Demi pengobatan sang ibu, Bella rela menjadi simpanan Steven, CEO PT. Graha Sanatama. Namun, jodoh dan maut di tangan Tuhan. Sang ibu tetap tak dapat diselamatkan.
Setelah ibunya meninggal, Bella melepaskan diri dari Steven. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka ketika Bella diperkenalkan kepada keluarga Axel, kekasih barunya. Tanpa di sangka ternyata pria itu adalah adiknya Steven.
Steven cemburu melihat kemesraan Axel dan Bella. Dia nekat merebut kembali Bella dari adiknya itu.
Apakah takdir tetap mempersatukan Bella dan Steven, sedangkan ada hati lain di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sebelas
Hari sudah menjelang malam, tibalah saatnya Bella beristirahat. Hari ini kafe terlihat lebih ramai dibandingkan dari biasanya.
Bella beristirahat di dapur. Dia membuka bungkusan nasi yang tadi di beli. Perutnya sudah bersuara minta diisi.
Baru beberapa suap, terdengar suara Axel menyapa. Pria itu langsung duduk di samping Bella. Tersenyum manis dengan wanita itu, Bella membalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis juga.
"Aku boleh'kan temani kamu di sini?" tanya Axel.
"Ini kafe milikmu, Kak. Tak perlu minta izin denganku," jawab Bella dengan suara lembut.
"Tapi boleh saja kamu menolak jika merasa tak nyaman denganku," balas Axel.
"Kenapa tak nyaman? Aku takut justru Kak Axel yang merasa tak nyaman, karena pasti orang yang melihat akan bertanya-tanya kenapa Kak Axel duduk di dapur tempat karyawan berada," ujar Bella.
"Itu tak perlu kamu pikirkan karena seperti katamu, aku pemilik kafe ini, jadi suka-suka aku mau melakukan apa," kata Axel.
Axel lalu menarik satu kursi dan duduk berhadapan dengan wanita itu. Matanya terus mencuri pandang ke arah Bella.
Bella bukan tak menyadari jika Axel sering melirik ke arah dirinya, tapi dia pura-pura tak menyadari saja. Dia terus saja menyantap makanannya.
"Bella, leher kamu kenapa?" tanya Axel. Dia melihat samar-samar ada banyak tanda kemerahan.
Bella langsung menutupi dengan mengangkat bajunya. Dia langsung sadar dengan pertanyaan Axel. Padahal tadi dia telah memakai bedak untuk menutupi.
"Ini pasti alergiku kambuh lagi," jawab Bella sedikit gugup.
"Kamu alergi apa?" Kembali Axel bertanya.
"Udang. Pasti ini gara-gara aku makan udang tadi. Makanya aku tadi agak menolak makanan yang diberikan abangnya Kak Axel," jawab Bella lagi.
Bella tak tahu harus menjawab apa. Teringat tadi dia makan udang, jadi dia pikir itu satu-satunya alasan.
"Kenapa tadi tak ngomong. Sebaiknya sekarang kita ke rumah sakit," ajak Axel. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Tak usah, Kak. Aku sudah minum obat," balas Bella.
Bella meminta agar Axel kembali duduk dan tak perlu kuatir. Dia mengatakan itu biasa terjadi. Barulah pria itu tampak lebih tenang.
Axel meminta salah satu karyawannya membuatkan teh hangat dan membawa makanan untuknya. Pria itu lalu ikut makan bersama Bella.
Satu jam beristirahat sambil mengobrol, akhirnya Bella harus kembali melayani pelanggan. Walau dirinya dekat dengan Axel, tapi Bella tak mau memanfaatkan itu. Dia tetap profesional dalam bekerja.
Bella saat ini bertugas di bagian kasir, jika pelanggan banyak, dia akan membantu melayani tanpa di minta. Hal itu juga membuat Axel makin mengagumi wanita itu.
Hingga jam menunjukan pukul dua belas, Axel lalu mengatakan pada pelanggan jika kafe akan segera di tutup.
"Aku antar kamu pulang," ucap Axel.
Bella cukup terkejut mendengarnya karena Axel mengatakan di depan salah satu karyawannya. Hal itu membuatnya cukup malu. Dia takut menjadi bahan gosip nantinya.
"Tak perlu, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Lagi pula aku mau menginap di rumah saudara, aku tak enak jika di antar," ucap Bella beralasan.
"Maaf, aku pernah dengar dari salah satu karyawan kalau kamu tak memiliki sanak saudara di sini!" seru Axel
"Betul, Kak. Ini hanya orang lain, tapi kami sudah seperti saudara," balas Bella.
