NovelToon NovelToon
Residu Ingatan

Residu Ingatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Time Travel
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: yopoyoi

Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.

Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.

Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?


Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Untuk Mengubah Takdir

"Mikirin apaan sih lu, dari tadi ngelamun mulu!"

Suara berat Tami ternyata tak mampu memecah lamunan Arinta.

"Woi!" Tami menyenggol lengan Arinta pelan.

Arinta hanya celingukan tanpa menyahut.

"Mikirin apa sih?" tanya Tama.

Arinta menghembuskan napas pelan.

Tama dan Tami hanya bertukar pandang, tak paham. Padahal sore itu Arinta ke sana untuk menjemput mereka berdua. Harusnya, dia memasang wajah senang dong.

"Arinta? Mau sampai kapan diem di situ?" kali ini suara Miza yang menginterupsi.

Si kembar ikut menatap Arinta, yang ternyata mulai bergerak keluar ruangan rumah sakit itu.

Saat di dalam mobil pun, Arinta tak bersuara sama sekali.

"Kalian biasanya tidur di mana?" tanya Miza pada si kembar.

Si kembar yang duduk di belakang hanya saling senggol, bingung mau jawab apa.

"Besok pagi saya anter kalian ke panti asuhan ya? Malam ini kalian nginep dulu aja," ucap Miza lagi.

Si kembar tidak kaget sama sekali—bersyukur malah. Lagian, masa iya mereka harus selamanya numpang di rumah orang. Eh? Tidak selamanya juga sih.

"Iya, Om," ucap si kembar bersamaan.

"Kenapa sih, Ta? Diem aja dari tadi," Miza akhirnya menyadari perubahan sikap sang adik.

Arinta hanya menggeleng.

"Nanti aku, Tama, sama Arinta boleh ngobrol bertiga doang kan, Om? Ada yang mau diomongin soalnya," tanya Tama.

Miza melirik Arinta mencari persetujuan.

"Boleh kalau orangnya mau," jawabnya singkat.

Sementara itu, pikiran Arinta masih melayang pada percakapannya tadi siang dengan Andre.

"Lebih tepatnya, gara-gara lu."

"Kok gara-gara gua?" tanya Arinta, tak terima.

"Ini lu lagi pura-pura nggak tahu?"

"Gua beneran nggak tahu, Ndre."

"Lu. Dijadiin. Bahan. Taruhan," ucap Andre, penuh penekanan dalam setiap kata.

"Apa sih? Ngomongnya yang bener gitu, loh."

"Waktu itu aku sama Deri taruhan. Duel basket antar temen-temenku sama temen-temen dia. Ini kejadiannya sebelum dia pacaran sama lu."

"Terus? Yang menang jadi pacar gua gitu?" tanya Arinta, nada suaranya mulai tinggi.

"Ya bisa dibilang gitu. Tapi bukan cuma itu aja perjanjian taruhannya."

Astaga naga... Sepertinya Arinta sedang masuk ke novel fiksi ala-ala cewek introvert yang jadi rebutan cowok-cowok keren di sekolah. Arinta hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Karena Deri yang menang, berarti gua harus ngikutin apa mau dia. Dan mau dia itu, gua nggak boleh interaksi apa pun sama lu," jelas Andre.

"Makanya Deri semarah itu? Tapi, kalau dia udah dateng ke sini tadi pagi, berarti ada yang lebih dulu ngasih tahu dia dong?" tanya Arinta lagi.

Andre berdecak.

"Kayaknya lu beneran amnesia, deh. Deri itu anak ambis di segala hal. Apa yang dia mau, harus dia dapetin. Mungkin faktor dimanja sama keluarga sultannya. Itu juga yang ngebuat anak-anak kalangan bawah cari perhatian ke dia—ya karena butuh koneksi orang berada. Mungkin kemarin kebetulan aja ada anak kesayangannya yang lihat kita."

"Terus? Kan lu yang suka sama gua duluan. Kenapa dia bisa ikut-ikutan?" tanya Arinta.

"Ya karena lu sukanya sama dia. Simpel."

"Tapi kan, bukan gua yang ngajakin dia pacaran!" bantah Arinta.

"Ya nggak tahu. Itu urusan dia sama lu."

"Lu masih utang cerita sama gua. Lu nggak mau cerita sekarang?"

Andre terlihat berpikir sejenak.

"Yang penyebab gua musuhan sama pacar lu itu?"

"Mantan," sela Arinta, mempertegas statusnya.

"Oke, mantan," ucap Andre, penuh penekanan.

"Cuma gara-gara masalah sepele sih sebenarnya. Padahal dia yang kalah, tapi dia yang marah."

"Gua murid pindahan, di pertengahan kelas 10. Ada satu waktu, pertama kali gua masuk eskul basket, gua berhasil ngalahin dia."

"Dia marah?" tanya Arinta.

"Jelas marah dong. Dia ngerasa posisinya direbut sama anak miskin kayak gua. Mulai dari situ dia ngasih benteng permusuhan. Guanya juga sih yang nggak mau diperbudak sama dia. Makanya, dia sebenci itu. Dia bilang, ‘anak miskin tuh harusnya nurut.’ Haha… Anak manja kan nggak bisa dibantah sama sekali, jadinya cari pembenaran aja terus," suara tawa Andre sarat akan kepedihan.

