Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 10
...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Suara-suara mendadak tenggelam bersama malam, kunang-kunang yang berpendar pun tiba-tiba saja menghilang seirama dengan suara pekikan seseorang dari balik pepohonan hijau di area samping kedua gadis itu.
Brakk!
Ellena dan Kalea terperanjat dengan suara benturan seseorang dengan benda-benda mati yang ada di sekitarnya, suara itu begitu mendengung di telinga keduanya. Netranya saling tenggelam pada ketakutan yang sama, Ellena yang tengah asyik bermain air di danau itu segera memacak menyejajarkan dirinya dengan Kalea.
"Kal ... Ada apa itu? Suara siapa?" tanya Ellena getir, tengkuknya serasa membeku dalam waktu yang panjang.
Kalea yang berdiri di samping kanan Ellena ikut bergeming, dia tidak mengetahui apapun tentang hal itu, suara-suara menakutkan itu telah berhasil merenggut keberanian gadis itu yang selalu bedegap.
Gadis bermata almond itu bergerak mundur dan bersembunyi di punggung Ellena, membuat gadis bermata merah muda itu semakin mematung, netranya berkeliaran tidak menentu. Sesekali dia menoleh pada Kalea yang membungkuk lemah di belakangnya.
"Eh Kal, kenapa kamu malah sembunyi begitu," sanggah Ellena bergerak hendak untuk ke belakang Kalea.
Namun, gadis bertubuh ramping itu tidak membiarkan Ellena menggantikan posisinya. wajahnya mengerut dengan gelengan kepala yang kuat. Dia putar tubuh Ellena dan mendorongnya, keduanya berjalan secara diam-diam untuk mengintip kejadian apa itu.
"Kal ...," protes Ellena menahan tubuhnya.
"Ssstt! Len ... Berisik."
Mereka bersembunyi di balik pohon berdaun rindang, akar-akar pohon itu nampak keluar memancarkan kegagahannya. Ellena yang posisinya kini ada di depan bergetar ketakutan, keduanya sepakat untuk meluluk jauh ke depannya.
Ada banyak sekali motor-motor mewah berjajar di setiap ruas jalan besar yang sepi itu, pohon-pohon tinggi yang menghitam karena malam ikut menunduk. Di tengah-tengah puluhan motor besar itu seorang pria yang sudah nampak berumur tersungkur di bawah dengan lemah, wajahnya sudah dipenuhi oleh luka lebam.
"Selesai ketua," seru salah satu komplotan itu sembari melempar balok kayu yang sudah mengambil sebagian darah yang bercucuran dari pelipis lelaki berumur itu.
"Aauwh ...," ringis lelaki itu memegangi perutnya yang kesakitan, wajahnya tertadah ke atas melihat langit malam yang begitu tenang.
Pria muda berpenampilan gagah, tubuhnya dipenuhi otot-otot yang kekar, postur tubuhnya pun begitu sempurna. Tinggi, dengan dilengkapi paras yang tampan. Dia seka rambut side bangs-nya ke belakang, otot-otot lengannya mengeras.
"Kerja bagus," tukasnya tersenyum sinis, kerlingannya merusuk.
Dia berayun lamban dengan kekacakan yang membuat seluruh anggotanya melangkah mundur, dan membiarkan lelaki yang disebut dengan ketua itu mendekati lelaki berumur yang sudah tersempalai dengan lemah.
"Ketua Kano," panggil salah satu anggota yang ada di samping kanannya.
Lantas Kano menoleh, sorot matanya terlempar jauh pada pohon besar yang ada di ujung jalan, dua gadis cantik terekam jelas oleh mata Kano yang memiliki kemampuan bisa melihat jelas dengan jarak sejauh apapun itu.
"Singkirkan dua gadis di sana," titah Kano pada anggotanya.
Serempak semua anggotanya menoleh ke arah Kano memindai, dan mereka tidak bisa melihat apapun, karena jaraknya memang terlalu jauh. Lantas ke-lima anggotanya yang memang semuanya pria-pria yang memiliki kemampuan bela diri yang tangguh bergerak untuk mendekati pohon besar berdaun rindang itu.
Sementara Kano kembali pada lelaki berumur di hadapannya. Dia terjunkan kaki panjangnya tepat di atas dada lelaki itu, sudut bibirnya menaik sambil dia menyugar rambutnya lagi. "Mau mulai dari mana?!" seru Kano puas telah mengalahkan lelaki itu.
Satu tangannya beralih ke belakang tubuhnya dan tenggelam ke dalam saku celananya, dia mengambil sebuah pisau lipat, lalu gegas dia arahkan ke dada lelaki itu, seketika lelaki itu membulat ketakutan.
