Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Salindra memberitahu kakaknya kalau hari ini akan pulang malam. Ia mengabari lewat chat. Salindra mengeluh capek karena baru pertama kerja sudah di suruh mengejakan beberapa laporan dan membahas kontrak kerja dengan beberapa klien.
Tugas sekretaris tidaklah sedikit dan bisa menguras tenaga dan pikiran. Kepala Salindra berdenyut, tangannya bergetar saat menulis, ia lupa belum makan sejak makan siang. Saat Salindra akan ke luar, seseorang berdiri di depan pintu memberikan sebuah bungkusan.
Salindra belum sempat mengucapkan terimakasih, orang itu langsung pergi tanpa sepatah katapun berjalan dengan cepat. Ia masuk kembali dan menutup pintu rapat. Entah kenapa sejak siang itu Salindra merasa diperhatikan oleh seseorang dan ia tidak tahu siapa. Salindra segera membuka dan melihat isi dalam bungkusan tersebut.
Mata Salindra melebar dan hatinya sangat terkejut melihat isi bungkusan yang berisi makanan yang sama persis saat makan siang di restauran tadi bersama Bos Haikal dan Asisten Rayan. Salindra berpikir bahwa makanan ini pemberian bosnya atau Asisten Rayan. Tapi, ada yang membuat hatinya meragukan kalau mereka bukan yang memberikannya.
Kepala sudah sakit dan tenggorokannya kering, apalagi perutnya meminta segera diisi. Salindra menelan air ludah dengan susah melihat makanan di depannya segera memakannya dengan lahap. Senyumnya sangat lebar, hatinya sangat senang. Begitu selesai ia membuang bungkus makanan tersebut ke tempat sampah. Kemudian melanjutkan mengerjakan pekerjaannya.
"Alhamdulillaah kenyang sekali, jadi semangat lemburnya," katanya dengan semangat.
Salindra masih kepikiran dengan orang yang sudah memberi makanan kepadanya. Ia mengambil ponsel dan ingin mencari nomor kontak Bosnya dan Asisten Rayan tapi tidak ada, ia teringat belum mempunyai nomor ponsel Haikal dan Asisten Rayan.
"Kenapa aku tidak minta nomor ponsel pak Haikal dan Asisten Rayan, kalau begini mana aku bisa tahu ada perintah dari mereka, kenapa aku jadi seperti orang bodoh kalau sudah bersemangat jadi lupa hal yang sangat penting seperti ini," Salindra menggerutu kesal pada dirinya sendiri.
Salindra bertanya pada dirinya sendiri mencari jawaban sendiri, hampir mirip orang gila. Ia mengingat orang yang mengenalnya menyukai makanan tersebut sayangnya, tidak menemukan siapa orangnya. Ia hanya mengenal dua pria tersebut di sini ketika makan bersama mereka. Kembali pikirannya kepada teman dekatnya, bagaimana mungkin Hafsah mengirimkan makanan kemari, dia saja tidak tahu makanan kesukaan Salindra.
Salindra merasa waktunya terbuang memikirkan makanan yang sudah habis. Ia pun kembali konsentrasi pada pekerjaannya dan segera menyelesaikannya, kemudian pulang dan beristirahat dengan tenang.
Waktu menunjukkan pukul delapan. malam, Salindra menguap sambil merenggangkan kedua tangannya, kemudian merapikan meja kerjanya dan berjalan meninggalkan ruangan. Lorong ruangan itu nampak sepi tidak ada karyawan yang bekerja sampai jam malam kecuali bagian yang lembur saja. Malam itu hanya dirinya dan salah satu OB yang bekerja shift malam.
Salindra berjalan menuju lantai dasar menggunakan lift seorang diri. Saat pintu lift terbuka ia terkejut melihat seorang pria masuk di samping lift sebelah. Salindra tidak berani menyapa hanya melihat sekilas kemudian berjalan dengan cepat menuju pintu keluar. Jantungnya berdegup sangat cepat, sesekali menoleh ke belakang memastikan kalau ada orang masuk ke dalam lift.
Pintu lift sebelah tertutup jantung Salindra, akhirnya bernapas lega, yang membuatnya heran adalah cara berpakaian orang tersebut membuat hatinya bertanya-tanya. Jika orang bekerja seharusnya memakai pakaian formal. Kalaupun lembur pasti ada tegur sapa sedangkan orang tersebut bukan bekerja tapi seperti...
Pikirnya Salindra tidak menentu ia berlari keluar mencari sesorang untuk diajak berbicara. Ia melihat Sekuriti sedang berjaga malam menghampirinya.
