Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan sang Duke
Rasa dingin yang menusuk tulang perlahan memudar, menyisakan denyut konstan di belakang pelipis Aria. Ia bersandar pada tumpukan bantal bulu angsa yang sudah agak kempes, mencoba mengisap udara sedalam mungkin. Teh chamomile hangat di atas nakas kayu yang retak menguapkan aroma penenang yang tipis, mengalahkan bau apek khas kamar yang lama tidak direnovasi.
Lumi melayang di dekat tirai tempat tidur yang agak usang, berpendar redup seperti kunang-kunang di siang hari. Tubuh kecil roh itu tampak agak transparan, tanda bahwa manipulasi takdir kemarin malam menguras banyak energi mereka berdua.
“Kau memaksakan diri, Aria,” bisik Lumi. Suaranya sehalus gesekan daun kering di atas rumput. “Mengubah jalur kereta dengan memicu longsoran... itu membutuhkan bayaran mana yang tidak sedikit untuk tubuh manusia biasa yang belum terlatih.”
Aria tersenyum tipis, merapatkan selimut wol kasar ke dadanya yang masih terasa sesak. “Tapi kita berhasil, Lumi. Jika aku tidak bertindak, anggur madu itu akan dijarah oleh bandit bayaran Evelyn, dan nama keluarga Evander akan hancur bahkan sebelum kita sempat bangkit.”
Lumi berputar lambat di udara, meninggalkan jejak cahaya keemasan yang tipis sebelum mendarat di sandaran ranjang. “Kau menyelamatkan mereka untuk sementara waktu. Namun, ingatlah bahwa naskah dunia ini memiliki cara tersendiri untuk memperbaiki dirinya. Setiap perubahan kecil yang kau buat akan memicu riak yang lebih besar.”
Pintu kamar tiba-tiba terbuka setelah ketukan tergesa-gesa. Mia masuk dengan wajah merah padam, napasnya memburu. Di tangannya, ia membawa baki berisi semangkuk sup kaldu hangat yang aromanya langsung memenuhi ruangan.
“Nona! Berita luar biasa!” Mia meletakkan baki dengan tangan yang sedikit gemetar karena gembira. “Tuan Baron baru saja menerima konfirmasi dari kediaman Marchioness Vance. Pengiriman pertama telah diterima dengan selamat! Bahkan, kepala pelayan Marchioness memberikan bonus karena kualitas anggur kita melampaui semua ekspektasi mereka!”
Aria mengembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya akhirnya mengendur. Rencana sabotase Evelyn Roselia hancur berantakan tanpa gadis itu tahu di mana letak kesalahannya. Dengan uang muka dan bonus dari Marchioness, setidaknya utang mendesak keluarga Evander dapat segera dilunasi.
“Ayah sangat senang, Nona,” lanjut Mia, menyendok sup hangat dan mengarahkannya ke bibir Aria. “Beliau bahkan menangis di ruang kerjanya. Sudah lama sekali saya tidak melihat Tuan Baron tersenyum selega itu.”
Aria menerima suapan tersebut, membiarkan kehangatan kaldu meredakan sisa-sisa rasa dingin di perutnya. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Sebelum suapan ketiga sempat berpindah, derit roda kereta kuda yang berat terdengar dari halaman depan kediaman Evander yang biasanya sepi.
Mia melangkah ke jendela, menyibak tirai tipis untuk mengintip ke luar. Detik berikutnya, tubuh pelayan muda itu menegang. Gelas di tangannya nyaris terjatuh.
“Nona... itu... kereta kuda hitam dengan lambang mawar hitam dan pedang perak,” bisik Mia, suaranya bergetar ngeri.
Aria meletakkan mangkuk supnya. Jantungnya berdegup kencang. Lambang mawar hitam dan pedang perak hanya dimiliki oleh satu keluarga di seluruh Kekaisaran Elgarth. Keluarga Veritas.
Duke Lucien Veritas berada di bawah.
“Lumi, sembunyi,” perintah Aria cepat. Ia segera menyibak selimut, mengabaikan rasa lemas yang masih menggelayuti persendiannya.
Dengan bantuan Mia yang panik, Aria memoles wajah pucatnya dengan sedikit perona pipi agar tidak terlihat seperti orang sakit. Ia memilih gaun sederhana berwarna hijau lumut yang tidak terlalu mencolok, menyembunyikan getaran halus di jemarinya yang dingin.
