NovelToon NovelToon
Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Imperium Rahasia: Sang Menantu Triliuner

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Perubahan Hidup / Kaya Raya
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Marcos

Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Video Viral

Video itu muncul pada Sabtu pagi pukul 07.12.

Rekaman kamera keamanan RSCM, resolusi rendah, sudut buruk, cahaya koridor publik, memperlihatkan siluet seorang pria dari belakang, setelan gelap, berjalan di samping dua pengawal melalui koridor administrasi. Tujuh belas detik rekaman. Tidak ada wajah terlihat. Tidak ada nama. Hanya teks amatir yang ditempel di bagian bawah: "Miliarder misterius mengunjungi rumah sakit setelah donasi Rp100 miliar."

Pukul sembilan pagi, video itu sudah mendapat empat ratus ribu tayangan di Twitter. Tengah hari, dua juta. Tagar #SiapaMiliarderItu menempati posisi kelima trending topics. Sebuah akun gosip bisnis sudah membuat empat unggahan yang menganalisis siluet itu, tinggi perkiraan, bentuk tubuh, merek setelan.

Arga melihat video itu di kamar mandi apartemen, pintu terkunci dan shower menyala untuk meredam suara apa pun. Ia menontonnya tiga kali. Ia mengenali koridornya. Mengenali para pengawal, mereka dari tim Pak Jaya. Mengenali dirinya sendiri.

Ia mengunci ponsel dan menempelkan dahi ke cermin. Uap shower mengaburkan kaca di sekitar wajahnya.

Saat keluar dari kamar mandi, Bianca berada di dapur dengan ponsel di tangan.

"Kamu lihat ini?" Ia memutar layar. Video itu sedang berjalan untuk ketiga kalinya. "Semua orang membagikannya."

"Lihat sekilas. Mungkin palsu."

"Bukan palsu. RSCM mengonfirmasi mereka menerima kunjungan Kamis malam. Mereka hanya tidak mengonfirmasi siapa orangnya." Bianca menggigit bibir. "Arga, orang di video itu kira-kira setinggi kamu."

"Setengah pria di Jakarta setinggi aku."

Bianca membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Menutupnya lagi. Kembali menatap layar.

Ponsel Arga bergetar di saku. Grup WhatsApp keluarga Kartawijaya, grup yang tidak pernah ia balas dan terutama ada agar Marlina bisa mengeluhkan apartemen dan Bu Ratih membagikan perintah.

Marlina: Kalian lihat video miliarder itu??? Se-Indonesia lagi ngomongin

Marlina: Katanya dia pemilik Grup Imperial!! Bayangkan kalau kita punya koneksi level begitu

Robert: Selamat pagi. Sepertinya itu spekulasi.

Marlina: Robert kamu tidak mengerti apa-apa. Pria dengan Rp100 MILIAR untuk diberikan ke orang lain dan tidak ada yang tahu siapa dia?? Aku justru ingin kenal pria itu. Itu tipe menantu yang seharusnya Bianca dapatkan, bukan benalu itu

Arga membaca pesan itu. Ia memasukkan ponsel ke saku dengan gerakan lambat, disengaja, seperti orang menyimpan senjata yang sudah ia putuskan untuk tidak digunakan.

Bianca membaca grup yang sama. Ibu jarinya berhenti di layar, matanya terpaku pada pesan Marlina. Ia mengangkat mata dan menemukan tatapan Arga. Tatapan itu berlangsung satu detik lebih lama dari seharusnya, satu detik ketika sesuatu bergerak di balik pupilnya, roda berputar, sebuah koneksi terbentuk tetapi belum punya nama.

Ia membuka mulut. Menutupnya.

"Kita makan siang," kata Arga.

Makan siang berlangsung di rumah Robert. Sederhana: nasi, sayur, ayam panggang. Marlina membawa salad yang tidak diminta siapa pun dan opini tentang segala hal.

"Kalian lihat sudah ada orang yang mencoba melacak mobil yang muncul di akhir video?" Marlina memotong ayam dengan penuh tenaga. "SUV hitam. Antipeluru. Pelatnya buram."

"Marlina, itu video tujuh belas detik dengan kualitas kamera pos satpam." Robert menyendok sayur tanpa mengangkat kepala. "Bisa siapa saja."

"Bukan siapa saja yang bisa menyumbang Rp100 miliar, Robert." Marlina mengacungkan garpu. "Pria seperti itu bisa mengubah hidup keluarga mana pun yang ia putuskan untuk bantu. Tapi tentu saja, keberuntungan kita adalah punya menantu yang bahkan tidak sanggup membayar parkir mal."

Arga mengunyah nasi perlahan. Tidak menjawab. Bianca meletakkan alat makan di tepi piring dengan bunyi kering.

"Marlina, cukup."

"Aku cuma bilang..."

"Aku dengar apa yang Mama bilang. Dan aku bilang: cukup."

Robert melihat dari satu perempuan ke perempuan lain. Lalu menatap Arga. Ada sesuatu di mata mertuanya yang tampak seperti rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu baru, belum berbentuk, seperti pertanyaan yang bahkan belum tahu cara dirumuskan oleh orang yang memilikinya.

Makan siang berakhir dalam keheningan.

Arga menunggu Bianca pergi ke kamar mandi. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu menelepon Pak Jaya.

"Saya sedang melihatnya," kata Pak Jaya sebelum Arga bicara. "Video itu sudah empat juta tayangan."

"Bagaimana bisa bocor?"

"Kamera di koridor administrasi berada di luar protokol pemblokiran. Kesalahan operasional. Tanggung jawab saya."

"Aku butuh penahanan digital. Sekarang. Aku mau tahu siapa yang pertama mengunggah, dari mana berkas asli berasal, dan siapa yang mencoba memperjelas resolusi gambar. Kalau ada yang berhasil membersihkan wajah..."

"Kami sudah bergerak. Tim keamanan siber sedang melacak asal unggahan. Tapi Arga," suara lelaki tua itu turun lebih berat, "video itu sudah melewati batas yang bisa dikendalikan. Kita bisa memperlambatnya, tetapi tidak menghapusnya."

"Kalau begitu perlambat. Beli waktu."

"Dimengerti."

Arga menutup sambungan. Ia berdiri di kamar selama sepuluh detik, menatap jendela ke gedung seberang, tempat seorang perempuan sedang menjemur pakaian tanpa tahu bahwa di sisi lain kaca, seorang pria dengan kekayaan Rp50 triliun sedang mencari cara untuk kembali tak terlihat.

Bu Ratih menonton video itu empat belas kali.

Pada putaran kelima belas, ia menjeda di detik kesebelas. Siluet dari belakang, bahu sedikit miring ke kiri, langkah panjang, cara menjaga tangan tetap dekat tubuh.

Ia membuka laci. Mengeluarkan buku catatan Hadi. Mencari halaman yang ia temukan beberapa minggu lalu, halaman yang menyebut Raka Wijaya Mahendra. Di samping teks, ada foto lama yang ditempel dengan selotip menguning: Raka Wijaya Mahendra di sebuah acara formal, mengenakan setelan, dari belakang, berbicara dengan seseorang di luar bingkai.

Kemiringan bahu yang sama. Langkah yang sama. Tinggi yang sama.

Bu Ratih menyandarkan buku catatan itu ke layar ponsel.

"Tidak mungkin," gumamnya.

Tetapi tangan yang memegang buku itu gemetar.

1
Anime aikō-kā
haii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!