"Oh gitu."
Bella lalu pamit pulang. Dia berjalan hingga ke jalan besar. Saat matanya mencari sesuatu, dia melihat ada Han berdiri di samping sebuah mobil..
Bella berjalan mendekati mobil itu dengan segera, lalu masuk ke mobil. Takut ada yang melihatnya. Setelah wanita itu masuk, Han langsung mengendarai menuju salah satu apartemen milik Steven.
Han akan mengantar hingga ke depan pintu apartemen. Bella menatap pria itu dengan perasaan heran, karena dia bisa menahan untuk tak bersuara jika tak butuh sekali.
"Pak Han, apa suara kamu mahal?" tanya Bella saat keduanya sedang berjalan menuju unit apartemen milik Steven.
"Ada apa, Mbak?" tanya Han akhirnya membuka suara.
"Gitu dong. Kanapa harus di tahan jika ingin bicara," ucap Bella.
Sampai di depan apartemen milik Steven, Han membuka dengan kartu yang dia pegang. Satu apartemen itu memang di beri dia kartu sebagian akses masuk.
"Masuklah, Mbak. Aku akan segera pergi!" ucap Han dengan suara datar.
"Terima kasih, Pak Han!" seru Bella.
Han hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia langsung menutup pintu begitu memastikan jika Bella telah masuk.
Bella membuka sepatunya. Setelah itu dia berjalan menuju sofa. Dia duduk bersandar sambil memijat kepalanya. Dua hari ini kepalanya terasa pusing. Mungkin karena memikirkan nasibnya dan juga memikirkan Steven.
Saat Bella sedang asyik memijat kepalanya dia merasa benda basah mendarat di dahinya. Wanita itu lalu membuka matanya.
"Kamu mau mandi atau langsung tidur?" tanya Steven.
"Aku mandi dulu, Pak," jawab Bella.
"Kenapa panggil aku dengan sebutan Pak. Bukankah tadi kamu memanggilku Bang?" tanya Steven.
"Aku tak biasa, Pak," jawab Bella.
"Untuk itu kamu harus biasakan! Aku mau kamu memanggilku seperti di restoran tadi. Aku bukan bapakmu dan aku juga tak setua bapakmu, jadi kenapa kau harus memanggilku Bapak!" seru Steven dengan penuh penekanan.
"Baik, Pak ... eh, Bang," ucap Bella dengan suara gugup karena ketakutan.
Steven lalu mengajaknya ke kamar. Bella mengikut pria itu dari belakang.
"Ini handuk, mandilah! Setelah itu kau pakai baju itu," ucap Steven dengan menunjuk ke arah meja rias. Di sana ada satu paper bag.
Bella meraih handuk yang di ulurkan Steven, dan dia langsung menuju kamar mandi. Dia langsung mengunci pintu, takut jika tiba-tiba Steven masuk. Walau mereka telah sering berhubungan badan tapi tetep saja malu jika mandi bareng. Lagi pula, pria itu tak akan membiarkan dia mandi dengan tenang.
Setengah jam membersihkan diri, Bella akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia lalu mengambil paper bag yang di berikan Steven tadi.
Bella lalu mengeluarkan isinya. Betapa terkejutnya saat menyadari jika baju yang dibelikan Steven adalah baju dinas malam yang modelnya di luar nurul. Bahan sangat tipis dan bagian punggung terbuka lebar.
"Bang, apa aku harus memakai baju ini?" tanya Bella dengan sedikit ketakutan.
"Tentu saja!"
"Bajunya sangat tipis," balas Bella.
"Pakai segera. Setelah itu temani aku tidur!" perintah Steven.
Bella dengan terpaksa memakai baju yang modelnya di luar nurul itu. Setelah itu langsung naik ke ranjang.
"Bang, apa aku boleh langsung tidur? Kepalaku agak pusing," ucap Bella dengan suara sedikit pelan karena ketakutan.
Steven menatap Bella dengan tajam. Wanita itu jadi menunduk. Dia takut jika pria itu tak terima dengan alasannya.
"Tidurlah jika kamu memang pusing!" ucap Steven. Bella terkejut mendengar ucapan pria itu.
**
Selamat Pagi semuanya. Boleh nggak mama minta like setiap habis baca. Biar tau seberapa banyak yang baca tiap bab. Satu lagi, jangan skip ya baca novelnya. Baca tiap update. Terima kasih. Lope-lope sekebon jeruk 🥰🥰🥰🥰