Selama tujuh tahun, Keira Halim mencintai Rafael Atmadja sambil membiarkan pekerjaannya dicuri, rasa sakitnya diremehkan, dan tubuhnya disebut rusak. Malam ketika Rafael mempermalukannya di depan para mitra bisnis demi membela Celine Hartono, sentuhan paksa seorang klien memicu serangan panik yang nyaris membuat Keira kehilangan kesadaran. Kali ini ia tidak memohon untuk dipercaya. Ia mengembalikan cincin pertunangannya, pergi, lalu mengetuk pintu yang salah.
Pria di balik pintu itu adalah Adrian Wijaya—dingin, penuh rahasia, tetapi tidak pernah menyentuh Keira tanpa izin. Di dekatnya, tubuh Keira yang selalu siaga akhirnya bisa bernapas. Dalam waktu empat puluh delapan jam, mereka menyepakati batas, menandatangani perjanjian harta dan berita acara di hadapan saksi, lalu mencatatkan pernikahan mereka secara resmi. Bagi Keira, itu adalah jalan keluar. Bagi Adrian, pernikahan tersebut jauh lebih pribadi daripada yang berani ia akui.
Ketika Keira membangun Lentera Brand Lab dan merebut kembali namanya, Rafael mulai menyadari perempuan yang telah ia sia-siakan tidak akan pernah pulang. Namun penyesalan sang mantan berubah menjadi kepanikan saat identitas Adrian terbuka: suami “biasa” Keira ternyata pengendali Asterion Capital sekaligus pewaris keluarga Wijaya.
Di tengah perang reputasi, sebuah jam saku lama mengungkap bahwa Keira bukan yatim piatu tanpa asal-usul. Ia adalah satu-satunya penyintas keluarga Halim, pewaris aset lintas negara, dan saksi hidup pembunuhan sembilan belas orang yang selama ini ditutupi keluarga Atmadja. Untuk merebut kembali warisan dan nama keluarganya, Keira harus menghadapi pria berjari pendek dari ingatannya, membongkar perusahaan pencemar, dan memastikan para pelaku diadili—tanpa membiarkan cinta Adrian berubah menjadi sangkar baru.
Karena kali ini, Keira tidak sedang menunggu seorang pria menyelamatkannya. Ia sedang memilih siapa yang boleh berjalan di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 28
Putra Kesayangan Atmadja
Rafael meletakkan cetakan surel palsu di meja ruang keluarga Atmadja.
"Kartu identitasku diambil dari server rumah ini," katanya.
Olivia tidak melihat kertas itu. "Banyak pegawai memiliki akses."
"Pembayaran pembuat dokumen berasal dari perusahaan yang pemilik manfaatnya Ibu."
Antonius menutup pintu. "Jaga nada bicaramu. Pengacara sedang menangani kesalahpahaman itu."
Patricia duduk di ujung sofa bersama Dion. Tidak ada Keira atau Adrian di rumah tersebut. Untuk pertama kali Rafael harus menghadapi keluarganya tanpa memakai Keira sebagai alasan semua konflik.
Olivia akhirnya mengangkat wajah. "Aku melindungi keluarga. Perempuan itu datang membawa audit, trust, dan klaim saham. Kau membiarkannya karena masih terobsesi."
"Jadi Ibu membuat pernikahan yang tidak pernah ada?"
"Materi itu seharusnya hanya menguji reaksi publik. Celine yang mengubah urusan Bali menjadi kebodohan."
Rafael teringat tangan Celine saat meminta kunci. Ia telah melihat ketakutan, tetapi tidak pernah bertanya siapa yang sebenarnya dikejar.
Leonard masuk dengan langkah tidak stabil dan gelas di tangan. "Semua orang bertingkah seperti kita membunuh seseorang. Aku hanya menawarkan harga. Matius yang membuka pintu."
Ruangan membeku.
Antonius merebut telepon Leonard ketika melihat lampu rekaman menyala. Namun Rafael sudah menekan simpan otomatis ke penyimpanan awan.
"Pintu apa?" tanya Rafael.
Leonard tertawa pendek. "Tanya putri kesayangan Ibu. Dia tahu siapa yang dibayar."
Olivia berdiri dan menampar Leonard. Antonius memerintahkan staf membawa putranya ke kamar. Patricia menghalangi mereka.
"Jangan sentuh dia sebelum polisi mendengar rekaman," katanya.
"Kau ingin menghancurkan keluargamu sendiri?" bentak Antonius.
Patricia memandang Rafael. "Simpan panggilan, surel, dan rekaman itu. Jangan pakai cinta kepada Keira untuk menutupi keterlibatanmu. Kau tetap memberi Celine kunci. Kau tetap membiarkan keluargamu menyebut Keira pembohong selama bertahun-tahun."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, bekerjalah dengan hukum. Jangan meminta maaf sebagai jalan keluar."
Dion membuka laptopnya. Ia menemukan pembayaran rutin dari yayasan keluarga kepada perusahaan keamanan lama Sagara. Pembayaran dimulai setelah kematian Stefan dan Maria, berhenti tiga bulan, lalu muncul lagi melalui pemasok yang sama dengan rekening Hendra.
