Wajah dan mata itu mirip sekali dengannya. Aku rindu sekali dengan kehadirannya, Tak bisakah Tuhan mempertemukan kita walau hanya sejenak.
Apakah dia sudah melupakanku bahkan sudah memiliki penggantiku.?
Aku menunggumu Sagara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mhaya Yanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11: Jenny kesetanan
Suara pantopel menggema di lantai pertama dengan pakain formal Dengan jas hitam membuat seorang Saga terlihat berwibawa.
Meskipun tangannya masih terbalut kasa namun kadar ketampanannya tak berkurang sekalipun. Saga melangkahkan kakinya ke arah meja makan dengan tangan memegang Ipad.
"Silahkan." Ucap salah satu pelayan menarik kursi yang biasa di tempati Saga.
Sontak saja pandangannya mendongak mencari sesuatu yang sedari tadi tak nampak di matanya. Dahi Saga mengkerut kala tatapannya mengarah pada sosok gadis yang tengah memakai dres bunga- bunga sangat manis menurutnya.
Namun yang membuat Saga mengerutkan dahinya adalah keberadaan Alesha yang berjajar di deretan ketiga pelayannya.
"Alesha." Panggil Saga membuat Alesha mendongak dan berjalan ke arahnya.
"Kenapa Tuan?" Tanya Alesha dengan tampang tak berdosannya.
"Kamu melupakan yang aku ucapan semalam." Sarkas Saga mendudukkan dirinya di kursi makan.
Alesha meneguk ludah kasar kala mengingat serpihan kejadian semalam. Dimana dirinya dengan santai mengolok- ngolok Saga tanpa memikirkan tatapan pria itu.
"Maaf tuan, Saya kan hanya ingin menghibur anda." Sahut Alesha meremas jari mungilnya.
Hah....
"Makan" Titah Saga agar Alesha duduk di sebelahnya seperti sebelumnya.
"Maaf tuan, Saya kan bawahan anda. Jadi lebih baik saya makan bersama pelayan anda nanti." Sahut Alesha dengan penuh kehati- hatian. Ia hanya ingin menghindar agar kesehatan jantungnya terselamatkan.
Entahlah bersama dengan Saga membuat jantungnya seakan tak normal fikir Alesha.
Saga melepas pegangan garpu dan sendok nya dengan suara dentingan yang amat keras. Ia sangat tak suka dengan apa yang baru saja diucapkan Alesha padanya.
"Duduk dan makan Alesha" Titah Saga lagi menatap intimidasi pada Alesha .
Alesha berfikir setelah kejadian semalam dimana dirinya dan Saga berdua di dalam kamar bahkan membuat jantungnya bertalu- talu tak menentu, Ingin sekali memeriksakan kesehatan jantung namun dirinya harus izin bagaimana pada Saga.
Masa iya harus berterus terang dengan apa yang di alaminya.
Dengan harap cemas Alesha menuruti kemauan Saga meskipun debaran jantung miliknya mulai menggila didada.
"Makan" Titah Saga lagi yang melihat Alesha masih terdiam.
Tangan Alesha membalikkan piring dan mengambil beberapa menu di atas yang sudah di hidangkan. Dengan rasa gemetaran, tangan Alesha menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
Dipandang begitu lekat bahkan dekat oleh Saga membuat sekujur tubuhnya merinding bahkan makanpun ia rasa gemetaran.
"Kenapa aku jadi lebay gini sih, Huaa Jihan sahabatmu ini lagi tertekan" Batin Alesha memejamkan mata sekejab. Menetralkan detak jantungnya yang terkesan ngalay menurutnya.
Tappp.. tap... tapppp...
Suara highhells menggema di lantai pertama.
Ya , Jenny dengan santainya memasuki mansion Saga tanpa rasa takut sekalipun. Disusul beberapa pengawal yang sedari tadi sudah bersikeras menghadang namun wanita itu dengan mudahnya lolos dari penjagaannya.
"Sayangg...." Panggil Jenny ketika melihat Saga masih duduk di meja makan.
Jenny berdiri di belakang Saga dan mengalungkan tangannya pada tubuh Saga. Tak lupa kecupan mesra ia berikan di pipi kanan pria yang masih terdiam itu.
"Mmaaf tuan, nona Jenny bersikeras masuk padahal kami sudah mencegahnya." Ucap salah satu pengawal dengan menunduk, mereka sangat takut jika sang atasan akan marah besar padanya.
Tangan Saga mengudara menyiratkan agar pengawal itu diam. Saga masih saja terdiam dengan mata yang terkilat amarah.
