NovelToon NovelToon
Paradoks Waktu

Paradoks Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sci-Fi / Misteri
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.

Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah makan malam, Zain masuk ke kamarnya. Kamarnya sederhana—hanya ada kasur lantai, lemari plastik, dan meja belajar yang sudah mulai lapuk. Di sudut ruangan terparkir helm dan jaket ojol yang belum sempat dicuci.

Ia meletakkan buku pinjaman Profesor Surya di atas meja: Dasar-Dasar Mesin Pembakaran Dalam.

Zain tersenyum kecil. Sudah lama sekali ia tidak membuka buku teknik. Sejak lulus kuliah, hampir semua ilmunya terasa mengendap. Setiap hari pikirannya hanya berisi rute tercepat, titik jemput, dan target pendapatan.

Ia membuka halaman pertama. Banyak coretan pensil di pinggir buku—rumus-rumus yang diberi lingkaran, kalimat yang digarisbawahi, bahkan ada catatan kecil: *Kalau mesin bisa dibuat lebih efisien, berarti masih ada hukum yang belum kita pahami sepenuhnya.*

Zain mengernyit. "Mahasiswa kok nulis beginian."

Ia membalik halaman lagi. Di beberapa bagian, tulisan tangan Profesor Surya memenuhi hampir separuh halaman. Kadang berupa koreksi, kadang pertanyaan, dan kadang hanya satu kalimat: *Jangan pernah puas dengan jawaban yang sudah ada.*

Zain menutup buku perlahan. "Tipe orang yang dari muda udah aneh," gumamnya lalu tertawa sendiri.

"Belajar?" Suara Kakek terdengar dari balik pintu.

"Iya, Kek."

Kakek masuk sambil membawa dua gelas susu hangat. "Bagus."

"Pinjam buku profesor."

"Oh?" Kakek mengambil buku itu, lalu matanya menyipit membaca tahun terbitnya. "Delapan puluh tujuh... tua banget."

"Tapi masih bagus." Zain mengangguk. "Profesornya juga masih nyimpen."

Kakek mengusap sampul buku pelan. "Dulu buku mahal. Kalau beli satu, dijaga bertahun-tahun. Makanya banyak yang dibungkus plastik."

Zain tersenyum. "Sekarang tinggal cari PDF."

Keduanya tertawa. Kakek lalu mengembalikan buku itu. "Orang yang bisa menjaga buku puluhan tahun... biasanya juga orang yang menjaga mimpinya lama."

Zain memandang kakeknya. "Maksudnya?"

"Entahlah. Kakek cuma merasa begitu."

...

Keesokan harinya, orderan sedang sepi. Zain berhenti di sebuah warung kopi pinggir jalan, bergabung dengan beberapa pengemudi ojol yang sedang duduk di sana.

"Ayo, Zain! Nongkrong dulu."

Zain ikut duduk.

"Sehari dapat berapa sekarang?" tanya salah seorang temannya, Riko.

"Kalau lagi bagus ya lumayan. Kalau lagi begini..." Zain mengangkat bahu. "...hemat bensin."

Mereka tertawa bersama. Obrolan pun mengalir ke mana-mana—ada yang mengeluh soal tarif, bercerita tentang penumpang cerewet, hingga masalah cicilan motor baru.

Di tengah obrolan, Riko tiba-tiba berkata, "Kalau bisa milih lahir... gue pengen lahir tahun delapan puluhan."

Zain langsung tertawa. "Lho, sama! Katanya enak, kerja gampang, harga murah."

Pengemudi lain yang usianya paling tua, Pak Darto, menggeleng sambil menyeruput kopinya. "Kalian ini cuma dengar enaknya."

"Lho?"

"Dulu juga susah. Bedanya aja susahnya beda."

Suasana mendadak hening. Pak Darto melanjutkan, "Setiap zaman punya beban masing-masing. Kalau disuruh balik lagi?" Ia berpikir sejenak. "Saya belum tentu mau."

Jawaban itu membuat Zain kembali teringat ucapan Profesor Surya: *Yang mereka ingat hanya bagian indahnya saja.*

Kenapa semakin banyak orang tua yang ia temui, semakin berbeda pula cerita mereka?

Awan hitam menggantung rendah, seolah menunggu waktu yang tepat untuk menumpahkan isinya. Zain baru saja selesai mengantar seorang pegawai bank ketika titik-titik air mulai jatuh.

"Yah..."

Ia menepi di bawah halte. Beberapa pengendara lain ikut berteduh. Tak sampai lima menit, hujan turun deras. Suara air menghantam aspal begitu keras hingga menenggelamkan suara kendaraan lain.

Zain membuka aplikasi di ponselnya—masih sepi. Biasanya saat hujan orderan melonjak, tetapi entah kenapa pagi itu tidak.

