NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

genggaman kelingking

Hubungan Serena dan Revan semakin hari semakin berubah. Yang dulunya penuh dengan tekanan, kini mulai berubah layak nya hubungan yang sehat. Revan juga mulai terbiasa mengontrol dirinya agar tidak mudah terbawa emosi.

Hari itu pusat perbelanjaan tampak ramai dari biasanya. Musik dari setiap toko bercampur menjadi satu, dan orang-orang berlalu lalang membawa tas belanjaan.

Serena dan Revan berjalan santai tanpa tujuan. Niat mereka ingin menghabiskan waktu, karena hari ini Serena libur dan Revan juga sedang free.

Revan berjalan di sisi serena sambil membawa paperbag di tangan kanan. Isinya barang-barang milik Serena yang awalnya hanya di lihat, tetapi pada akhirnya di beli juga. Tangan kiri nya di masukan ke dalam saku celana.

Mereka tertawa kecil ketika mencoba tester parfum yang baunya terlalu manis. Obrolan mereka ringan tentang dosen yang galak, tentang makanan di food court yang harganya semakin mahal.

Hingga sampainya di depan lift, antrian cukup panjang, ketika pintu lift terbuka. Ternyata ruangan di dalam cukup penuh.

Orang-orang berdesakan ingin turun ke lantai dasar.

Serena refleks melangkah mundur.

Revan langsung maju kedepan

Ia berdiri tepat di depan Serena, di sudut lift. Tubuhnya menghalangi, seolah menjaga agar tidak ada yang menyentuh Serena.

Satu tangan nya masih memegang paperbag, sementara tangan satu nya bertumpu di dinding lift. Menciptakan sedikit ruang untuk Serena di belakangnya.

Punggung kemeja hitam Revan tampak lebar, menutupi Serena dari keramaian di depannya. Hingga Serena dapat mencium aroma parfum Revan yang bersih dan sedikit maskulin.

Di dalam ruangan sempit itu, suara nafas orang-orang terdengar jelas.

Serena berdiri di belakang Revan dengan diam. Lalu dengan ragu tangan terangkat perlahan. Jari-jari nya mencari, lalu menemukan tangan Revan yang menggantung di sisi tubuh.

Ia tidak menggenggam seluruh tangan itu, ia hanya mengaitkan jarinya pada kelingking Revan, lalu menariknya pelan.

Seolah memberi isyarat: aku baik-baik saja.

Revan merasakan nya. Bahunya yang sejak tadi menegang karena desakan, kini mulai mengendur. Ia tidak menoleh, ia juga tidak mengatakan apa-apa. Hanya kelingking nya yang bergerak, mengaitkan balik jarinya Serena dengan erat. Seolah mengatakan: selama ada gue lo aman.

Ting.

Pintu lift terbuka. Orang-orang keluar secara bergantian.

Revan melangkah keluar sambil tetap membawa belanjaan. Serena mengikutinya dari belakang, dengan kepala sedikit menunduk tapi sudut bibirnya tersenyum.

Hari ini semua berjalan lancar. Banyak momen manis yang terjadi di antara mereka. Meskipun tidak melakukan sentuhan langsung seperti merangkul. pegangan tangan, atau ciuman. Tapi kehangatan tetap terasa di antara keduanya.

Saat di jalan menuju pulang. Revan menyetir mobil dengan satu tangan. Sudah menjadi kebiasaan nya.

Jalanan sore itu tidak terlalu macet. Lampu-lampu tiang jalan sudah mulai menyala di sepanjang jalan.

Sementara Serena duduk di kursi sebelah nya. Ia sibuk mengunyah kentang goreng nya dan menyeruput minuman bersoda nya.

"Enak?" tanya Revan tanpa menoleh, wajahnya fokus ke jalanan.

Serena mengangguk kecil "Enak" balas nya.

Lalu ia mengambil satu kentang dan menyodorkan ke arah Revan.

Revan melirik sekilas lalu membuka mulut nya.

Sesekali saus mengenai sudut bibir Serena.

Revan menyadarinya. Saat lampu sedang merah. Revan meraih tisu dari dasboard, lalu dengan hati-hati ia membersihkan noda kecil di bibir Serena.

Sudah lama Revan tidak melihat Serena seperti ini. Sikap nya lolos, seperti anak kecil. Tertawan karena makanan enak. Mengunyah tanpa perduli di mana mereka berada.

Melihat itu, dada Revan terasa lebih ringan dan tenang.

Hari itu mereka hanya menikmati waktu berdua. Tidak ada orang lain, hanya satu sama lain. Sesekali Serena bersenandung, bahkan bernyanyi mengikuti alunan musik yang di putar di dalam mobil. Pandangan Revan lurus ke depan namun dia tersenyum mendengarkan setiap lirik yang keluar dari bibir Serena.

Tanpa disadari hujan mulai turun, rintik-rintik yang kemudian menjadi deras, membasahi kaca depan mobil.

Mata Serena yang tadi nya berbinar, kini mulai layu terpejam. Kantuk nya datang. Kepalanya bersandar di jendela.

Nyaman, bersamaan dengan sejuk nya hujan di luar.

Revan yang melihat itu perlahan menepikan mobilnya di bahu jalan yang sepi.

Ia mematikan mesin lalu menurunkan sedikit sandaran kursi Serena agar posisinya menjadi lebih nyaman.

Dengan gerakan pelan, ia mengambil jas nya dari kursi belakang dan menghamparkan nya ke paha serena.

Terakhir, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Serena. Jarinya berhenti sebentar di pelipis Serena, sebelum di tarik kembali.

Cantik banget.

Di dalam mobil hanya terdengar suara nafas Serena yang tenang, dan suara detak jam di dasboard.

Revan menyalakan kembali musik pelan. Melanjutkan kembali perjalanan dengan kecepatan yang lebih lambat dari biasanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!