Harus menikah namun tak aku cintai, lelaki itu adalah kesalahan yang pertama dan terakhir dalam hidupku, kami terbangun di saat sudah saling tak mengenakan pakaian. Kami terjebak di kamar hotel dalam keadaan mabuk dan berakhir dengan kehamilanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhen Dirga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekesalan Manda
"Ada apa ini?" tanya Gani, ketika melihat istri dan sahabatnya itu bertengkar dibelakang taman resto.
"Mas, kamu udah datang?" Manda menghela napas.
"Iya. Ada apa ini? Kok langsung pada diam? Kan tadi lagi cakar-cakaran."
"Mas, aku mendapati Devan sedang bergandengan tangan dengan Lestari. Aku marah, karena dia kan udah nikah, dia juga bentar lagi punya anak."
Gani menoleh menatap Devan yang sedang mengelus dagunya.
Gani memahami apa yang ada dipikiran Devan, jadi ia tak bisa menyalahkan iparnya itu.
Gani menggenggam kedua bahu istrinya, dan berkata, "Sayang, Lestari kan memang kekasihnya. Sebelum menikah dengan Nesa, dia sudah duluan berpacaran dengan Lestari. Jadi, menurutku itu tidak salah."
Gani menoleh dan memberi kode kepada Devan.
"Oh jadi kamu membelanya? Dia ini mau jadi ayah, bagaimana jika karena perbuatannya ini, anaknya terkena dampak? Kamu jangan membelanya," celetuk Manda, menoleh menatap kakak sepupunya.
"Jangan marah-marah di sini, Sayang, nggak enak dilihat pengunjung."
"Baiklah. Kita pergi saja dari sini," kata Manda. "Ingat, Dev, apa pun yang kau lakukan di luar, anak yang dikandung istrimu pasti akan merasakannya. Meski pernikahan kalian hanya sampai Nesa melahirkan, setidaknya lakukan tanggung jawabmu sebagai suaminya, bersikap sebagai ayah dari anakmu itu lebih baik." Manda melangkah meninggalkan Devan yang masih mengelus jidatnya.
"Sayang, kita nggak sarapan?" Gani berteriak.
"Nggak jadi. Nafsu makanku hilang," jawab Manda tanpa berbalik.
Gani menghela napas panjang. "Aku akan menghubungimu, Dev," kata Gani, menyusul langkah kaki istrinya dengan setengah berlari.
Devan duduk di bangku taman, membungkukkan badan mengingat perkataan Manda. Sejak tadi, Lestari sudah melihatnya dari dalam resto, dan memilih pergi ketika melihat Devan duduk dibangku taman.
Lestari menghela napas panjang, ia merutuki dirinya, karena semua ini salahnya, andai saja ia menerima lamaran pertama Devan, ia tidak akan berada ditengah pasangan suami istri itu, terlepas dari hubungannya dengan Devan sudah lama sekali.
Devan menghela napas panjang, dan kembali masuk ke resto, namun ia tak melihat sosok Lestari ada disekitaran resto.
"Permisi, apa Anda melihat wanita yang rambutnya sebahu, kulitnya coklat, mengenakan kemeja berwarna khaki, duduk di sini?" tanya Devan kepada wanita yang duduk didekat meja yang sudah ia pesan.
"Oh dia sudah pergi, baru saja," jawab wanita itu.
"Baiklah. Terima kasih," ucap Devan, lalu menghela napas panjang
Devan bergegas keluar dari resto, dan mencari disekitaran pelataran parkir, siapatahu saja Lestari masih ada. Namun, beberapa kali mencari, Lestari sudah tak ada ditempat
Devan mendengkus, lalu naik ke mobilnya, ia memukul stir begitu kuat, ia juga ingin menyelesaikan ini, namun ia mencintai Lestari.
***
"Wah. Aku nggak menyangka, Kak, bisa mendapatkan surat izin usaha, dan dokumen lainnya." Nesa tersenyum sumringah, menatap wajah Juno yang kini tersenyum menatapnya. "Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu diwajahku?"
"Nggak ada. Kamu lucu saja," jawab Juno.
"Tapi, Kak, mohon maaf kalau aku ngerepotin. Apa Kak Juno nggak apa-apa bolos kerja hari ini?"
"Nggak apa-apa, Nes."
"Ya udah, Kak, kita makan siang yuk, biar aku yang traktir," kata Nesa penuh semangat, karena pada akhirnya ia sudah bisa memenuhi impiannya memiliki usaha sendiri, ia sudah mengantongi surat izin ini, jadi ia harus menggunakannya dengan baik.
Suara ponsel Juno terdengar, membuat langkah kaki Nesa dan Juno berhenti.
"Aishh," ucap Juno, ketika melihat nama Devan di layar ponselnya.
"Kenapa, Kak?"
"Nggak apa-apa. Ini dari kantor, aku jawab dulu, ya."
Nesa menganggukkan kepala.
'Ada apa?' jawab Juno.
