NovelToon NovelToon
Tujuh Elemen

Tujuh Elemen

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Akademi Sihir / Perperangan / Elf / Pusaka Ajaib / Barat
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhamad Saefulloh

Zaid, anak seorang petani miskin pergi ke hutan bersama pamannya, ia jatuh ke jurang. Beruntungnya ia selamat karena di dasar jurang terdapat aliran air. Ia tak tahu harus ke mana karena di kanan kirinya hanya ada dinding tebing. Jadi ia hanya terus berenang mengikuti aliran air hingga ia tak sanggup lagi untuk berenang dan perlahan ia tenggelam.
Tetapi anehnya ia selamat. Ternyata di dalam air tempatnya tenggelam, ia tak sengaja masuk ke portal yang memindahkannya ke planet Imub. Planet yang sangat mirip dengan Bumi. Planet berisi orang-orang yang mempunyai kekuatan sihir alami.
Ketika ia sadar, ia sudah berada di kamar, berbaring di atas ranjang kayu sederhana. Ia diselamatkan salah satu perempuan remaja yang ada di planet Imub. Chiara.
Chiara mengatakan Zaid tak mungkin kembali ke bumi. Tetapi, bukan itu masalahnya, planet Imub sedang dalam kekacauan dan membutuhkan bantuan Zaid.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Saefulloh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suku Karcaca Dan Diundurnya Festival

Rhys tampak duduk bersila dengan mata terpejam. Di tepi hutan, ia sedang melatih salah satu kekuatan sihirnya, sihir elemen api.

Lihatlah, di seluruh tubuhnya, mengalir aura berwarna oranye kekuningan yang tampak bercahaya. Rhys terlihat seperti matahari tenggelam, sama jingganya dengan matahari yang sudah terbenam separuh di belakang batang-batang pohon itu.

Rhys terus duduk bersila sampai matahari pun terbenam seluruhnya, hanya menyisakan sedikit cahaya redup. Rhys tak menyadari, selama ia bersila selama hampir 2 jam dan tak pegal-pegal, orang itu terus mengintainya di atas pohon.

Orang itu berkulit hitam, memakai topeng khas orang suku pedalaman, giginya bertaring, ia setengah telanjang. Orang itu lalu melompat turun dari pohon dan menepuk-nepuk mulutnya.

"Ulululululululu..."

Rhys membuka mata, ia tidak kaget, karena suara "ululululu" sudah menjadi 'alarm' baginya untuk menyudahi latihan.

"Karcaca, karcaca, karcaca!" Kata orang primitif itu sambil berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Ia terus mengatakan "karcaca" sampai sembilan kali.

Setelah itu 7 orang primitif lain turun dari pohon, mereka menggenggam tombak.

Terdengar bunyi anak panah yang membelah angin susul menyusul, tiga anak panah melesat dari atas pohon, tepat mengarah ke perut, leher dan dada Rhys.

Rhys yang sudah berdiri mundur ke belakang dengan kekuatan angin, lalu ia mengayun kedua lengan di udara, jurus angin yang kencang keluar, memutar arah ketiga panah. Dua menancap di batang pohon, satu hampir mengenai kaki salah satu suku primitif itu.

Rhys melihat mereka ada sebelas orang, delapan di depan, mereka laki-laki; sedangkan tiga yang lain baru turun, mereka perempuan, ketiganya langsung mementang busur lagi.

"Karcaca!" Kata mereka bertiga. Angkat tangan. Mungkin itu maknanya.

Rhys tak punya banyak waktu berurusan dengan mereka, ia melompat sambil berbalik dan dengan kekuatan angin ia sudah pergi jauh meninggalkan mereka.

Tiga orang suku primitif sempat melepaskan anak panah, tetapi karena terlalu jauh, anak panah itu terjun kembali ke tanah. Bergetar.

"karcaca cakar kaca raca baca pasar acar," kata salah satu suku primitif pada teman-temannya. Sudah 573 kali dia melarikan diri, itu maknanya.

"Cakar pacar," timpal yang lain. Sangat melelahkan, itu maknanya.

"galancar kamar makslancar?" timpal yang lain lagi. Bagaimana kita mau makan sekarang, itu maknanya.

"Gaslancar bakaru bijalar." Sudahlah pasrah saja, itu maknanya

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 06.30 sore. Pintu rumah dibuka perlahan. Rhys masuk. "Aku pulang."

