NovelToon NovelToon
Belenggu Janji Dan Rasa

Belenggu Janji Dan Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: "Emy"

seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Alden, Tika, dan Nina melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit itu. Langkah kaki mereka membuat lantai kayu kontrakan sedikit berderit. Nina langsung mengambil posisi duduk di dekat meja kayu kecil, mencoba bersikap senormal mungkin walau dadanya masih berdebu ketakutan.

Tak lama kemudian, Fino keluar dari arah dalam dengan gaya santai yang luar biasa. Ia menyibakan rambutnya yang berantakan, memasang cengiran khasnya yang tengil seolah-olah ketegangan di gerbang sekolah tadi siang sama sekali tidak pernah terjadi.

"Waaaaah, ada tamu agung ternyata!" seru Fino dengan volume suara yang sengaja dikeraskan. "Kak Raraaa! Ini ada Alden sama Tika datang berkunjung ke istana beralas tikar kita! Sini keluar, Kak!" lanjutnya sengaja berteriak riuh untuk memecah keheningan sekaligus memberi sinyal ke arah dapur.

Mendengar teriakan adiknya, Alden dan Tika tersenyum kecil. Alden mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang hanya berukuran beberapa meter itu, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan pria misterius yang ia lihat pagi tadi.

Sementara itu, di balik tirai lusuh yang membatasi area dapur dan ruang tamu, Rara sedang berdiri dengan tubuh yang gemetar hebat. Tangan mungilnya mencengkeram erat pergelangan tangan kekar Athur. Pria tegap itu baru saja hendak menyimak gorden kain tersebut untuk melangkah keluar, namun Rara menahannya mati-matian.

Rara sama sekali tidak tahu bahwa Alden—remaja pria yang sedang duduk di ruang tamunya saat ini—adalah adik kandung dari suaminya sendiri. Satu-satunya hal yang berkecamuk di dalam kepala Rara saat ini adalah ketakutan yang luar biasa. Ia sangat takut jika hubungan pernikahan sirinya dengan pria asing ini terbongkar, yang akan membawa malapetaka besar bagi beasiswa sekolah adik-adiknya.

"Mas... tolong jangan keluar," bisik Rara dengan suara yang hampir habis, matanya menatap Athur dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

 "Aku takut mereka curiga. Tolong, Mas..."

Athur menunduk sedikit, menatap manik mata istrinya yang berkaca-kaca di balik bayang-bayang topi hitamnya. Napas hangat Athur berembus di dekat telinga Rara saat ia berbisik dengan suara rendah yang menenangkan, mencoba meredam kepanikan gadis itu.

"Tenang. Tetap di depan saya. Ikuti permainan saya."

Rara akhirnya mengangguk pasrah, meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Rara membawa nampan berisi beberapa gelas air putih dan cemilan biskuit seadanya yang tersisa di lemari dapur. Ia berjalan perlahan keluar dari balik tirai menuju ruang tamu.

Tepat di belakang punggung Rara, sosok tegap Athur mengiringinya dengan langkah yang sangat tegap dan penuh wibawa. Topi hitamnya ditarik rendah hingga menutupi dahi, dan masker kain hitam menutupi sebagian besar wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata tajam sedingin es yang berkilat penuh intimidasi.

"Eh, Rara! Maaf ya gue datang mendadak," ujar Tika langsung menyapa ramah begitu melihat sahabatnya keluar.

Alden pun ikut mendongak, bersiap untuk tersenyum pada Rara. Namun, senyum di bibir Alden seketika lenyap dan membeku di udara. Matanya membelalak menatap sosok pria bertopeng hitam yang berdiri tegap di belakang Rara. Postur tubuh yang sangat tegap, pundak yang lebar, dan aura dominan yang keluar dari pria itu terasa begitu familier di indera Alden. Jantung Alden berdegup kencang karena rasa curiga yang mendalam kembali membakar dadanya. Pria bertopi ini... adalah pria yang mengantar Rara tadi pagi!

Suasana di ruang tamu mendadak sunyi dan mencekam. Ketegangan begitu terasa hingga biskuit di atas nampan bergetar pelan saat Rara meletakkannya di atas meja.

Sebelum Alden atau Tika sempat melontarkan pertanyaan, Athur mengambil inisiatif. Ia menyela keheningan sebelum perbincangan mereka meluas ke arah yang tidak ia inginkan. Athur sedikit berdeham, sengaja mengubah pita suaranya menjadi jauh lebih berat, serak, dan dalam—berbeda dari suara aslinya yang biasa didengar Alden di rumah mewah mereka.

"Silakan diminum airnya," ucap Athur dengan suara berat yang menggelegar di ruangan sempit itu, terdengar sangat asing namun penuh penekanan yang mutlak. "Saya wali dari Rara dan adik-adiknya. Ada keperluan apa kalian datang ke rumah ini sesore ini?"

