NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Bisik Di taman belakang

Setelah cukup lama mengobrol di ruang tamu, Kiara mengajak Baskara berjalan-jalan ke halaman belakang rumah yang sangat luas dan asri. Tempat itu adalah taman favorit Kiara sejak kecil, dipenuhi berbagai jenis bunga berwarna-warni, pepohonan rindang, dan rumput hijau yang terawat rapi. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma wangi bunga yang menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk kota dan jauh dari kepalsuan yang kini menjadi bagian dari hidup Kiara.

"Lama sudah aku tidak kesini Kiara, semakin indah saja tempatnya."Ucap Baskara mencairkan keheningan.

"Iya, Dimasa Tua ibuku, dia saat ini habiskan dengan merawat taman belakang, dia bilang merasa tenang kalau mengerjakan nya."

Di sudut taman itu, berdiri sebuah ayunan besar dari kayu jati yang kokoh, dengan bantalan empuk yang masih sama persis seperti dulu. Tempat ini menjadi saksi bisu ribuan cerita dan tawa mereka berdua di masa kanak-kanak. Kini, mereka duduk bersebelahan di sana, mengayun perlahan, menikmati keheningan yang hangat namun penuh makna.

Baskara menatap lurus ke depan, memandangi kolam kecil di tengah taman, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada wanita di sampingnya. Sejak tadi di ruang tamu, ketenangannya terus terusik oleh sorot mata Kiara. Di balik senyum manis yang dipaksakan itu, Baskara jelas melihat bayang-bayang kesedihan yang mendalam, sebuah beban berat yang disembunyikan rapat-rapat. Ia mengenal Kiara terlalu baik. Ia tahu persis kapan wanita itu benar-benar bahagia dan kapan ia hanya sedang berpura-pura demi menyenangkan orang lain.

"Kiara..." panggil Baskara pelan, Suaranya rendah dan lembut, namun cukup tegas untuk membuat Kiara menoleh. "Kita sudah saling kenal sejak kita masih balita, iya bukan? Kita sudah tumbuh bersama, berbagi mainan, berbagi cerita, sampai kita dewasa seperti sekarang."

"Aku tidak mengerti maksud mu Kara."

Baskara berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke manik mata Kiara, menembus jauh ke dalam jiwa wanita itu.

"Aku tidak butuh menjadi ahli untuk tahu kalau ada sesuatu yang salah. Di ruang tamu tadi, saat kamu tersenyum pada Ayah dan Ibumu... matamu tidak ikut tersenyum, Kiara. Ada kesedihan besar yang kamu simpan sendirian. Ada beban yang membuat bahumu terlihat berat sekali. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah... ada masalah di rumah tanggamu? Bersama Ferdi?"

Kiara terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menyangka Baskara begitu peka, begitu teliti melihat perubahannya. Rasa haru tiba-tiba menyeruak. Di saat suaminya sendiri menipunya habis-habisan, di saat sahabat yang ia percayai mengkhianatinya, justru orang lain yang sudah lama pergi bisa melihat kepedihannya hanya dengan sekilas pandang.

Kiara membuang muka, menatap bunga-bunga di depannya agar air matanya tidak jatuh. Ia menghela napas panjang, berusaha mengatur nada bicaranya agar terdengar wajar dan tenang. Ia ingin sekali bercerita, ingin sekali meluapkan segalanya, namun akal sehatnya menahannya. Belum waktunya. Ia belum boleh menunjukkan kelemahannya pada siapa pun sebelum rencananya matang sepenuhnya. Dan lagi, masalah ini adalah urusannya sendiri. Ia bertekad menyelesaikannya dengan tangannya sendiri, membalas setiap luka yang diterimanya.

"Aku... aku baik-baik saja sungguh, Kara," jawab Kiara pelan, berusaha tersenyum lagi, kali ini lebih lembut dan meyakinkan. "Mungkin kamu hanya berhalusinasi karena sudah lama tidak bertemu denganku. Tapi... Memang ada sedikit kesalahpahaman biasa saja di rumah. Sedikit masalah dengan Ferdi, tidak lebih. Namanya juga rumah tangga, pasti ada saja hal yang tidak selalu sama pendapat."

Kiara mengangguk meyakinkan, meski hatinya perih berbohong pada orang yang tulus padanya. "Tapi jangan khawatir. Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Aku sudah dewasa, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Masalah ini akan selesai nanti, aku janji. Kamu tidak perlu memikirkannya, ya?"

Baskara masih menatapnya ragu, jelas tidak sepenuhnya percaya, namun ia menghargai keinginan Kiara untuk tidak membahasnya lebih jauh. Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.

"Baiklah, kalau itu maumu. Aku tidak akan memaksa," ucap Baskara lembut, namun matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Tapi ingat satu hal, Kiara. Di sini, di taman ini... dan di mana pun kamu berada. Aku ada di sini. Kalau nanti masalah itu menjadi terlalu berat untuk kamu pikul sendirian, kalau kamu merasa tersesat atau terluka... jangan pernah ragu untuk memanggilku. Tidak peduli apa masalahnya, tidak peduli seberapa besar bahayanya. Aku akan datang. Dan aku akan selalu ada untukmu, sama seperti dulu aku selalu ada untuk melindungi mu dari anak-anak nakal di lingkungan ini."

Kalimat itu terucap begitu tulus, menyentuh relung hati Kiara yang paling dalam. Kiara hanya bisa mengangguk pelan, menahan tangis yang hampir tumpah. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan ini, kehadiran Baskara adalah satu-satunya kebenaran yang menenangkan hatinya.

"Terimakasih Kara, kamu selalu menjadi kebanggaan ku sejak kecil hingga sekarang, ah kara, kamu membuat ku terharu." Air mata haru itu hampir tumpah, Kiara dengan cepat mengelapnya, namun cahaya mata yang berkilau tidak bisa berbohong kalau ia ingin menangis.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!