NovelToon NovelToon
THE DEADLY BODYGUARD

THE DEADLY BODYGUARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Raja Tentara/Dewa Perang / Balas Dendam
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.

Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.

Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.

Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.

Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?

"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat Kabut dan Rasa Takut

Di dalam kamar utama di lantai dua, Clara Wijaya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, seolah-olah sedang berkejaran dengan detak jarum jam dinding kuno di sudut ruangan. Layar ponselnya yang masih menyala redup menunjukkan pukul 20.30 malam.

Di luar, hujan masih turun dengan intensitas yang sama derasnya. Kilatan petir yang sesekali menyambar di balik tirai jendela yang tertutup rapat mengirimkan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di dinding kamarnya. Namun, keheningan di dalam rumah ini terasa jauh lebih menindas daripada suara guntur di langit Megapura.

Clara mendekap kardigan abu-abunya lebih erat. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Di dalam kegelapan yang pekat ini, ingatan-ingatan masa kecilnya yang buruk kembali merayap naik. Setiap kali ibunya pergi ke luar kota, rumah ini selalu berubah menjadi istana hantu yang dingin. Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada hawa dingin yang tidak biasa, sebuah firasat buruk yang membisikkan bahwa di balik pintu kayu jati kamarnya, maut sedang mengintai dengan sabar.

Clara teringat tatapan mata Nathan sebelum ia memintanya mengunci diri. Tatapan yang biasanya datar dan acuh tak acuh, malam itu berkilat dengan keseriusan yang mutlak.

Apakah Nathan baik-baik saja di bawah sana? Clara bertanya-tanya dalam hati.

Ia tahu Nathan adalah pria yang tangguh, namun menghadapi situasi padamnya listrik dan ancaman tak kasat mata di dalam rumah sebesar ini sendirian terasa seperti misi bunuh diri. Clara meraba dadanya, merasakan rasa bersalah yang teramat sangat. Jika terjadi sesuatu pada Nathan malam ini, ia tahu dirinya tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Di luar pintu darurat belakang, dekat area dapur yang gelap, suasana mencekam yang berbeda sedang melanda sisa-sisa pasukan Robert.

Pria dengan bekas luka bakar di tangan kanannya, pemimpin Tim Gamma yang kini bertindak sebagai komandan lapangan menggantikan pemimpin Alpha yang tewas, berdiri membeku. Radio taktis di kerah bajunya masih mengeluarkan suara desisan statis yang dingin setelah pesan mengerikan dari Nathan terputus.

"Tim Alpha telah dilumpuhkan. Tersisa sembilan orang. Aku menunggu kalian di ruang tengah."

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti lonceng kematian. Suara yang mengucapkan pesan itu begitu tenang, begitu datar, tanpa ada getaran emosi atau ketakutan sedikit pun. Itu bukan suara dari seorang pengawal pribadi yang sedang terdesak dan panik. Itu adalah suara dari seorang algojo yang sedang mengatur giliran eksekusi bagi para korbannya.

"Sialan..." umpat salah satu anak buahnya di Tim Gamma, seorang penembak jitu bernama Bara. Wajahnya yang tertutup topeng balaclava tampak basah oleh keringat dingin. "Bagaimana mungkin seluruh Tim Alpha tumbang dalam waktu kurang dari lima menit? Mereka adalah veteran pertempuran kota!"

"Diam, Bara!" desis pemimpin Gamma dengan suara rendah yang ditekan keras. "Jangan biarkan kepanikan menguasai kepalamu. Dia sengaja melakukan ini untuk merusak mental kita."

Meskipun mulutnya berkata demikian, pemimpin Gamma sendiri bisa merasakan bulu kuduknya meremang. Ia melihat ke arah empat anggota Tim Beta yang tersisa, yang kini telah bergabung dengan lima anggota Tim Gamma di dekat koridor darurat. Total mereka kini berjumlah 9 orang.

Secara kalkulasi taktis militer, jumlah 9 lawan 1 adalah keunggulan yang mutlak. Mereka memiliki persenjataan yang lengkap, rompi antipeluru tingkat tinggi, dan kacamata malam. Namun di dalam labirin rumah mewah yang gelap ini, keunggulan angka itu seolah-olah menguap begitu saja.

