Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANGGUNG DUA BADAI
Gemuruh sorak-sorai dari sekitar 50.000 penonton yang memadati Stadion Utama Akademi Astra Nusantara terdengar seperti guntur yang membelah langit pagi itu. Getaran dari histeria massa di tribun meliuk melalui fondasi beton bertulang, menciptakan resonansi rendah yang bisa dirasakan langsung di bawah telapak kaki.
Ini adalah hari ke-1 dari total 7 hari pelaksanaan Turnamen Seleksi Akademi—sebuah festival pertempuran taktis tahunan yang bukan sekadar ujian kelulusan, melainkan panggung penyaringan talenta muda terbaik untuk melangkah ke skala global. Bagi para penonton, ini adalah hiburan kelas atas. Namun bagi para peserta, ini adalah gerbang pembatas antara masa depan yang gemilang atau tenggelam dalam lilitan takdir kaum bawah.
Atmosfer di dalam stadion benar-benar berada di tingkat kemegahan yang belum pernah disaksikan oleh Arkan sebelumnya. Di tribun kehormatan yang melayang di sisi utara stadion, barisan bendera megah dari 7 Keluarga Elemen Purba berkibar dengan anggun, digerakkan oleh mesin pengondisi udara stadion yang disetel khusus.
Di sebelah kiri, lambang elang badai milik Keluarga Skyborn selaku tuan rumah di Indonesia tampak berkilau keperakan di bawah sinar matahari pagi. Di sebelahnya, lambang sayap berapi dari Keluarga Flamewing memancarkan warna merah membara yang dominan. Tidak ketinggalan, simbol-simbol kuno dari faksi Tideweaver, Earthshaker, Thundercall, Aethelgard, dan Shadowbound ikut berjejer rapi.
Berbagai perwakilan penting, baik dari keluarga cabang maupun utusan khusus dewan pusat dari berbagai belahan dunia, duduk berjejer di kursi beludru mewah. Mereka masing-masing memancarkan tekanan spiritual yang begitu pekat, menciptakan distorsi optik tipis di udara sekeliling tribun VIP. Atmosfer udara di stadion pun terasa begitu pekat, kering, dan berat untuk dihirup oleh manusia biasa.
Di barisan paling depan tribun utama, duduk jajaran petinggi akademi, para juri Kontraktor Agung yang mengenakan jubah formal berlambang pemerintah kota, serta guru-guru elit termasuk Pak Guntur yang tampak gagah dengan seragam formal militer lengkap dengan lencana bintangnya.
Tepat di titik tengah barisan tersebut, berdiri sang Kepala Akademi, seorang pria tua berambut putih keperakan dengan tubuh tegap bernama Marsekal Wirya. Dia adalah seorang legenda hidup, salah satu dari segelintir manusia di bumi yang berhasil mencapai gelar Kontraktor Mitos. Tingkat kekuatannya begitu legendaris hingga dirumorkan mampu meratakan sebuah kota kecil atau membelah barisan pegunungan hanya dengan satu lambaian tangan murninya.
Namun, kejutan terbesar yang sesungguhnya terjadi tepat saat lonceng raksasa tanda pembukaan turnamen berdentang sebanyak 3 kali.
TENG—TENG—TENG—
Seluruh stadion yang awalnya bising oleh teriakan penonton mendadak hening total dalam waktu 1 detik. Tekanan spiritual dari puluhan ribu orang di tribun seolah-olah tersedot habis oleh sebuah pusaran tak kasat mata, menyisakan keheningan yang mencekam hingga detak jarum jam raksasa stadion pun bisa terdengar.
Dari celah udara kosong di atas tribun utama, sebuah retakan dimensi berwarna emas murni terbuka pelan. Udara di sekitarnya terdistorsi, mengeluarkan aroma wewangian kuno yang menenangkan namun sarat akan otoritas absolut.
Sesosok pria paruh baya dengan jubah putih polos tanpa ornamen apa pun melangkah keluar dari retakan tersebut dengan santai. Pria itu tidak melepaskan energi spiritual, tidak juga memasang wajah mengintimidasi. Namun, kehadirannya saja sudah membuat Marsekal Wirya—sang Kontraktor Mitos yang paling disegani di negara ini—langsung berdiri dari kursinya dan membungkuk hormat sebesar 45 derajat dengan penuh takzim. Tindakan Kepala Akademi itu segera diikuti oleh seluruh jajaran guru dan perwakilan 7 Keluarga Elemen Purba yang mendadak menegang.
"T-Tunggu... tidak mungkin... Kenapa orang itu bisa ada di sini? Dia adalah Grandmaster Joshua!" Sky yang sedang berdiri di samping Arkan di dalam lorong gelap tunggu peserta mendadak menahan napasnya. Cengkeraman tangannya pada kipas perak pusaka keluarganya terlepas saking syoknya, membuat benda itu hampir jatuh ke lantai beton.
Arkan mengernyitkan alisnya, matanya menatap tajam menembus kegelapan lorong ke arah pria berjubah putih di atas tribun melayang sana. Saku jiwanya mendadak bergetar halus, seolah-olah mendeteksi keberadaan sebuah entitas yang terlalu besar untuk dicerna oleh akal sehat. "Siapa dia, Sky? Mengapa semua petinggi bahkan Kepala Akademi membungkuk di depannya?"
"Dia... dia adalah salah satu dari 3 Kontraktor Nirwana yang ada di Indonesia, Arkan!" bisik Sky dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa kagum dan ngeri yang bercampur menjadi satu. "Manusia yang tingkat kekuatannya sudah berada di puncak tertinggi pertahanan negara kita, melampaui segala batas logika. Kontraktor Nirwana adalah pilar pelindung Nusantara dari ancaman Sektor Liar terdalam. Kudengar dia adalah sahabat lama Marsekal Wirya dari masa perang dulu, tapi aku tidak pernah menyangka dia benar-benar akan meluangkan waktunya datang ke turnamen tingkat akademi seperti ini! Kehadirannya mengubah segalanya..."
Kedatangan sosok tingkat Nirwana tersebut langsung membuat seisi stadion gempar setelah rasa syok awal mereka mereda. Bisikan-bisikan panik mulai menjalar di antara para penonton. Para utusan dari 7 Keluarga Elemen Purba, termasuk Ignis yang duduk di tribun mewah faksi Flamewing, langsung memperbaiki posisi duduk mereka menjadi sangat tegak, rapi, dan penuh hormat.
Mereka tahu betul bahwa di hadapan seorang Kontraktor Nirwana, nama besar keluarga elit sekalipun tidak memiliki bobot yang berarti. Kehadiran Grandmaster Joshua secara otomatis mengubah turnamen sekolah ini menjadi panggung dengan tingkat urgensi politik dan militer yang sangat tinggi di mata dunia internasional.
Marsekal Wirya kemudian melangkah maju ke tepi podium kehormatan setelah mendapatkan anggukan kecil dari Grandmaster Joshua yang kini sudah duduk santai di kursi paling tengah. Suara Marsekal Wirya yang diperkuat oleh energi spiritual tingkat Mitos bergema lantang, menggelegar ke setiap sudut stadion tanpa bantuan pengeras suara elektronik.
"Selamat datang para hadirin, perwakilan keluarga purba dari berbagai belahan dunia, dan tamu agung kita yang sangat terhormat, Grandmaster Joshua. Hari ini, Turnamen Seleksi Akademi resmi dibuka! Turnamen ini akan berlangsung sangat ketat selama 7 hari penuh tanpa jeda. Sistem kompetisi tahun ini mengalami modifikasi besar dan dibagi menjadi 2 kategori utama: kategori Tim 2vs2 dan kategori Solo 1vs1. Kedua kategori ini akan berjalan bergantian setiap harinya, di mana hari ke-7 nanti akan menjadi babak Grand Final penentu juara sejati yang berhak mendapatkan tiket menuju Akademi Global!"