"To-tolong ja-ja-jangan ...," pintanya mengatupkan kedua tangannya saling menempel, tatapannya mengendur menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Sudah saya katakan," gertak Kano mengusapkan pisau itu di atas pipi lelaki itu, "serahkan saat itu juga sebelum saya ambil nyawamu sebelum dewa melakukan tugasnya!"
Di sisi lain, Ellena dan Kalea yang menyadari jika mereka dalam bahaya segera melarikan diri saat ke-lima pria itu datang mendekatinya. Kedua gadis itu membulat takut, dengan kaki yang gemetaran mereka mengayuh langkahnya secepat yang mereka mampu.
"Kal ... Ayo cepetan lari ...," ucap Ellena berteriak agar Kalea yang tertinggal di belakang mendengar apa yang dia ucapkan.
Ellena dengan wajah mengerutnya terhenti mencoba mengatur pernapasannya yang tersekat, dia berkacak pinggang dari kejauhan dari Kalea yang juga terhenti di depan, tubuh Kalea condong ke depan.
"Len ... Kamu lari aja sana, jangan pedulikan aku, cepet lari Len ...," kata Kalea dengan napas yang tersengal-sengal.
Gadis bertubuh tinggi ramping itu bergeming kala perkataan Kalea menerobos masuk ke dalam telinganya. Gegas dia gelengkan kepalanya, menolak permintaan dari sang sahabat. Ellena berayun mendekati Kalea.
"Kamu ngomong apa sih Kal, ayo kita lari sama-sama," tepis Ellena.
Kalea mencacak dan kembali melangkah lambat ke dekat gadis berambut panjang bergelombang itu. "Len ... Aku gak bisa lari cepet, kalau kamu bisa lari cepet, jadi mending kamu lari dan aku akan bersembunyi di sekitar sini sampai mereka menyerah untuk mengejar kita," cetus Kalea dengan napas yang masih terengah-engah.
"Enggak Kal! Itu bahaya, kata kamu mereka orang-orang bahaya dan kejam, mereka geng motor Atlantis Aodra itu kan ...," sanggah Ellena tegas, dengan cepat gadis itu mengarik pergelangan tangan Kalea dan dia kunci dengan erat.
Lantas dia tarik Kalea untuk lari bersamanya, mereka berlari mengarungi jalanan tepi taman itu, keindahan danau yang melekat di dalam ingatan Ellena seketika menjadi sebuah ketakutan. Dengan debur jantung yang berhamburan Ellena tertatih-tatih merajut langkahnya untuk segera menjauhi mereka.
"Itu mereka, cepet kejar, sebelum ketua Kano murka," tunjuk salah seorang pria yang jauh di belakang.
"Aaarghh ...," teriak Ellena dan Kalea serempak, tatapan keduanya kabur, mereka panik bukan main.
Namun, gadis bermata merah muda itu tidak menyerah untuk menghindari semuanya, dia terus berlari sambil menuntun Kalea untuk terus mengikutinya. Sampai akhirnya mereka menyerah di sudut jalan sepi dengan balutan dingin yang menghunjam.
Bintang Antorius yang menemani sang rembulan di atas, perlahan sinarnya mulai memudar, Ellena mengembus kasar, dia urai air matanya yang berat terjatuh dari singgasana kelopak matanya yang indah.
"Ya tuhan ... Tolong selamatkan kami," ucap Ellena penuh harap, wajahnya tertadah dengan bola mata yang terpejam.
Semesta membisu, para pawana tertidur di dalam pangkuan awan, dan mega hitam di atas bergerak lamban memperhatikan Ellena dan Kalea yang mulai menyerah. Tubuh kedua gadis itu terjatuh lemah, melanggar tanah yang telah terbalut oleh aspal.
Wajah kedua gadis itu menyuruk layuh, kedua tangan yang menempel dengan aspal perlahan mengeras sambil mengembuskan napasnya yang tercekal. Pelan-pelan Kalea menoleh pada Ellena yang perlahan menitikkan air matanya.
"Len ...," panggil Kalea lembut.
Lekas gadis itu menoleh lemah. "Kal ... Masa kita mati seperti ini sih Kal," keluh Ellena menarik bokongnya untuk terduduk dengan sembarangan di sana.
Sigap Kalea menggelengkan kepalanya. "Enggak Len ... Jangan bicara seperti itu, kamu sekarang cepet lari lagi sebelum mereka benar-benar menangkap kita," saran Kalea yang segera berdiri dari sana.
Tertatih-tatih Kalea menarik tubuhnya untuk berdiri tegak, lanjut Ellena mendikte apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. "Aku? Lalu bagaimana dengan kamu?" pungkas Ellena tidak menyetujui apa yang disarankan oleh Kalea.
