NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Licik nya mertua ku

"FItri.. pulang kerja beli gula sama minyak. Habis itu" Ucap mertua ku sebelum aku berangkat.

"Iya ma" Jawabku singkat.

Beberapa hari setelah pertemuan ibu-ibu di rumah, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Saat berangkat kerja, biasanya tetangga yang sedang menyapu halaman akan menyapaku lebih dulu. "Pagi, Fitri."

Namun pagi itu... Mereka hanya melirik sekilas. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Aku mengernyit. Mungkin mereka sedang sibuk. Aku mencoba berpikir positif.

**

Sore hari selepas bekerja,, aku mampir ke warung langganan untuk membeli gula dan minyak goreng.

"Bu, gula satu kilo ya." Ucapku.

Pemilik warung mengambilkan gula tanpa banyak bicara. Padahal biasanya beliau selalu mengajakku mengobrol. Saat aku hendak membayar, dua orang ibu yang tak ku kenal masuk ke warung.

"Eh, ini menantunya Bu Mirna ya?"

"Iya."

"Kayaknya bener apa ya apa yang bu Mirna bilang? Dia aja pulangnya sore terus tuh. "

"Iya, kasihan juga Bu Mirna. Katanya masih harus beresin rumah sendirian."

Aku membeku.

Tanganku menggenggam uang lebih erat. Lagi lagi begitu. Kenapa Bu Mirna sangat haus validasi sekali dan sangat ingin membuatku sangat buruk di masyarakat?

Padahal...Setiap hari akulah yang mencuci, mengepel, memasak, hingga membereskan rumah. Aku menoleh pelan. Mereka langsung berpura-pura melihat rak bumbu dapur. Aku memilih diam. Membayar belanjaanku lalu pulang.

Sesampainya di rumah, Bu Mirna sedang duduk santai di ruang tamu sambil bermain ponsel.

"Kenapa lama sekali?"

"Iya, Ma. Tadi agak macet di jalan"

"Belanjanya mana?"

Aku menyerahkan kantong plastik. Bu Mirna melihat isinya satu per satu.

"Lho. Minyaknya cuma satu?"

"Iya, Ma. Kan tadi pagi mama bilang itu"

"Kan masih ada minyak di dapur. Gimana sih" Ucap mertuaku

Beliau mendecak pelan. "Kalau belanja itu dipikir. Jangan asal." Lanjut nya.

Aku hanya mengangguk. "Iya, Ma."

***

Malam harinya, saat Mas Viyan sedang mandi, terdengar suara seseorang mengetuk pintu.

Tok...

Tok...

Tok...

Aku membukanya. ternyata Bu Siska bestie nya bu Mirna mertuaku, tetangga depan rumah.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

"Masuk dulu, Bu."

"Iya."

Beliau duduk di ruang tamu sambil tersenyum.

"Bu Mirna ada?"

"Ada."

Aku memanggil mertuaku. Tak lama kemudian Bu Mirna keluar dengan wajah ceria.

"Aduh Bu Siska.."

"Duduk.. dudukk."

Aku hendak kembali ke dapur. Namun tanpa sengaja, langkahku terhenti saat mendengar namaku disebut.

"Bu... Tadi saya ketemu bu indri sama bu yani. Kata mereka ketemu sama fitri. Semua ibu-ibu kompleks enggak nyangka bu. Mereka khawatir ibu kenapa-napa jadi saya kemari deh. Enggak pa kan? DInda sama Viyan udah pulang kan bu?" Ucap Bu siska.

"Enggak apa bu.. cuma capek sekali. Badan ku remuk semua dari pagi bangun tidur langsung bergerak." Ucap Mertuaku dengan menggerakkan kepala nya seolah-olah beliau sudah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.

"Ya ampun bu.. sampai bersih sekali ini rumah, rapi juga"

"Ini bu Mirna, ada sedikit rejeki buat ibu dari ibu-ibu semua nya." Bu Siska memberikan amplop pada mertuaku.

Aku menoleh pelan. Bu Mirna menghela napas panjang.

"Terimakasih bu, ini berharga sekali. Saya ingin sekali ke dokter. Hanya aja tidak ada yang kasih uang." Jawab mertuaku.

Aku mengepalkan tangan. Aku sama sekali tidak pernah bersikap seperti itu. Dadaku terasa semakin sesak. Semua itu bohong. Namun Bu Mirna mengatakannya dengan wajah sedih. Seolah-olah beliau adalah korban.

"Permisi bu, silahkan di nikmati." Ucapku meletakan secangkir teh ke atas meja.

Tidak ada kata terimakasih atau apapun. Hanya ada lirikan sinis oleh Bu Siska.

***

Aku kembali masuk ke dapur. Air mataku hampir jatuh. Saat itulah Mas Viyan keluar dari kamar.

"Sayang."

"Iya, Mas."

"Kamu kenapa?"

Aku menggeleng. "Enggak apa-apa."

Beliau memperhatikan wajahku. "Jangan bohong."

Aku akhirnya menceritakan semua yang kudengar. Mulai dari obrolan di warung. Sampai percakapan Bu Mirna dengan Bu Siska. Mas Viyan terdiam cukup lama. Wajahnya perlahan berubah serius.

"Besok Minggu. Mas mau ngobrol sama Mama."

Aku langsung menggeleng. "Jangan, Mas. Nanti malah ribut."

"Kalau didiamkan...Mama akan semakin menjadi."

Aku menatap suamiku. Aku melihat ketegasan di matanya.

Sesudah itu, aku dan mas Viyan kembali ke kamar kami. Sampai mertuaku memanggil ku.

"Fitrii.."

Suamiku menatap ku, dan dia hendak berdiri untuk mendekati mama namun aku menahan nya.

"Aku aja mas..paling hanya mencuci gelas" Ucapku.

Aku pun berdiri dan menemui mertuaku.

"Ini di cuci gelas nya yang bersih ya" Ucap mertuaku.

Aku melihat mertua ku sedang menghitung uang dari amplop yang berada di dekat uang tersebut.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!