NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Jebakan Anggaran dan Kegilaan Hendra

Matahari pagi baru saja naik di ufuk timur, namun ketegangan di ruang interogasi lantai bawah tanah Rani Group sudah mencapai puncaknya. Di bawah pengawasan ketat dua petugas keamanan dan tatapan dingin mata elang Riko, Sekretaris Maya duduk dengan tubuh gemetar. Di depannya, sebuah ponsel pintar sudah menyala, menampilkan ruang obrolan terenkripsi dengan Hendra Wijaya.

"Kirim foto halaman terakhir berkas anggaran itu sekarang," perintah Riko, suaranya terdengar berat, datar, namun sarat akan titah yang tidak bisa dibantah. "Katakan padanya kamu hampir tertangkap, jadi ini informasi terakhir yang bisa kamu berikan."

Dengan jemari yang gemetar hebat, Maya mengetik pesan tersebut sesuai arahan Riko, lalu menekan tombol kirim. Status pesan berubah menjadi centang dua biru dalam hitungan detik.

Di seberang sana, di dalam penthouse mewahnya, Hendra Wijaya langsung melompat bangun dari kursi kerjanya begitu menerima dokumen tersebut. Wajahnya yang tegang seketika dipenuhi oleh binar kemenangan yang gila.

"Hahaha! Akhirnya! Rani, Riko... kalian pikir kalian bisa mengalahkanku?!" teriak Hendra histeris di dalam ruangannya yang sepi.

Mata Hendra bergerak serakah memindai angka-angka anggaran komoditas baja dan semen proyek Central District yang tertera di dalam foto. Di dalam dokumen palsu rancangan Riko tersebut, angka valuasi sengaja digelembungkan tiga puluh persen lebih tinggi dari harga pasar, lengkap dengan nota kesepakatan fiktif bahwa Rani Group akan memborong seluruh sisa slot komoditas di bursa berjangka pada pukul 10.00 pagi ini.

Hendra, yang otaknya sudah dipenuhi oleh kabut cemburu dan dendam kesumat pasca-insiden kecupan lobi kemarin, tidak lagi menggunakan akal sehatnya. Dia tidak melakukan verifikasi ulang. Baginya, ini adalah kesempatan emas sekali seumur hidup untuk memotong jalur pasokan Rani Group, memonopoli komoditas tersebut, dan memaksa Rani berlutut di bawah kakinya untuk meminta ampun.

Hendra langsung menyambar telepon interkomnya, menyambungkan ke kepala divisi keuangan Wijaya Group. "Kuras seluruh sisa likuiditas perusahaan kita! Cairkan dana cadangan dari bank kustodian, ambil pinjaman jangka pendek dari konsorsium Paman Broto! Kumpulkan dana empat ratus miliar rupiah dalam waktu dua jam! Kita akan melakukan all-in di bursa komoditas sesi pertama pagi ini!"

"Tapi Tuan Hendra, melakukan spekulasi sebesar itu tanpa persetujuan dewan komisaris sangat berisiko—"

"Tutup mulutmu dan lakukan saja! Ini perintah mutlak dari pemilik saham pengendali!" bentak Hendra murka, lalu membanting teleponnya hingga gagangnya retak.

Pukul 10.15 pagi, atmosfer di dalam ruang kerja utama Rani terasa begitu magis. Sinar matahari menerobos masuk, menyinari Rani yang berdiri anggun di dekat jendela besar dengan gaun kerja berwarna biru dongker yang elegan. Di belakangnya, Riko duduk santai di kursi kebesaran CEO milik Rani, menyilangkan satu kakinya sembari menatap layar monitor besar yang menampilkan grafik pergerakan bursa efek dan komoditas secara real-time.

"Pergerakan dana Wijaya Group sudah masuk ke sistem bursa, Riko," ujar Rani, menoleh menatap suaminya dengan senyuman tipis yang sarat akan kekaguman. "Hendra benar-benar memakan umpanmu. Mereka baru saja membeli seluruh slot kontrak berjangka baja dan semen dengan harga tertinggi yang kita pasang di dokumen palsu semalam."

Riko menyesap teh hangatnya, lalu melirik jam tangan arlojinya. "Dia terlalu terburu-buru karena egonya terluka, Rani. Pria yang bertarung dengan rasa cemburu dan dendam adalah pria yang paling mudah untuk dihancurkan. Sekarang... mari kita lepas tali jeratnya."

Riko menekan sebuah tombol di ponselnya, menyambungkan panggilan konferensi video dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Direktur Bursa Komoditas utama.

"Selamat pagi, Pak Direktur," suara bariton Riko bergema tenang namun berwibawa. "Saya Riko Pratama, perwakilan taktis dari Rani Group. Kami ingin merilis dokumen manifes resmi pasokan logistik internal kami yang bekerja sama dengan armada Pratama Corp. Kami juga ingin mengonfirmasi bahwa Rani Group sama sekali tidak memiliki rencana atau keterlibatan dalam aktivitas spekulasi pembelian komoditas di bursa berjangka pagi ini. Segala bentuk dokumen anggaran yang beredar di luar jalur resmi kami adalah palsu dan merupakan bentuk manipulasi informasi oleh pihak ketiga."

Detik itu juga, rilis pers resmi dari Rani Group meluncur ke publik dan sistem bursa.

Dampaknya seperti ledakan bom megaton di tengah pasar modal. Angka anggaran raksasa yang dibeli oleh Hendra dengan harga selangit mendadak kehilangan nilainya dalam sekejap karena Rani Group—sebagai pembeli tunggal terbesar yang diharapkan—ternyata sudah memiliki pasokan logistik mandiri yang jauh lebih murah berkat armada truk Riko!

Layar monitor besar di depan mereka langsung berubah menjadi lautan warna merah darah untuk saham Wijaya Group ($WJYA).

Grafik saham milik keluarga Hendra menukik tajam secara vertikal, terjun bebas tanpa ada penahanan. Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh menit, saham Wijaya Group menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB), anjlok maksimal dalam satu hari perdagangan korporasi!

Di saat yang sama, di dalam ruang rapat utama Wijaya Group, kekacauan massal terjadi. Suara alarm dari sistem perdagangan terus berbunyi nyaring. Para direktur dan manajer keuangan berlarian dengan wajah pucat pasi bak mayat.

"Tuan Hendra! Kita rugi bandar! Nilai kontrak komoditas yang kita beli jatuh delapan puluh persen karena Rani Group merilis manifes logistik mandiri!" teriak kepala keuangan dengan tubuh gemetar hebat. "Dana empat ratus miliar kita menguap dalam sekejap! Bank rekanan langsung membekukan fasilitas kredit kita karena kegagalan margin (margin call)!"

Hendra berdiri terpaku di depan layar proyektor besar yang menampilkan angka minus raksasa di sebelah nama perusahaannya. Matanya membelak sempurna, napasnya memburu pelan sebelum akhirnya menjadi terengah-engah seperti orang yang kekurangan oksigen.

"T-tidak mungkin... ini tidak mungkin!" raung Hendra gila, menjambret rambutnya sendiri hingga berantakan. "Rani tidak mungkin sekejam ini! Ini pasti ulah si bajingan Riko! Tikus bangkrut itu yang merancang semua ini!"

Brak!

Pintu ruang rapat didorong terbuka secara kasar. Paman Broto melangkah masuk dengan wajah yang merah padam oleh amarah yang tak terkendali. Tanpa basa-basi, lelaki paruh baya itu langsung mencengkeram kerah kemeja Hendra dan mendaratkan satu pukulan keras di pipi Hendra hingga pria muda itu tersungkur ke lantai.

"Pecundang bodoh!" teriak Paman Broto murka, napasnya tersengal-sengal. "Uang konsorsiumku sebesar dua ratus miliar yang kamu pinjam ikut lenyap di bursa pagi ini! Kamu baru saja menghancurkan likuiditas keluargaku demi mengejar wanita yang bahkan sudah meludahimu di depan umum! Wijaya Group sudah tamat, Hendra! Dan kamu akan membusuk di penjara karena menggunakan dana nasabah tanpa izin!"

Hendra yang terduduk di lantai dengan sudut bibir berdarah tidak lagi mendengarkan makian Paman Broto. Dia justru tertawa terbahak-bahak—sebuah tawa melengking yang terdengar sangat gila dan mengerikan di tengah ruang rapat yang kacau.

"Hahaha! Tamat? Siapa yang tamat?!" Hendra merangkak bangun, matanya yang memerah menatap tajam ke arah jendela luar yang mengarah ke gedung Rani Group. Rasa cemburu, kekalahan finansial, dan harga diri yang hancur total telah membakar habis sisa akal sehat di kepalanya, mengubahnya menjadi monster yang sesungguhnya. "Kalau aku harus hancur dan masuk ke neraka... maka aku akan memastikan Riko dan Rani ikut terbakar bersamaku! Aku akan menghancurkan mereka dengan caraku sendiri!"

Kembali ke ruang kerja Rani, suasana justru diselimuti oleh kelegaan yang luar biasa. Rani berjalan mendekati Riko yang masih duduk di kursinya. Tanpa memikirkan gengsi Alpha Woman-nya lagi, Rani mendudukkan dirinya secara perlahan di atas lengan kursi kerja, tepat di samping Riko.

Dia menatap wajah tampan suaminya dari dekat, merasakan debaran jantung yang kini tak lagi canggung, melainkan penuh dengan rasa kepemilikan yang nyata.

"Hendra sudah selesai, Riko. Perusahaannya tidak akan bisa pulih dari pukulan telak ini," bisik Rani lembut. Tangannya bergerak berani, merapikan kerah kemeja Riko yang sedikit miring.

Riko memalingkan wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Rani yang indah dengan jarak yang hanya beberapa sentimeter. Dia mengulurkan tangan kanannya, menangkap pinggang ramping Rani, lalu menarik tubuh wanita itu dengan lembut hingga Rani terduduk sepenuhnya di atas pangkuan bidangnya.

Rani terkesiap pelan, wajahnya merona merah, namun dia sama sekali tidak menolak. Dia justru menyandarkan kedua tangannya di atas bahu tegap Riko, mengunci tatapan mereka dalam keheningan yang intim dan sarat akan percikan asmara yang membara.

"Satu musuh sudah kita singkirkan dari papan catur, Rani," bisik Riko rendah, suaranya yang seksi dan berat membuat dada Rani berdesir hebat. "Tapi ini belum berakhir. Pria yang kehilangan segalanya seperti Hendra adalah pria yang paling berbahaya. Dia tidak akan lagi bermain menggunakan aturan hukum korporasi."

"Aku tidak takut, Riko," jawab Rani tegas, sorot matanya memancarkan keyakinan mutlak pada pria yang mendekapnya ini. "Selama elangku ada di sini, bersamaku... aku tahu tidak ada satu pun badai yang bisa meruntuhkan tempatku berdiri."

Riko tersenyum tampan—sebuah senyuman yang didedikasikan khusus hanya untuk wanita di pangkuannya. Dia condong ke depan, mendekatkan wajahnya hingga Rani bisa merasakan deru napas hangat Riko yang menerpa bibirnya, bersiap untuk mengunci kemenangan pertama mereka dengan sebuah ciuman yang sesungguhnya, bukan lagi sekadar PR Stunt di hadapan media. Namun sebelum bibir mereka bertautan, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pribadi Riko dengan getaran keras, membawa sebuah foto ancaman baru dari nomor tidak dikenal yang akan mengubah Fase 3 ini menjadi pertarungan hidup dan mati yang sesungguhnya!

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!