DILARANG KERAS BOOM LIKE❗❗
Sebuah rencana jahat yang disusun oleh ibu dan kakak tirinya, membuat seorang gadis bernama Alena harus terjebak cinta satu malam bersama seorang pria asing.
"Apa semua ini, ha! " bentak ayah, melemparkan beberapa lembar foto ke wajah pucat Alena.
"Mulai sekarang kau bukan lagi anakku, silahkan angkat kaki dari rumah ini! "
Tidak cukup sampai di situ, lagi-lagi Alena masih diuji dengan keberadaan janin yang ada di rahimnya.
Beberapa tahun kemudian, Alena dipertemukan dengan pria asing malam itu.
Akankah kehidupan Alena bahagia atau malah semakin menderita?
Yuk.. Kepoin ceritanya di buku terbaru Iing Nirmala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iing Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Ezra
...~ Happy Reading~...
Tidak seperti biasanya, semenjak hari itu Ezra tidak segan-segan lagi menunjukkan perhatiannya pada Alena. Meskipun terkadang istrinya merasa risih, namun ia tidak peduli. Sama halnya dengan hari ini, Ezra sengaja mengajak Alena untuk makan siang berdua tanpa adanya Arsha yang akan jadi penganggu.
"Silahkan duduk Nyonya Mettew! " pinta Ezra berbisik dibelakang Alena, menarik sebuah kursi untuk wanita itu. Kalau dilihat sekilas, posisi mereka seperti Ezra tengah memeluk Alena dari belakang, tubuh keduanya hampir menempel.
"Aku bisa sendiri, " sela Alena merasa malu. Ia merotasikan matanya menatap para pengunjung yang juga tengah menatap mereka.
"Tidak boleh menolak sesuatu yang baik," balas Ezra seraya mengitari meja. Duduk dikursi tepat di hadapan wanitanya.
Keduanya duduk bersebrangan hanya berbatasan sebuah meja, membuat Ezra bisa menatap wajah cantik wanita halalnya dengan leluasa.
"Jika seperti ini terus aku yakin tidak akan sanggup untuk mencegah rasa itu muncul, " batin Alena.
Ia tidak menampik kemungkinan akan terjadi, perhatian yang selalu Ezra berikan membuat hati dingin Alena perlahan menghangat.
"Al, aku akan keluar negri dalam beberapa hari ke depan. Anak perusahaan di Amerika ada masalah, " kata Ezra setelah memesan menu makan siang mereka berdua.
Wajahnya berubah muram, ia begitu berat berpisah dengan Alena dan Arsha. Sebenarnya ia ingin mengajak anak dan istrinya ikut, tapi hal itu tidak mungkin. Mengingat permasalahan di sana yang lumayan kacau, ia takut tidak punya waktu buat Arsha dan Alena.
"Berapa lama? " pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir ranum Alena. Setelahnya Alena merutuki diri sendiri yang tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Mmm.. Maksud ku minggu depan sekolah Arsha akan mengadakan acara memasak bersama orang tua, " cicit Alena dengan suara lirih untuk menutupi rasa malunya. Ia bahkan menunduk seolah-olah menatap layar ponsel.
"Bukan karena takut berpisah denganku?" tanya Ezra.
Alena menggeleng, ia mengangkat wajahnya menatap wajah tampan Ezra yang tengah tersenyum.
"Apa kau bisa hadir? " Alena berharap Ezra menjawab iya.
Kalau benar demikian itu artinya Ezra tidak akan lama berada di luar negri.
"Hmm.. Kalau kau mengatakan tidak bisa jauh dariku. Aku akan hadir, " jawab Ezra tersenyum penuh arti.
"Ini demi Arsha loh, " kilah Alena.
"Ini juga demi Arsha, ia akan bahagia melihat orang tuanya saling mencintai. Aku ingin kamu menjadi wanita satu-satunya mendampingi hidupku sampai mati, " ungkap Ezra, ia tidak malu memperlihatkan kecintaannya pada Alena.
Alena hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Ezra.Meskipun sebenarnya ia juga menginginkan hal yang sama.
Tak berselang lama seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka berdua.
Keduanya makan dalam diam, hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu saling beradu.
"Ada saus! " ucap Ezra mengelap sudut bibir Alena yang kotor menggunakan ibu jarinya.
"Enak, " Alena dibuat melongo ketika melihat Ezra yang memasukkan jari yang dama kedalam mulutnya.
"Kenapa dimakan? itu menjijikkan," protes Alena dengan tingkah aneh suaminya.
"5 tahun yang lalu aku bahkan memakan hal yang lebih menjijikkan dari ini, " jawab Ezra tersenyum nakal.
