Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Kekecewaan Keluarga Shena
Manusia dan harapan-harapannya, seperti air laut yang tak pernah mengering, terus mengalir deras dan memberi inspirasi untuk terus bermimpi. Tak pernah padam seperti api yang terus berkobar, tetap menyala dan membakar semangat untuk terus maju. Menumbuhkan impian, serta asa yang memenuhi jiwa.
Tidak terkecuali Zoe.
Laki-laki tampan mantan playboy itu juga memiliki impian, salah satunya mengenai pernikahan. Gagalnya pernikahan yang dahulu sempat menggegerkan jagat maya hingga menghancurkan hidupnya, keluarganya, sekaligus hubungan persahabatannya dengan Shena. Membuat Zoe tidak ingin mengalami kegagalan yang sama untuk kedua kalinya.
Dengan berbekal sabar dan keyakinan, Zoe rela terus menunggu sang kekasih hati terbangun di suatu hari nanti. Menyebutkan nama dirinya ketika bibir pucat namun tetap nampak ranum di matanya, mata sayunya akan menatap Zoe dengan rasa cinta yang dahulu selalu terpancar hanya untuknya. Zoe menunggu momen itu.
"Aku juga ingin menikahinya dengan cara yang lebih layak, Mam. Itu adalah impianku, tujuan dari hidupku. Tapi, sekarang aku nggak punya pilihan lain. Aku benar-benar takut kehilangan dia, kumohon mengertilah!"
"Wake up, Zoe!" pekik Mama Amelia. Keduanya sudah tak lagi berada di ruangan Shena, melainkan di kamar Zoe lantaran beberapa saat lalu wanita paruh baya itu menarik sang putra keluar dari sana setelah permintaan restu meluncur begitu saja dari mulut putra satu-satunya itu.
"Kamu kira pernikahan itu sebuah lelucon, Zoe, ha? Mama pikir kamu sudah dewasa, ternyata sama saja seperti waktu itu!"
Mata berair Zoe yang sudah memerah menatap penuh kecewa pada ibundanya. Benarkah sang ibu ingin mengungkit masa lalu di saat situasi seperti ini? Bahkan semuanya terjadi karena berasal dari kesalahan yang dibuatnya.
"Apa Mama lupa, dulu Mama yang minta aku buat ninggalin tunanganku dan nikahin Shena. Mama juga mengatakan kalau hanya Shena yang pantas masuk ke keluarga kita. Kenapa sekarang Mama terlihat keberatan dengan keputusanku?" Zoe bertanya dengan dingin dan datar. Mama Amelia bahkan sempat tertegun dengan kalimat sang putra.
"Dengan atau tanpa restu dari Mama, aku akan tetap nikahin gadis yang kucintai!" putus Zoe cepat sebelum sang ibu membalas perkataannya. Ia lantas berbalik badan dan hendak keluar kamar.
"Kamu benar, Zoe. Dulu, Mama memang mau kamu nikahin Shena. Tapi, sekarang keadaannya berbeda, kamu yang harusnya mengerti, Zoe. Sudah selayaknya seorang pemimpin perusahaan memiliki istri yang bisa mendampinginya setiap saat, bukan malah hanya jadi beban. Apa kata kolega-kolega kita nanti, Zoe?"
Zoe menghentikan langkah, ia merapatkan matanya kuat-kuat seraya kedua tangan mengepal menahan gejolak amarah yang seketika memenuhi dadanya.
"Kesuksesan laki-laki itu terletak pada seberapa pentingnya si perempuan berperan di belakangnya. Kamu ngerti maksud Mama, kan, Zoe?" kata Mama Amelia lagi, "dengan keadaan Shena yang sekarang, dia gak cocok buat kamu. Kamu pantas menikahi perempuan yang lebih baik dari dia."
"Sampai kapan?" tanya Zoe parau. Hening, baik Zoe mau pun Mama Amelia belum ada yang kembali bersuara. Zoe masih berdiri membelakangi sang ibu dengan tatapan getir lurus ke depan.
"Maksudmu?"
"Sampai kapan Mama terus ikut campur dengan urusan pribadiku? ... Sampai kapan Mama atur-atur perempuan mana yang harus kunikahi, hem?"
Mama Amelia tergagap, mulutnya terbuka diiringi air mata yang seketika megalir di kedua pipinya. Zoe menekan setiap kata yang diucapkannya, mengalirkan sebuah kesungguhan di dalamnya.
"Kalau Shena aja udah nggak cocok buat aku. Lalu, perempuan seperti apa lagi yang harus kunikahi?" Zoe melempar tanya dengan suara yang bergetar, "aku akan tetap menikahinya, sekarang juga!"