"Mbak Salindra lembur ya?" tanya Pak Sekuriti yang bekerja shift malam.
"Iy... Iya Pak," jawab Salindra sambil menetralkan degup jantungnya.
"Mbak, kenapa ketakutan begitu kayak lihat hantu saja?" tanya Pak Sekuriti.
"Mm... Itu tadi itu siapa ya, Pak?" tanya Salindra menunjuk seseorang yang di lihat waktu keluar dari lift.
Pak Sekuriti melihat ke arah dalam sambil menyalakan senter tidak melihat siapa-siapa tapi ia merasa tidak enak, kemudian berjalan ke dalam memastikan ada orang atau tidaknya. Salindra mengikuti dari belakang dengan perasaan takut.
“Pak, hati-hati. Takutnya ada pencuri masuk dan mengambil sesuatu di dalam sana," kata Salindra dengan suara berbisik.
"Mbak Salindra takut ya, kalau takut lebih baik, Mbak pulang saja," usir Pak Sekuriti.
"Bapak mengusir saya... Saya kan mau membantu Bapak menemukan orang itu, saya takut Bapak kenapa-kenapa," sahut Salindra, pandangannya menyapu seluruh ruangan yang gelap dan sepi.
Setelah lama mencari di lantai bawah, mereka berjalan menuju lift. Alangkah terkejut mereka melihat nomor lift tidak juga turun dan justru berhenti di nomor paling atas yaitu lantai ruang Direktur dan ruang sekretaris ruang kerja Saindra. Mereka curiga dan menduga memang ada orang di lantai paling atas.
Pak Sekuriti menghubungi Bosnya Haikal, namun tidak ada jawaban. Tangannya bergetar mencari kontak kedua yaitu Asistennya, sama halnya tidak ada sahutan. Mereka berdua Salindra dan Pak Sekuriti merasa ketakutan melihat adanya orang asing di dalam perusahaan milik Haikal.
Tiba-tiba lift kembali berjalan kali ini turun, mata mereka waspada dan berjaga-jaga. Mereka bersembunyi di balik dinding samping lift. Saat pintu lift terbuka seseorang berjalan keluar dengan santai sambil membawa sebuah map berwarna kuning dan amplop coklat di tangan kiri. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang melihatnya kemudian berjalan dengan cepat menuju pintu keluar, tapi naas pintu itu terkunci dan ia tidak bisa keluar.
"Sial, kenapa di kunci... Bagaimana kalau ada yang melihatku di sini bisa kacau rencanaku," katanya dengan suara keras.
Suara itu terdengar oleh Pak Sekuriti dan Salindra yang bersembunyi. Beberapa menit kemudian ponsel Pak Sekuriti berdering langsung diangkat takut terdengar orang yang berdiri di pintu depan.
Nama Haikal terpampang di layar ponsel. "Selamat malam, Pak Haikal. Maaf mengganggu waktu istirahat anda_"
"Katakan ada apa, malam-malam menghubungi saya," sahut Haikal mendengar suara Sekuriti, merasa heran.
"Di kantor bapak ada seseorang masuk sepertinya ke dalam ruangan anda... Maaf saya tidak bisa menjelaskan dengan lengkap takutnya orangnya keburu kabur," kata Pak Sekuriti dengan suara kecil pandangannya tertuju orang berdiri di belakang pintu.
“Baik, aku segera ke sana, kamu tetap di sana dan awasi terus orang itu jangan sampai lepas," perintah Haikal kemudian mematikan panggilan.
Salindra dan Pak Sekuriti mengawasi orang tersebut. Sedangkan orang itu sedang memikirkan cara keluar dari tempat itu. Ia berjalan ke arah lain yaitu pintu belakang dengan langkah cepat. Salindra dan Pak Sekuriti mengikuti dari jarak aman agar tidak diketahui oleh orang itu.
Beberapa menit kemudian mobil Haikal berhenti di luar kantor, Haikal keluar dan turun dari mobil lalu berjalan dengan cepat mencari Pak Sekuriti. Saat ia akan masuk pintu terkunci, akhirnya ia mencari jalan lain untuk masuk ke dalam perusahaan.
Di tempat paling ujung seorang pria sedang berusaha menjebol sebuah pintu keluar yang terkunci dengan sekuat tenaga, beberapa kali ia menggunakan kekuatannya tidak bisa. Ia mencari alat untuk membuka pintu tersebut, akhirnya melihat sebuah besi panjang di sudut ruangan tepatnya di samping pintu darurat. Ia ambil lalu digunakan untuk membuka pintu tersebut.
Brakk