Chiara menyambutnya. Ia tampak sudah mandi. Ia sekarang mengenakan pakaian dress merah. Bersiap pergi ke festival.

Ayah, Mama sudah pulang dari kota Grythwil," kata Chiara. "Oh, ya, aku dan Zaid akan pergi ke festival di gunung Oru---"

"Festival itu diundur," potong Rhys. Ia mendengar desas-desus itu saat pulang dari berlatih.

"Apa? Kenapa?" Chiara kecewa.

"Mungkin karena Faktor cuaca," kata Aleyna. Ia sudah berdiri di ruang tamu. Ia menggenggam alat semacam Keyboard yang sedikit lebih kecil dari kalkulator. Di depan wajahnya ada semacam hologram. Mungkin ia sudah mengecek cuaca hari ini dengan alat itu.

"Yah, sayang sekali," kata Chiara.

"Ada apa?" Tanya Zaid. Ia sudah mengenakan kostum serigala putihnya.

"Festival itu diundur," kata Chiara.

Aleyna mengetik lagi di keyboardnya. Layar hologram muncul satu lagi. "Dan informasi di sini mengatakan festival itu akan diselenggarakan 3 hari kemudian."

"Kak Chiaaraa!" Terdengar seruan dari luar. Itu suara Elena. Ketiga orang di ruang tamu itu bisa mendengarnya.

Di luar, Elena tampak mengenakan kostum serigala putih, sama seperti Zaid. Bedanya, ia tampak semakin menggemaskan memakai kostum itu.

Chiara membuka pintu. "Ya? Oh, Elena. Sayang sekali festivalnya diundur."

"Apa katamu? Festivalnya diundur?"

Dan tepat kata terakhir diucapkan Elena, Petir disertai guntur datang, mengagetkan semuanya. Elena refleks maju memeluk Chiara, ketakutan. Zaid di dalam menutup kedua telinganya, Aleyna langsung mematikan alatnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Kenapa festival itu dibatalkan?" Tanya Elena polos di sela-sela hujan deras disertai kilat dan guntur.

Elena, Zaid dan Chiara berkumpul di kamar Zaid. Chiara sudah berganti baju biasa, sedangkan Zaid dan Elena tetap mengenakan kostum serigala mereka.

Chiara dan Zaid tertawa.

"Kau lihat saja, Elena," kata Zaid, "di luar hujan deras."

"Ya, karena cuaca yang kurang bagus, festival itu diundur," kata Chiara menambahkan.

"Sebentar," kata Chiara. Ia lalu bangkit dan keluar.

"Ke mana?" Tanya Zaid dan Elena bersamaan. Mereka enggan ditinggal. Tetapi Chiara tak menjawab.

Lima menit berlalu. Zaid dan Elena tidak saling bicara. Mereka diam saja. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Kenapa kau menatapku?!" Elena tak suka.

"Oh, ee... tidak, aku hanya penasaran. Telingamu berbeda dengan yang lain. Apa kau..."

"Ya, aku ini elf. Atau disebut juga teri. Eh, eh, pari, ferry, maksudku peri," kata Elena. Karena dia masih 6 tahun, ia sering salah ucap. Apalagi saat makan atau gugup.

Chiara hendak masuk lagi ke kamar, ia membawa 2 cangkir teh dan 1 cangkir susu hangat di atas nampan.

Kilat dan guntur datang lagi, lebih hebat dari yang sebelumnya, lampu kamar mati. Zaid dan yang lain semuanya kaget, Chiara hampir menjatuhkan nampan, Zaid merasakan tangan yang lembut memeluknya.

Chiara mengeluarkan jurus api di salah satu tangan sebagai penerang, ia melihat Elena memeluk Zaid dan menempelkan kepalanya di dada Zaid.

Chiara berdeham. Astaga, batinnya.

"Eh, eh, maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut. Mang-manga-maaf, ya." Elena lalu menghela napas.

Zaid salah tingkah.

Chiara meletakkan nampan di lantai lalu ia bergerak seperti mencari sesuatu. Lilin itu ketemu. Ia lantas menyalakannya dengan api di tangannya.

"Kenapa harus menyalakan lilin kalau Kak Chiara bisa menggunakan jurus api?" Tanya Zaid.

"Oh, itu agar aku tidak kesusahan. juga menghemat energi sihirku," jelas Chiara.

