NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:316
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan dari Masa Lalu

Suara sirine ambulans perlahan memudar, digantikan oleh bunyi ritmis dan menenangkan dari mesin pemantau detak jantung di ruang rawat inap intensif. Cahaya lampu rumah sakit yang terang benderang memantul pada wajah pucat Elena yang kini berbaring di atas tempat tidur. Peluru yang menembus bahu kirinya telah berhasil dikeluarkan oleh tim bedah, dan meski lukanya cukup dalam, dokter memastikan tidak ada arteri utama yang rusak.

Arthur duduk di sisi tempat tidur, menatap wanita itu tanpa berkedip. Jaket hitamnya yang kini bernoda darah dan debu telah ia lepaskan. Perlahan, ia mengulurkan tangannya dan menggenggam jemari Elena dengan erat, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.

Elena membuka mata birunya perlahan, menatap Arthur dengan senyuman tipis yang lemah. Rambut pirangnya yang tergerai di atas bantal putih membuat wajahnya tampak semakin rapuh, namun tatapannya tetap tajam dan penuh kehangatan.

"Kau terlihat mengerikan, Arthur," bisik Elena dengan aksen Rusianya yang samar, mencoba mencairkan ketegangan.

Arthur tidak tersenyum. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya, dan dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kebuasaannya di ruang interogasi tadi, ia mengecup kening Elena. Ciuman itu tertahan lama, sebuah janji bisu yang dipenuhi oleh rasa syukur dan tekad yang membara.

"Istirahatlah," bisik Arthur di dekat telinganya. "Tutup matamu. Aku akan membereskan sisanya."

Elena mengangguk pelan, membiarkan matanya terpejam. Dalam beberapa menit, pengaruh obat pereda nyeri membuatnya tertidur lelap. Arthur terus menggenggam tangan itu hingga napas Elena terdengar teratur dan damai.

Saat pintu ruangan terbuka dan Manuel melangkah masuk dengan wajah tegang, Arthur perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri, dan dalam sekejap, kelembutan di wajahnya lenyap tanpa sisa. Wajahnya digantikan oleh tatapan dingin seorang predator yang telah menemukan jejak mangsanya.

"Kondisinya stabil," lapor Manuel pelan. "Tim taktis federal sudah menjaga perimeter rumah sakit. Darren Cole juga sudah dipindahkan ke sel isolasi tingkat tinggi."

"Bagus," jawab Arthur, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Sekarang, saatnya kita memburu Victor Hale."

Pencarian itu tidak mudah. Victor Hale adalah seorang ahli dalam menyembunyikan jejak. Selama beberapa jam, Arthur dan Manuel membelah kota pusat keuangan, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Arthur menggunakan data keuangan yang telah diretas Elena sebelumnya, menyilangkannya dengan pola pembelian properti fiktif dan pergerakan lalu lintas udara pribadi. Otak analitisnya bekerja tanpa henti, mempersempit ribuan kemungkinan menjadi satu titik pasti yang tak terbantahkan.

Menjelang tengah malam, hujan gerimis mulai turun, membasahi aspal dan memantulkan cahaya neon kota. Mobil dinas mereka berhenti di depan sebuah dermaga pribadi yang tersembunyi di ujung distrik industri. Di ujung dermaga, sebuah kapal cepat mewah sedang menyala mesinnya, siap untuk melarikan diri ke perairan internasional.

Seorang pria berpostur tegap dengan mantel panjang berdiri di dekat pintu kabin kapal, diawasi oleh dua pengawal bersenjata. Itu adalah Victor Hale.

Manuel melompat keluar dari mobil dengan lencana federalnya diangkat tinggi, senjata api siap di tangan kanannya. "Victor Hale! Atas nama Departemen Kehakiman Federal, Anda ditahan atas dugaan konspirasi pembunuhan dan pencucian uang! Suruh pengawal Anda menjatuhkan senjata dan angkat tangan!"