Alena yang menyadari kemana arah pembicaraan Ezra menjadi salah tingkah, ia menundukkan wajahnya yang memerah malu.
"Kalau malu seperti ini kamu tambah cantik, " goda Ezra yang tau kalau istrinya tengah tersipu. Ia mengangkat wajah Alena dengan ujung jarinya.
"Gombal recehan mu gak mempan, " sanggah Alena, ia mendongak menatap mata suaminya.
"Oh ya? berarti gombalan mahal bisa dong buat kamu jatuh cinta sama aku, " Ezra meletakkan sendok dan garpu menghentikan kegiatan makannya sejenak, menatap intens pada Alena dalam waktu yang lama.
"Tidak tau, " Alena membuang muka. Namun tangannya memegang sebelah dada yang terasa berdebar hebat.
"Kenapa jantungku seperti ini? apa aku terkena serangan jantung? Ah, sepertinya tidak mungkin. Tapi aku merasa ada yang aneh, saat bersama Ezra hal ini sering terjadi, " gumam Alena tanpa sadar. Meskipun suaranya sangat lirih dan tidak bisa di dengar oleh siapapun, namun bibir wanita itu komat kamit seperti dukun membaca mantra.
Dan hal itu semua tidak luput dari penglihatan Ezra.
"Apa kamu mulai merasakan getaran cinta yang ku berikan? " tanya Ezra di iringi dengan kekehan pelan. Ia sangat suka menggoda Alena, apalagi melihat wajah merona wanita itu.
"Dih, kata-katanya copas dari lirik lagu."
"Gak masalah, asal rasa cintaku padamu bukan hasil copy paste! " balas Ezra tertawa. Ia menutup mulutnya yang masih mengunyah makanan.
"Aku sudah selesai, " Alena mendorong pelan piringnya agak menjauh, meraih gelas yang berisi juice jeruk. Menegak cairan manis itu hingga tersisa sedikit.
*
*
Dibelahan bumi lain tepatnya di ibu kota Amerika serikat. Ezra dan Cakra masih bergelut dengan pekerjaan yang tak ada habisnya. Bahkan Ezra hampir tidak ada waktu untuk istirahat, ia hanya tidur 1 atau 2 jam dalam sehari semalam.
"Apa malam ini kita tidur di kantor lagi? " tanya Cakra dengan nada lesu.
Ya, terhitung sudah empat hari mereka berada di Negeri paman Sam tersebut, selama itu pula mereka bermalam di perusahaan.
"Iya, apa kau keberatan? " tanya Ezra menatap tajam pada Cakra.
"Kalau boleh jujur tentu aku keberatan. Tapi apalah dayaku hanya seorang bawahan, " jawab Cakra mendramatisir keadaannya merasa paling menderita. " Aku juga ingin tidur nyenyak di atas kasur empuk bukan di sofa yang sempit, "keluh Cakra lagi.
Ezra menghela nafas berat, ia meraup wajah kusutnya dengan kasar. Ia juga merasa lelah tapi karena seseorang yang jauh di sana, ia menargetkan semua urusannya harus selesai kurang dari waktu satu minggu.
" Pekerjaan kita tinggal sedikit lagi, dan besok kita akan kembali ke tanah air! " kata Ezra kembali memfokuskan diri pada dokumen yang ada dihadapannya.
"Apa yang dilakukan Alena hari ini? " tanya Ezra mengangkat wajahnya menatap pada asisten pribadi yang tengah menguap lebar.
"Ia sering marah-marah tidak jelas dalam beberapa hari ini, bahkan karyawan yang salah sedikit saja saat persentasi tidak luput dari amukannya. " Jelas Cakra berdasarkan informasi dari orang suruhannya.
Ya, Ezra sengaja menempatkan orangnya di sekeliling Alena. Selain untuk melindungi wanita itu, Ezra juga ingin mengawasi apa saja yang istrinya lakukan selama ia tidak ada. Dan yang pasti melindungi Alena dari pria yang mencoba mendekatinya.
Kening Ezra berkerut dalam, terlihat ia tengah memikirkan sesuatu. "Kenapa dia bisa seperti itu? " tanya Ezra bingung. Meskipun Alena bersikap dingin dan tegas saat di kantor, tapi tidak biasanya wanita itu akan bersikap kasar pada bawahannya. Ia selalu mengutamakan kesopanannya apalagi pada karyawan yang lebih tua.
*
*
To be continued.
novel Arsha aja dulu kak,baru menyusul yang lainnya 😌🤗🤗
Btw makasih kak Ling, novelnya keren, Happy ending lagi.semangat terus untuk berkarya ya kak Ling 🤗😍😍😍