NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 13 – Tanda-Tanda di Balik Keheningan

Sepanjang perjalanan pulang, Raka terus menggenggam batu hitam pemberian Pak Surya di dalam saku jaketnya. Rasanya tetap hangat meski udara sekitar terasa makin dingin, seolah ada aliran tenaga lembut yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mencoba menenangkan pikiran, mengulang pesan lelaki tua itu: Jangan beri ruang pada ketakutan, karena itulah satu-satunya jalan masuk mereka.

Sesampainya di kamar kosan, ia meletakkan batu itu di atas meja belajar, tepat di tempat yang mudah terlihat dan terjangkau. Ia memeriksa kembali seluruh sudut ruangan, memastikan tidak ada perubahan yang mencurigakan. Untuk beberapa hari pertama, suasana terasa benar-benar tenang—tidak ada suara aneh, tidak ada bayangan yang bergerak, bahkan mimpi buruk pun jarang menghampirinya. Raka mulai berpikir, mungkin kekhawatiran itu hanya berlebihan.

Namun, keheningan itu justru menjadi pertanda bahwa sesuatu sedang bergerak diam-diam.

Hari kelima sejak membakar kotak kayu, hal-hal kecil mulai terjadi—hal yang pada awalnya dianggap sebagai kebetulan biasa, tapi makin lama makin terasa tidak wajar.

Pertama, soal cahaya. Setiap kali malam tiba, nyala lampu di kamarnya selalu terasa lebih redup dari seharusnya, meski bola lampunya baru saja diganti. Jika ia mendekatkan tangannya ke dinding, bayangannya terlihat sedikit lebih gelap dan lebih panjang dari ukuran aslinya, seolah memiliki bentuk tersendiri yang tidak mengikuti gerakan tubuhnya. Saat ia mencoba mengamatinya lebih dekat, bayangan itu akan kembali normal seketika, membuatnya ragu apakah benar-benar melihat sesuatu atau hanya khayalan semata.

Kedua, soal bau. Kadang-kadang, di tengah udara yang segar, tiba-tiba tercium bau aneh—bukan lagi bau apek atau tanah basah seperti sebelumnya, melainkan bau seperti kertas yang terbakar dicampur dengan logam dingin. Bau itu hanya bertahan beberapa detik, lalu lenyap begitu saja, namun cukup lama untuk membuat bulu kuduknya berdiri.

Dan yang paling mengganggu adalah suara. Bukan bisikan atau teriakan seperti yang ia alami dulu, melainkan suara samar seperti orang berbisik sangat pelan dari balik dinding atau dari sudut ruangan yang gelap. Setiap kali ia berhenti beraktivitas dan mencoba mendengarkan dengan saksama, suara itu langsung menghilang, digantikan oleh keheningan yang terasa lebih berat dari biasanya.

Suatu malam, saat Raka sedang membaca buku untuk mengusir rasa bosan, kejadian yang lebih nyata terjadi. Ia duduk di kursi meja belajar, lampu menyala cukup terang, dan batu hitam itu tergeletak tepat di sisinya. Tiba-tiba, tanpa ada angin yang masuk, halaman buku yang sedang dibacanya terbalik sendiri ke halaman terakhir.

Raka mengangkat kepalanya, menatap sekeliling dengan waspada. “Hanya hembusan angin dari celah jendela,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sambil membalikkan halaman kembali.

Namun, baru beberapa menit kemudian, halaman itu terbalik lagi—kali ini lebih cepat, seolah ditiup oleh kekuatan yang lebih terarah. Dan saat matanya tertuju ke halaman terakhir itu, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak.

Di atas kertas yang kosong, perlahan muncul tulisan samar berwarna kelabu pudar, terbentuk seolah ditulis oleh tangan yang tak terlihat:

“Kau pikir ini sudah selesai? Kau hanya memindahkan ikatan itu ke tempat yang lebih dekat dengan dirimu sendiri.”

Raka langsung melompat mundur dari kursinya, punggungnya menempel ke dinding. Matanya terbelalak menatap tulisan itu, sementara tangannya meraih batu hitam di meja dengan genggaman sekuat tenaga. Begitu jemarinya menyentuh permukaan batu itu, tulisan kelabu itu perlahan memudar dan lenyap, meninggalkan halaman yang kembali kosong seperti sedia kala.

Suasana ruangan terasa makin dingin, dan bayangan-bayangan di sudut ruangan tampak bergerak sedikit, menyatu membentuk sosok samar yang mengawasinya dari kejauhan tanpa berani mendekat lebih jauh.

“Jauhkan… jangan dekati aku!” teriak Raka dengan suara lantang, memancarkan rasa percaya diri sebesar mungkin meski hatinya berdebar kencang.

Sosok bayangan itu seolah mundur perlahan, lalu terpecah kembali menjadi bayangan biasa saat cahaya lampu menyala lebih terang. Namun Raka tahu, pertemuan ini baru permulaan. Makhluk itu sedang menguji kekuatan pertahanannya, mencari celah untuk masuk saat ia lengah.

Keesokan paginya, Raka segera berlari menuju rumah Pak Surya. Ia tidak lagi bisa menganggap semua itu hanya khayalan. Apa yang dikatakan lelaki tua itu terbukti benar—kekuatan yang terbebaskan itu kini mengarah kepadanya, dan batu pemberian itu hanya menjadi penghalang sementara, bukan solusi akhir.

Saat menceritakan semua kejadian semalam, raut wajah Pak Surya semakin muram dan cemas. Ia mengangguk perlahan, seolah sudah menduga hal ini akan terjadi lebih cepat dari perkiraannya.

“Ujian baru saja dimulai, Nak. Makhluk yang kau hadapi ini tidak seperti arwah keluarga Handoko yang masih memiliki perasaan dan ingatan. Ia tidak punya rasa iba, tidak kenal lelah, dan tujuannya hanya satu: mendapatkan tumpuan yang cukup kuat untuk tumbuh kembali menjadi kekuatan penuh. Ia mengikutimu karena kau yang membuka jalan, dan ia melihat ketakutan serta rasa bersalahmu sebagai makanan yang paling nikmat,” jelas Pak Surya dengan nada serius.

“Lalu apa yang bisa aku lakukan? Batu ini hanya bisa menahannya sementara, bukan menghilangkannya selamanya,” tanya Raka dengan nada putus asa namun tetap berusaha tegar.

“Kita tidak bisa menghancurkannya dengan cara biasa. Ia sudah ada jauh sebelum manusia membangun rumah itu. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah mengembalikannya ke tempat asalnya—tempat di mana perjanjian itu dibuat puluhan tahun yang lalu, dan menutup kembali jalan yang sudah terbuka,” jawab Pak Surya sambil menatap mata Raka.

“Tempat asalnya?”

“Ya. Di dalam tanah di bawah rumah tua itu. Di sanalah Tuan Handoko mengubur benda yang menjadi saksi perjanjiannya. Selama benda itu masih terpendam dan tidak disegel kembali, jalan menuju dunia kita akan tetap terbuka.”

Mendengar itu, Raka menyadari bahwa ia harus kembali lagi ke rumah tua itu—tempat yang baru saja ia tinggalkan dengan rasa lega. Kali ini, misinya jauh lebih berbahaya, karena ia harus masuk lebih dalam lagi, hingga ke bagian yang tak pernah ia sentuh sebelumnya: ruang di bawah tanah yang tersembunyi dari pandangan siapa pun.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!