"Aku menyimpan laporan karena mengira biaya perlindungan," kata Dion. "Kode penerimanya MTS."
Olivia berjalan menuju laptop. "Tutup itu."
Dion memindahkan perangkat ke belakang tubuhnya. "Tidak."
Rafael menelepon pengacaranya sendiri, bukan pengacara keluarga. Ia menjelaskan keberadaan video, cache panggilan, surel otorisasi, dan pembayaran. Pengacara meminta ia tidak mengubah berkas serta datang langsung ke kantor polisi.
"Kalau kau keluar membawa itu, jangan kembali," kata Antonius.
Rafael memasukkan telepon ke saku. "Mungkin seharusnya aku sudah keluar ketika kalian pertama kali menyuruhku menyebut gejala Keira sebagai rasa malu."
Olivia menyebut namanya, kali ini seperti seorang ibu yang memanggil anak kecil. Rafael berhenti, tetapi tidak berbalik.
"Ibu tidak pernah bermaksud melukainya," katanya.
"Ibu membayar orang yang membuat pintu bisa dibuka. Niat bukan satu-satunya hal yang akan diperiksa."
Patricia dan Dion ikut meninggalkan rumah. Mereka tidak menyatakan memaafkan Rafael. Mereka hanya memilih agar bukti tidak hilang.
Di mobil pengacara, cache telepon Leonard dipulihkan. Ada satu audio penuh yang belum sempat dihapus, tetapi sistem membutuhkan beberapa jam untuk menyelesaikan sinkronisasi.
Pada saat yang sama, peringatan imigrasi internal menunjukkan rencana penerbangan jet pribadi keluarga. Leonard tercatat sebagai penumpang untuk penerbangan sebelum fajar menuju luar wilayah udara Indonesia.
Rafael mengirim nomor registrasi pesawat kepada penyidik.
Sebelum pergi, Rafael meminta staf rumah tidak menyentuh komputer atau kamera. Antonius menuduhnya membekukan rumah sendiri. Pengacara Rafael menjelaskan permintaan pelestarian tidak memberi Rafael wewenang menyita apa pun. Polisi yang akan menentukan langkah berikutnya.
Patricia mengambil obat Leonard dari meja dan menyerahkannya kepada petugas medis ketika mereka datang. Ia tidak membiarkan kemarahan keluarga mengubah kondisi mabuk menjadi alasan mengabaikan keselamatan. Leonard diperiksa sebelum dimintai keterangan.
Dion membuat salinan daftar pembayaran dengan nilai hash di hadapan pengacara. Ia tidak membuka pesan lain yang tidak relevan. Nomor rekening, tanggal, dan kode MTS diserahkan bersama perangkat asli.
Di kantor polisi, Rafael diberi peringatan bahwa kerja sama tidak menjamin ia bebas dari pemeriksaan. Polisi menanyakan semua akses Celine, alasan memberi kunci, dan apakah ia pernah mengancam Keira melalui staf. Rafael menjawab dan menyerahkan riwayat tanpa meminta Keira hadir.
"Saya pernah mengirim orang mengawasi acara Keira," katanya. "Saya menyebutnya perlindungan, tetapi ia tidak setuju."
Pengacaranya mencatat pengakuan itu. Rafael mulai memahami bahwa kebenaran tidak dapat dipotong hanya pada bagian yang membuatnya tampak lebih baik daripada orang tuanya.
Olivia menelepon dua belas kali. Rafael tidak menjawab. Ia menyimpan log panggilan karena satu pesan suara menyebut nama Matius. Pesan itu berbunyi seperti perintah ibu kepada anak agar pulang, tetapi di belakangnya terdengar Antonius meminta seseorang menghapus jadwal pesawat.
Polisi menghubungi imigrasi melalui prosedur resmi. Jet tidak dilarang terbang hanya karena keluarga sedang bertengkar. Setelah surat dan dasar perkara diterima, otoritas menahan proses keberangkatan Leonard dan meminta ia memenuhi pemeriksaan.
Rafael mengirim nomor registrasi, daftar awak yang ia miliki, dan akses akun perjalanan. Ia tidak datang ke bandara. Menjadi saksi tidak membuatnya anggota tim penangkap.
Di ruang tunggu, Patricia meminta Rafael tidak menelepon Keira untuk mengabarkan pilihannya. "Kalau bukti berguna, polisi akan menyampaikannya. Jangan jadikan kerja sama sebagai cara masuk lagi ke hidupnya."
Rafael menghapus draf pesan yang sudah ditulis. Pengacaranya kemudian menyerahkan daftar lengkap materi dan meminta tanda terima. Ia pulang ke hotel, bukan rumah Atmadja, dengan satu koper yang dibawa staf setelah polisi memeriksanya.
Pagi menjelang ketika kabar datang bahwa keberangkatan Leonard dibatalkan secara sah. Rafael tidak meminta namanya disebut dalam berita. Malam itu ia akhirnya memilih pihak yang seharusnya dipilih sejak awal. Pilihan tersebut membantu menghentikan pelarian, tetapi tidak menghapus semua kali ia berdiri di sisi yang salah.