The power of santri sekilas menceritakan perjuangan seorang santri putra bernama Ade firdaus atau biasa di panggil adef. terlahir dari seorang ayah yang pekerjaan nya hanya seorang petani.sedangkan ibunya telah meninggal saat ia masih berusia tiga belas tahun.
rasa syukur adef karena ayahnya sangat mendukung ia untuk bisa belajar di pesantren besar Sehingga ia selalu menggunakan waktunya untuk sungguh sungguh dalam belajar.
Saat sedang semangat mencari ilmu Adef harus menerima kenyataan pahit yang memaksa ia keluar dari pondok.
😊Semoga kisahnya Ada Manfaatnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurheti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman untuk santri baru
Kegiatan pagi sebelum sarapan yaitu penyetoran kosa kata bahasa arab masih terus berjalan, bedanya aku sudah tak perlu takut lagi bentakan dan pukulan mudabir karena belum lancar hapalannya, karena sekarang aku dan teman temanku lah yang akan mengoreksi hapalan santri sama halnya dengan kaka kelas kami beberapa teman- temanku ada yang memegang rotan terlebih lagi qismu amni.
"Dzak jangan terlalu galak ente." Bisikku pada Dzaki, si qismu amni itu. Dia hanya mengganguk .
Seorang santri yang wajahnya sangat polos mendekatiku, matanya menatapku penuh rasa takut, lalu ku hibur dia dengan senyumanku yang paling manis.
"Sudah hapal." Tanyaku padanya, dia tersenyum mengangguk dan menyerahkan buku saku kecilnya padaku, lalu mulai menyebutkan mufrodath yang sudah dihapalnya.
Satu jam kemudian, jaros berbunyi kencang menandakan kegiatan penyetoran habis.
Beberapa santri yang masih belum menyetor wajahnya terlihat panik mendekati kami dengan menundukan kepala.
"Kenapa kalian bisa telat, Yang lain sudah pada setoran, kalian baru pada datang. Habis dari mana kalian?" Bentak Dzaki sambil memukul meja yang ada dihadapannya dengan rotan.
Semua murid baru itu hanya terdiam dan semakin menunduk ketakutakan.
"Kamu habis dari mana?" Tanya Dzaki sambil menunjuk salah satu dari mereka.
"Aa...ku...Aku." Jawabnya dengan terbata bata.
"Aku apa hah." Teriak Dzaki.
"Maaf ka tadi antiran mandinya sangat panjang, jadi aku terlambat." Jawab anak itu.
"Besok setelah shalat subuh kalian langsung mandi, jangan menunggu antrian panjang dan jangan sampei telat lagi, paham!" Ucap Dzaki tegas.
"Iyaa ka." Jawab anak anak baru itu.
"Setelah sarapan kalian dihukum, baca sembilan puluh sembilan asma'ul husna di lapangan." Tegas Dzaki pada merereka, mereka hanya mengangguk.
"Untuk kalian yang kena hukuman, ka Adef minta kalian jadi jasus, jasus adalah mata- mata, jadi kalian perhatiin, siapa saja santri yang sengaja tidak ikut shalat jamaah di masjid, yang tidak ikut setoran mufrodath atau tidak ikut kegiatan pondok lainnya, kalian tulis kemudian serahkan pada ka Adef." Jelasku pada mereka, mereka mengangguk.
" Baik, karena ini waktunya sarapan, jadi silahkan kalian mengantri makan dulu." Ucapku pada mereka, mereka langsung pergi setelah menyalami kami.
"Enak ya jadi mudabir." Ucap Zidan.
"Apanya yang enak?" Tanyaku.
"Tidak ada yang hukum kita lagi." Ucap Zidan.
"Ya tetep di hukum kalau berani kabur dari pondok." Candaku.
"Waaah yang itu berurusan sama asatidz." Jawabnya.
Kulihat antrian sudah mulai sepi, aku mengajak teman temanku untuk mengambil makan, tetapi mereka menolak alasannya belum lapar.
Akupun segera menghampiri dapur pondok.
Kulihat umii Izza sedang sibuk membereskan berbagai macam peralatan dapur yang kotor, dan Umi Salma yang juga masih sibuk melayani beberapa santri yang sedang mengambil makan.
Dua umi dapur yang lain tidak terlihat, mungkin sudah pergi ke pasar untuk berbelanja.
Aku sangat kagum pada ke empat ibu dapur yang sudah sekian tahun mengabdi dipondok.
merekalah yang sudah menyiapkan makan untuk semua santri, mungkin jika tidak ada mereka kami semua kelaparan.
"Hari ini sarapan sama apa mi." Tanyaku sambil ikut mengantri dibelakang dua orang santri.
"Eeeh nak Adef, hari ini umi masak balado kentang nak." Jawab umi Salma yang masih melayani santri.
"Waah makanan kesukaan Adef itu mi." Candaku pada umi Salma, aku memang sudah sangat akrab dengan ke empat ibu dapur.
"Heem pasti enak nih." Candaku.
"Bisa aja nak Adef nih." Jawab umi Salma sambil mengisi piring dengan senasi dan lauk, lalu memberikannya padaku.
"Makasih ya umi." Ucapku.
"Iyaa nak Adef." Jawab umi Salma.
Setelah selesai makan, Jaros pun berbunyi kencang menandakan KBM atau kegiatan belajar mengajar akan segera di mulai.
Kulihat anak MTS berlarian menuju kelasnya masing masing.
"Sungguhlah mereka sangat hebat, masih kecil sudah belajar disiplin menghargai waktu." Lirihku dalam hati.
Bersambung........