"Mas..." Seorang ibu tua menghampiri sambil memegang payung yang sudah bocor di sana-sini. "Bisa dianter?"

Zain melihat aplikasi. Ibu itu rupanya belum memesan. "Bisa, Bu. Tapi pesan dulu lewat aplikasi ya."

"Oh... saya nggak bisa."

Zain tersenyum ramah. "Kalau gitu saya ajarin."

Butuh waktu hampir lima menit sampai pesanan berhasil dibuat. Ibu itu berkali-kali meminta maaf. "Maaf ya, Mas. Saya gaptek."

"Nggak apa-apa, Bu."

Setelah pesanan masuk, mereka pun berangkat menuju sebuah puskesmas. Sesampainya di sana, sang ibu turun sambil tersenyum lega. "Terima kasih."

"Iya, Bu."

Tak lama kemudian, notifikasi berbunyi.

★★★★★

Disertai pesan singkat: *Masnya sabar ngajarin orang tua.*

Zain membaca kalimat itu dua kali, lalu tersenyum sendiri. Pendapatan dari perjalanan itu memang tidak besar, tetapi terasa lebih menyenangkan daripada mendapat order mahal.

...

Menjelang siang, hujan mulai reda.

"Ting!"

Nama yang muncul membuat Zain langsung mengenalnya: Prof. Surya.

"Hari ini bukan Selasa atau Kamis..." gumamnya heran.

Ia segera menerima pesanan tersebut. Begitu tiba di rumah profesor, lelaki tua itu sudah berdiri di teras. Namun kali ini tangannya kosong. Tak ada koper aluminium, tak ada tas, hanya sebuah map cokelat tipis.

"Siang, Pak."

"Siang, Zain."

Profesor naik ke jok belakang.

"Ke mana, Pak?"

"Bukan ke kampus."

"Lalu?"

"Ke bengkel."

"Bengkel?"

"Iya."

Zain tidak bertanya lagi. Motor melaju menuju sebuah kawasan pertokoan lama. Di sana berdiri bengkel kecil yang tampak sudah beroperasi puluhan tahun dengan papan nama yang mulai pudar. Di dalam, seorang pria tua sedang membongkar mesin motor klasik.

Begitu melihat Profesor Surya, pria itu langsung tersenyum lebar. "Wah... akhirnya datang juga. Kau masih hidup rupanya."

Profesor membalas dengan tawa kecil. "Belum sempat mati."

Mereka berjabat tangan erat. Zain memperhatikan keduanya—jelas mereka sahabat lama.

"Ini siapa?" tanya pemilik bengkel.

"Teman. Namanya Zain. Anak muda," jawab Profesor singkat.

Pemilik bengkel mengangguk ramah. "Silakan duduk."

Profesor lalu masuk ke ruang belakang bersama pria itu. Mereka berbicara cukup lama. Sesekali terdengar kata-kata seperti *rotor*, *medan magnet*, *belum stabil*, hingga *tegangan*.

Zain tidak mengerti apa pun. Ia memilih duduk di dekat motor-motor tua yang sedang diperbaiki. Matanya tertuju pada sebuah motor bebek keluaran akhir 1980-an. Cat merahnya sudah kusam, namun bentuknya masih gagah.

"Masih bagus ya..." gumamnya.

"Tentu," sahut pemilik bengkel yang membuat Zain menoleh. "Itu motor tahun delapan puluh sembilan. Masih hidup sampai sekarang."

Zain mengusap joknya pelan. "Kalau dirawat, mesin memang awet."

Pria tua itu tersenyum. "Lihat?" katanya sambil melirik ke arah Profesor Surya yang masih berbicara di belakang. "Itu sebabnya Surya suka kamu."

Zain bingung. "Maksudnya?"

"Anak sekarang kebanyakan kalau lihat motor tua bilang rongsokan. Kamu bilang masih bagus. Bedanya di situ."

Zain hanya tertawa kecil. Baginya itu jawaban biasa. Namun ia tidak tahu bahwa di balik pintu ruang belakang, Profesor Surya sedang berdiri di depan meja yang dipenuhi gambar teknik.

Di salah satu gambar itu, terdapat sketsa sebuah motor matik modern yang bentuknya sangat mirip dengan motor milik Zain.

1
Aegis
dan si kakek mentransfer dia ke masa lalu🥴
DeZigur: kalo mao skip langsung bab 20 aja. misterinya mulai
total 2 replies
Aegis
👍
Aegis
masalah psikotis tuh maksudnya apa bang?
DeZigur: ya kalo orangnya parnoan garaw pas bangun udah di dimensi lain terus ga bisa balik lagi ke kenyataan gimana?
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!