mendadak menjadi beban baru yang menggelayuti pundaknya. Bersiap menghadapi ketengilan pria itu dengan kondisi tubuh yang kurang tidur pasti akan menjadi ujian kesabaran yang berat besok.
...****************...
Pagi itu, aula pangkalan udara yang luas dan ber-AC dingin terasa sangat mengintimidasi bagi Laila. Di tengah aula, sudah berbaris rapi sepuluh perwira muda TNI AU, rekan-rekan sejawat Arjuna lengkap dengan seragam dinas upacara mereka yang gagah. Di ujung barisan pertunjukan, Arjuna berdiri tegak.
Berbeda dengan Laila yang datang mengenakan tunik kasual dan flat shoes dengan wajah cemberut, Arjuna justru terlihat sangat segar. Ia memakai kaos polo biru dongker yang pas di tubuh tegapnya, memperlihatkan lengan berotot yang siap menyangga tanggung jawab baru. Ketika mata mereka bertemu, Arjuna langsung menaikkan sebelah alisnya dan melempar senyum tengil andalannya.
"Selamat pagi, calon Ibu Kapten. Mukanya jangan ditekuk gitu atuh, itu lipatannya bisa buat nyimpen berkas pendaftaran nikah kita, lho," bisik Arjuna saat Laila berjalan mendekatinya di titik awal barisan.
Laila mendelik ketus, merapikan anak rambutnya yang berantakan dengan gusar. "Berisik lo, gue ini kurang tidur gara-gara harus ngafalin urutan langkah kaki yang ribet ini."
"Tenang, Dek Laila. Langkah kaki upacara itu gampang. Yang susah itu kan melangkah bersama membangun rumah tangga," ujar Arjuna.
"Asyeeek," sahut salah satu perwira muda yang menjadi komandan regu Pedang Pora, menyela dengan candaan yang langsung disambut tawa riuh dari perwira lainnya.
"Heh, fokus-fokus! Jangan diledekin calon istri saya, nanti dia mogok jalan, saya yang repot nyulik dia dari rumah," timpal Arjuna santai, mengedipkan sebelah matanya ke arah Laila yang pipinya mendadak merona bukan karena baper, tapi karena malu setengah mati diledek di depan belasan tentara.
"Baik, izin Kapten, izin Mbak Laila, kita sudah bisa mulai gladinya," seru sang protokol upacara melalui pengeras suara.
Musik mars TNI AU yang megah dan menghentak mulai menggema di seluruh penjuru aula. Ritme musiknya yang gagah justru membuat Laila semakin gugup. Di sampingnya, Arjuna langsung mengubah posturnya. Punggungnya tegak lurus, pandangannya lurus ke depan, dan langkah kakinya mendadak begitu berwibawa.
"Ayo jalan Dek. Kaki kiri dulu, bukan kaki kanan. Kita mau upacara, bukan mau lomba bakiak," bisik Arjuna tanpa menoleh, bibirnya hampir tidak bergerak namun suaranya terdengar jelas di telinga Laila.
"Iya, tahu!" gerutu Laila pelan.
Laila mencoba menyamakan langkahnya yang pendek dengan langkah Arjuna yang lebar dan mantap. Sial baginya, flat shoes yang ia kenakan sedikit licin di atas lantai aula yang baru dipel. Baru melangkah lima meter, ketika barisan pedang pora di depan mereka mulai terangkat membentuk gapura pedang yang gemerlap, Laila salah mengantisipasi langkah.
Sret!
Kaki kanan Laila tersandung ujung celananya sendiri. Tubuhnya limbung ke depan.
"Eh!" Laila hilang kendali.
Sebelum tubuh Laila menyentuh lantai, sebuah tangan yang kokoh dan hangat dengan sigap menangkap pinggangnya, menariknya kembali ke posisi tegak dalam satu gerakan cepat. Laila terengah-engah, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari dada bidang Arjuna. Ia bisa mencium aroma parfum maskulin Arjuna yang segar.