"Len ... Aku akan baik-baik aja, yang penting kamu selamat," paparnya kemudian, Kalea berusaha untuk meyakinkan Ellena untuk segera pergi dari sana.
"Enggak!" teriak Ellena memecah keheningan yang tengah dirajut oleh malam. "Mereka adalah orang-orang kejam, kalau kamu ketangkap sudah pasti kamu tidak akan selamat," sambung Ellena dengan nada suara yang masih saja tinggi.
Saat perdebatan mereka masih berlangsung, ke-lima anggota geng motor Atlantis Aodra itu telah tiba di belakang Kalea tanpa Ellena sadari, karena saat itu netra gadis bermata merah muda itu tengah terlempar ke arah lain.
Tanpa segan kedua pria itu mencengkeram tangan Kalea, sehingga gadis itu menguar pekikan yang lebih kuat. "Aaargh ...." Kedua bola matanya merayau ke arah kiri dan kanannya, gadis itu berusaha melepaskan diri dari jeratan anggota Atlantis Aodra.
Ellena yang mendengar hal itu terkesiap hebat sehingga dia memutar tubuhnya dengan cepat, sedikit melempar tubuhnya lebih jauh dari posisi awalnya. Bola matanya membeliak kuat, kedua kakinya bergetar.
"Aaargh ...," pekik Ellena menggetarkan pohon besar tempat tadi dia dan Kalea bersembunyi.
Ke-lima anggota geng motor itu pun menutupi telinga mereka karena pekikan Ellena memang sekuat itu, kaca-kaca bahkan dinding langit bergetar karena mendengar laungan sang gadis bertubuh ramping itu.
Secara spontan cengkeramannya pada Kalea melemah dan berakhir melepaskan targetnya dengan tidak sengaja. Mendapat kesempatan itu gadis itu gegas berlari ke arah Ellena.
"Kal ...," rengek Ellena dengan suaranya yang bergetar, dahinya mengerut dalam. Dia menggenggam pergelangan tangan Kalea dengan kuat.
Belum sempat Kalea menjawab rengekan Ellena, salah satu anggota geng motor itu memecahkan kekesalannya di hadapan kedua gadis yang tengah saling mendekap, mereka mencoba menguatkan diri mereka masing-masing.
"SIALAN! Bacot lu bikin telinga gua sakit!" geramnya menghunjamkan tatapannya pada Ellena dan Kalea.
Bahu kedua gadis itu terkesiap dengan pekikan dari lelaki itu, jantungnya berhamburan, menganyam ketakutan-ketakutan yang mungkin saja terjadi jika mereka tidak segera melarikan diri dari sana.
"Ka-kalian mau apa sih, kita tidak melakukan apapun," jawab Ellena memberanikan dirinya sambil mencengkeram pergelangan tangan Kalea, tubuhnya bergetar bersamaan dengan telinganya yang memerah.
Tiba-tiba saja ke-lima anggota geng motor itu memuntahkan tawa mereka secara bersamaan, membuat Kalea dan Ellena terkejut, tubuhnya mengerjap.
I-ini mereka gila atau kerasukan setan sih?
Gema batin Ellena.
Manusia yang didekap setan.
Urai batin Kalea seraya dia menelan ludahnya kasar.
"Jelas kalian salah, t*l*l banget kalian jadi cewek," cibir salah satu lelaki yang berdiri di ujung kanan.
"Karena kalian sudah menjadi mata kematian lelaki tua itu, maka kalian juga harus mati!" sambung pria lainnya dengan nada suara yang meninggi di bagian ujung.
"Aaarhhg ...," pekik Ellena dan Kalea melangkah mundur, lagi-lagi tubuhnya mengerjap getir.
Deru jantung yang berhamburan tak mampu dikendalikan lagi, raga kedua gadis itu benar-benar bergetar, napasnya tersengal-sengal, punggung Ellena mengendur pada rasa takut yang lebih kuat lagi dari yang dia rasakan sebelumnya. Napasnya berembus dengan getaran yang mudah terbaca oleh lelaki-lelaki itu.
Lepas dari situasi tak mengenakkan itu, Kano melangkah dari belakang dimana Kalea dan Ellena berdiri, pergerakkannya sangat lembut sehingga tidak ada yang menyadari jika Kano sudah memosisikan dirinya di antara kedua gadis yang mendekap takut itu.
"Stop! " seru Kano kuat seraya dia menyelukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Dengan raga yang membeku Ellena dan Kalea berusaha untuk menoleh ke belakang yang sebenarnya mereka tahu jika mereka sudah terkepung dan tak mungkin untuk melarikan diri, terlebih ada Kano sang ketua pimpinan geng motor yang digadang-gadang tidak pernah menggunakan hatinya.
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