"Ehh ada, Siapa namamu.??" Tanya Jenny yang baru saja melihat keberadaan Alesha yang masih duduk di sebelah Saga.
Jenny mengerutkan dahinya ketika ia bersitatap dengan mata lentik milik Alesha. Wajah yang familiar , Jenny terus saja mengingat siapa sosok gadis di depannya kini.
Langkah Jenny berjalan ke sebelah Alesha meninggalkan Saga yang masih terdiam di tempat. Bahkan kini tangan mulus Jenny menarik dagu Alesha agar bisa menatapnya.
"Jenn... " Sarkas Saga tak suka dengan apa yang dilakukan Jenny pada Alesha.
Ya , Jenny mengingat wajah ini, Wajah seorang gadis yang ia temukan fotonya di laci meja Saga.
Tentu saja hal itu membuat Jenny marah pasalnya ia tau bahwa foto itu pastinya sangat berarti untuk Saga. Dan gadis di depannya ini adalah sosok yang akan membuatnya terancam di keluarga Mattew.
Brakk....
Jenny mendorong tubuh Alesha yang tengah duduk hingga kursi itu jatuh ke samping. Alesha merasakan sakit dipingganya kala tubuhnya membentur keramik marmer mewah tersebut .
Kenapa Jenny kasar padanya ?Apa si tunangan ini cemburu karena dirinya sarapan bersama prianya. Tapi inikan bukan salahnya.
"Al..." Pekik Saga melihat Alesha terjatuh, Ia melangkahkan kakinya ke arah Alesha dan membantunya berdiri.
"Ohh ternyata gara- gara ini kamu gak mau lagi menemuiku. Apa hebatnya j***ng ini sampai kamu tega sama aku." Sarkas Jenny menunjuk Alesha yang berdiri di belakang Saga. Mata Jenny merembeskan air mata melihat tingkah dari calon suaminya.
Plakkk.....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Jenny hingga membuat si empu tersungkur memegangi pipinya.
Saga tak suka jika ada yang membentak dirinya bahkan sekalipun itu tunangannya. Dan yang membuatnya tak terima adalah ketika kata- kata jalang keluar dari mulut Jenny untuk Alesha.
"Kamu membelanya Saga. Aku tunanganmu, aku calon istrimu. tak bisakah kamu bersikap lembut padaku." Sahut Jenny berusaha berdiri dengan kemampuannya.
" Maaf tuan saya harus pergi." Ujar Alesha menuju ke arah life, Bukan untuk istirahat melainkan mengambil tas dan barang yang ia bawa ke mansion ini.
Ia harus pergi dan tak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Saga maupun Jenny. Mendengar ucapan Jenny saja membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
"Pliss, Alesha kamu harus bisa melewatinya. karena dari awal kamu sendiri yang menyanggupinya." Ucap Alesha menyemangati dirinya sendiri.
Alesha masih mendengar cekcok antara Saga dan Jenny dari atas. Ia melangkahkan kakinya dengan tas slempang miliknya tak lupa file kontrak yang berada ditangannya.
Apapun resikonya, Alesha harus bisa pergi dari mansion ini.
"Tuan maaf, Saya akan bayar nanti finaltynya. Mohon maaf saya mau mengundurkan diri saja sebagai bawahan anda." Ucap Alesha menyerah file yang sedari tadi di tangannya.
Saga menerimanya dengan berat hati sembari matanya tak luput dari wajah teduh milik Alesha.
"Oh nyadar juga ya, Baguslah kamu pergi. Kalau bisa jangan tampakkan lagi wajah ja**ngmu itu di depanku ataupun Saga." Sarkas Jenny yang melihat Alesha seakan memelas.
"Jenny, jaga ucapan....." Saga menghentikan ucapannya kala Suara Alesha terdengar di indera pendengarannya.
"Maaf sebelumnya, Saya disini bukan bermaksud menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Saya di sini hanya bertanggung jawab untuk menjadi bawahan tuan Saga. Tak ada niat sedikitpun untuk saya merebut tuan. Dan jika saya seperti yang anda tuduhkan, sudah dari awal saya menggoda tuan. Berhati- hatilah berucap agar tak menyakiti orang lain, Permisi" Papar Alesha sebelum pergi meninggalkan mansion milik Saga.
Ia gerah dengan sebutan jalang yang disematkan Jenny untuknya. Bahkan dirinya belum mengenal Jenny sekalipun namun dengan seenak jidat wanita itu mengatai dirinya jalang, Sungguh memalukan.
Bersambung...