SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 RUMAH BARU DI CIREBON
Singkat cerita...
Setelah Gendis naik ke kelas 5 SD...
Pada akhirnya keluarga Gendis pun pindah rumah ke Cirebon...
Tepat ke rumah yang ditunjukkan oleh Pak Diki kepada istrinya malam itu...
.....
.....
.....
☀️☀️☀️☀️☀️☀️☀️
🌳🌳🌳🏠🌳🌳🌳
Siang hari, di halaman rumah baru keluarga Gendis yang berlantai dua ini...
Tampak tiga buah truk pick up sudah terparkir, yang disewa oleh Pak Diki untuk membantu perpindahan mereka.
Beberapa orang yang disewa juga tampak sibuk memindahkan seluruh barang-barang keluarga Gendis dari masing-masing truk pick up tersebut ke dalam rumah baru mereka.
"Maaf Pak, barang ini di taruh sebelah mana?" tanya salah satu orang yang membantu.
"Kalau itu di taruh di ruang tamu aja ya Mas." jawab Pak Diki, sambil dirinya juga mengangkat satu dus berukuran besar ke dalam rumah.
Bu Fitri juga tampak sibuk memindahkan peralatan-peralatan dapur dari dalam salah satu truk, dibantu juga oleh beberapa orang yang telah di sewa tenaga nya.
Di saat kedua orang tuanya sedang sibuk memindahkan barang-barang ke dalam rumah, Gendis terlihat berjalan sendirian di salah satu bagian halaman yang cukup luas itu.
Dirinya mencoba meraba-raba seluruh area halaman dengan tongkatnya, mencoba menghafalkan seluruh bagian halaman di dalam kepalanya.
Beberapa kali terdengar di telinga Gendis, motor dan mobil yang lewat di jalan aspal tepat di depan pagar rumah barunya itu.
Gendis terus melangkah perlahan di atas rumput hijau cerah halaman, beberapa kali tongkatnya membentur tiang-tiang lampu taman. Dan ke dua tangannya secara spontan meraba apa yang ada di depannya.
Sampai akhirnya, ke dua kaki Gendis melangkah perlahan mendekati sebuah kolam ikan yang agak luas ukurannya.
Gendis tak bisa melihat bahwa di depannya kini adalah sebuah kolam ikan hias yang penuh berisi air.
Ketika tongkatnya membentur pinggiran kolam, secara spontan lagi tangan Gendis mencoba meraba, mencari tahu benda apa yang ada di depannya sekarang.
Tapi karena posisi dirinya berdiri, Gendis tak bisa menyentuh pinggiran kolam itu.
"Loh... Gak ada apa-apa di depanku? Terus tongkatku kena apa ini?" ucapnya pelan, sambil ke dua matanya yang putih itu berkedip pelan, dan tangannya terus saja meraba ke depan.
Namun, tanpa Gendis sadari...
Kaki kanannya sudah mulai naik ke atas pinggiran kolam yang hampir rata dengan rumput halaman itu...
Dan...
Saat kaki kirinya ikut melangkah pelan ke arah air kolam ikan hias itu...
Tiba-tiba...
.....
.....
.....
"HEY!!! AWAS!!!"
Sebuah suara anak perempuan terdengar meneriaki Gendis dari arah luar pagar halaman rumah barunya itu...
Sontak Gendis terkaget, dan spontan ke dua kaki Gendis pun mundur beberapa langkah...
Suara anak itu telah menyelamatkan Gendis supaya tidak tercebur ke dalam kolam ikan hias di depannya...
"Di depan kamu ada kolam ikan!! Hati-hati!!"
Suara anak perempuan itu memberi tahu Gendis...
"A-ahhh... Ko-kolam ikan ya?" respon Gendis sedikit terbata.
"Iya... Ada kolam ikan di depanmu..." jawab anak perempuan itu.
Anak perempuan itu kini berdiri di sisi luar pagar rumah Gendis...
Secara kebetulan dia sedang bermain sepeda sendirian, dan lewat di depan rumah Gendis itu...
Tinggi badannya sama persis dengan tinggi badan Gendis...
Wajahnya sama manis dan cantiknya dengan Gendis...
Bahkan, rambutnya pun sama panjangnya dengan rambut gendis...
Yang membedakan hanyalah mata anak perempuan itu normal, sedangkan Gendis tidak...
"Te-te-terima kasih ya..." ucap Gendis, sambil mengarahkan tubuh dan wajahnya ke arah anak perempuan itu.
"Hehehe... Iya... Sama-samaaa..." jawab anak perempuan itu sambil terkekeh pelan, namun wajahnya tampak sangat tulus menatap Gendis yang buta.
"Kamu baru pindah ke rumah ini ya?" tanya anak perempuan itu.
"I-iya... Aku baru pindah ke sini sama orang tuaku..." jawab Gendis, sambil berdiri menggenggam erat tongkatnya.
"Oooh... Gituuu... Asiiikkk..." respon anak perempuan itu.
"Lo-loh? Kenapa kamu bilang asik?" tanya Gendis dengan wajah heran.