"Kita tidak bisa menyerang secara terpisah lagi," perintah pemimpin Gamma perlahan kepada sisa pasukannya. "Satukan formasi. Kita akan bergerak dalam satu unit rapat beranggotakan sembilan orang. Gunakan formasi sapuan ganda. Saling lindungi sudut pandang 180 derajat. Target utama kita adalah ruang tengah, kita pastikan apa yang terjadi pada Alpha."

Sembilan pria berpakaian taktis hitam itu mulai melangkah masuk melewati pintu darurat belakang yang telah dijebol sebelumnya. Langkah kaki mereka sangat pelan, bot militer mereka hampir tidak menimbulkan suara di atas lantai koridor dapur.

Laras senapan serbu mereka bergerak perlahan ke kiri dan ke kanan, memotong kegelapan dengan sinar inframerah yang tidak terlihat oleh mata telanjang. Di bawah visual hijau kacamata malam mereka, setiap sudut koridor dapur tampak sangat sunyi dan bersih.

Namun, begitu mereka melintasi area pantry tengah, aroma besi yang sangat pekat langsung menyergap indra penciuman mereka.

"Bau darah..." bisik salah satu anggota Tim Beta di barisan tengah.

Pemimpin Gamma mengarahkan laras senjatanya ke sudut paling gelap di dekat lemari es besar. Sinar inframerah dari helmnya menyorot dua jasad yang ditumpuk dengan sangat rapi di sudut tersebut.

Itu adalah jasad dua anggota Tim Beta yang pertama kali dilumpuhkan oleh Nathan menggunakan jebakan kawat baja dan pisau di bawah dagu.

"Yuda... Danu..." bisik anggota Beta dengan suara bergetar saat mengenali wajah rekan-rekannya yang membeku dengan mata melotot tanpa nyawa.

"Mekanisme jebakan kawat," analisis pemimpin Gamma setelah memeriksa leher salah satu jasad yang teriris sangat dalam hingga ke arteri utama. Matanya menyipit tajam. "Ini bukan teknik pengawal sipil. Ini adalah jebakan taktis gerilya militer. Pengawal itu... dia adalah seorang profesional dari unit hitam."

Kenyataan itu menghantam mental mereka lebih keras lagi. Mereka menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan pengawal sewaan yang panik, melainkan dengan seorang predator terlatih yang telah mengubah rumah mewah ini menjadi zona pertempuran pribadinya.

"Tetap bergerak. Jangan berhenti," perintah pemimpin Gamma dingin, meskipun jantungnya sendiri kini berdegup lebih kencang. "Tujuan kita adalah ruang tengah."

Mereka melanjutkan pergerakan, melewati koridor sempit yang menghubungkan dapur dan lobi tengah. Atmosfer di dalam rumah ini terasa semakin dingin dan hampa. Derai hujan di luar yang menghantam dinding kaca terdengar seperti tepuk tangan ribuan penonton yang tidak terlihat, menunggu pertunjukan berdarah berikutnya dimulai.

Saat unit sembilan orang itu akhirnya tiba di ambang lobi ruang tengah, pemandangan yang menyambut mereka membuat dua orang di barisan belakang hampir saja melepaskan tembakan secara tidak sengaja karena panik.

Empat jasad anggota Tim Alpha bergelimpangan di atas lantai marmer putih yang kini digenangi oleh darah segar yang mengalir perlahan. Pemimpin Alpha tewas dengan pisau lempar karbon hitam yang masih menancap tegak di tengah tenggorokannya, sementara tiga anak buahnya tewas dengan luka tembak presisi di kepala dan patah leher yang mengerikan.

"Semuanya tewas... tidak ada yang selamat," bisik Bara dengan napas yang terengah-engah di balik topengnya. "Bagaimana dia bisa melakukan ini sendirian tanpa kita mendengar suara pertempuran yang berarti?!"

"Guntur di luar..." jawab pemimpin Gamma dengan suara yang bergetar menahan amarah sekaligus ketakutan. "Dia menggunakan suara guntur untuk menyamarkan setiap tembakan berperedamnya. Dia memanfaatkan lingkungan sekitar dengan sempurna."