Layar holografis raksasa berukuran 100 meter melayang di tengah-tengah langit arena stadium, menyala terang memamerkan detail regulasi jadwal harian:
[ HARI 1: Babak Penyisihan Kategori Tim 2vs2 (Blok A & B) ]
[ HARI 2: Babak Penyisihan Kategori Solo 1vs1 (Blok A & B) ]
[ HARI 3-4: Babak Perempat Final (Tim & Solo) ]
[ HARI 5-6: Babak Semifinal (Tim & Solo) ]
[ HARI 7: GRAND FINAL MUTLAK (Penentuan Slot Akademi Global) ]
"Hari ini, pada hari ke-1, kita akan langsung mendahulukan kategori Tim 2vs2!" seru Marsekal Wirya, suaranya membakar semangat puluhan ribu murid. "Sistem pertandingan hari ini menggunakan akumulasi poin penempatan berdasarkan kecepatan eliminasi dan sisa energi. Peserta yang kehabisan energi spiritual, menyerah, atau Astranya dibuat pingsan akan langsung dinyatakan gugur di tempat! Persiapkan diri kalian!"
Begitu pengumuman pembukaan selesai, layar holografis raksasa di atas arena mulai berputar dengan kecepatan tinggi, mengacak ratusan nama tim yang telah terdaftar kemarin. Detik-detik pencarian lawan membuat atmosfer di lorong tunggu peserta semakin mencekam. Banyak murid yang mulai berdoa, sementara yang lain sibuk menenangkan Astra mereka yang gelisah. Layar raksasa itu akhirnya berhenti berputar, menampilkan bagan pertandingan pertama untuk Blok A dengan huruf tebal berwarna merah.
Mata Arkan langsung menyipit tajam saat melihat baris paling atas dari daftar pertandingan tersebut.
[ Match 1 - Blok A: Tim Arkan & Sky VS Tim Raditya & Bram (Faksi Murid Elit Kelas 1-S) ]
"Wah, nama kita langsung keluar di pertandingan pembuka pertama. Sistem ini benar-benar tahu cara bersenang-senang," Sky terkekeh pelan. Ketegangannya akibat kedatangan Kontraktor Nirwana tadi mendadak sirna seketika, digantikan oleh senyuman penuh percaya diri yang teramat menantang. Dia merapikan beberapa helai rambut indahnya yang tertiup angin lorong, lalu menatap Arkan dengan sepasang mata jernihnya yang berkilat tajam. "Bagaimana, Arkan? Siap memberikan pertunjukan pembuka yang tidak akan pernah dilupakan oleh para petinggi yang duduk di atas sana?"
Arkan tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya membenarkan letak jaket nomor 15 miliknya, lalu berjalan tegap melangkah keluar dari kegelapan lorong, menuju ke arah terangnya arena luar stadion yang beralas tanah liat padat dan bongkahan batuan keras. Di samping kanan Arkan, Volt berjalan dengan langkah lambat yang sangat berat. Wujud serigala remaja raksasanya yang kini berada di Level 11 langsung terekspos sepenuhnya di bawah sorot lampu sorot stadion berkekuatan tinggi dan puluhan kamera siaran langsung. Kehadiran serigala biru raksasa dengan bulu berbentuk jarum listrik itu langsung memancing gumaman tak percaya dari tribun penonton kelas bawah yang mengenali Arkan.
Di seberang arena yang berjarak sekitar 30 meter, 2 orang murid elit dari Kelas 1-S bernama Raditya dan Bram sudah menunggu dengan ekspresi angkuh yang dipaksakan. Mereka adalah anak-anak dari faksi militer kota yang terkenal dengan taktik pertahanan absolut dan kombinasi Astra berarmor tebal. Begitu peluit digital tanda pertandingan dimulai berbunyi nyaring di seluruh stadion, keduanya langsung memicu energi spiritual mereka tanpa menunda waktu seperseratus detik pun.
Wuuush—Wuuush—
Dua lingkaran sihir besar terbuka di depan mereka, memanggil 2 ekor Astra berwujud masif: seekor Beruang Batu Level 12 dengan tinggi hampir 3 meter, dan seekor Badak Besi Level 12 dengan cula yang dilapisi baja tebal.