Kedua pengawal Victor langsung mengarahkan senjata mereka, namun Victor mengangkat satu tangannya, memberi isyarat untuk tidak menembak. Pria itu berbalik perlahan, menatap Manuel dan Arthur yang kini berdiri di sampingnya. Wajah Victor tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Sebaliknya, sebuah senyuman sinis yang meremehkan terukir di bibirnya.

"Kapten federal dan konsultan," sapa Victor dengan suara bariton yang membawa aksen asing yang sangat kental. "Kalian datang lebih cepat dari yang kuduga. Tapi, di mana gadis pirangku? Di mana Elena?"

Mendengar nama itu disebut, rahang Arthur mengeras seketika. "Dia tidak akan pernah menjadi milikmu, Hale. Dan kau tidak akan pernah menyentuhnya lagi."

Victor tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar dingin namun menyimpan kegelapan yang pekat. "Kalian pikir ini semua hanya soal uang? Soal auditor bodoh yang bunuh diri? Tidak, teman temanku. Darren adalah sampah yang harus dibersihkan karena dia gagal. Tapi Elena, Elena adalah tujuan utamaku."

Victor melangkah maju, menatap tajam ke arah Arthur dengan pandangan penuh provokasi. "Aku berasal dari tanah yang sama dengannya, Rusia. Dan lebih dari itu, aku adalah masa lalunya. Aku adalah pria yang mencintainya, melatihnya, dan dikhianatinya saat dia memilih meninggalkan dunia gelap kami demi menjadi agen hukum yang suci. Malam ini, aku tidak hanya ingin menghancurkan Perusahaan Aethelgard. Aku ingin membunuh Elena dengan tanganku sendiri sebagai hukuman atas pengkhianatannya."

Kata kata itu menghantam Arthur seperti sebuah ledakan emosi. Pengungkapan bahwa Victor adalah mantan kekasih Elena, seorang pria dari masa lalu kelam wanita yang ia cintai, dan bahwa seluruh operasi berdarah ini bermuara pada dendam pribadi untuk membunuh Elena, membuat sesuatu di dalam diri Arthur meledak.

Murka yang murni dan membutakan mengambil alih seluruh kesadarannya.

Tanpa peringatan apa pun, Arthur melesat ke depan dengan kecepatan luar biasa. Ia tidak mencabut senjatanya karena ia ingin meremukkan pria ini dengan tangan kosongnya sendiri.

Victor, yang ternyata memiliki refleks secepat kilat, langsung melepas mantel panjangnya dan menangkis pukulan pertama Arthur. Benturan keras antara lengan kedua pria itu menghasilkan bunyi letupan daging yang mengerikan di tengah kesunyian dermaga.

Manuel yang bersiaga di belakang seketika terpaku. Matanya membelalak lebar menyaksikan pertarungan brutal yang terjadi di hadapannya. Ia pernah melihat Arthur melumpuhkan pembunuh bayaran dengan mudah di kantor polisi, namun kali ini, situasinya sangat jauh berbeda.

Victor Hale bukanlah eksekutif kantoran biasa. Ia adalah mantan agen operasional tingkat tinggi dari Rusia, seorang master bela diri taktis yang mematikan. Setiap serangan Arthur yang cepat, presisi, dan ditujukan pada titik vital tubuh, berhasil ditangkis atau dihindari oleh Victor dengan teknik pertahanan yang sama sempurnanya.

Mereka bertarung sengit di atas dermaga yang basah oleh hujan, bergerak lincah seperti dua bayangan yang saling memangsa. Arthur melancarkan tendangan menyapu yang ditujukan pada lutut Victor, namun Victor melompat cepat dan membalasnya dengan hantaman sikut yang nyaris mematahkan pelipis Arthur. Arthur menunduk gesit, masuk ke dalam jarak dekat pertahanan Victor, lalu melancarkan serangkaian pukulan kombinasi cepat ke arah rusuk yang sayangnya masih berhasil diblokir oleh lengan bawah Victor yang sekeras besi.

"Ilmu bela diri mereka sama sama mematikan," gumam Manuel dalam hati, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa sembarangan melepaskan tembakan bantuan karena pergerakan kedua pria itu terlalu cepat dan saling bertautan erat. Satu peluru nyasar bisa saja berakibat fatal mengenai Arthur.

"Kau kuat, Rutherford!" teriak Victor di tengah pertarungan, napasnya mulai memburu namun senyum gilanya tidak lantas hilang. "Tapi kau bertarung dengan emosi! Emosi akan membuatmu mati!"

Victor melancarkan serangan balik yang brutal, sebuah bantingan judo taktis yang langsung dikombinasikan dengan kuncian sendi. Arthur terlempar keras ke atas kayu dermaga yang kokoh, namun alih alih panik, insting bertahan hidupnya langsung mengambil alih. Ia memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan momentum bantingan itu untuk melayangkan tendangan tumit tepat ke arah dagu Victor dari bawah.

Victor terhuyung beberapa langkah ke belakang, darah segar mulai menetes dari sudut bibirnya yang robek.

Arthur bangkit berdiri dengan perlahan. Matanya yang hijau kini menggelap oleh amarah yang luar biasa dingin. Emosinya tidak lagi meledak ledak, amarah itu kini telah memadat menjadi bongkahan es yang membekukan logikanya ke dalam mode pembunuh.

"Kau salah, Victor," kata Arthur, suaranya terdengar sangat rendah dan mengerikan. "Aku tidak bertarung dengan emosi. Aku bertarung untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa menatap Elena lagi."

Arthur menyerang kembali, kali ini dengan kecepatan dan intensitas yang melampaui batas sebelumnya. Ia membiarkan Victor melayangkan tebasan pisau tangan ke arah lehernya, namun di detik terakhir, Arthur menepis lengan pria itu dengan tangkisan silang. Ia merangsek masuk ke celah sempit pertahanannya, lalu menghantamkan lututnya berkali kali tepat ke arah ulu hati Victor.

Saat Victor membungkuk kesakitan menahan efek lumpuh dari serangan itu, Arthur mencengkeram kerah bajunya dengan kedua tangan, memutar tubuh pria itu dengan satu hentakan kuat, lalu membantingnya keras ke atas dek logam kapal. Bunyi retakan tulang rusuk terdengar jelas memecah deru hujan. Victor terbatuk memuntahkan darah, tubuhnya kejang beberapa saat, dan akhirnya kehilangan kesadaran total.

Hujan gerimis terus turun, membasahi wajah Arthur yang berdiri tegak di atas tubuh Victor yang sudah tidak berdaya. Napasnya memburu berat, sementara buku buku jarinya tampak memar dan berlumuran darah.

Manuel perlahan menurunkan senjatanya, menatap Arthur dengan campuran rasa hormat yang besar dan sedikit ketakutan. Ia baru saja menyaksikan sisi lain yang mengerikan dari seorang Arthur Rutherford, sisi gelap yang rela menghancurkan dirinya sendiri demi melindungi wanita yang ia cintai.

"Ikat dia, Manuel," perintah Arthur tanpa menoleh sedikit pun, suaranya terdengar parau dan lelah. "Pastikan dia diikat dengan rantai baja. Aku tidak ingin dia bangun dan mencoba melarikan diri."

Manuel mengangguk sigap, segera mengeluarkan borgol taktis dan rantai pengaman dari pinggangnya. "Kau baik baik saja, Arthur?"

Arthur menatap ke arah cakrawala kota yang berkabut tebal, pikirannya kini telah melompat kembali ke ruang rawat inap rumah sakit, tertuju pada wanita berambut pirang yang sedang tertidur lelap di sana.

"Aku baik baik saja," jawab Arthur pelan. "Tapi kita baru saja membuka pintu ke masa lalu Elena. Dan aku curiga, ada lebih banyak hantu dari Rusia yang akan datang mencarinya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!