Mendengar suara asing yang begitu berat dan tatapan mata yang sangat mengintimidasi dari balik masker tersebut, Alden langsung tercekat di tempatnya, mencoba mencerna situasi berbahaya yang kini berada tepat di hadapannya.

Suasana di ruang tamu yang sempit itu semakin terasa sesak dan menegangkan. Tatapan mata Alden yang tajam mengunci sepasang mata di balik topi dan masker hitam itu. Jantungnya bergemuruh hebat antara rasa cemburu, patah hati, dan kecurigaan yang membubung tinggi.

Dengan keberanian yang dipaksakan, Alden menegakkan punggungnya. Ia menatap langsung pria misterius itu. "Wali?" cetus Alden dengan nada sangsi. "Setahu saya, Rara cuma punya paman dari pihak almarhum ayahnya. Tapi seingat saya, paman Rara itu tinggalnya jauh banget di luar kota dan jarang ke sini. Anda... sebenarnya siapa?

Tika yang duduk di sebelah Alden ikut mengangguk kuat, mendukung ucapan temannya. Sebagai sahabat setia sejak SMP, Tika tahu betul seluk-beluk keluarga Rara. "Iya, benar kata Alden. Gue udah temenan sama Rara dari zaman seragam putih-biru, tapi gue baru pertama kali ini lihat Anda. Lagian, kenapa di dalam rumah sendiri harus pakai topi sama masker lengkap begitu, Om?" tanya Tika blak-blakan dengan kening berkerut.

Mendengar rentetan pertanyaan itu, Rara yang berdiri di dekat nampan langsung meremas jemarinya sendiri. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia menatap Fino dengan pandangan panik.

Fino yang sadar situasi sudah sangat tidak mendukung dan berada di ujung tanduk langsung mengambil tindakan. Dengan gaya casual dan cengiran tengil andalannya, ia melangkah maju dan menepuk pundak Alden dengan keras.

"Halah, Alden, Alden! Lu berdua ini datang tamu-tamu malah interogasi kayak intel polisi aja!" potong Fino heboh, sengaja mengeraskan suaranya demi memecah ketegangan. "Ini tuh Om ... eh, Abang sepupu jauh kita yang baru datang dari luar pulau! Dia ini lagi sakit batuk parah bin bersin-bersin yang bisa menular radius lima meter, makanya pakai masker! Lu mau ketularan hah?"

Mengejutkannya, Nina yang biasanya hanya diam, pemalu, dan sering menyembunyikan diri di belakang Rara, tiba-tiba ikut membuka suara. Ketakutan akan kehilangan beasiswa dan hancurnya masa depan mereka membuat Nina mendadak berani.

"I-iya, bener kata Fino!" sahut Nina cepat, memotong sebelum Alden sempat mendebat lagi. "Abang sepupu kami ini mukanya sensitif sama debu kontrakan, makanya ditutup. Oh iya, Tik, lu katanya tadi mau minjam catatan sejarah punya gua kan? Yuk, mending kita ambil ke kamar sekarang sebelum lupa!" ajak Nina sambil berdiri dan langsung menarik tangan Tika, mencoba mengalihkan perhatian.

"Eh? Tapi Nin, gue kan belum selesai nanya—" protes Tika, namun tenaganya kalah cepat dari tarikan Nina yang sengaja menjauhkannya dari pusat konfrontasi.

Sementara itu, di balik masker hitamnya, Athur justru sedang menikmati permainan ini dengan sangat puas. Di bawah bayang-bayang topinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang penuh kemenangan. Melihat kepanikan, kebingungan, dan riak kemarahan yang tertahan di wajah adik kandungnya sendiri membuat jiwa mafianya merasa terhibur.

Athur tahu betul Alden tidak akan bisa menebak identitasnya berkat suara berat buatan dan penyamarannya. Dengan santai, Athur melipat kedua tangannya di depan dada tegapnya, menatap lurus ke arah Alden yang masih memandangnya dengan kepalan tangan yang mengeras di atas lutut.

1
Embhul82
bagus ceritanya q suka
Emy: makasih sudah mau mampir. Jangan lupa kritik dan saran
total 1 replies
Embhul82
up lagi kak 🤭
Brigita
kurang paham di ini sih
Emy: makasih bnyak kak sudah di koreksi. sebagai manusia pasti tetap ada kesalahan. Alhamdulillah kak sudah di perbaiki
total 1 replies
Brigita
lanjutt truss kakk😍👍💪
Emy: terimakasih kak
total 1 replies
Brigita
semangat kakkk💪💪💪👍😍
Emy: Makasih sudah hadia kak. kritik dan sarannya y kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!