"Dengar, anak jalanan! Pertahanan Astra kami tidak akan bisa ditembus oleh serigala kurusmu itu! Menyerahlah sebelum kamu cacat!" seru Raditya dengan sombong. Dia langsung menghentakkan kakinya, menyelimuti tubuh manusianya sendiri dengan 30% elemen tanah murni yang membuat seluruh permukaan kulitnya mengeras dan berwarna kecokelatan seperti batuan granit. Di sebelahnya, Bram juga melakukan hal yang sama, melapisi dirinya dengan 30% elemen besi untuk meningkatkan daya tahan fisiknya dari serangan kejutan.
Arkan berdiri dengan sangat tenang di tengah terpaan angin stadion yang kencang. Dia sama sekali tidak memanggil Astra tambahan atau memasang kuda-kuda bertahan. Pemuda itu hanya melirik Sky yang berada di sisi kirinya, memberikan sebuah kode mata yang sangat singkat namun sarat akan pemahaman mendalam. Sinergi sempurna yang mereka bangun selama berjam-jam di ruang latihan privat Keluarga Skyborn langsung aktif secara instan dalam kesadaran mereka.
"Zephyr, bersihkan jalurnya dan kunci medan tempur mereka! Vacuum Burst!" perintah Sky dengan kibasan kipas peraknya yang anggun ke arah depan.
SKREEECH!
Dari atas langit arena stadion, Zephyr yang kini sudah mantap berada di Level 10 mengepakkan sayap kristal hijaunya dengan hentakan yang luar biasa gila. Seketika itu juga, sebuah pusaran badai angin hampa udara melesat turun dengan kecepatan tinggi berbentuk tornado terbalik. Jurus itu langsung menyedot seluruh pasokan oksigen dan molekul udara di sekitar titik tempat Raditya, Bram, dan kedua Astra besar mereka berdiri. Tekanan udara yang terkompresi secara ekstrem dari jurus Sky langsung dihantamkan dari arah atas seperti palu godam raksasa tak kasat mata. Dampaknya begitu instan; kaki Beruang Batu dan Badak Besi yang berbobot ratusan kilogram itu langsung melesek masuk sedalam 50 sentimeter ke dalam tanah arena, membuat seluruh sendi tubuh mereka terkunci total dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
Di saat musuh mereka terperangkap dalam sangkar hampa udara milik Sky, Arkan mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Jalur energinya berdenyut panas saat dia memicu fungsi pasif Akselerasi Pengondisian Fisik untuk mendobrak batasan normal tubuh manusianya.
BZZZZZZZZZT—BOOM!
Sebuah ledakan arus listrik berwarna biru tua yang sangat pekat dan liar meluap dari sekujur tubuh Arkan. Aliran listrik itu melonjak drastis, melewati batas 30% manusia normal, menembus angka 40%, 50%, hingga akhirnya stabil di angka 60% resonansi elemen petir murni. Seluruh tubuh manusia Arkan kini benar-benar diselimuti oleh pelindung kilat berbentuk sulur-sulur petir padat yang berderit dahsyat, memancarkan tekanan spiritual yang begitu tajam dan merusak. Udara di sekeliling Arkan bergetar hebat, melepaskan gelombang kejut yang membuat beberapa juri Kontraktor Agung di tribun VIP langsung berdiri dari kursi mereka dengan mata terbelalak horor. Murid kelas 1-A menembus 60% resonansi tanpa hancur adalah sesuatu yang melanggar hukum kedokteran spiritual bumi!
"Volt, selesaikan dalam satu gerakan bersih. Volt Drive!"
CRACK-BOOM!
Volt melesat maju bersamaan dengan gerakan instan dari tubuh Arkan. Kecepatan gerak mereka berdua yang sudah diperkuat oleh 60% elemen petir murni menciptakan ilusi visual berupa satu garis cahaya biru lurus yang membelah arena stadion dalam waktu kurang dari 0,5 detik. Kecepatan itu melampaui batas tangkap mata manusia biasa. Sebelum Raditya atau Bram sempat memproses apa yang terjadi di dalam zona hampa udara mereka, Volt sudah bermanifestasi di tengah-tengah pertahanan mereka. Cakar petir raksasa Volt menghantam telak dada Badak Besi Level 12, sementara di sisi lain, kepalan tangan kanan Arkan yang berbalut kilat murni mendarat telak di rahang kokoh Raditya yang dilapisi armor batu granit.