Mama Amelia terduduk lemas di atas ranjang milik sang putra setelah ia ditinggalkan sendiri, ini semua memang salahnya, kekacauan ini terjadi karena kecerobohannya. Kalau saja ia mau lebih lama bersabar, Zoe tidak akan menikahi Shena secepat ini dan ia masih memiliki kesempatan untuk mendekatkan gadis lain pada sang putra.
Ruly Mafarulls, papa Zoe hanya bisa mengelus lengan sang putra ketika mereka berpapasan di depan kamar Shena. Pria paruh baya yang sudah sering sakit-sakitan itu tidak bisa banyak berkomentar, ia hanya berharap masalah di keluarganya cepat selesai dan Zoe dapat meraih kebahagiaan yang diinginkannya. Apa pun keputusan sang putra, ia akan mendukungnya.
"Pak, saya ...."
"Kamu," pungkas Zoe cepat, "kamu yang sudah membujuk ibuku, bukan?"
Erlita, ia gelagapan ketika ditodong pertanyaan seperti itu oleh sang tuan. Tadinya, ia sengaja menghampiri Zoe di depan ruangan Shena dengan maksud ingin memberi kalimat-kalimat penenang dengan harapan bisa mengubah keputusan laki-laki itu untuk tidak menikahi gadis lemah itu saat ini juga. Namun, sepertinya akan cukup sulit bagi Erlita untuk mempengaruhi seorang Zoe.
"Maaf, Pak, saya hanya berusaha menuruti keinginan Bu Amel saja."
"Hanya menuruti? Lalu, bagaimana dengan tugasmu sebagai perawat yang bertanggung jawab atas kondisi kekasihku? Apa nyawa seseorang adalah lelucon bagimu?" Tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, Zoe berlalu begitu saja memasuki ruangan Shena. Meninggalkan Erlita sendirian dengan hatinya yang seketika dikuasai amarah.
"Sialan!" umpat Erlita pelan.
Di dalam kamar yang ditempati Shena, Zoe langsung dihampiri oleh Dokter Andrew, pria bertubuh tinggi yang selalu setia mengenakan kaca mata itu melaporkan kondisi terkini sang pasien.
"Tadi dia sempat bereaksi, Pak, tanda-tanda vitalnya kembali normal dan pastinya menunjukkan beberapa tanda kesadaran."
"Hem, aku sudah sering melihat itu!" sahut Zoe lemas.
"Pak Zoe tenang saja, saya yakin Mbak Shena akan tetap bertahan dan suatu saat akan sadar."
Di luar, semua orang sudah berkumpul. Kakak-Kakak Shena juga sudah datang diiringi tangis histeris dari Davina. Hal itu menjadi pemandangan yang menyayat hati bagi siapa pun yang melihatnya, Davina bahkan sampai terduduk lemas sembari terus meraung meratapi kondisi sang adik.
Mama Amelia segera menyambut kedatangan semua orang, dengan tangis yang ia tahan. Berusaha menenangkan Davina dan meminta maaf atas kesalahan yang diperbuatnya.
"Bisa-bisanya kalian memindahkan Shena tanpa membicarakannya lebih dulu pada kami?" Natteo melempar tanya dengan intonasi yang cukup kuat. Ia bahkan menatap tajam pada Zoe yang langsung keluar dari kamar Shena setelah mendengar kegaduhan.
Di ruang tengah lantai dua rumah keluarga Mafarulls kini dipenuhi orang-orang. Mama Amelia yang sedang merangkul Davina, kakak kedua Shena. Pak Ruly duduk di atas single sofa, sementara Natteo kakak kedua Shena tengah berdiri di antara orang-orang seakan sedang meminta pertanggungjawaban.
Andai dulu ia tidak sedang dalam keadaan krisis keuangan, sudah pasti akan menolak dengan tegas ketika Zoe meminta izin untuk membawa Shena. Tetapi, ia tidak ingin egois dengan menahan sang adik jika hanya akan berujung membahayakan nyawanya. Pada akhirnya, ia hanya bisa mempercayakan segala pengobatan Shena pada keluarga Mafarulls yang memang sudah menganggap gadis itu bagian dari keluarga mereka.
Namun, apa yang terjadi saat ini seakan meruntuhkan kepercayaan yang sudah diberikannya pada seorang Zoe. Apa pun yang terjadi, Shena masih memiliki keluarga. Bukankah sudah seharusnya mereka dilibatkan dalam setiap keputusan mengenai pengobatan Shena?
Lalu, kalau Natteo sudah kecewa, bagaimana Zoe akan mendapat restu?
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih