Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karma yang Sempurna
Malam harinya, hujan deras mengguyur kota, menciptakan suasana dingin yang mencekam. Di sebuah rumah kontrakan sempit di pinggiran kota—tempat yang dulu pernah menjadi saksi bisu perjuangan Keyra dan Arkan—suasananya tampak begitu suram. Arkan duduk di atas lantai semen tanpa alas, menatap kosong ke arah langit-langit bocor yang meneteskan air ke dalam ember plastik.
Pria itu kini benar-benar hancur. Setelah didepak secara tidak hormat dari jabatan CEO, seluruh asetnya dibekukan. Rumah mewah yang baru ia cicil, mobil sport yang baru ia pamerkan, hingga seluruh kartu kreditnya telah disita oleh pihak bank untuk menutupi kerugian perusahaan keluarga Mentari. Tidak ada satu pun teman, rekan bisnis, atau investor yang mau mengangkat teleponnya. Arkan kembali menjadi pria miskin, persis seperti tiga tahun lalu saat Keyra pertama kali menemukannya di jalanan.
"Kenapa... kenapa nasibku harus seperti ini?" bisik Arkan dengan suara serak, tangannya menjambak rambutnya sendiri hingga berantakan. Rasa penyesalan yang teramat sangat mulai menggerogoti dadanya bagai racun yang mematikan.
Tiba-tiba, pintu kontrakan kayu yang rapuh itu digedor dengan sangat kasar dari luar.
Brak! Brak! Brak!
"Arkan! Keluar kamu, bajingan pecundang!" teriakan itu terdengar akrab, namun penuh dengan nada kebencian yang mendalam.
Arkan tersentak. Dengan tubuh yang lemas dan pakaian yang belum diganti sejak kemarin, ia berjalan perlahan untuk membuka pintu. Begitu grendel pintu digeser, sosok ibu dari Mentari—wanita paruh baya yang dulu selalu memujinya setinggi langit—berdiri di bawah payung dengan wajah merah padam karena amarah. Di belakangnya, tampak dua orang pria berbadan kekar berseragam polisi.
"T-Tante? Ada apa ini?" tanya Arkan dengan suara gemetar karena ketakutan.
"Jangan panggil aku Tante, pria sialan!" bentak ibu Mentari sembari menunjuk wajah Arkan dengan jarinya yang dihiasi cincin permata. "Gara-gara kamu yang tidak tahu diri menyulut emosi Devan Alister, putriku Mentari sore tadi ditangkap polisi atas tuduhan pengancaman! Suamiku masuk rumah sakit, dan pabrik kami disegel! Semua ini karena kamu membawa sial ke dalam keluarga kami!"
Arkan menggelengkan kepalanya dengan panik, kemundurannya selangkah demi selangkah. "Ini bukan salah saya, Tante! Ini semua karena Keyra! Keyra yang menghasut Tuan Devan untuk menghancurkan kita!"
"Aku tidak peduli tentang pelayan toko kue itu! Yang aku tahu, kamu sudah menandatangani klausul kontrak ganti rugi saat menduduki jabatan CEO!" Ibu Mentari melempar selembar dokumen resmi yang langsung basah terkena percikan air hujan ke arah wajah Arkan. "Karena kamu dipecat atas kelalaian fatal merusak hubungan dengan Alister Group, kamu wajib membayar ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah kepada perusahaan kami! Dan karena kamu tidak punya uang sepeser pun, kami resmi melaporkanmu atas dugaan penipuan korporat!"
Mendengar nominal sepuluh miliar dan kata 'penipuan', seluruh persendian di tubuh Arkan mendadak lemas. "Sepuluh miliar? Tante, dari mana saya bisa mendapatkan uang sebanyak itu?! Tolong kasihanilah saya!"
"Kasihan? Pria miskin sepertimu tidak layak dikasihani!" Ibu Mentari membalikkan tubuhnya dan melirik ke arah dua petugas polisi. "Pak Polisi, silakan tangkap pria ini. Bawa dia dan pastikan dia membusuk di penjara!"
"Tidak! Tolong jangan tangkap saya! Saya tidak bersalah!" Arkan berteriak histeris saat kedua polisi bertubuh kekar itu maju, memiting kedua tangannya ke belakang punggung, dan memasangkan borgol besi yang dingin di pergelangan tangannya.
Tubuh Arkan diseret paksa keluar dari kontrakan melintasi jalanan tanah yang becek dan berlumpur. Piyama dan tubuhnya kini kotor terkena cipratan lumpur hitam. Di bawah guyuran hujan yang deras, Arkan menangis sejadi-jadinya, berlutut di atas tanah berlumpur sembari memohon, namun para petugas tidak memedulikan jeritannya. Wajah Keyra yang tersenyum penuh kemenangan kembali terbayang di ingatannya, membuat penyesalannya kini terasa seratus kali lipat lebih menyakitkan. Karma telah datang menjemputnya dengan cara yang paling sempurna.
Sementara itu, di lantai teratas gedung apartemen VVIP milik Devan Alister, suasananya berbanding terbalik 180 derajat. Ruangan itu terasa sangat hangat dengan pencahayaan temaram yang mewah dan alunan musik klasik yang lembut. Dari dinding kaca yang menjulang tinggi, seluruh pemandangan gemerlap lampu kota di bawah guyuran hujan malam terlihat begitu indah.
Keyra berdiri di depan kaca besar tersebut, menggenggam segelas cokelat hangat dengan kedua tangannya. Ia mengenakan gaun tidur satin berwarna marun yang dipadukan dengan jubah panjang tipis yang elegan. Penampilannya malam ini memancarkan kecantikan seorang wanita dewasa yang matang dan penuh percaya diri.
Sebuah langkah kaki yang mantap terdengar mendekat dari arah belakang. Tanpa perlu menoleh, Keyra sudah tahu siapa pemilik langkah kaki tersebut dari aroma parfum maskulin khas kayu cendana yang menenangkan.
Devan Alister berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di belakang tubuh Keyra. Dengan gerakan yang sangat lembut namun posesif, Devan melingkarkan kedua lengan kekarnya di pinggang ramping Keyra, menarik tubuh wanita itu bersandar sepenuhnya pada dada bidangnya yang hangat.
"Leon baru saja memberiku laporan," bisik Devan, suara berat dan seksinya bergetar tepat di dekat telinga Keyra, membuat detak jantung Keyra mendadak berdesir cepat. "Mantan kekasihmu itu baru saja diseret oleh pihak kepolisian dari kontrakannya atas tuntutan ganti rugi sepuluh miliar dari keluarga Mentari. Malam ini, dia akan tidur di dalam sel tahanan yang dingin."
Keyra terdiam sejenak, menatap pantulan diri mereka berdua di kaca besar di hadapannya. Tidak ada lagi rasa sedih, tidak ada lagi rasa benci yang menggebu-gebu. Yang tersisa hanyalah rasa damai yang luar biasa. "Sepuluh miliar... Angka yang bahkan tidak akan pernah bisa dia bayangkan seumur hidupnya."
Keyra perlahan membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Devan, mendongak untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elang pria yang telah membalikkan takdir hidupnya itu. "Apakah menurutmu aku terlalu kejam, Devan?"
Devan menurunkan pandangannya, menatap bibir merah segar Keyra sebelum beralih mengunci tatapan mata wanita itu dengan binar yang teramat dalam. "Kejam? Tidak, Keyra. Kamu hanya memberikan apa yang pantas dia terima. Orang yang berani menginjak ketulusanmu tidak berhak mendapatkan akhir yang bahagia."
Tangan kanan Devan bergerak naik, jemari kokohnya perlahan membelai pipi lembut Keyra dengan penuh kasih sayang, sebuah perlakuan istimewa yang tidak pernah ia berikan pada wanita mana pun di dunia ini. "Sekarang, masa lalumu yang kelam sudah sepenuhnya selesai. Mulai detik ini, fokuslah pada masa depanmu. Fokuslah padaku."
Keyra tersenyum manis, mengulurkan kedua tangannya untuk merapikan kerah kemeja Devan yang sedikit terbuka. "Masa depanku... bersamamu?"
"Tentu saja," jawab Devan dengan nada mutlak tanpa bantahan. Wajah tampannya perlahan bergerak mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga hembusan napas hangatnya terasa di permukaan kulit Keyra. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Keyra. Kamu adalah ratu di dalam hidupku sekarang."
Malam itu, di bawah saksi bisu rintik hujan kota, Keyra tahu bahwa ia telah benar-benar terlahir kembali. Bukan lagi sebagai gadis toko kue yang lemah, melainkan sebagai wanita terhormat yang berdiri di samping penguasa tertinggi kota. Permainan balas dendamnya telah berakhir dengan kemenangan mutlak, dan lembaran hidup barunya yang penuh kemewahan bersama Devan Alister baru saja dimulai.