Dzing. Meong. Vin melakukan teleportasi, kucing abu-abu itu muncul. Mungkin mencari tuannya.

"Oh, hei, Vin," kata Elena. "Kemari."

Vin langsung lompat di pangkuan Elena.

"Energi sihir?" Tanya Zaid. Ia tak peduli dengan kucing itu. Ia sudah membaca seperdelapan buku tua itu. Dan bab awal di buku itu menjelaskan tentang energi sihir, itu sebabnya dia bertanya.

"Ya, energi sihir. Semua orang di sini memiliki kekuatan sihir. Dan mempunyai batasan tersendiri dalam penggunaannya," jelas Chiara.

"emmm... Kak Chiara, "kata Elena sambil mengelus kucing di pangkuannya, "bagaimana jika Kak Chiara melanjutkan cerita yang waktu itu? Aku sebenarnya mengantuk, tapi karena suara hajat, hujat, maksudku hujan, aku tak bisa tidur. Mungkin jika kau bercerita untukku aku bisa tidur di sini." Elena menguap.

"Tidur di sini? Lagi?!" Zaid tak mau.

"Boleh, ya, Kak Chiara," kata Elena memohon. Matanya membesar.

Zaid memberi isyarat untuk tak mengizinkan.

Chiara tertawa kecil. "Oh, ayolah Zaid. Sekarang hujan deras, kasihan Elena, tak mungkin untuknya pulang," kata Chiara.

Zaid menghela napas. "Iya, iya baiklah."

Chiara tersenyum. "Baiklah, sebelumnya minum dulu. Air di sana sudah mulai dingin."

Elena mengambil susu di nampan; Zaid mengambil teh; Elena mengambil sisanya.

Elena mengeluarkan jurus, ia memasukan es ke dalam susunya.

"Udara dingin seperti ini kau minum susu dingin?!" Tanya Zaid. Namun sebenarnya ia terkejut melihat si kecil Elena juga punya kekuatan.

Elena tak menjawab. ia meneguk susunya perlahan.

Chiara tertawa kecil lagi. "Baiklah, kumulai ceritanya."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Ans Anshar
cemen satu bab perhari paling dikit lima lah atau sepuluh
༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Alur ceritanya sudah lumayan bagus 👍👍
Muhamad Saefulloh
Jangan lupa untuk vote dan tonton iklan karena itu adalah ibadah (karena jika anda melakukannya, anda telah membuat author senang, dan membuat orang senang adalah suatu ibadah. Anda akan mendapat pahala/ganjaran dari-Nya).
Tiana
semangat up
Desia
zaidnya ego ya....sok banget/Smug/
Desia
kok zaidnya dicerita ini belagu ya...bukannya trimakasih ditolongin/Smug/
Kolen Rumegang
kurangenarik ceritanya...terlalu bertele2 dan puter2...pusing aq membacanya
The Fool [Klein]
latar planet imub jaman apa?
Muhamad Saefulloh: Sebenarnya, latar di planet Imub itu seperti abad 19/20 untuk kebanyakan tempat, dan teknologi planet Imub sebenarnya sangat maju. namun hanya ada 3 kota teknologi yang ada di planet ini. Karena 'kesederhanaan' sudah melekat bagi banyak orang, hanya sedikit orang yang menggunakan tekonologi, meski kebanyakan orang memahaminya.
total 1 replies
CahNdablek
tata bahasa sudah bagus dan kalimat dan pengetikan juga bagus bahkan tanda dalam pengetikan sudah pas pada letak nya
lanjutkan 👍👍
CahNdablek
dalam pemantauan
kalo bagus lanjut
Muhamad Saefulloh: Dan semoga memang bagus di mata siapapun.
total 1 replies
Dimas Setiawan
gass
Dimas Setiawan
kipassss
Muhamad Saefulloh: apa maksudnya 'kipas'?
total 1 replies
Dimas Setiawan
gollllll
Qean
tiriz
Muhamad Saefulloh: tiris
total 1 replies
Qean
Lanjutkan
WiraBP
lanjut! semangat terus🔥
Zed Analytical Number Nine
Berhati-hatilah Zaid, tanpa sadar kau sudah memasuki kawasan yang belum diketahui sebelumnya.

hai kak, Zed mampir ya🙏
WiraBP
lanjut! 👍
Tomorrow
semangkuy~~ update nya
WiraBP
lanjut Thor!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!