'Lo dimana? Gua di kantor nih.'
'Gua lagi ada urusan.'
'Lo udah meeting?'
'Udah.'
'Laporannya ada dimana?'
'Di atas meja sofa.'
'Lo kembali ke kantor. Kita ke pembangunan proyek yang ada di Depok.'
'Apa gua harus ikut?'
'Iya lah. Lo kan penanggung jawab proyek ini.'
'Ya udah. Sejam lagi gua sampai.'
'Baiklah. Gua tunggu lo di kantor.'
Devan memutuskan sambungan telpon.
Juno menghela napas panjang dan kembali menghampiri Nesa yang masih berdiri ditempatnya.
"Kenapa, Kak? Apa kantor udah manggil, ya? Kak Juno pergi aja, aku juga mau langsung pulang aja.
"Iya nih, Nes, maafin aku, ya, jadi nggak bisa makan siang."
"Nggak apa-apa, Kak. Aku malah bersyukur banget Kak Juno mau nemenin aku kemari. Pokoknya aku seneng banget bisa dapat temen baik di Jakarta."
Juno tersenyum dan mengelus rambut Nesa, membuat Nesa terdiam.
"Baiklah. Aku pergi dulu, ya, nanti kabarin kalau kamu udah mau beresin tempat kamu."
Nesa menganggukkan kepala, lalu memalingkan wajah melihat Juno masuk ke mobilnya dan meninggalkannya. Juno sempat klakson dan melambaikan tangan, membuat Nesa tersenyum dan mengelus perutnya yang masih rata.
Ia bersyukur sekali bisa mendapatkan teman yang baik seperti Juno, yang tidak pernah melihat dirinya siapa.
Juno juga siap mengantar Nesa kemana pun, jika itu berkaitan tentang Nesa, Juno akan selalu siap meski pekerjaannya menggunung.
Nesa lalu melambaikan tangan pada taksi yang akan melintasinya, ketika taksi itu berhenti, bergegaslah Nesa naik.
"Kompleks Autumn, Pak," kata Nesa, membuat supir taksi itu melaju pesat.
***
"Apa udah lama Nesa pergi, Mbok?" tanya Manda, sepupunya.
"Udah lumayan lama, Neng," jawab Mbok Nab.
"Aku telpon nggak di angkat loh," kata Manda.
"Sayang, kita mau apa di sini? Kamu jangan cari masalah donk sama Devan."
"Mas, aku nggak mau ya sampai melihat ini dan diam saja. Nesa harus ku beritahu agar nantinya tidak membuat dirinya sendiri terpuruk." Manda menatap wajah suaminya.
"Tapi, Sayang, kita pulang dulu saja, kan bisa ke sini lain kali, Nesa juga nggak ada kan."
"Emang nggak ada. Tapi aku tungguin sampai datang." Manda bersikeras.
Gani menghela napas panjang, dan menganggukkan kepala, Manda memang tak bisa diberitahu, karena ia memang keras kepala sejak dulu. Jadi, Gani mengerti dan mencoba memahami meski ia tak suka.
"Ini minumnya, Neng, Pak," kata Mbok Nab membawa nampan berisi dua cangkir teh dan sepiring puding regal.
"Makasih, Mbok," ucap Gani.
"Cemilan ini Nesa yang buat loh, Pak, Neng," kata Mbok Nab menyajikan diatas meja.
"Wah kelihatannya enak," kata Gani langsung menyendok kepiring kecilnya. "Iya nih enak."
"Nesa nggak bilang, Mbok, dia kemana?" tanya Manda.
"Katanya mau mengurus izin, Neng."
"Izin? Izin apaan, Mbok?"
"Kamu jangan kepo ih, nanti pas Nesa pulang baru kamu tanyain, Mbok mana paham," kata Gani menggelengkan kepala.
Gani dan Manda lalu mencicipi puding buatan Nesa, memang enak, dan Nesa memang pintar buat kue. Sejak dulu, dia sering mengikuti lomba masak di sekolah.
.
.
Bersambung.
pakai hatimu untuk merasakannya thor, jika jawabanmu itu bukan masalah, berarti kau bersikap adil
tapi jika jawaban mu, melaknat wanita itu, maka simple kau wanita egois karena kau membenarkan perbuatan juno
kalau aku simple wanita mana pun yang sok baik dan perhatian pada suamiku maka aku akan melaknat wanita itu dan harus adil aku juga melaknat siapapun lelaki yang sok baik dan perhatian padaku, itu baru namanya wanita dan istri sejati tidak egois
...masa baca part ni aku sakit hati tau,, pstu bila dia menangis aku pun rasa mcm nk ikut menangis😤
semoga ide ceritanya mengalir terus, aku paham nyati ide cerita itu sulit, semoga kakak selalu lancar yaa
aku paham gimana lelahnya seorang author nyari ide untuk cerita yg ditulisnya, semangat selalu ya thor ☺️
aku pembaca baru nih ☺️✌🏻