"Deri itu perundung? Tapi kan dia pinter, terkenal, udah pasti semua guru kenal dia—"

"Alah. Pintar nggak menjamin dia jadi SDM yang berkualitas," potong Andre.

"Tunggu… Tadi katanya lu jago basket, tapi waktu taruhan lu kalah?"

Andre membuang napas kasar.

"Bisa ganti topik aja nggak sih? Capek banget ngomongin dia mulu."

"Jawab dulu!"

"Dia main curanglah, apalagi?!"

"Gua nggak tahu pasti itu ulah siapa. Tapi sebelum gua tanding, kaki gua keseleo gara-gara keserempet motor."

Tanpa sadar, Arinta mengacak rambutnya frustrasi.

"Brengsek banget sih dia!" gumamnya.

"Udah? Udah ilang penasarannya? Atau udah sadar kalau lu itu bego?" tanya Andre.

"Tadi itu bukan cuma karangan lu aja kan? Lu nggak bohong kan?"

"Hah… Masih bego juga ternyata. Terserah lu lah. Gua mau masuk, ganti baju, bersih-bersih. Dah…" Andre beranjak dengan kaki pincangnya, tanpa mempedulikan seruan Arinta.

---

"Ta? Masih belum mau cerita?" tanya Tami.

Sepertinya Arinta sudah melamun terlalu lama sampai ia tidak sadar kalau mereka sudah sampai rumah, dengan si kembar menatapnya heran.

Arinta menatap sekeliling. Mereka ada di ruang tamu, tapi ia tidak menemukan keberadaan Miza.

"Bang Miza mana?" tanya Arinta.

"Tadi udah ke kamar. Kita yang minta ditinggal bertiga, soalnya mau ada yang diomongin," ucap Tama.

"Oh… Mau ngomongin apa?" tanya Arinta polos.

"Lu sakit kah, Ta? Atau kesambet?" tanya Tami.

"Enggak. Kenapa?" Arinta balik bertanya.

"Kayaknya dia terlalu mendalami peran, Mi," bisik Tama.

"Apa sih? Mau ngapain pada ngeliatin begitu?" tanya Arinta risih.

"Katanya ini sebelum kejadian itu. Kejadian itu-nya yang lu maksud tuh apa? Lu belum cerita sama sekali!" ucap Tami tak sabaran.

Arinta menepuk jidatnya. Saking fokusnya dengan permasalahan "Arinta Syafira," dia sampai lupa dengan tujuan utamanya.

"Kecelakaan pesawat disekitar bandara Sepinggan di 2004."

"Ini tentang itu," jelas Arinta akhirnya.

"Kenapa? Siapa yang jadi korban? Kita harus cari siapa di sini?" tanya Tama antusias.

"Itu kecelakaan pesawat yang makan banyak korban itu kan?" tanya Tami tak kalah antusias.

"Yaps. Betul. Kakak pertama gua, Farabi namanya, meninggal pas kejadian itu. Jasadnya nggak pernah ditemukan sampai sekarang."

"Ciri-ciri fisiknya? Kali aja kita berdua bisa bantu cari dan bilang jangan pergi!" ucap Tami bersemangat.

"Itu masalahnya. Kakak gua masih kecil pas tragedi, masih empat tahun."

"Lah? Kok bocil bisa ke bandara sendiri?!" Ekspresi Tama begitu terkejut mendengarnya.

"Enggak sendiri, woi! Sama ibu, berdua. Yang selamat cuma ibu, kakak gua nggak."

"Dan setelah kejadian itu, keluarga gua diselimutin sama penyesalan. Bahkan dua tahun setelah kejadian, tepatnya pas gua lahir, ibu malah pergi nyusul Bang Fara. Mungkin saking nggak sanggupnya—dari segi fisik dan psikis. Orangtua gua mikir, mungkin dengan nambah anak bisa ngobatin rasa bersalahnya, tapi ternyata nggak. Keluarga gua malah kehilangan satu nyawa lagi, nyawa ibu."

"Yang berakhir, gua sama Bang Ari dibesarin sama ayah dengan bayang-bayang rasa sakit, trauma, penyesalan."

"Dan asal kalian tahu, ayah masih bisa nerima dan terbuka sama Bang Ari, tapi nggak dengan gua. Entah kenapa, ayah kayak bikin sekat transparan buat gua. Sampai ajal ngejemput beliau pun, gua masih belum dapet lampu hijau dari ayah."

"Waktu itu yang pergi ke Sepinggan Balikpapan cuma ibu sama Bang Fara? Terus ayah sama Bang Ari?" tanya Tami.

"Bang Ari waktu itu masih dua tahun, lagi sering tantrum, atau mungkin dia emang udah punya firasat. Bahkan, dia sampai demam. Tapi caranya itu nggak berhasil nyegah ibu buat pergi. Ibu tetep mau nemuin saudaranya yang di Balikpapan itu. Fyi, ibu gua emang orang asli Balikpapan."

"Jadi karena itu? Karena itu orangtua lu nyesel setengah mampus? Sampai ngorbanin kehidupan anak-anaknya yang lain?" tanya Tama, sedikit tersulut emosi.

Arinta tidak membantah, tapi tidak juga mengiakan.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!