Tiba-tiba, dari arah koridor gelap di lantai dua yang menghadap ke ruang tengah, terdengar suara ketukan yang sangat halus.

Tok. Tok. Tok.

Sembilan moncong senjata langsung terarah ke atas dalam sekejap mata. Sinar inframerah dari kacamata malam mereka menyapu balkon lantai dua, mencari-cari siluet hijau yang mencurigakan di balik pilar-pilar marmer.

Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sebuah lampu gantung kecil yang bergoyang perlahan ditiup angin dari jendela lantai dua yang tampaknya sengaja dibuka sedikit oleh Nathan.

"Dia bermain-main dengan kita!" desis pemimpin Gamma, tangannya yang memegang senapan serbu mulai basah oleh keringat. "Dia ingin kita panik dan menembak secara liar. Jangan lepaskan tembakan kecuali kalian melihat target fisik yang jelas!"

Namun, taktik perang saraf Nathan bekerja dengan sangat efektif. Di dalam kegelapan yang pekat, dengan dikelilingi oleh jasad rekan-rekan mereka yang tewas secara keji, mental para tentara bayaran ini mulai berada di titik nadir. Mereka mulai mengalami tunnel vision, kondisi psikologis di mana fokus visual mereka menyempit drastis karena stres ekstrem, membuat mereka mengabaikan potensi ancaman dari arah samping.

Dan itulah saat yang ditunggu-tunggu oleh Nathan.

Dari balik bayang-bayang pilar besar di sudut kanan ruang tengah, sekitar 5 meter dari posisi unit musuh berdiri, sebuah siluet hitam meluncur keluar tanpa suara seperti asap yang ditiup angin.

Nathan Wiratama berdiri di sana. Di balik kacamata malam yang ia kenakan, visual dunia hijau terang memperlihatkan posisi sembilan targetnya dengan detail yang mutlak. Mereka semua berdiri terlalu rapat, saling menutupi ruang tembak masing-masing, sebuah kesalahan taktis yang sering dilakukan oleh pasukan yang sedang panik.

Nathan tidak menggunakan senjata api. Ia tahu suara tembakan, sekecil apa pun peredamnya, akan memicu rentetan tembakan balasan yang liar dari sembilan orang tersebut.

Ia meraba saku jasnya, mengeluarkan sebuah bola besi kecil berukuran sebesar kelereng, sebuah granat kejut taktis mini buatan Rendra yang dimodifikasi khusus untuk menghasilkan kilatan cahaya berkekuatan 100.000 lumen tanpa suara ledakan yang besar.

Nathan melempar bola kecil itu tepat ke tengah-tengah formasi segitiga musuh.

Tink.

Bola besi itu membentur lantai marmer dengan bunyi yang sangat halus. Sebelum salah satu penyusup sempat mendongak untuk melihat benda apa itu, bola tersebut meledak dalam kilatan cahaya putih yang sangat menyilaukan di dalam kegelapan.

FLASH!

Bagi manusia biasa, kilatan cahaya itu sudah cukup untuk membutakan mata selama beberapa menit. Namun bagi sembilan orang yang sedang mengenakan kacamata malam (night-vision goggles) yang memiliki sensitivitas cahaya sangat tinggi, efeknya adalah bencana taktis yang mutlak.

Kacamata malam mereka langsung mengalami white-out, sensor optik mereka kelebihan beban cahaya secara instan, mengirimkan gelombang visual putih yang sangat menyengat langsung ke kornea mata mereka.

"AARRGGHH!!! MATAKU!!!"

"Sialan! Mataku terbakar!"

Lolong kesakitan langsung pecah di dalam lobi. Sembilan orang itu secara refleks melepaskan kacamata malam mereka dengan panik, membuat mereka kini harus beradaptasi kembali dengan kegelapan total dalam kondisi mata yang masih perih dan berbayang putih.

Dalam kebingungan dan kebutaan sementara mereka, Nathan bergerak masuk seperti malaikat pencabut nyawa yang tidak memiliki belas kasih.

Ia melesat maju, pisau taktis karbon hitam di tangan kanan dan pistol berperedam di tangan kirinya siap memuntahkan maut dalam kesunyian yang mengerikan. Tarian kematian di kediaman keluarga Wijaya kini telah memasuki babak pembersihan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!