DAR-DAR-AN!
Ledakan energi petir berskala besar meletus di titik kontak, memicu suara dentuman hidrolik yang memekakkan telinga. Arus listrik 60% milik Arkan menghancurkan lapisan batu pertahanan Raditya berkeping-keping hingga menjadi debu. Di saat yang sama, cakar Volt meremukkan armor besi milik badak Bram. Tubuh Raditya, Bram, beserta kedua Astra besar mereka langsung terpental gila-gilaan seperti boneka kain sejauh 20 meter ke belakang. Mereka menghantam dinding pembatas beton arena hingga retak parah sepanjang 5 meter, sebelum akhirnya keempatnya jatuh terjerembab ke tanah dan langsung pingsan secara bersamaan dengan mata mendelik ke atas, kehilangan kesadaran total akibat syok sistem saraf dari elemen petir.
Pertandingan pertama Blok A dinyatakan selesai oleh sistem digital stadion.
[ Pemenang Match 1: Tim Arkan & Sky. Durasi: 2,8 Detik. Poin Diperoleh: 100 Poin Sempurna! ]
Seluruh stadion besar berkapasitas 50.000 orang itu mendadak sunyi senyap seperti kuburan kuno di tengah malam. Tidak ada teriakan, tidak ada tepuk tangan; yang ada hanyalah puluhan ribu pasang mata yang menatap arena dengan mulut ternganga lebar. Kevin yang sedang menonton dari tribun khusus peserta langsung menjatuhkan botol minum plastiknya ke lantai hingga isinya tumpah, wajahnya pucat pasi bagai mayat menyaksikan kecepatan yang tidak masuk akal tersebut.
Di tribun faksi Flamewing, Ignis mencencang pembatas besi tribun hingga remuk berderit, sepasang mata merahnya menatap penuh murka sekaligus rasa tidak percaya yang mendalam ke arah Arkan yang berdiri tegak di tengah sisa kepulan asap hitam berbau ozon.
Di atas tribun tertinggi yang melayang, Grandmaster Joshua—sang Kontraktor Nirwana—memiringkan kepalanya sedikit. Sepasang matanya yang sedalam lautan bintang menatap lurus ke arah Arkan. Seulas senyuman tipis yang penuh dengan rasa ketertarikan yang amat mendalam akhirnya terukir di wajah tenangnya.
"Menarik... Sangat menarik," ucap Grandmaster Joshua dengan nada suara rendah yang entah bagaimana bisa terdengar jelas di telinga Marsekal Wirya di sebelahnya. "Seorang anak muda di tingkat awal yang mampu menahan dan mengalirkan enam puluh persen elemen petir liar di dalam tubuh manusianya tanpa mengalami kerusakan jaringan saraf atau serangan balik spiritual sedikit pun. Dia bahkan menggunakannya untuk mempercepat transmisi sinapsis otaknya. Marsekal Wirya, tampaknya akademimu di Indonesia tahun ini kedatangan sebuah anomali yang sangat besar."
Marsekal Wirya hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah yang ikut serius, matanya tidak lepas dari sosok Arkan yang kini sedang mengusap kepala besar Volt dengan santai di bawah siraman cahaya matahari.
Di tengah arena yang perlahan-lahan mulai kembali bergemuruh oleh teriakan histeris dan tepuk tangan riuh dari para penonton yang baru saja tersadar dari rasa syok mereka, Arkan melepaskan lapisan listrik biru di tubuhnya dengan ekspresi kasual. Volt mengeluarkan sebuah lolongan rendah yang sarat akan dominasi, menggetarkan nyali setiap Astra yang berada di dalam radius stadion tersebut.
Hari ke-1 turnamen baru saja mengetuk palu pembuka, namun Duo Badai Petir dan Angin ini telah resmi menancapkan taring menakutkan mereka ke dalam benak semua orang. Mereka telah membuktikan kepada seluruh petinggi dunia yang hadir bahwa mereka datang ke turnamen ini bukan untuk sekadar ikut berpartisipasi atau mencari pengalaman, melainkan untuk membantai dan meremukkan siapa saja yang berani berdiri menghalangi langkah maju mereka.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!