Ketika Aria melangkah menuruni tangga kayu yang berderit, keheningan yang ganjil menyelimuti ruang tamu kediaman Evander. Ayahnya, Baron Edward, berdiri di dekat pintu dengan wajah tegang dan postur tubuh tegak—sisa-sisa kedisiplinan seorang mantan jenderal yang kini berhadapan dengan penguasa sejati.
Di tengah ruangan, Duke Lucien Veritas duduk di kursi kayu ek tua yang agak usang. Kehadirannya yang luar biasa membuat perabot murah di sekelilingnya tampak seperti ornamen istana yang agung. Jubah hitamnya yang dihiasi sulaman benang perak jatuh dengan sempurna di lantai kayu.
Teh herbal yang disajikan oleh pelayan sama sekali tidak disentuh. Ketika Aria melangkah masuk, sepasang netra kelabu milik sang Duke langsung bergerak, mengunci pergerakan gadis itu dengan ketajaman yang membuat bulu kuduk berdiri.
“Selamat siang, Duke Veritas,” sapa Aria, membungkuk hormat dengan keanggunan yang sempurna.
Lucien tidak segera menjawab. Ia memperhatikan cara Aria melangkah, mengamati napas gadis itu yang sedikit terlalu cepat, serta rona merah di pipinya yang tampak agak tidak alami akibat sapuan kosmetik.
“Senang melihatmu dalam keadaan sehat, Lady Aria,” suara Lucien berat dan halus, mengalun lembut namun memiliki ketajaman yang tak kasat mata. “Meskipun, aku mendengar desas-desus bahwa kau sempat kurang sehat pagi ini.”
Aria tersenyum tenang, mengambil tempat duduk di seberang Lucien dengan jarak yang aman. “Hanya kelelahan kecil setelah memastikan persiapan anggur keluarga kami, Yang Mulia. Tugas seorang putri Baron yang bangkrut ternyata jauh lebih menguras tenaga daripada yang kubayangkan.”
“Ah, anggur madu yang luar biasa itu.” Lucien menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mempertemukan ujung-ujung jemarinya yang panjang. “Sangat menarik bagaimana rute pengirimannya harus memutar karena tanah longsor yang begitu mendadak di jalur utama.”
Aria merasakan udara di sekitarnya mendadak mendingin. Ia mempertahankan senyumnya, memastikan tidak ada satu pun otot wajahnya yang berkedut. “Alam memang tidak bisa ditebak, Duke. Kami hanya beruntung karena patroli militer kekaisaran kebetulan sedang berada di jalur alternatif, sehingga kereta kami bisa melewatinya tanpa gangguan.”
Lucien mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak di antara mereka menyusut, dan Aria bisa mencium aroma kayu cendana yang bercampur dengan dinginnya salju dari tubuh pria itu. Netra kelabu Lucien menyipit, berkilat dengan kecerdasan yang berbahaya.
“Sangat beruntung,” bisik Lucien, suaranya begitu rendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Seakan-akan... ada seseorang yang sudah menuliskan skenario itu sebelum longsoran itu benar-benar terjadi.”
Aria menahan napasnya di tenggorokan. Jemarinya yang tersembunyi di balik lipatan gaun saling mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih. Pria ini tidak sekadar curiga. Dia tahu tentang adanya 'The Script'. Dia tahu bahwa ada kekuatan luar biasa yang sedang mengacaukan alur dunia ini.
“Saya tidak mengerti apa maksud Anda, Yang Mulia,” jawab Aria, menjaga suaranya tetap datar dan terkendali. “Saya hanyalah seorang gadis yang mencoba menyelamatkan keluarganya dari kelaparan.”
Lucien menatapnya selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Senyum tipis yang dingin terukir di sudut bibirnya. Ia berdiri, merapikan jubah hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan.
“Kita lihat saja seberapa jauh keberuntunganmu akan bertahan, Lady Aria,” kata Lucien sambil melangkah menuju pintu keluar. Sebelum melintasi ambang pintu, ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat jantung Aria berdegup tidak keruan. “Sebab di dunia ini, setiap penulis yang buruk selalu meninggalkan jejak yang mudah dibaca.”