"Asik dooong... Berarti aku sekarang punya teman baruuu... Hihihi..."
Gendis yang mendengar perkataan anak perempuan itu...
Seketika merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya...
Perasaan yang bisa membuatnya tenang...
Perasaan yang membuat Gendis merasa diterima kondisi kekurangannya itu...
"O-oh... Gi-gitu ya..." respon Gendis sedikit terbata, tapi langsung tampak senyuman manis di bibir Gendis.
"Coba kamu mendekat ke aku dooong... Kenalan dulu kitaaa..." kata anak perempuan itu.
Gendis pun mulai melangkahkan kakinya perlahan...
Dan anak perempuan itu memperhatikan langkah Gendis dengan seksama...
"Ah! Awas! Di depanmu ada lampu taman!" ucap anak perempuan itu memberi tahu Gendis.
"Sedikit ke kanan kamu jalan nya..." tuntun anak perempuan itu atas langkah kaki Gendis.
Dalam hati Gendis, dirinya langsung bisa merasakan sebuah ketulusan dari anak perempuan itu.
"Naaah... Ayooo... Sedikit lagi..." kata anak perempuan itu, seolah menyemangati langkah kaki Gendis.
Dan ketika Gendis sudah berada di dekat pagar rumahnya itu...
"Naaah... Ayo kenalan sama akuuu... Mana tanganmu?" ucap anak perempuan itu sambil menyodorkan tangan kanannya di antara sela-sela pagar.
Gendis pun menjulurkan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tetap berpegang pada tongkatnya.
"Eeehhh... Ini loh tangankuuu... Bukan ke sana... Hahahaha..." kata anak perempuan itu saat melihat tangan Gendis justru menjulur agak jauh dari tangannya.
"O-oh... Ma-maaf... Aku gak lihat soalnya..." jawab Gendis.
Tampak beberapa saat tangan mereka sedikit kesulitan untuk saling berjabat tangan...
Namun dengan ceria dan sabar, anak perempuan itu mengarahkan tangan Gendis agar bisa menyentuh tangannya...
Dan...
"Happp!!! Naaah... Akhirnyaaa... Hehehe..." ucap anak perempuan itu saat tangannya bisa menyentuh tangan Gendis.
"Ah... Hehehe... Di sini tanganmu..." kata Gendis.
"Siapa nama kamu?"
Anak perempuan itu bertanya sambil ekspresi wajahnya yang amat ceria dan tulus pada Gendis. Seolah-olah dirinya menganggap Gendis bisa melihat dirinya.
"Namaku Gendis..." jawab Gendis sambil tersenyum manis juga.
"Waaah... Nama kamu bagus banget Gendis! Hehehe..." kata anak perempuan itu.
Dan...
Entah bagaimana menjelaskannya...
Hati Gendis bisa merasakan sebuah ketulusan perkenalan yang benar-benar baru ia rasakan...
Dan tangan Gendis bisa merasakan sentuhan tangan anak perempuan itu yang penuh kehangatan...
"Ah... Kamu... Bisa aja..." respon Gendis sedikit merasa tersanjung.
Selanjutnya...
Gendis semakin merasa sangat dihargai...
Merasa sangat diterima oleh anak perempuan itu...
Saat anak perempuan itu berkata...
"Mata kamu juga indah banget Gendiiis... Aku sukaaa..."
"Ha-hah? Ap-apaaa?" respon Gendis, kini ke dua pipi Gendis tampak memerah sedikit.
"Iya loooh... Mata kamu indah banget Gendiiis... Warnanya putih... Aku kan suka banget loh sama warna putih!" kata anak perempuan itu lagi.
Tiba-tiba...
Anak perempuan itu sedikit berubah ekspresinya...
Saat melihat mata Gendis yang buta itu mulai berkaca-kaca...
"Loooh? Kenapa kamu malah sediiih? Aku salah ngomong ya Gendis? Maafin aku yaaa... Maafin akuuu..." ucap anak perempuan itu.
Kini tangan kiri anak perempuan itu ikut masuk melalui sela-sela pagar, dan menyentuh tangan kanan Gendis sambil mengusapnya dengan lembut.
"Aduuuh... Maafin aku Gendiiis... Maaf kalau aku salah ngomong yaaa..." tambahnya lagi.
Akan tetapi...
Mata Gendis berkaca-kaca itu bukan karena tersinggung, apalagi merasa terhina...
Bukan... Bukan sama sekali...
Melainkan karena Gendis benar-benar bisa merasakan dirinya diterima...
Gendis merasa bahagia...
"Aduuuh... Jangan nangis dooong Gendiiis... Maafin akuuu..."
"I-iyaaa... Hiks hiks... Enggak apa-apa koook..." jawab Gendis sambil mengusap air matanya yang sedikit mengalir.
"Oh iya, namamu siapa?" tanya Gendis.
Dan anak perempuan itu menjawab dengan senyuman manisnya...
"NAMAKU SALSA..."
😆😆 lanjut kak👍👍👍