Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Rahasia sang Jenderal Kecil
Keviralan foto Tiga Jenderal berjas hujan kelinci pink di minimarket ternyata tidak cuma bikin netizen terpingkal-pingkal selama seminggu penuh. Di kantor pusat AJA DISPOSA FILM Jakarta, peristiwa konyol itu justru mendatangkan "bencana" baru: puluhan produser iklan produk bayi, susu formula, hingga perlengkapan ibu dan anak berebut mengirimkan kontrak bernilai puluhan miliar!
"Ini gila, Jim! Benar-benar gila!" seru Adam sambil membanting setumpuk berkas kontrak di atas meja rapat direksi.
Jas kustom mewahnya sudah kembali melekat rapi, tetapi wajahnya memerah menahan malu. "Masa ada perusahaan popok bayi yang minta aku, Ajo, dan Jimi jadi Brand Ambassador mereka?! Pakai kostum bayi raksasa di iklan TV nasional?! Mau ditaruh di mana mukaku sebagai mantan miliarder angkuh?!"
Jimi yang sedang menyesap kopinya sampai tersedak, tertawa terbahak-bahak. "Lumayan, Dam! Kontraknya lima miliar per orang! Katanya netizen suka melihat ekspresi pasrahmu waktu memegang kaleng susu malam itu!"
"Jimi! Jangan bercanda!" potong Ajo yang masuk ke ruang rapat sambil membawa naskah film terbaru. Ajo menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tipis. "Gara-gara berita itu, kita jadi makin sulit syuting di desa. Tiap hari ada saja warga dan wartawan yang datang membawa kaleng susu minta tanda tangan Adam."
Saat Tiga Jenderal sedang pusing memikirkan tawaran iklan konyol itu, pintu ruang rapat terbuka. Rina masuk bersama Elsa dan Juli.
Juli yang menggendong putri kecilnya tampak sangat anggun mengenakan pakaian santai ibu kota. Namun, lesung pipit di kedua pipinya mekar penuh rahasia.
"Ada apa ini? Kok wajah trio CEO kita tegang sekali?" goda Elsa manis sambil menyandarkan tubuh di samping kursi Ajo.
"Biasa, Sa... Adam lagi ngambek karena menolak tawaran jadi bintang iklan popok," celetuk Jimi jahil.
"Bukan cuma masalah iklan popok, Jim," pangkas Rina tenang sambil meletakkan dokumen baru bersampul emas di tengah meja. "Ada proyek film baru yang harus kita bahas hari ini. Dan proyek ini tidak bisa ditolak oleh siapa pun di ruangan ini."
Ajo dan Adam saling bertatapan heran.
"Film baru? Dari sutradara mana?" tanya Ajo penasaran, mengambil dokumen emas itu.
"Bukan dari sutradara terkenal kota," jawab Juli renyah sambil melangkah mendekati Adam. Ia memegang tangan suaminya, menatap Adam dengan mata bulatnya yang penuh kehangatan. "Ide film ini datang dari aku, Mbak Elsa, dan Mbak Rina."
Ajo membuka lembaran pertama dokumen tersebut. Di judul utamanya tertulis huruf cetak tebal yang sangat menyentuh hati:
Tiga Jenderal dan Sebuah Rumah di Kaki Salak
Ajo membeku. Adam yang ikut membaca dari samping mendadak terdiam kaku.
Naskah itu bukan sekadar skenario fiksi biasa, melainkan rekaman perjalanan hidup mereka sendiri—tentang persahabatan masa muda Tiga Jenderal, keretakan sepuluh tahun akibat ego dan manipulasi, perjuangan mempertahankan kebun cengkeh, hingga indahnya menemukan cinta sejati dan kedamaian di tanah kelahiran.
"Kami ingin mengangkat kisah kalian ke layar lebar," bisik Elsa lembut, jemarinya mengelus bahu Ajo yang kaku. "Bukan untuk memamerkan kejayaan AJA DISPOSA FILM, tapi untuk memberi tahu dunia... bahwa tidak ada kesalahan masa lalu yang terlalu besar untuk dimaafkan jika persahabatan dan ketulusan masih ada."
Ruang rapat yang tadinya riuh oleh canda tawa mendadak hening dan membisu.
Adam menatap judul naskah itu lama. Bayangan masa lalu—saat ia merusak persahabatannya dengan Ajo, saat ia menangis penyesalan di kebun cengkeh, hingga saat ia menemukan Juli—berkelibat cepat di ingatan kepalanya. Tanpa sadar, mata mantan bos keras kepala itu berkaca-kaca.
"Tapi... siapa yang bakal memerankan tokoh kita?" tanya Jimi pelan, suaranya agak bergetar terharu.
Juli tersenyum paling manis, mengelus pipi Adam yang merona. "Siapa lagi kalau bukan Tiga Jenderal sendiri? Kalian bertiga yang bakal berdiri di depan kamera sebagai pemeran utamanya. Dan kami... para istri, yang bakal jadi pendamping kalian di dalam maupun di luar layar."
Ajo mendongak, menatap Elsa, Rina, dan Juli bergantian. Di dalam manik matanya yang dalam, rasa haru yang teramat sangat meluap tanpa bisa ditahan lagi. Pria yang dulu kehilangan segalanya itu kini menyadari betapa beruntungnya ia dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mencintainya.
Ajo memegang pena emasnya, menatap Adam dan Jimi di kanan-kirinya.
"Gimana, Jenderal?" bisik Ajo, suaranya berat dan sarat emosi. "Kita bikin mahakarya terakhir untuk kisah kita sendiri?"
Adam mengusap sudut matanya cepat-cepat, lalu menyunggingkan senyum khasnya yang percaya diri. "Jelas! Kali ini... kita tidak bakal biarkan ada skenario jahat yang merusak cerita kita lagi!"
Jimi menepuk meja dengan mantap. "Setuju!"
Di ruang rapat megah AJA DISPOSA FILM sore itu, kesepakatan terbesar bukan lagi tentang hitungan investasi miliaran rupiah, melainkan tentang janji untuk merayakan hidup, cinta, dan persahabatan abadi. Di bawah naungan langit Jakarta yang mulai berganti jingga, Tiga Jenderal dan keluarga mereka siap melangkah menuju babak baru yang kian hangat, konyol, dan penuh kebahagiaan.