"Aduh Dek belum juga sah, masa sudah mau sungkem di kaki Mas?" bisik Arjuna tepat di samping telinganya. Seringai tengilnya kembali terukir, namun tangannya yang besar tetap menahan pinggang Laila dengan protektif sampai ia yakin gadis itu seimbang.
"Arjuna! Lepasin gue, itu malu dilihatin temen-temen lo," desis Laila dengan wajah merah padam, buru-buru menjauhkan tubuhnya sambil membetulkan bajunya yang agak kusut.
Di sekeliling mereka, para perwira muda itu pura-pura batuk dan melihat ke arah langit-langit aula, menahan senyum melihat tingkah manis sang Kapten.
"Kita ulangi dari posisi gapura pedang kedua," instruksi protokol upacara kembali terdengar.
Kali ini, Laila berjalan dengan ekstra hati-hati saat mereka melewati kolong pedang-pedang yang saling bersilang.
"Nanti pas hari-H, pedangnya beneran tajam, lho. Jadi kalau kamu tiba-tiba berubah pikiran dan mau kabur di tengah jalan, pedang-pedang ini otomatis bakal menghadang," bisik Arjuna dengan nada serius yang dibuat-buat.
Laila mencibir pelan sambil tetap menjaga pandangannya lurus ke depan sesuai protokol. "Oh ya? Bagus dong. Siapa tahu salah satu pedangnya bisa sekalian nebas ketengilan lo itu."
Arjuna terkekeh pelan, pundaknya berguncang sedikit. "Kejam amat calon makmum Mas ini. Tenang saja, ketengilan saya ini paket bundle sama rasa sayang saya yang tanpa batas. Gak bakal bisa ilang."
Laila memutar bola matanya jengah. "Cowok ini bener-bener gak pernah kehabisan kata-kata buat ngebales kejulitan gue," batin Laila kesal sekaligus heran.
Gladi bersih berlanjut ke prosesi inti di mana Arjuna harus memasangkan cincin di jari manis Laila di depan barisan pedang yang mengelilingi mereka. Saat momen itu tiba, Arjuna berbalik menghadap Laila. Tatapan matanya yang semula penuh canda kini mendadak berubah menjadi begitu teduh dan intens.
Arjuna meraih jemari tangan kiri Laila. Tangannya yang hangat dan sedikit kapalan karena latihan militer menggenggam tangan Laila yang mungil dengan kelembutan yang tidak biasa. Ia menatap langsung ke dalam manik mata Laila yang bergetar.
"Jangan tegang Dek," ucap Arjuna lembut, suaranya kini terdengar tulus tanpa nada tengil sedikit pun.
"Mas tahu ini sulit buat kamu. Tapi Mas janji akan pastikan hari-H nanti berjalan dengan indah buat kamu."
Laila terpaku. Ia menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangannya dari mata Arjuna. Ia teringat kembali janjinya pada Devan di warkop semalam, rasa sedih menjalar di hati Laila. Besok adalah hari dimana ia akan berganti status menjadi istri orang.
"Ya ya terserah lo aja, tapi ini tolong pasang cincinnya cepetan, tangan gue udah pegel berdiri terus," ucap Laila dengan nada ketus.
Arjuna tersenyum maklum, menyadari benteng pertahanan yang kembali dipasang oleh Laila. Sifat tengilnya pun langsung kembali aktif dalam hitungan detik.
"Siap, laksanakan! Lagian jarinya mungil banget begini, mirip ceker mie ayam pak man," celetuk Arjuna sambil memasangkan cincin replika itu ke jari manis Laila, membuat Laila refleks mencubit lengan berotot Arjuna dengan gemas.
"Aduh! Sakit Dek. Ini kekerasan terhadap aparat negara, lho!" keluh Arjuna sambil tertawa lepas, meredakan ketegangan di seluruh aula.
...Bersambung......