Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setelah mendaftarkan Dio sekolah, Rena segera pergi ke alamat anak Bu Lastri dengan mengayuh sepeda ontelnya. Jantungnya berdegup penuh harap, bersiap memulai babak baru dalam hidupnya. Ternyata, alamat rumah tersebut tidak jauh dari sekolah Dio, hanya melewati beberapa blok perumahan yang asri dan tenang. Rena menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah minimalis berpagar abu-abu yang tampak modern.
Rena mengetuk pintu pagar besi itu dengan ragu-ragu. "Permisi..." panggilnya ramah.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki mendekat dan pintu pagar dibuka oleh seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Wanita itu berwajah manis namun tampak sedikit lelah, sambil menggendong seorang bayi mungil yang sedang tertidur lelap dalam dekapan kain bedungnya.
"Iya, cari siapa ya Mbak?" tanya wanita muda itu dengan suara lirih agar tidak membangunkan bayinya.
Rena segera mengulas senyum sopan dan memperkenalkan diri. "Selamat pagi, Mbak. Nama saya Renata. Saya ke sini untuk bekerja lepas sesuai dengan arahan dari Ibu Lastri kemarin di taman."
Mendengar nama ibunya disebut, gurat curiga di wajah wanita muda itu langsung sirna, berganti dengan binar lega yang amat sangat.
"Oh, Mbak Rena! Silakan masuk, Mbak. Ayo, masuk dulu." Anak Bu Lastri itu membuka pagar lebih lebar, mempersilakan Rena dan Dio melangkah masuk ke dalam rumah.
Ternyata, Bu Lastri sudah menjelaskan dengan sangat detail tentang keadaan Rena kepada anaknya sejak kemarin malam. Wanita muda yang kemudian memperkenalkan namanya sebagai Ririn itu membawa Rena ke ruang tengah. Kondisi dalam rumah itu memang tampak agak berantakan dengan tumpukan baju bayi yang belum di lipat dan beberapa perlengkapan bayi yang berserakan, persis seperti cerita Ibu Lastri.
"Untung Mbak Rena cepat datang. Ibu sudah cerita banyak tentang Mbak kemarin," ujar Ririn sembari mendudukkan diri di sofa, diikuti oleh Rena yang duduk dengan memangku Dio. "Aku jelaskan dulu ya apa saja yang harus Mbak Rena kerjakan di sini."
"Iya, silakan Mbak Ririn. Apa saja yang perlu saya kerjakan?" sahut Rena dengan antusias.
"Pekerjaannya standar saja kok, Mbak. Seperti mencuci baju, mencuci piring kotor di dapur, membersihkan dan mengepel rumah, menyetrika pakaian dua atau tiga hari sekali saja , dan yang terakhir tolong buatkan masakan simpel untuk makan siang dan makan malam saya dan suami," papar Ririn mendetail. "Soal upah, Mbak Rena akan digaji seratus ribu sehari dan dibayarkan setiap hari Sabtu. Karena hari Minggu adalah quality time saya dengan suami, maka Mbak Rena tidak perlu datang dan bisa libur."
Rena mengangguk paham, merasa aturan kerja itu sangat adil dan menguntungkan baginya. "Baik, Mbak Ririn. Saya mengerti. Saya bisa langsung mulai bekerja sekarang."
"Boleh mbak, saya mau nidurin anak saya dulu. Dari tadi rewel banget. "
Sebelum beranjak ke dapur, Rena berlutut di depan putranya. Dia memberikan buku gambar dan pensil yang dibawanya di dalam tas sejak dari sekolah tadi.
"Dio sayang, Ibu mau kerja dulu ya. Dio duduk tenang di samping Ibu, jangan nakal dan jangan main jauh-jauh, ya? Menggambar di sini saja," bisik Rena lembut sembari mengecup kening Dio.
"Iya, Ibu. Dio janji tidak nakal," jawab Dio penurut, langsung membuka buku gambarnya dengan antusias.
Rena segera menggulung lengan bajunya dan mulai melakukan pekerjaannya dengan penuh semangat. Kurang lebih tiga jam, Rena berhasil menyelesaikan semua tugasnya dengan sangat cekatan. Pengalamannya bertahun-tahun menjadi 'pelayan' di rumah mertuanya membuat pekerjaan seperti ini terasa mudah baginya. Apalagi, di rumah Ririn dia tidak perlu mencuci pakaian menggunakan tangan, melainkan menggunakan mesin cuci otomatis tingkat lanjut sehingga semua fasilitas itu sangat mempermudah pekerjaannya.
