Aku pikir bekerja keras demi keluarga adalah bentuk cinta terbesar yang bisa kuberikan.
Setiap hari aku berangkat sebelum matahari terbit dan pulang saat langit telah gelap. Semua kulakukan agar suamiku hidup nyaman dan masa depan keluarga kami terjamin. Aku menahan lelah, mengubur keinginan pribadi, bahkan mengorbankan waktu bersama orang yang paling kucintai.
Namun, pengorbananku ternyata tidak dihargai.
Di saat aku sibuk bekerja dan berjuang untuk kami, suamiku justru sibuk memberikan perhatian, waktu, dan cintanya kepada wanita lain. Pengkhianatan itu menghancurkan kepercayaan yang telah kubangun selama bertahun-tahun.
Yang lebih menyakitkan, wanita itu bukanlah orang asing.
Saat rahasia demi rahasia mulai terungkap, aku dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan yang telah retak atau meninggalkan pria yang pernah menjadi seluruh duniaku.
Mampukah cinta bertahan setelah dikhianati? Atau ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh?
"Aku Sibuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11 pesan manis
Malam sudah cukup larut ketika Nadia akhirnya tiba di apartemen.
Langkahnya terasa berat sejak keluar dari pusat perbelanjaan. Kepalanya dipenuhi begitu banyak pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas bayangan kalung berinisial BA itu muncul di pikirannya.
Saat pintu apartemen terbuka, Nadia sedikit terkejut.
Aroma makanan hangat langsung menyambutnya.
Lampu ruang makan menyala terang. Di atas meja sudah tersusun beberapa hidangan sederhana yang masih mengepulkan uap panas.
Dan Adrian berada di sana.
Masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan yang digulung hingga siku sambil meletakkan piring terakhir ke atas meja.
"Nadia?"
Pria itu menoleh.
"Kamu baru pulang."
Untuk sesaat Nadia hanya berdiri di ambang pintu.
Pemandangan itu terasa begitu kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
"Aku masak sedikit."
Adrian menarik kursi untuknya.
"Kebetulan pulang lebih cepat."
Nada suaranya terdengar biasa.
Wajah yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun. Wajah yang dulu selalu mampu membuatnya merasa tenang.
Namun malam ini justru membuat dadanya semakin sesak.
"Kamu kelihatan capek."
Adrian memperhatikan Nadia yang masih berdiri diam.
Nadia tersenyum tipis.
"Aku memang capek."
Bukan karena pekerjaan. Bukan karena aktivitas hari itu. Melainkan karena pikirannya sendiri.
Karena semakin banyak hal yang tidak lagi bisa ia pahami.
Mereka akhirnya duduk berhadapan. Suasana terasa canggung.
Sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terjadi di antara mereka.
Adrian sesekali mencoba mengajak berbicara mengenai pekerjaan dan kegiatan kantor. Namun Nadia hanya menjawab seperlunya. Pikirannya masih berada di butik Dior. Masih berada pada inisial BA.
Masih berada pada kemungkinan yang tidak ingin ia percayai.
Tiba-tiba Nadia meletakkan sendoknya.
Gerakan itu membuat Adrian mengangkat wajah.
"Ada apa?"
Nadia menarik napas panjang.
Lalu mengucapkan sesuatu yang bahkan tidak sempat ia rencanakan sebelumnya.
"Aku ingin istirahat."
Adrian mengernyit.
"Istirahat?"
"Dari pekerjaan yang terlalu berat."
Nadia menatap suaminya.
"Aku juga ingin mulai program hamil lagi."
Kalimat itu membuat Adrian langsung terdiam.
Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang jelas.
Ia tidak menyangka akan mendengar hal tersebut malam ini.
Terlebih setelah keguguran yang mereka alami bulan lalu.
Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.
Adrian tampak berpikir.
Kemudian ia menghela napas perlahan.
"Nad..."
Suaranya terdengar hati-hati.
"Apa nggak terlalu cepat?"
Nadia memandangnya.
"Kenapa?"
"Kondisi kamu baru pulih."
Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kamu juga kerja terus."
"Aku nggak mau kamu terlalu memaksakan diri."
Untuk pertama kalinya malam itu Nadia melihat kekhawatiran yang tulus di mata suaminya.
Namun anehnya, hal itu tidak membuat hatinya lebih tenang.
Karena jauh di dalam dirinya muncul pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan.
Apakah Adrian benar-benar khawatir pada kesehatannya.
Atau ada alasan lain mengapa pria itu tidak menginginkan rencana tersebut sekarang.
"Aku baik-baik saja."
Nadia menjawab pelan.
"Aku sudah konsultasi."
Sebagian lagi hanya alasan agar percakapan itu berlanjut.
Di bawah cahaya lampu ruang makan, mereka duduk saling berhadapan, masih sebagai suami dan istri.
Masih mengenakan cincin pernikahan yang sama.
Masih tinggal di rumah yang sama.
Namun untuk pertama kalinya, Nadia merasa ada jarak yang begitu jauh di antara mereka.
Dan malam itu, saat Adrian mencoba membicarakan kesehatan dan waktu yang tepat, Nadia justru memikirkan satu hal lain.
Jika suaminya masih mencintainya seperti dulu...
Mengapa ia merasa semakin kehilangan pria yang sedang duduk di hadapannya itu?
Adrian memperhatikan Nadia yang sejak tadi terlihat lebih banyak diam.
Wanita itu memang menjawab setiap pertanyaannya, namun ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya sering kosong, seolah pikirannya berada di tempat lain meski tubuhnya duduk di hadapannya.
Setelah beberapa saat, Adrian meletakkan gelasnya perlahan.
"Nad."
Nadia mengangkat wajah.
"Hm?"
Pria itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Kamu habis dari rumah Ayah dan Ibu kemarin."
Nadia tidak menjawab.
Namun tatapannya sudah cukup menunjukkan bahwa ia mengerti arah pembicaraan tersebut.
"Aku tahu Ibu pasti ngomong macam-macam."
Nada suara Adrian terdengar lelah.
"Bukannya aku membela beliau, tapi kadang Ibu memang suka berlebihan."
Nadia menunduk memandangi piring di depannya.
Ia teringat setiap ucapan ibu mertuanya, tentang wanita yang dikira dirinya, tentang hadiah-hadiah mewah.
Tentang perhatian yang selama ini tidak pernah ia rasakan. Hal-hal yang awalnya terdengar seperti kesalahpahaman kini justru terasa semakin masuk akal.
"Kamu nggak perlu terlalu memikirkan ucapan Ibu."
Adrian melanjutkan.
"Terkadang beliau suka menyimpulkan sesuatu dari cerita orang lain."
Pria itu berusaha terdengar santai.
Seolah semua yang dikatakan ibunya hanyalah gosip yang tidak perlu dipercaya.
Padahal jauh di dalam dirinya, Adrian tahu kenyataan yang sesungguhnya.
Ia tahu dari mana semua cerita itu berasal.
Ia tahu siapa wanita yang dilihat teman-teman ibunya.
Ia tahu mengapa ibunya bisa mengira wanita tersebut adalah Nadia.
Karena selama ini ia sendiri yang membiarkan semuanya terjadi.
Nadia mengangkat pandangannya perlahan.
"Apa menurutmu semua itu hanya salah paham?"
Pertanyaan itu membuat Adrian membeku sesaat.
Hanya sesaat.
Namun cukup untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Aku rasa begitu."
Jawaban itu keluar dengan tenang.
Terlalu tenang.
Seolah sudah dipersiapkan sebelumnya. Nadia memperhatikan wajah suaminya.
Namun Adrian sudah terlalu terbiasa menyembunyikan apa yang ia pikirkan.
Ekspresinya tetap tenang, tetap terlihat meyakinkan.
Seperti seorang pengacara yang sedang menyampaikan argumen terbaiknya.
"Aku cuma nggak mau kamu terbebani."
Adrian melanjutkan sambil meraih tangan Nadia di atas meja.