Sembari menggendong bayinya, Ririn diam-diam memperhatikan hasil pekerjaan Rena. Dia sangat menyukai cara kerja Rena yang rapi, bersih, dan bekerja dengan cekatan tanpa banyak bicara atau mengeluh. Rumahnya yang semula seperti kapal pecah kini berubah menjadi sangat wangi dan berkilau.
"Wah, Mbak Rena kerjanya cepat sekali. Masakannya juga harum banget," puji Ririn tulus saat melihat sup ayam dan balado tahu sudah tertata rapi di meja makan.
Rena tersenyum tipis, merasa dihargai untuk pertama kalinya sebagai seorang manusia. "Terima kasih, Mbak Ririn. Karena semua pekerjaan sudah selesai, saya dan Dio pamit untuk pulang dulu ya. Besok jam delapan pagi saya akan datang lagi."
"Iya, Mbak Rena. Hati-hati di jalan ya," sahut Ririn ramah melepas kepergian mereka.
Namun sebelum Rena meninggalkan tumah Ririn, terdengar seseorang membuka pintu pagar, dan muncullah sosok Bu Lastri dengan senyum lebarnya melihat Rena disana.
"Lho, sudah mau pulang, nak?" tanya Bu Lastri.
"Iya, bu. pekerjaan saya sudah selesai. Jadi saya mau pulang. " jawab Rena, sedetik kemudian dia mengingat sesuatu lalu merogoh tas bututnya dan mengambil beberapa lembar uang di dompetnya. " Bu, maaf. Saya ingin mengembalikan uang ini kepada ibu. "
"Kenapa, nak, kok dikembalikan? " tanya Bu Lastri mengernyitkan keningnya.
"Ternyata mendaftarkan sekolah di SD negeri gratis bu. Saya tadi tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Hanya tinggal beli sepatu, buku dan tas untuk Dio. "
"Syukurlah kalau begitu. Uang itu tidak perlu kamu kembalikan, bawa saja untuk beli perlengkapan sekolah Dio yang kamu sebutkan tadi. Ibu ikhlas, bener. Ibu nggak ngasih kamu, itu buat Dio. " ujar Bu Lastri tulus.
"Tapi... "
"Sudahlah, kamu cepat pulang dan istirahat. Terima kasih sudah membantu anak ibu hari ini. Besok datang lagi ya. "
Rena tersenyum lebar dan menganggukan kepala lalu berpamitan lagi kepada Bu Lastri dan Ririn.
Setelah kepergian Rena, Bu lastri mendekati anaknya dan bertanya tentang pekerjaan Rena hari ini.
"Aku sangat puas, bu. Mbak Rena kerjanya sangat cekatan dan tidak perlu diberitahu terlalu banyak dia sudah mengerti. Ibu lihat saja hasil kerjanya dan masakannya." ujar Ririn dengan senyum lebarnya.
****
Kebahagiaan dan rasa damai yang baru saja Rena rasakan langsung menguap begitu roda sepeda ontelnya memasuki halaman rumah. Suasana rumah itu mendadak kembali terasa mencekam. Begitu Rena melangkah melewati pintu depan sambil menggandeng Dio, tatapan sinis langsung didapat Rena dari ibu mertuanya yang sedang duduk bersedekap di sofa ruang tamu bersama Siska.
"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini?!" semprot Bu Broto, matanya menatap tajam tas yang dibawa Rena. "Pasti keluyuran tidak jelas membuang-buang uang! Suami kerja susah payah, istrinya malah kelayapan sama anaknya!"
"Iya, gaya banget sekarang pakai pergi-pergi segala," cibir Siska dari samping ibunya dengan senyum meremehkan.
Tapi, Rena tidak memperdulikannya sedikit pun. Dia tidak sudi membuang energinya yang berharga untuk berdebat atau membela diri. Rena memilih langsung berjalan melewati mereka begitu saja, menuntun Dio masuk ke dalam kamar, lalu mengunci pintunya rapat-rapat. Dia mendudukkan diri di tepi kasur untuk beristirahat melepas lelah setelah seharian beraktivitas.
Sedangkan di luar kamar, terdengar ocehan mertuanya yang tidak ada habisnya, terus memaki dan menggedor dinding karena merasa diabaikan oleh Rena. Rena hanya memejamkan mata, memeluk Dio erat-erat, dan tersenyum sinis di dalam kegelapan kamar.
"Berteriaklah sesukamu, Bu," batin Rena dingin, "Aku sudah tidak peduli lagi. "