Sentuhan yang dulu selalu membuat Nadia merasa nyaman.
Namun malam ini terasa berbeda.
"Akhir-akhir ini kamu sudah banyak pikiran."
"Masalah pekerjaan."
"Masalah keluarga."
"Kita juga masih berusaha pulih setelah kehilangan kemarin."
Nadia menatap tangan mereka yang saling bersentuhan.
Beberapa bulan lalu ia mungkin akan langsung mempercayai semua yang diucapkan Adrian.
Mungkin akan mengangguk dan melupakan semuanya.
Namun sekarang, setelah begitu banyak kejanggalan yang muncul satu demi satu, kepercayaan itu tidak lagi datang semudah dulu.
Ia ingin percaya.
Sungguh ingin.
Karena mempercayai Adrian jauh lebih mudah daripada menerima kemungkinan bahwa pria yang dicintainya sedang berbohong.
Namun semakin ia mencoba mempercayainya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di dalam kepalanya.
Sementara itu Adrian menggenggam tangan istrinya sedikit lebih erat.
Berusaha menenangkan Nadia.
Berusaha membuat wanita itu berhenti menggali lebih jauh.
Karena ada satu hal yang tidak diketahui Nadia.
Semua yang sedang ia khawatirkan bukanlah sesuatu yang muncul dari ucapan ibunya.
Melainkan dari tindakan Adrian sendiri yang perlahan mulai menciptakan kebohongan-kebohongan yang semakin sulit disembunyikan.
Malam itu apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya.
Setelah makan malam selesai, Adrian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Suara air yang mengalir terdengar samar dari balik pintu kamar mandi, sementara Nadia masih duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang terasa lelah.
Bukan lelah karena pekerjaan.
Melainkan lelah karena pikirannya sendiri.
Lelah karena terus mencoba memahami hal-hal yang semakin sulit dijelaskan.
Di atas nakas, ponsel Adrian tiba-tiba bergetar.
Layar menyala sesaat.
Nadia sebenarnya tidak berniat memperhatikan.
Namun nama pengirim tidak tersimpan.
Dan isi pesan itu muncul begitu saja di layar.
"Terima kasih atas hadiahnya. Aku sangat menyukainya."
Diikuti emoji hati kecil di akhir kalimat.
Tubuh Nadia langsung membeku.
Tangannya yang semula sedang merapikan selimut perlahan berhenti bergerak.
Darah di wajahnya seakan menghilang dalam sekejap.
Selama ini ia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua hanya kebetulan, bahwa mungkin ia terlalu curiga.
Bahwa mungkin ada penjelasan lain yang belum ia ketahui.
Namun pesan itu terasa seperti pukulan yang menghancurkan semua harapan kecil yang masih tersisa.
Nadia memejamkan mata perlahan.
Tiba-tiba ia teringat dirinya yang menghabiskan waktu berjam-jam menyiapkan anniversary mereka.
Mengingat dirinya yang menunggu hingga tertidur di sofa.
Mengingat dirinya yang masih mencoba memperbaiki hubungan mereka.
Mengingat dirinya yang baru saja mengatakan ingin kembali menjalani program hamil.
Sementara di saat yang sama...
Suaminya ternyata sedang memberikan hadiah kepada wanita lain.
Karena rasa sedih yang ia rasakan saat ini jauh lebih besar daripada air mata.
Ini adalah rasa kecewa yang begitu dalam hingga,
Adrian keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Pria itu tersenyum kecil saat melihat Nadia masih duduk di ranjang.
Namun Nadia hanya membalas dengan senyum
Tidak menyadari bahwa hanya beberapa menit lalu, sebuah pesan singkat telah meruntuhkan sedikit lagi kepercayaan yang tersisa di hati istrinya.
Dan saat Nadia memandang pria itu malam itu, untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Bukan lagi apakah Adrian menyembunyikan sesuatu.
Melainkan seberapa lama suaminya telah membohonginya.
coba ada yg kasih klarifikasi tentang gosip di kantornya Nadia, paling ngga namanya bersih sebelum dia pindah